RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 51. ANCAMAN RENDRA


__ADS_3

"Kali ini aku memaafkan mu, tapi jangan sekali-kali kamu masuk lagi ke mansion Damar tanpa izinku! Ingat itu Carol! Kalau kamu sampai melanggarnya, aku tidak akan pernah memaafkan mu!" ancam Rendra.


Kemudian dia berkata lagi, "Sekarang juga kita harus ke pemakaman untuk menguburkan putra kita."


"Iya, aku menyesal Pa!"


Rendra segera meminta pengawalnya untuk menyiapkan kenderaan, tapi sebelumnya dia meminta pengawal untuk mencarikan orang yang biasa menangani proses pengurusan jenazah hingga proses penguburan.


Pengawal pun melaksanakan perintah Rendra. Mereka pergi ke perkampungan terdekat, lalu menemui ketua kampung untuk meminta warganya yang biasa mengurus jenazah agar ikut ke villa keluarga Rendra. Mereka berjanji, akan membayar sepantasnya sesuai pekerjaannya nanti.


Proses pengurusan jenazah pun telah selesai dan tiba saatnya mengantarkan jenazah bayi tak berdosa itu ke pemakaman yang ada di wilayah tersebut.


Rendra merasa sedih, dia kehilangan putranya yang sudah mulai bertingkah lucu. Kini penerusnya sudah pergi, hanya karena kelalaian sang istri.


Carolina bersimpuh di pekuburan putranya, dia pura-pura meratap sedih untuk mendapatkan simpati dari Rendra.


Rendra ikut bersimpuh dan mengajak Carol pulang setelah prosesi pemakaman selesai.


Sesuai janji, Rendra memberikan sejumlah uang kepada orang-orang yang telah membantu proses penguburan putranya itu.


Kini semua pergi meninggalkan pekuburan dan pulang ke villa Rendra. Sementara dua orang pengawal mengantar penduduk yang membantu proses pemakaman tadi, pulang ke kampung mereka.


Carolina izin pamit untuk beristirahat, sedangkan Rendra masih ingin menyelesaikan pekerjaannya.


Rendra masih belum terima jika Carolina kembali mendekati Damar. Dia meminta anak buahnya untuk mengawasi mansion milik Damar dan meminta melaporkan setiap aktifitas istrinya di luar rumah.


Dendam masa lalu Rendra terhadap Damar muncul kembali, dia tidak ingin Damar lebih hebat dan lebih kaya darinya.


Salah satu usaha untuk membuat Damar terpuruk lagi adalah menyingkirkan Richard dan juga Nayla.


Rendra menelepon rekannya yang ada di Korea Selatan, dia memberitahu agar terus mengawasi rumah sakit dan jika Arkan lengah, Rendra meminta rekannya itu agar segera menyingkirkan Richard.

__ADS_1


Sementara disini Rendra dan pengawalnya akan mengusik Nayla. Jadi, Damar pasti akan kewalahan, mana yang akan dipilih untuk dia lindungi.


Rendra tersenyum sinis sambil memainkan pistolnya dan mengeluarkan samurai dari sarungnya. Samurai itu sudah beberapa tahun tidak Rendra pergunakan dan sekarang dia mulai memikirkan untuk menggunakannya lagi.


Saat Rendra sedang asyik memperhatikan senjata-senjatanya, satu pengawalnya datang, berlari tergopoh-gopoh untuk menyampaikan berita.


Rendra menatap sinis kepada pengawalnya, lalu dia bertanya, "Ada apa kamu kesini! Mengganggu ku saja! Cepat katakan jika tidak ingin senjata ini mencari sasarannya!"


"Tuan, baru saja anggota kita memberitahu, pengiriman senjata melalui pelabuhan di cekal dan satu kontainer senjata habis terbakar!" lapor pengawal.


"Bang**t, berita apa yang kamu bawa! Jangan main-main, aku tidak suka dipermainkan seperti ini," ucap Rendra sambil menghunus samurainya.


"Aku tidak main-main tuan, lihatlah video rekaman ini!" ucap pengawal tersebut sembari menyerahkan ponsel di tangannya kepada Rendra.


Rendra memutar video tersebut dan dia sangat marah, lalu Rendra melempar ponsel kearah kaki pengawalnya hingga pecah berantakan.


Pengawal itu tidak berani bersuara, tubuhnya gemetar, untung cuma ponsel, seandainya peluru atau samurai yang mengarah ke tubuhnya, sudah bisa dipastikan nyawanya akan melayang.


Tubuh pengawal itu semakin gemetar dan cairan bening dari bawah tubuhnya mulai keluar.


Rendra mengusir pengawal tersebut agar segera menjalankan apa yang dia perintahkan dan kesempatan itu dipergunakan oleh pengawal untuk berlari ke toilet, karena celananya telah basah akibat air kenc**g.


Pengawal lain yang melihat hal itu tertawa terpingkal-pingkal, mereka mencibir dan mengolok jika temannya itu sangat jorok.


Pengawal lain itu tidak tahu, jika ancaman Rendra bukan main-main. Tadi, mereka tidak menyaksikan kemarahan Rendra, saat menghunus samurai serta mengacungkan pistolnya.


Pengawal yang terkenc**g di celana segera memberitahukan kepada teman-temannya yang lain, tentang ancaman Rendra. Dan merekapun terkejut, karena selama bekerja dengan Rendra, bos mereka itu tidak pernah main-main dengan perkataannya.


"Ayo kita pergi dan kita cari tahu siapa yang berani mencekal bisnis Bos Rendra! Aku tidak mau jadi sasaran kemarahan Bos!" ucap salah satu pengawal. Dan beberapa yang lain juga menyusul pergi.


Rendra menyimpan senjatanya, lalu dia pergi menyusul Carolina ke kamar.

__ADS_1


Carolina yang mendengar langkah seseorang mendekat, segera mematikan ponselnya, dia tidak ingin ada yang tahu, jika dirinya sedang menelepon pembantu di rumah Damar.


Rendra masuk dengan wajah menyeramkan hingga membuat Carollina takut, dia pura-pura bergelung di dalam selimut, meratapi kepergian putranya.


Rendra membaringkan tubuhnya di sisi Carolina, tanpa mengatakan apapun. Dia memejamkan mata untuk meredakan amarahnya.


Carolina tidak berani berbicara yang bisa memancing kemarahan Rendra. Kemudian Carol menyelimuti Rendra tanpa berucap sepatah kata pun.


Namun, Carolina terkejut saat tiba-tiba Rendra menarik tangannya hingga mereka saling berhadapan dan saling menatap.


Rendra berkata, "Persiapkan dirimu! Besok, kita akan ke dokter untuk program kehamilan. Aku ingin secepatnya mendapatkan putra sebagai penerusku! Aku tidak ingin mati sia-sia tanpa mewariskan semuanya kepada keturunan ku!" ucap Rendra sembari mencengkeram rahang Carolina.


Carol hanya berani mengangguk, padahal dia sudah berniat tidak akan hamil lagi. Karena kehamilan hanya akan menghambat usahanya untuk mendapatkan Damar kembali.


"Kenapa kamu diam Carol? Kamu tidak keberatan 'kan?"


Dengan gugup Carolina pun menjawab, "Ti-tidak Sayang, aku juga ingin kita memiliki bayi lagi. Tapi, bagaimana jika anak kita nanti perempuan Pa?" tanya Carol.


"Tidak, kita harus mendapatkan anak laki-laki. Anak perempuan hanya akan membuatku lemah dan dia tidak akan berguna dalam menjalankan bisnisku kelak!"


"Bagaimana bisa kita menentukan jenis kelamin anak kita, semua itu 'kan ketentuan yang di atas," ucap Carol.


"Makanya kita harus benar-benar bekerja sama dengan dokter ahli kandungan untuk program kehamilan kali ini."


"Baiklah Yang, kita akan berusaha, masalah hasil kita pikirkan nanti saja."


"Telepon lah dokter sekarang juga, buat janji agar kita tidak mengantri lagi besok!" pinta Rendra.


"Iya, sebentar aku cari dulu nomor dokter kandungan yang dulu membantuku saat kehamilan almarhum bayi kita," ucap Carolina.


Carolina pun mencari nomor kontak dokter kandungannya. Lalu, begitu tersambung, diapun mengatakan maksudnya kenapa menelepon.

__ADS_1


Dokter setuju, besok pagi mereka akan mendapatkan jadwal kunjungan pertama, jadi Carol dan Rendra harus sudah hadir pukul 9 pagi di klinik kandungan langganan mereka itu.


__ADS_2