
Damar meminta Nayla menggandeng lengannya, mereka harus turun secepatnya untuk makan malam bersama Seyna.
Melihat Nayla menggandeng lengan Damar, Seyna sangat senang. Setidaknya dia merasa tenang, sang Kakak sudah mendapatkan kebahagiaan. Jika memang ajal menjemput dirinya untuk menghadap sang pencipta, Seyna ikhlas.
Bi Luna tersenyum menyaksikan majikannya, Damar yang dingin ternyata bisa begitu perhatian terhadap Nayla. Kedua pelayan resek itupun tidak berani lagi berbuat yang aneh-aneh sejak ancaman terakhir Bi Luna.
Seperti sebelumnya, Nayla melayani Damar terlebih dahulu, sebelum mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Nayla juga mengambilkan makanan untuk Seyna sesuai diet makanan yang diperintahkan oleh dokter. Nayla ingin adiknya sembuh, jadi dia menjaga pola makan Seyna sesuai anjuran dokter.
Suasana hening selama ritual makan, hanya suara alat makan saja yang sesekali berdenting, Nayla lalu memecahkan keheningan dengan bertanya, "Mas mau tambah?"
"Sudah cukup Sayang," ucap Damar. Sebutan Sayang membuat Nayla malu karena di sana ada beberapa orang pelayan yang juga sedang makan di meja yang berbeda.
Nayla menatap Seyna yang tersenyum-senyum sendiri, lalu diapun berkata, "Kamu Dek, mau tambah?"
"Sudah kenyang Kak, Kak Nay yang harus makan lebih banyak, biar sehat dan biar cepat di beri momongan. Mumpung aku masih di beri kesempatan hidup kak! Aku ingin melihat keponakan ku lahir."
Nayla tersedak dan Damar juga terbatuk, tapi Damar langsung menjawab, "Pasti kamu bisa menggendong mereka nanti, yakinlah kamu pasti bisa sembuh," ucap Damar yang masih menutupi keadaan Seyna sebenarnya.
"Iya Dek, ayo semangat! besok kamu harus kembali untuk menjalani perawatan lagi. Kakak yakin kamu pasti sembuh," ucap Nayla.
Setelah menyelesaikan ritual makan, Nayla minta izin kepada Damar untuk mengantar adiknya ke kamar, karena ada sesuatu yang harus dia bicarakan.
Damar pun mengizinkan dan dia memilih menunggu Nayla di kamarnya, sembari menyelesaikan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.
Nayla dan Seyna berbincang, dia ingin adiknya tetap optimis akan keberhasilan kemoterapi yang akan dilakukan esok.
Kak Nay jangan khawatir, aku tidak takut lagi akan datangnya kematian, karena keinginan terbesar ku untuk melihat pernikahan dan kebahagiaan Kakak sudah terkabul," ucap Seyna sembari memegang kedua tangan sang kakak.
"Kamu tidak boleh ngomong seperti itu Dek, Kakak cuma punya kamu. Lagi pula Kak Nay di sini juga hanya sementara!" ucap Nayla terpaksa jujur.
__ADS_1
Nayla sedih mendengar Seyna sudah siap dengan kematiannya, sedangkan Nayla sendiri belum tahu nasib rumah tangganya nanti setelah perjanjian usai.
"Apa maksud Kak Nay? Memangnya Kakak mau pindah?" tanya Seyna.
Nayla terdiam, ketika dia hendak menjelaskan, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Silahkan masuk!" ucap Nayla.
Pintu pun terbuka, ternyata Aira yang datang membawakan air untuk Seyna, kini jadwal Seyna untuk meminum obat.
"Terimakasih Kak," ucap Seyna.
"Sebentar aku ambilkan obatnya," ucap Nayla.
"Nay, Tuan memanggilmu. Katanya kamu harus cepat kembali ke kamar, sepertinya Tuan akan pergi karena sudah berpakaian rapi," ucap Aira.
"Oh, benarkah Ai. Kakak pergi dulu ya Dek, jangan lupa obatnya semua harus di!" pamit Nayla.
Damar menarik Nayla ke dalam pelukannya, lalu dia mencium puncak kepala dan kening Nayla, "Maafkan aku Nay, malam ini aku harus terbang, barusan Dokter menelepon, kondisi Papa memburuk. Aku sudah meminta Arkan untuk menyiapkan pesawat pribadi. Sebenarnya aku ingin mengajakmu sekaligus mengenalkan dengan Papa, tapi kamu pasti ingin menemani Seyna dalam menjalani kemoterapi."
Nayla terdiam, memang pilihan sulit baginya, di satu sisi menemani suami dan satu sisi lagi Seyna sangat membutuhkan dukungannya.
"Kamu jangan khawatir, begitu keadaan Papa kembali normal, aku akan pulang secepatnya," ucap Damar.
Damar mencium bibir Nayla dengan lembut, lalu dia berkata, "Kamu sabar menungguku pulang bukan, aku mohon jaga semua ini hanya untukku!" ucap Damar sembari mencium bibir Nayla dan kali ini dengan ritme yang cukup lama.
Nayla membalas ciuman Damar, lalu dia memeluk Damar dengan erat. Walaupun pernikahan mereka terjadi hanya karena perjanjian sementara, tapi Nayla merasa benar-benar sedih, dia seakan tidak rela untuk berpisah dengan sang suami.
Mungkin perhatian dan kasih sayang yang Damar berikan dalam beberapa hari ini telah menumbuhkan bibit cinta di hati Nayla.
__ADS_1
Nayla tidak peduli dengan apa yang nantinya bakal terjadi, saat pernikahannya harus berakhir. Yang dia inginkan sekarang adalah menikmati kebahagiaan walau sebentar.
"Sudah dong lepaskan aku, bagaimana aku akan pergi, jika kamu memelukku terus seperti ini," ucap Damar sembari mencium Nayla kembali.
Nayla malu, lalu dia melepaskan pelukannya dan berkata, "Hati-hati ya Mas, salam untuk Papa. Semoga Papa kembali pulih.
Damar pun merasa berat hendak pergi, padahal niatnya menikahi Nayla hanya untuk menggunakan rahimnya demi mendapatkan keturunan, tanpa berharap cinta sedikitpun. Karena bagi Damar, cinta cuma kebohongan seperti yang Carolina berikan.
Tapi semakin dekat dan semakin mengenal kehidupan Nayla beserta sang adik, membuat Damar ingin melindungi keduanya.
Damar juga tidak tahu, apakah yang dia rasakan saat ini cinta atau hanya sekedar rasa iba atau hanya rasa tanggungjawab.
Nayla memegang tangan Damar lalu menciumnya, layaknya seorang istri yang hendak melepas kepergian suami.
Damar pun mengelus rambut Nayla dan berkata, "Jaga diri baik-baik dan Dewo akan bertugas mengawal kalian saat keluar rumah. Usahakan jangan keluar, jika tidak ada keperluan yang penting, karena statusmu sekarang berbeda, musuhku bisa saja mencelakai kalian."
Nayla mengangguk lalu menyerahkan tas kepada Damar, diapun menyambar sehelai jilbab dan menutupkan di kepalanya. Nayla ingin mengantar kepergian Damar sampai di pintu keluar.
Kali ini Nayla yang duluan menggandeng lengan Damar tanpa harus dia minta dan Damar pun tersenyum.
Arkan dan Dewo sudah menunggu mereka di bawah, lalu Arkan meminta tas dari tangan Damar dan membawanya ke mobil.
"Wo, ingat! Aku percayakan keselamatan Nyonya dan Nona kepadamu selama kami pergi!" ucap Damar sembari menepuk bahu Dewo.
"Siap Tuan!" ucap Dewo.
Arkan pun pamit dengan sahabatnya itu, lalu mereka naik ke mobil diantar Pak sopir menuju bandara dimana pesawat pribadi milik Richard sudah menunggu.
Dewo menunduk hormat kepada Nayla dan pamit untuk kembali ke tugasnya, mengawasi para anak buah yang lain dalam menjaga mansion.
__ADS_1
"Wo, bersikaplah seperti biasa, jangan seperti itu, aku risih. Aku tetap temanmu, panggilan Nyonya hanya formalitas sementara sampai perjanjian berakhir."
"Tidak, saat ini Anda adalah Nyonya Saya dan Saya berharap Nyonya jangan menyerah, jika memang pernikahan ini bisa membawa kebahagiaan untuk Nyonya dan juga Tuan," ucap Dewo memberi semangat kepada Nayla.