
Dewo dan Aira kembali ke rumah untuk menjemput ibu, lalu mereka mengunci pintu dan menitipkan kunci tersebut kepada tetangga. Dewo, Aira dan ibu siap berangkat ke mansion Damar.
Carolina yang mendapatkan kesempatan untuk menghubungi Betty dan Tisya, segera menelepon dan memberi perintah untuk mencelakai Nayla bagaimanapun caranya.
Dia ingin Nayla keguguran, dan bila perlu tidak bisa mengandung lagi.
Carol akan membayar Betty dan Tisya dengan bayaran setimpal bila mereka berhasil menjalankan misinya. Sebagai uang muka, Carol akan mentransfer senilai 10 juta.
Mendengar bayaran besar, Betty dan Tisya sangat bersemangat. Secepatnya mereka akan membuat Nayla di tendang keluar dari rumah karena tidak becus menjaga kehamilannya.
Carolina buru-buru menutup ponselnya, takut Rendra datang. Dia tidak ingin Rendra menambah hukuman dengan tidak memberinya kebebasan untuk keluar rumah.
Nayla hari ini begitu gembira, meski dia tahu kondisi Seyna pasti akan menyulitkan Arkan.
Janjinya kepada almarhum ayah dan ibunya akan segera terpenuhi.
Nayla jadi sedih saat teringat ayah serta ibunya. Hal itu membuat Damar berusaha menghiburnya.
"Besok kita Ziarah ya Yang! Sudah lama kita tidak mengunjungi makam ayah dan ibu."
"Serius Mas! Kita ajak Seyna dan Arkan ya, besok aku yang akan mintakan izin kepada dokter."
Damar mengangguk, dia senang Nayla kembali bersemangat.
Nayla belum menghubungi Seyna, sudah masuk panggilan dari Arkan ke ponsel Damar.
Dia ingin mengajak Damar dan Nayla berziarah.
"Ternyata ide kita sama Kan, aku barusan berkata kepada Nayla, untuk mengajak kalian Ziarah ke makam ayah dan ibu, besok."
"Syukurlah kalau begitu Bos, besok pagi, biar aku temui dokter dulu sambil menunggu Bos datang menjemput kami."
"Oke Kan. Kami akan menjemput kalian pukul 10.00 ya!"
"Siap Bos!"
Setelah Arkan menutup panggilan, Damar mengajak Nayla menemui Richard. Dia ingin membicarakan tentang acara pernikahan Arkan dengan Seyna dan Dewo dengan Aira.
Damar mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada jawaban dari dalam.
__ADS_1
Melihat Damar ada di depan pintu kamar Richard, Bi Luna pun menghampiri, "Den, Tuan sedang mengunjungi Marissa, katanya beliau sudah lama tidak bermain dengan Marissa."
"Oh, baiklah Bi. Sayang apa kamu mau ikut?"
"Nggak Mas, aku takut!"
"Ya sudah, kamu di sini saja dengan Bi Luna, atau istirahat di kamar. Aku akan mencari ayah, sekalian mau melihat Marissa."
"Iya Mas."
Sepeninggal Damar, Nayla ke dapur, dia ingin membantu BI Luna membuat cemilan untuk ngeteh sore.
"Bi, aku bantu ya!"
"Nggak usah Non, biar Bibi saja, lagipula sebentar lagi juga siap. Non istirahat saja atau nonton televisi."
"Nggak Bi, capek duduk dan tiduran melulu. Aku ke taman saja ya Bi, mau lihat ikan di kolam dan lihat-lihat tanaman, barangkali ada yang perlu diganti tanah dan potnya."
"Iya silakan Non. Jika butuh teman, panggil saja Betty atau Tisya Non."
"Nggak usah Bi, Saya sendiri saja. Lagipula mereka masih menyelesaikan pekerjaannya."
"Kalau butuh apa-apa telepon saja Saya Non, nanti Non capek bolak-balik."
Nayla berjalan ke arah taman, dia kesepian di rumahnya, sejak Aira dan Seyna di rumah sakit. Apalagi jika Damar tidak ada bersamanya, seperti sekarang ini.
Sesampainya di taman, Nayla duduk sambil memperhatikan ikan yang sepertinya kelaparan.
Nayla mengambil makanan ikan, lalu menaburkan ke dalam kolam. Melihat ikan berebut memakan makanannya, diapun merasa terhibur.
Saking asyiknya, Nayla tidak menyadari jika Betty dan Tisya datang, mereka berbisik-bisik sepertinya merencanakan sesuatu.
Betty mendekati Nayla, lalu pura-pura tersandung, terjatuh mengenai tubuh Nayla dan dengan gerakan cepat mendorongnya hingga masuk ke dalam kolam.
Nayla terkejut, dia sempat terminum air kolam, lalu menyembulkan kepalanya untuk menghirup udara dan berteriak minta tolong.
Betty dan Tisya mondar-mandir, mereka pura-pura panik, mencari cara untuk menolong Nayla.
Nayla yang lebih pandai berenang ketimbang Seyna, berusaha menepi. Dan melihat hal itu Betty serta Tisya saling pandang. Mereka tidak akan membiarkan Seyna naik dan selamat.
__ADS_1
Tisya mengulurkan tangan tapi dia lalu mendorong Nayla. Dan Nayla pun kembali kecebur dan tenggelam.
Aira dan Dewo yang baru sampai, lalu pergi mencari keberadaan Nayla dengan bertanya kepada Bi Luna.
Dia tahu, Nayla pasti saat ini sedang kesepian. Bi Luna pun memberitahu, jika Nayla ada di taman.
Aira izin kepada Dewo, dia ingin menyusul Nayla ke taman.
Nayla masih berjuang untuk naik, tapi kedua pembantu resek tersebut masih terus menghalanginya. Teriakan Nayla pun sia-sia dan tidak ada yang mendengarnya.
Betty memberi kode kepada Tisya, agar secepatnya bertindak sebelum ada orang yang tahu dan melihat keberadaan mereka di sana bersama Nayla.
Sekarang, pekerjaan dan keselamatan mereka sedang di pertaruhkan. Jika sampai gagal, pasti nyawa mereka beserta keluarga pasti terancam.
Sambil celingukan, Betty meminta Tisya untuk masuk ke dalam kolam agar bisa membenamkan Nayla.
Tisya pun mengikuti perintah Betty. Lalu, dia mencebur dan mendekati Nayla. Tisya segera menarik tubuh Nayla dan berusaha membenamkannya.
"Cepat Tisya, waktu kita nggak banyak. Aku takut akan ada yang datang kesini."
Nayla melakukan perlawanan, tapi karena cengkeraman dan tenaga Tisya lebih kuat, maka Nayla pun kalah.
"Ka...kalian!" cuma itu kalimat yang keluar dari mulut Nayla sebelum dirinya tenggelam lagi.
Nayla masih berusaha untuk keluar dari sana, dia melawan Tisya demi keselamatan bayi yang ada dalam kandungannya.
Teriakan Nayla semakin melemah tapi dia tetap tidak mau menyerah.
Aira yang melihat Betty dari kejauhan sedang celingukan, merasa curiga. Lalu dia berlari menghampiri kolam. Aira berteriak dan tanpa pikir panjang lagi, menceburkan diri.
Dengan sigap, Aira mendorong Tisya, lalu dia berusaha menolong Nayla yang hampir pingsan.
"Baji**an! Kalian mau membunuh temanku!" teriak Aira.
Betty tidak mau usaha mereka gagal karena kehadiran Aira, dia ikut menceburkan diri untuk melawan Aira.
Keduanya berusaha menyingkirkan Aira sebelum dia berhasil menyelamatkan Nayla.
Aira yang memang pandai berenang, terus menarik Nayla sambil melawan kedua pembantu resek tersebut.
__ADS_1
Dia harus segera menyelamatkan Nayla, apapun resikonya.
Bersambung.....