RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 47. USAHA UNTUK MEMBUAT SUAMI KETAGIHAN


__ADS_3

Betty dan Tisya mondar mandir di depan kamar Damar, mereka kepo ingin tahu kenapa Tuannya belum juga keluar padahal biasanya sudah turun untuk sarapan pagi.


Dan mereka juga merasa iri, kenapa Nayla juga belum keluar kamar untuk membantu menyiapkan sarapan. Padahal Nayla biasanya selalu bangun pagi, berolahraga lalu menyiapkan sarapan untuk dia dan adiknya.


Nayla terbiasa hidup mandiri jadi dia tidak terlalu mengandalkan bantuan pembantu.


Betty dan Tisya menempelkan telinganya di pintu kamar, tapi mereka tidak mendengar suara apapun, padahal keduanya ingin mencari info untuk mereka beritahukan kepada Carolina.


Bi Luna yang sejak tadi mencari keberadaan kedua pelayan resek itu, akhirnya menemukan mereka. Beliau pun mendekat, lalu berkata,"


"Ngapain kalian di sini!" ucap Bi Luna sembari menjewer kuat telinga keduanya yang sedang berusaha menguping dengan menempelkan satu telinganya di pintu kamar Damar."


"Ampun Bi! Sakit, tolong lepaskan Bi," pinta Betty dan Tisya yang meringis kesakitan.


"Bagaimana jika Tuan langsung memergoki kalian? Apa kalian mau di bereskan dan menjadi santapan kesayangan Tuan?Aku ampun melihat kalian berdua, kenapa tidak jera juga. Sekarang juga selesaikan tugas kalian dan sebagai hukumannya bersihkan kolam renang, karena Tuan biasanya menghabiskan waktu dengan berenang setiap kali pulang dari luar negeri," perintah Bi Luna.


"Kok kami Bi?"


"Jangan membantah! atau aku akan laporkan perbuatan kalian kepada Tuan," ucap Bi Luna.


"Cepat turun!" seru Bi Luna, lalu melepaskan tangannya dari telinga keduanya.


"Iya, iya Bi, kami turun," ucap Tisya yang sudah berlari duluan menuruni anak tangga.


Sementara di dalam kamar, Damar dan Nayla masih tidur karena selepas melaksanakan ibadah subuh tadi, Damar menarik kembali istrinya ke dalam pelukannya, saat dia melihat Nayla hendak keluar untuk menyiapkan sarapan.


Niat hati hanya ingin menikmati pagi dengan ngobrol sembari bersantai di atas tempat tidur, akhirnya membuat keduanya berolahraga lagi.


Sikap malu-malu kucing Nayla membuat Damar gemas hingga diapun senang menggoda sang istri.


Awalnya Damar hanya memberikan ciuman selamat pagi, eh...bibir ranum dan manis Nayla membuatnya ketagihan, apalagi Nayla sudah lebih mahir membalas ciuman darinya.


Gadis yang tadinya sangat polos ketika dia meninggalkannya berangkat ke luar negeri, eh...saat ini di luar dugaan Damar, Nayla lebih agresif hingga membuat hormon kelelakiannya tertantang dan meningkat.

__ADS_1


Nayla memang ingin membuat Damar ketagihan dan benar-benar jatuh cinta karena dia berharap pernikahannya ini bisa langgeng bukan hanya untuk sementara sampai batas waktu kontrak selesai.


Walaupun di hatinya Nayla masih belum yakin, apakah usahanya ini akan membuahkan hasil atau tidak, setidaknya dia telah berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Baik dari segi kemakmuran ekonomi, kasih sayang, perlindungan dan juga cinta.


Hidup baru yang Nayla jalani selama ini bersama Damar, membuatnya memiliki impian indah, jadi apa salahnya jika dia berusaha untuk memperjuangkannya. Apalagi hal itu bisa menunjang pengobatan Seyna yang merupakan tujuan awal dari pernikahannya.


Di waktu luang, Nayla banyak belajar via daring dengan dosen yang sudah di atur oleh Bi Luna. Dan Nayla juga menyempatkan diri untuk searching via internet belajar tentang bagaimana cara melayani suami agar suami makin cinta dan tergila-gila hingga tidak menginginkan wanita lain lagi dalam hidupnya.


Nayla juga sering ngobrol dengan Bi Luna yang telah dia anggap sebagai ibu. Dia menanyakan bagaimana cara merawat diri, merawat area kebanggaan wanita yang bisa memuaskan pasangan kepada Bi Luna yang menurutnya lebih berpengalaman.


Tanpa malu Nayla bertanya dan Bi Luna pun senang dengan hal itu, karena beliau juga berharap Tuannya akan bahagia bersama Nayla yang menurut penilaiannya seorang gadis yang baik.


Damar membuka mata, dia melihat istri kecilnya masih bergelung tidur sembari memeluk dirinya.


Gadis kecil yang tidak pernah Damar sangka bisa meruntuhkan egonya yang selama ini menganggap wanita semua sama, hanya menginginkan kenyamanan harta.


Tapi Damar tidak mau terburu-buru mengatakan perasaannya itu, dia masih harus mengenal Nayla lebih dalam lagi. Trauma kegagalan berumah tangga, masih membuat dirinya terluka dan dia tidak mau hal itu terulang untuk kedua kalinya.


Meski nanti Nayla tidak kunjung hamil, Damar akan tetap mempertahankannya selagi Nayla benar sayang dan bisa menerima serta mencintai dia apa adanya.


Mata bening Nayla membulat, saat bibir Damar sudah mendekat, lalu dia menghalanginya dengan telapak tangan sembari berkata, "Stop Mas! Hari sudah siang, nanti kita kebablasan lagi, gawat!"


"Memangnya kenapa?"


"Masih sakit Mas, nanti aku kesulitan berjalan. Malu, bagaimana jika mereka bertanya, aku jawab apa Mas?"


"Hahaha, polos banget kamu Sayang, mana mungkin mereka berani nanya, lagipula sebagian besar pelayan wanita di sini sudah menikah. Jadi mereka lebih berpengalaman dan paham, kecuali Aira dan Seyna.


"Nah itu, malu Mas."


"Ya sudah, nanti kalau kamu susah berjalan, aku gendong saja, seminggu ini aku cuti dari semua pekerjaan kantor. Jadi, aku bekerja di rumah, khusus melayani Nyonya Damar," ucap Damar sembari tersenyum menahan geli melihat kepolosan sikap sang istri.


Nayla malu, dia memukul dada Damar dengan tangannya, lalu membenamkan wajahnya di sana.

__ADS_1


Aroma wangi tubuh Damar membuat Nayla ketagihan, dia mengendus dan merasakan kenyamanan berada dalam pelukan suaminya itu.


Kebersamaan indah pagi ini membuat keduanya lupa jika cacing di dalam perut mereka juga butuh asupan makanan.


Saat perut Nayla berbunyi, dia merasa malu, dia semakin membenamkan wajahnya agar tidak dilihat oleh Damar.


Damar tahu Nayla lapar, dirinya juga merasa lapar, tapi hari ini dia tidak ingin dan tidak mengizinkan Nayla untuk keluar kamar.


Tangan Damar meraba-raba nakas, dia mengambil ponsel, lalu menelepon Bi Luna agar mengantarkan sarapan mereka ke dalam kamar.


Mengenai sarapan Seyna, Damar meminta Bi Luna agar memberitahu Aira untuk melayani serta menemaninya selama Nayla berada di kamarnya.


Bi Luna tersenyum, dia tahu majikannya pasti baru melakukan ritual layaknya pengantin baru.


Kemudian Bi Luna bergegas menata sarapan di atas nampan, lalu membuat susu dan mengupas buah.


Sementara Damar menggendong Nayla, membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri, agar mereka berdua bisa segera sarapan.


Setelah selesai, Damar kembali menggendong Nayla kembali ke kamar. Damar mengenakan pakaiannya terlebih dahulu, setelah itu baru membantu Nayla mengenakan pakaian dan mengeringkan rambutnya.


Terdengar suara pintu di ketuk, lalu Damar mempersilahkan Bi Luna masuk, karena Damar telah membuka kuncinya tadi, sebelum mengeringkan rambut Nayla.


Bi Luna meletakkan sarapan di meja khusus, dia sempat melihat Tuannya sedang mengeringkan rambut Nayla.


Dalam hati, Bi Luna bersyukur, kekerasan hati Tuannya akibat pernah dikecewakan wanita telah berhasil Nayla luluhkan. Tuannya melayani Nayla, istri kecilnya dengan kasih sayang yang belum pernah Bi Luna lihat saat dulu dia bekerja di rumah Damar bersama Carolina.


Dengan tersenyum, Bi Luna pamit meninggalkan kamar, sedangkan Nayla mengucapkan terimakasih tanpa berani memandang wajah Bi Luna, karena dia merasa malu.


Bersambung......


Selamat siang menjelang sore sobat, sambil menunggu aku Up lagi besok, mampir yuk ke dalam karyaku yang lain, semoga suka ya dengan karya-karya ku dan jangan lupa tinggalkan jejak, dengan cara follow, pavorit, vote, like dan koment membangun. Terimakasih


Semoga dukungan kalian berkah di dunia dan di akhirat. Aamiin.

__ADS_1



__ADS_2