RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 67. NGIDAM SATE


__ADS_3

Damar mengetuk pintu kamar mandi, tapi tidak ada jawaban. Lalu, dia menarik handle dan ternyata pintu tersebut tidak terkunci.


Dengan perasaan khawatir, Damar pun celingukan, mencari sosok sang istri. Damar terkejut, saat matanya tertuju pada bathtub dan dia melihat Nay tidak bergeming di dalamnya.


"Nay, Nayla...kamu kenapa Sayang?" tanya Damar yang bergegas menghampiri, lalu mengangkat tubuh Nayla keluar dari bathtub.


Nayla mengerjapkan mata dan dia terkejut saat melihat dirinya dalam keadaan bugil dan basah ada dalam pelukan sang suami.


"Mas, ada apa? Aku belum selesai mandi lho, kenapa sudah kamu angkat keluar dari bathtub?"


"Kamu nggak apa-apa Nay?" tanya Damar sembari memperhatikan dengan seksama tubuh sang istri dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Memangnya aku kenapa Mas? Kamu kok kelihatannya cemas banget. Bukan kah aku hanya mandi, berendam air hangat dan hehehe...sempat tertidur," ucap Nayla.


"Kamu serius nggak kenapa-kenapa? Cuma tertidur?"


"Iya, rasanya rileks setelah aku berendam dan tidur sejenak."


"Nay, Nay...kamu buat aku jantungan saja! Aku pikir kamu kenapa-kenapa dan pingsan di dalam bathtub."


"Maaf ya Mas, tubuhku tadi sangat lelah, jadi aku berendam dengan air hangat dan ternyata sangat nyaman hingga aku tertidur," terang Nayla sambil tertawa hingga membuat Damar gemas.


Damar menyelimuti tubuh sang istri, lalu dia mengambilkan pakaian yang Nayla butuhkan.


Saat Damar hendak membantu memakaikan pakaian tersebut Nayla menolak, dia merasa malu.


Damar mencium perut sang istri sebelum menuruti permintaan Nayla yang ingin mengenakan pakaiannya sendiri tanpa di bantu oleh Damar.


Nayla buru-buru mengenakan pakaiannya saat Damar keluar kamar. Lalu Nayla pun berdandan rapi tidak seperti biasanya.


Damar yang masuk kembali ke kamar merasa heran, dia melihat istri kecilnya itu berdandan dengan penampilan yang beda dari biasanya.


Nayla mendekat dan bergelayut manja di lengan suaminya sambil berkata, "Yang, aku kepingin makan sate kambing," pinta Nayla.


"Oke Yang, sabar ya. Aku minta pengawal untuk membelikannya. Sabar ya Nak, Papa pasti akan membelikan apa yang Mama kalian mau," ucap Damar sambil mengelus perut Nayla.


Nayla menarik lengan Damar saat hendak keluar memerintahkan pengawalnya untuk membelikan sate yang Nayla inginkan.

__ADS_1


"Kenapa Yang? sebentar aku bilang ke pengawal dulu."


Nayla memanyunkan bibirnya lalu dia berkata, "Nggak mau!"


"Lho, nggak mau bagaimana? tapi minta sate, kok sekarang nggak mau Yang?"


"Nggak mau mereka yang beli, Aku maunya makan di sana Mas," rengek Nayla.


"Kita masih harus waspada lho Yang, aku nggak mau terjadi hal buruk terhadap kalian. Resikonya terlalu besar jika kita makan di luar," ucap Damar.


Nayla melepaskan gelayutan tangannya lalu dia berbalik dan menuju ke tempat tidur. Nayla ngambek karena Damar tidak menuruti kemauannya untuk pergi makan sate ditempat pedagangnya mangkal.


Damar mendekati Nayla yang sedang asyik dengan ponselnya dan dia melihat Nayla sedang mensearching gambar sate.


Hati Damar jadi terenyuh dan dia nggak tega melihat Nayla ngambek hanya karena keinginannya tidak terpenuhi.


Mungkin disinilah kesabaran suami sedang di uji, harus sabar menghadapi emosi ibu hamil yang mudah berubah.


Terkadang bahagia, sedih, manja dan juga gampang marah serta ngambek.


Kali ini Damar harus lebih memahami perubahan sikap Nayla yang mungkin itu adalah pengaruh ngidam di kehamilan trimester pertama.


"Sayang jangan ngambek dong, kita pesan dari online saja ya kalau tidak mau pengawal yang belikan," rayu Damar.


"Nggak usah, aku sudah tidak kepingin, aku mau tidur saja," ucap Nayla sembari menarik selimut dan menutup tubuhnya hingga sampai sebatas kening.


Damar menghela nafas, dan terbersit satu ide di kepalanya. Kemudian diapun keluar untuk meminta pengawal membayar satu gerobak sate dengan syarat pedagangnya harus mangkal di depan hotel tempatnya sekarang menginap.


Pengawal segera melakukan tugasnya dan dalam waktu setengah jam saja seorang pedagang sate telah mangkal bersama gerobaknya di sana.


Damar sengaja menggratiskan siapapun yang ingin makan sate termasuk pengunjung dan para karyawan hotel.


Halaman depan hotel jadi ramai dengan orang-orang yang ingin makan sate gratis.


Damar menarik selimut Nayla dan dia melihat Nayla memejamkan mata. Tapi, Damar yakin Nayla belum lah tidur.


Kemudian dia menggendong Nayla, membawanya keluar kamar menuju halaman hotel di mana orang sedang berkerumun makan sate gratis dari Damar.

__ADS_1


Mendengar suara ramai, Nayla mengintip dari sudut matanya dan dia mencium aroma sate yang sejak tadi membuatnya tidak bisa tidur.


Nayla mengendus dan membuka matanya, dia melihat Damar tersenyum sembari berkata, "Ayo kita ikutan makan bareng mereka."


"Pak, sate kambingnya dua porsi ya! Tapi nggak usah pakai cabe!" ucap Damar.


"Oke Den, bawang gorengnya mau banyak atau sedikit dan mau pakai kuah apa ini ya Den?" tanya pedagang sate.


Kemudian Damar bertanya kepada Nayla, "Kamu mau pakai kuah apa Yang? Kuah kacang atau kuah sate Padang?"


"Kuah sate Padang saja Mas dan pakai keripik ubi balado ya!"


"Pak, satu pakai kuah sate Padang dan satu lagi pake kuah kacang. Jangan lupa keripik baladonya ya Pak untuk yang kuah sate Padang!" pinta Damar kepada pedagang sate.


"Beres Tuan!" ucap Bapak pedagang sate.


"Kalian, pesanlah! Kita makan ramai-ramai di sini! ucap Damar kepada para pengawalnya. Dan tolong antar dulu, satu porsi ke kamar Papa," pinta Damar.


"Baiklah Bos! Kalian semua, tetap berjaga di sini, aku akan ke kamar Tuan besar sebentar, untuk mengantar sate ini," ucap pengawal.


Pedagang sate telah menyajikan dua piring satenya dengan kuah berbeda di hadapan Nayla dan Damar.


Nayla sudah tidak sabar dan dia sejak tadi sudah membayangkan bagaimana nikmatnya makan sate di keramaian.


Nayla memakan satenya dengan lahap, lalu dia masih menginginkan sepiring lagi. Tapi, mau meminta tambah Nayla merasa malu, jadi dia hanya memandangi sate yang ada di piring Damar sembari menelan ludah.


Damar menyadari hal itu, lalu diapun menyodorkan sate miliknya sembari menyuapkan ketupat ke mulut Nayla.


Nayla senang, ternyata Damar peka terhadap apa yang tidak dia ucapkan.


Pengawal yang melihat bosnya belum makan segera memesankan sepiring lagi dan kebetulan itu adalah hidangan sate terakhir!"


Pedagang sate bersiap untuk pulang dan kali ini dia mendapatkan tips khusus dari Damar, karena telah membuat sang istri bahagia.


Nayla merasa kenyang dan dia mengelus-elus perutnya sambil berkata, "Kemauan kalian sudah Papa turuti! Ayo, sekarang waktunya kita tidur!"


Damar tersenyum melihat Nayla berkomunikasi dengan calon bayinya dan terbayang oleh Damar, kebahagiaan saat anak-anak nanti tumbuh lucu dan bermain bersama.

__ADS_1


__ADS_2