
Damar dan Nayla menghabiskan hari ini dengan bersenang-senang, hingga sore pun tiba dan mereka kembali ke kamar.
Setelah membersihkan diri, Nayla meminta izin untuk menemui Seyna, karena dia merindukan sang adik.
Damar pun mengizinkan Nayla karena dia juga harus pergi sebentar menemui Dewo. Ada tugas yang harus segera mereka selesaikan.
"Pergilah Nay temui Seyna, aku juga akan bersiap untuk bertemu Dewo. Kita bertemu lagi nanti, saat makan malam. Tunggu aku di ruang makan dan kita akan makan malam bersama yang lain," ucap Damar.
"Iya Mas, aku pergi dulu ya," ucap Nayla sambil meninggalkan kecupan di pipi Damar.
"Ih, curang! Masa cuma sebelah, yang ini belum Nay," ucap Damar sembari memajukan bibirnya.
Nayla tertawa, lalu dia pura-pura pergi hingga membuat Damar kecewa, tapi ternyata Nayla kembali dan dengan repleks dia mencium bibir Damar.
Damar tersenyum dan membalas ciuman tersebut. Setelah itu dia melepaskan Nayla sembari berkata, "Ini baru Dp ya, sisanya nanti malam aku tagih," ucap Damar.
__ADS_1
Nayla membulatkan mata, lalu pergi meninggalkan kamar. Damar tersenyum melihat tingkah sang istri, dan diapun segera bergegas untuk pergi menemui Dewo.
Dewo yang sudah di beritahu jika Damar ingin bertemu, segera bersiap dan pergi ke halaman belakang mansion.
Di sana mereka akan mengorek informasi dari pengawal yang Dewo tangkap saat penculikan Seyna dan Nayla.
Saat Damar tiba, Dewo pun sudah ada di sana, lalu keduanya segera menuju ke ruangan bawah tanah di mana pengawal itu di kurung.
Saat tiba di pintu ruangan, Damar berkata, "Cepat buka dan biarkan dia keluar, aku ingin melihat apa yang bisa dia lakukan jika Marissa ada di ruangan yang sama dengannya!"
Saat pintu terbuka pengawal itu sangat terkejut melihat seekor harimau besar berjalan ke arahnya sambil mengaum keras.
Damar menjentikkan jarinya dan tiba-tiba Marissa duduk sembari menghadapnya.
Pengawal yang tubuhnya sudah gemetar, terperangah melihat kejadian itu. Dia tidak mengira, jika Damar memiliki peliharaan hewan buas yang sudah dia jinakkan.
__ADS_1
"Buka ikatan tangan dan kakinya, aku ingin lihat apa dia mampu bertarung dengan Marissa atau tidak," perintah Damar.
Kali ini Dewo yang berjalan mendekati sang pengawal, dan dia berkata, "Sekarang, kamu lebih baik jujur, sebelum bos kami mengumpankan dirimu untuk menjadikanmu santapan lezat bagi kesayangannya!"
"Aku sudah mengatakan, jika tidak ada orang yang menyuruh kami, itu semua memang kami yang lakukan karena kami ingin mendapatkan uang lebih banyak dengan menyandera keduanya!"
"Bohong kamu! Ayo cepat katakan! Jangan sampai bosku yang turun kesini!" ucap Dewo.
Tapi, ancaman Dewo tetap tidak mempan, Damar yang melihat hal itu tersenyum, padahal di dalam hatinya dia sangat kesal, telah di sepelekan oleh pengawal tersebut.
Damar maju, lalu dia memegang rahang pengawal itu hingga berbunyi dan pengawal itupun mengerang kesakitan karena cengkeraman tangan Damar begitu kuat.
"Katakan! Siapa yang menyuruhmu untuk menculik Seyna dan mengancam istriku! Cepat! Sebelum aku berubah pikiran," ucap Damar.
"Jangan harap aku akan mengatakannya! Meskipun kamu membunuhku, aku tidak akan mengatakannya," jawab pengawal Carolina.
__ADS_1
Damar mempererat cengkeraman tangannya hingga suara gemeretak tulang rahang orang itu terdengar lagi. Sekali lagi jeritan menggema di ruangan tersebut, namun pengawal itu tetap bungkam.