RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 44. DENDAM RENDRA


__ADS_3

Carolina yang telat sampai di rumah menjadi panik, karena tidak menemukan Rendra dan bayinya di kamar.


"Bi, Bapak dan Gibran kemana ya Bi?"


Mungkin ke rumah sakit Bu, karena Den Gibran nangis terus, Bapak tadi sempat marah dan karena ibu tidak juga pulang.


"Iya Bi, tadi jalanan macet jadinya aku telat sampai."


"Coba hubungi Bapak saja Bu, karena kami tidak ada yang tahu Den Gibran dibawa ke rumah sakit yang mana!"


"Ini juga sedang aku hubungi Bi, tapi ponsel Bapak tidak aktif. Aku jadi khawatir Bi. Oh ya Bi, aku mau cek ke rumah sakit terdekat, jika Bapak pulang, cepat kabari aku ya!"


"Baik Bu."


Carolina pun bergegas mengajak anak buahnya untuk mencari keberadaan Rendra bersama bayinya di rumah sakit terdekat. Dia takut karena Rendra sudah mengancam sebelumnya, jika mengabaikan mereka dan ketahuan Carolina berurusan dengan Damar, maka Rendra akan melakukan hal yang akan Carolina sesali.


Sementara Rendra yang panik dengan keadaan putranya meminta dokter untuk segera memberikan pertolongan. Berapapun biayanya dia akan membayar asalkan putranya selamat.


Suhu tubuh Gibran sangat panas, badannya kejang-kejang dan bibir serta area wajahnya membiru, menurut dokter telah terjadi infeksi di bagian dalam tubuhnya.


Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir tak dapat ditolak, Gibran menghembuskan nafas terakhirnya.


Rendra sangat emosi, dia mengamuk di rumah sakit yang menurutnya para dokter tidak becus dalam bekerja. Padahal dokter sudah menjelaskan kenapa sampai telat membawa bayi gibran ke rumah sakit.


Para security rumah sakit berusaha menghalangi Rendra, dia telah merusak alat-alat rumah sakit yang terdapat di ruangan dimana putra Gibran dirawat.


Anak buahnya juga sudah berusaha menenangkan Rendra dan mengatakan jika itu semua bukan kesalahan dokter.


Setelah Rendra tenang, dia membawa mayat putranya dan meminta anak buahnya untuk menyelesaikan administrasi rumah sakit.


Rendra tidak membawa jenazah Gibran pulang, tapi dia membawanya ke villa keluarga yang ada di luar kota.


Rendra meminta kepada anak buahnya untuk membelikan formalin, karena dia tidak ingin Gibran dikebumikan sebelum membalas dendam kepada Damar dan juga Carolina.


Menurut Rendra, Carolina mengabaikan Gibran sejak Damar kembali dari luar negeri dan menjadi pewaris harta Richard.

__ADS_1


Carolina sibuk di luar rumah, hingga mengabaikan bayi Gibran yang sudah beberapa hari sakit.


Rendra terpuruk, dia menangis di depan mayat putranya dan dia berjanji, akan membuat Carolina menyesal telah mempermainkan dan mengabaikan dia dan putranya.


Carolina mencari bayinya di dua rumah sakit terdekat, dia sangat terkejut saat mendapatkan informasi dari pihak rumah sakit, jika memang ada seorang pasien bayi atas nama Gibran tadinya di rawat di sana. Tapi sekitar dua jam lalu telah meninggal dunia dan jenazahnya sudah di bawa pulang.


Carolina menangis, dia menyesal, memang dalam dua hari ini, dia sibuk dengan urusan Nayla dan Seyna hingga menyerahkan pengurusan bayi Gibran kepada pengasuhnya saja.


Dia menelepon rumah, untuk menanyakan apakah Rendra sudah kembali ke rumah bersama jenazah putranya, tapi Carolina kecewa, ternyata Rendra tidak juga kembali.


Carolina menelepon dan meminta anak buahnya untuk mencari Rendra ke tempat-tempat yang biasa dia kunjungi.


Kemudian diapun meminta bantuan keluarganya untuk melacak keberadaan Rendra.


Keluarga Carolina memang cukup berada, mereka menggunakan koneksinya untuk melacak keberadaan Rendra.


Carolina kembali ke rumah, dan saat ini dia mondar-mandir menanti kabar dari orang-orang yang telah di tugaskan untuk mencari suami dan jenazah putranya.


Saat hati dan pikirannya sedang ruwet, Carolina menerima telepon dari Betty, pembantu di mansion Damar.


"Hallo, ada apa kamu menghubungi ku, jika tidak ada hal penting, lebih baik kamu jangan menghubungiku. Aku saat ini sedang banyak masalah," ucap Carolina kesal.


"Nyonya, aku hanya ingin bertanya, apa anda kemaren jadi datang ke rumah sakit? Dan aku dengar adik Sri gembel itu diculik. Tadinya kami senang, eh barusan para pengawal membawa kedua gembel itu kembali ke sini. Kami 'kan kesal jadinya. Kenapa nasib kedua gembel itu selalu beruntung."


"Apa kamu bilang, kamu yakin mereka selamat dan telah pulang?" tanya Carolina heran.


"Ya jelas yakin Nyonya, baru saja keduanya lewat di depan kami, memangnya kami ini buta atau anda kira kami pikun," jawab Betty.


"Kurang ajar, rencanaku gagal lagi, dasar anak buah sialan! Sudah dibayar mahal tapi kerja tidak becus!" ucap Carolina yang bertambah kesal.


"Sekarang kalian awasi saja mereka, jangan hubungi aku dulu sebelum aku yang menghubungi kalian. Aku sedang menyelesaikan masalah di sini! Kalian mengerti?"


"Oke Nyonya, kami mengerti. Semoga masalah Nyonya cepat selesai ya, biar kita bisa melanjutkan misi kerjasama kita."


"Heemm," ucap Carolina lalu menutup ponselnya.

__ADS_1


Carolina kesal terhadap anak buahnya yang dia tugaskan untuk menjaga Seyna, lalu dia berusaha menelepon mereka tapi tidak ada jawaban.


Perasaan marah dan kesal, Carolina lampiaskan dengan melempar ponselnya ke lantai hingga hancur terbelah.


Pengawal yang baru masuk terkejut, dia sempat mau berbalik tapi Carolina memanggilnya.


"Kenapa kamu pergi! Ada berita apa!"


"Nya, maaf belum ada berita apapun, apa tidak sebaiknya kita datangi keluarga Tuan saja? barangkali Tuan membawa jenazah dedek bayi ke rumah keluarganya."


"Aku rasa tidak, tapi tidak ada salahnya, sekarang juga kalian cari info, bila perlu datangi setiap pemakaman terdekat dan pemakaman dekat rumah keluarga Rendra!" perintah Carolina.


"Baik Nyonya, kita berharap semoga Tuan segera kita temukan."


"Heemm, Aku mau istirahat di kamar, jika ada kabar cepat beritahu aku."


"Baik Nyonya."


Carolina pun bergegas menuju kamar, diapun berbaring sambil membayangkan wajah putranya.


Sebenarnya Carolina masih ragu, menurutnya bisa saja Gibran masih hidup dan ini adalah akal-akalan Rendra untuk memisahkan dan mengancam dirinya dengan menyembunyikan Gibran.


Sementara Muti menemani Seyna beristirahat, malam ini dia ingin tidur bersama sang adik.


"Tidurlah Dek, jangan takut, kakak di sini menjagamu," ucap Nayla sambil mengelus rambut panjang adiknya.


"Aku tidak apa-apa Kak, Kak Nay juga butuh istirahat. Bukankah besok pagi Kak Damar tiba disini?"


Nayla hanya mengangguk dia tahu apa yang dimaksud oleh sang adik, walau Seyna tidak mengatakannya.


"Aku akan istirahat Dek, tapi setelah kamu tidur."


"Baiklah Kak, selamat malam, aku duluan tidur ya, semoga kita bermimpi indah!" ucap Seyna, lalu dia berbalik membelakangi sang kakak sambil menutup matanya.


Beberapa saat, Nayla memperhatikan adiknya dan setelah yakin Seyna sudah tidur, barulah Nayla kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Nayla berpapasan dengan Aira di tangga dan dia meminta tolong agar Aira menemani Seyna tidur di kamarnya.


__ADS_2