
Damar menelusuri setiap ruangan yang ada di sana tapi belum juga menemukan Carolina. Kemudian dia terus mencari sampai ke belakang villa tapi tidak ada apapun di sana.
Sementara untuk menghubungi Bima, Damar belum memiliki ponsel pengganti karena ponselnya tadi dihancurkan di rumah sakit. Dewo dan pengawal lainnya belum juga sampai membawakan ponsel lain milik Damar yang ada di mansion.
"Akh," Damar kesal, lalu dia meraup wajahnya. Tapi, Damar berpikir kembali, nggak mungkin Carolina membohongi Bima, pasti ada satu ruangan tersembunyi yang luput dari pencariannya.
Damar kembali ke dalam, lalu dia memasuki kembali setiap kamar dan menggeledah, barangkali ada kamar rahasia dibalik kamar-kamar tersebut.
"Aku tidak akan menyerah, pasti kamu ada di sini Carol, Aku akan mencarimu meski ke ujung dunia sekalipun," monolog Damar sambil terus menggeledah.
Kamar utama menjadi pusat perhatian Damar dan akhirnya dia menemukan sebuah tombol ruangan di balik lemari arsip.
"Tombol apa ini, apa mungkin ada ruangan di sini. Coba aku buka, bisa jadi ada petunjuk di sini," monolog Damar lagi.
Setelah tombol itu ditekan, tembokpun bergeser dan Damar melihat ada lorong rahasia di sana.
Damar bergegas masuk, dia melihat ada beberapa kamar seperti sel. Dan benar saja, disana ada beberapa orang tahanan.
Melihat kedatangan Damar yang asing bagi mereka, para tahanan itupun meminta tolong agar dibebaskan.
"Apa rupanya yang kalian lakukan hingga dikurung?"
"Kami tidak melakukan tugas sesuai kemauan Tuan Rendra."
"Dan aku hendak insyaf serta kembali ke keluargaku, tapi Tuan marah, jadi berakhir lah disini."
"Hemm, sebentar aku cari cara untuk mengeluarkan kalian! Kalau kuncinya, tidak mungkin ada di sini."
Damar memperhatikan sekeliling, tidak ada satu bendapun yang bisa dia pergunakan untuk membobol terali.
Karena tidak ada yang bisa dia gunakan, akhirnya Damar keluar, dia akan mencari kunci atau alat apapun di dapur untuk merusak gembok.
Akhirnya Damar hanya menemukan kawat serta pisau. Lalu, Damar pun kembali ke sel khusus tersebut, dan dia bertemu Damar serta kedua pengawal yang baru saja tiba.
"Syukurlah kalian sudah sampai, cepat bereskan itu. Keluarkan mereka semua dari sana. Kamu bawa ponselku Wo?"
"Iya Bos," ucap Dewo sambil mengulurkan ponsel kepada Damar.
"Kamu bantu mereka Wo, aku akan mencari Carolina."
"Siap Bos."
Dewo dan 2 pengawal mencoba membuka gembok dengan peralatan yang Damar bawa, sedangkan Damar menghubungi Bima.
__ADS_1
Setelah tersambung, Dewo meminta Bima untuk menghubungi Carolina lagi.
Tapi sayang ponsel Carolina sudah tidak aktif.
Dewo dan kedua pengawal sudah berhasil membuka semua pintu sel tahanan. Mereka pun berterimakasih, sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tapi yang membuat Dewo heran, ada dua orang tahanan yang tidak mau pergi, malah mengikuti mereka.
"Kenapa kalian tidak pergi, cepatlah! sebelum mantan Bos kalian kembali dan menangkap kalian lagi."
"Tidak Tuan, tolong izinkan kami ikut kalian, lagipula kami tidak memiliki keluarga, jadi tidak ada yang menunggu kepulangan kami."
"Ya sudah, ayo bantu kami untuk mencari istri Bos kalian!"
"Waktu itu bos membawa istrinya ke arah sana dan bos cuma kembali sendirian. Barangkali, istri bos di tempatkan di salah satu sel atau kamar yang ada di sana," ucap salah satu tahanan.
"Baiklah, ayo kita cari ke sana Wo."
Damar, Dewo beserta yang lain, mencari Carolina sesuai petunjuk. Ternyata di lorong itu masih banyak ruangan kosong.
Terdapat sebuah ruangan yang di jaga oleh satu orang dan orang itu tertidur di kursi tunggunya.
"Nah, mungkin di situ Tuan!"
Dewo pun bergegas menghampiri penjaga yang tertidur, lalu dia menyenggol lengannya hingga membuat penjaga itu terbangun dan terkejut melihat beberapa orang sudah berdiri di hadapannya.
"Siapa kalian!" seru penjaga sambil menodongkan senjata.
"Percuma kamu melawan, sebaiknya bekerjasama dengan kami. Melawan, kamu bakal mati," ucap Dewo sambil menyeringai.
Penjaga itu tidak peduli dengan peringatan dari Dewo, dia tetap menyerang dan menembakkan senjata.
Dewo dan yang lain langsung menyergapnya dan dengan tendangan mematikan dari Dewo, penjaga itu langsung terkapar.
"Periksa kantongnya, barangkali kuncinya ada di sana!" perintah Dewo.
Ternyata benar dan mereka menemukan banyak kunci. Dewo segera mencoba satu persatu kunci, hingga mendapatkan uang cocok dan pintu pun terbuka.
Damar melihat, Carolina diikat pada sebuah kursi. Dan mulutnya di tutup pake lakban.
Mata Carolina berbinar, dia senang Damar yang datang, itu menandakan jika Damar masih peduli dengannya.
Carolina mencoba bersuara, meski tidak jelas terdengar.
__ADS_1
"Buka penutup mulutnya Wo!"
Dewo menuruti perintah Damar, ketika penutup mulutnya terbuka, kembali kata-kata pedas terdengar.
"Hei bodoh! buka juga ikatan ini, untuk apa hanya penutup mulut!"
Mereka tidak mengindahkan perkataan Carolina dan Damar sengaja ingin membuatnya kesal.
Setelah puas mendengar ocehan Carolina, Damar mencengkeram rahangnya sambil berkata, "Ini hasil yang kau tuai! Jadi nikmatilah cinta dari suamimu itu."
"Lepaskan aku Sayang, masa kamu tega melihat ku terikat seperti ini. Tolong dong Yang! Aku menyesal dan aku minta maaf."
"Hahaha, maaf? Jangan mimpi!"
"Ayo dong yang, kita akan bersama lagi. Aku janji akan membahagiakan mu kali ini."
"Makan janjimu itu!" ucap Damar sambil mencengkeram rahang Carolina kembali. Setelah itu, diapun berkata, "Bawa dia, biar kita kenalkan dia dengan Marissa!"
Setelah memberi perintah, Damar langsung berbalik dan keluar meninggalkan ruangan tersebut.
Merekapun meninggalkan villa tanpa hambatan, hingga sampai di mansion.
"Bawa dia dan gabungkan dengan kedua pembantu resek. Aku akan menyusul nanti!"
"Baik Tuan!"
"He...aku mau di bawa kemana? Lepaskan! Damar, Damar aku ikut kamu saja!" ucap Carolina yang belum juga menyadari kesalahannya.
"Diam! mau aku sobek mulutmu! Syukur Tuan Damar masih sabar, jika tidak sudah sejak tadi aku bungkam mulut cerewet mu itu."
"kurang ajar kamu! Awas kamu, jika aku jadi Nyonya rumah ini. Orang pertama yang aku singkirkan adalah kamu!"
"Jangan mimpi, kamu tidak akan bisa melihat matahari lagi bila sudah masuk ke ruangan Marissa."
"Siapa Marissa, apa gadis simpanan Bos kalian?"
"Bisa dibilang begitu. Pokoknya kamu persiapkan saja nyalimu. Dan berdoa akan ada keajaiban yang membuatmu bisa keluar dari sana dengan selamat."
"Banyak bacot kalian! Damar tidak akan mungkin mencelakaiku!"
Dewo dengan paksa menarik Carolina yang mencoba melawan, lalu setelah sampai, dia membuka ruangan Marissa.
"Masuk! Nikmati hari-hari mu di sini bersama teman-teman mu dan sebentar lagi akan ada pertunjukan seru. Selamat menikmati Nyonya sombong!"
__ADS_1
Dewo mendorong masuk Carolina hingga tersungkur dan setelah itu, dia menutup kembali ruangan tersebut dan terdengar suara auman Marissa mengiringi kepergian Dewo.