
Beberapa pengawal dari mansion sudah menunggu dan menyambut kepulangan mereka.
"Pelan-pelan Tuan Arkan," ucap para pengawal yang membantu Arkan turun dari tangga pesawat.
"Kami tadi sempat nggak yakin Tuan, saat membaca pesan masuk dari pengawal yang tinggal di sana, jika Tuan besar beserta rombongan tiba di bandara pada pukul 3 dini hari. Kami pikir hanya jebakan karena pemberitahuan, tersebut sangat mendadak," ucap Dewo.
"Memang sengaja Wo, agar kepulangan kami tidak diketahui banyak orang," ucap Arkan.
"Selamat datang Tuan besar, Bos dan Nyonya!"
"Terimakasih Wo, bagaimana keadaan mansion selama kami pergi?" tanya Damar.
"Ada yang berseliweran Tuan, tapi karena penjagaan kami perketat, mereka tidak ada yang berani masuk."
"Keadaan Seyna bagaimana Wo?"
"Non Seyna kurang bersemangat sepertinya Bos, tapi mudah-mudahan setelah kepulangan Nyonya, akan membangkitkan semangatnya lagi," jawab Dewo.
"Apa dia tiduran saja Wo?" tanya Nayla cemas.
"Tidak Nya, tapi Non Seyna sering melamun dan terkadang merintih, barangkali menahan rasa sakitnya. Tapi Nona tidak pernah mengeluh kepada siapapun," jawab Dewo lagi.
"Apa Nona juga tidak tahu tentang kepulangan Nyonya?" tanya Dewo.
"Tidak Wo, kami pulang mendadak dan sengaja tidak memberitahu siapapun," jawab Nayla.
"Ayo Mas, aku sudah tidak sabar ingin melihat Seyna, dia pasti senang melihat kita pulang," ajak Nayla.
"Iya Sayang," jawab Damar.
"Pa, ayo kita pulang! Papa mau semobil dengan kami atau dengan Arkan Pa?"
"Papa dengan Arkan saja! Kalian duluan, tapi ingat harus tetap waspada! Sepertinya ada yang tidak beres!" ucap Richard sembari melihat ke sekeliling.
Mendengar perkataan Richard, Damar berteriak, meminta semua untuk segera naik ke dalam mobil, dia percaya dengan insting Sang Papa.
Ternyata apa yang Richard katakan benar, tanpa bisa dielakkan, sebuah anak panah berhasil menembus dada salah satu pengawal.
"Cepat lindungi istrimu! Pergilah kalian duluan, Aku akan mengurus semua ini!" Teriak Richard kepada Damar.
"Tapi Pa!"
"Cepat pergi!"
__ADS_1
Damar tidak berani membantah omongan Richard lagi, lalu diapun segera meminta sopir untuk melajukan mobil kembali ke mansion.
Yang bisa Damar lakukan hanya menelepon Dewo agar melindungi Richard.
Dewo mengerti akan tugasnya, lalu dia bersiap dengan senjata di tangan mendekati Richard yang sedang memeriksa mayat pengawal yang meninggal karena terkena anak panah.
Di ujung anak panah tersebut tertancap sebuah surat. Kemudian Richard menarik surat tersebut dan menyatukan robekannya.
Di sana tertulis sebuah ucapan, "Selamat datang kembali, tertanda sahabat lama!"
Richard melihat di pangkal anak panah tertulis sebuah kode huruf, lalu dia berkata, "Kalian berdua, urus pemakaman dan beri santunan layak kepada keluarga korban. Ini cuma sambutan dari si bocah tua nakal, dia memang keterlaluan, menyambut kepulangan ku dengan menumpahkan darah!"
"Yang lain ayo kita kembali! Aku sudah rindu rumah," ucap Richard sembari berbalik menuju mobil.
Di kejauhan, Richard melihat teman lamanya melambaikan tangan sembari pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Dasar bocah tua usil, ternyata kamu tahu kepulangan ku!" monolog Richard.
"Siapa Tuan? Anda berkata dengan siapa?" tanya Dewo.
"Teman lama menyambut kepulanganku, ayo kita jalan! Aku tidak ingin makin banyak yang tahu, sebelum aku pulih. Apalagi musuh-musuh lamaku."
"Baik Tuan!" ucap Dewo.
Dua mobil pengawal mengiringi mobil yang dikendarai oleh Richard.
Damar sengaja memperbanyak pengawalan untuk Richard ketimbang dirinya, karena dia tidak mau ambil resiko jika ada penyerangan mendadak, terhadap dua orang yang belum sembuh dari sakit yaitu Richard dan Arkan.
"Arkan kelihatannya kamu demam, lihat ini keningmu panas sekali!" ucap Richard sambil menyentuh kening Arkan.
"Wo, hubungi Luna agar menelepon dan meminta dokter untuk datang ke rumah sekarang juga!" perintah Richard.
"Baik Tuan!"
"Satu lagi, bilang ke Luna untuk memasakkan Sup, menantuku butuh asupan gizi biar kondisi kesehatannya stabil."
"Iya Tuan," jawab Dewo.
Dewo segera menjalankan perintah dari Richard dan dia menghubungi Bi Luna untuk mempersiapkan apa yang Richard minta.
Bi Luna yang baru bangun dan hendak menjalankan ibadah subuh terkejut saat mendengar ponselnya berdering.
Beliau melihat dalam ponselnya, nama Dewo sedang memanggil. Bi Luna langsung menerima panggilan tersebut, lalu dia mengiyakan apa yang diperintahkan oleh Tuannya.
__ADS_1
Bi Luna melaksanakan ibadahnya dulu, lalu dia menelepon dokter keluarga untuk datang saat ini, karena kondisi darurat.
Setelah itu, Bi Luna bergegas ke dapur memasakkan Sup daging untuk kepulangan Nayla.
Untung saja stok bahan makanan masih banyak di dalam kulkas, hingga dengan cekatan Bi Luna mulai meracik apa yang hendak beliau masak.
Betty dan Tisya yang baru saja keluar dari kamar, langsung mencari Bi Luna, mereka ingin tahu apa tugas awal untuk hari ini.
Keduanya tercengang saat melihat Bi Luna pagi-pagi sekali sudah berkutat dengan bahan masakan.
Betty dan Tisya, mendekati Bi Luna lalu bertanya,"Bi, memangnya mau ada tamu ya? Banyak sekali yang mau Bibi masak?"
"Tidak usah banyak tanya, cepat bantu aku, biar semuanya segera tersaji!" pinta Bi Luna.
Betty dan Tisya pun tidak berani membantah, lalu keduanya berbisik-bisik sambil menyiangi sayur.
"kerja itu yang benar, jangan sampai ada ulat yang masih menempel di daun sayuran! Kalian pikir aku tidak tahu jika sejak tadi kalian berdua berbisik-bisik," tegur Bi Luna tanpa memandang ke arah keduanya.
"Iya lho Bi, meski kami ngobrol tapi pekerjaan pasti beres!" jawab Tisya.
Kamu Betty, sebaiknya jerangkan Nasi! biar itu jadi tugas Tisya saja," perintah Bi Luna lagi.
Dokter keluarga yang bi Luna hubungi pun sudah datang, dan Bi Luna meminta beliau agar menunggu di ruang tamu sambil ngeteh.
Bi Luna kembali melanjutkan pekerjaannya dan saat semua hampir rampung, rombongan Damar pun tiba.
Damar dan Nayla keluar dari mobil diikuti oleh tiga pengawal pribadinya.
Saat melihat Dokter ada di sana, Damar pun bertanya, "Pagi Dok, siapa yang sedang sakit Dok?" tanya Damar.
"Saya belum tahu Tuan, cuma tadi di hubungi Bi Luna untuk datang secepatnya ke sini. Saya pikir Tuan yang sakit?"
"Tidak Dok, mungkin Papa yang memberi perintah kepada Bi Luna. Kita tunggu saja kedatangan beliau beserta yang lain," ucap Damar.
"Mas, aku boleh menemui Seyna?"
"Pergilah Nay, aku mau menunggu Papa dulu," ucap Damar.
"Terimakasih Mas, mari Dokter!" ucap Nayla.
Setelah mendapatkan anggukan dari keduanya, Nayla buru-buru menuju kamar Seyna.
Saat itu pintu kamar Seyna tidak terkunci. Jadi, Nayla pun mengendap masuk. Nay melihat sang adik menggelung dibalik selimutnya.
__ADS_1
Perasaan rindu membuat Nayla mendekap sang adik hingga Seyna terkejut dan terbangun.