RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 78. MENGGUNAKAN ALAT KONTRASEPSI


__ADS_3

Seyna tengah berbaring saat dokter dan perawat datang. Mereka memeriksa kondisinya lagi dan memasang selang infus di pergelangan tangannya.


Dokter pun telah menyuntikkan obat melalui selang infus lalu beliau meminta Seyna untuk istirahat.


Nayla menghampiri dokter, dia ingin tahu kondisi Seyna yang sebenarnya. Baik kondisi akibat dia tenggelam di kolam tadi, juga perkembangan tentang penyakitnya.


Dokter pun meminta Nayla dan Adam untuk ikut ke ruangannya, di sanalah mereka akan membicarakan semua.


Adam menepuk bahu Arkan dan berkata, "Titip Seyna ya Kan, kami ke ruangan dokter dulu!"


"Baik Bos, aku akan menjaga Seyna."


Nayla dan Adam mengikuti dokter dan Arkan pun mendekati Seyna, "Tidurlah Dek, aku akan menjagamu."


"Terimakasih Kak, tapi aku belum ngantuk Kak. Oh ya Kak, Kak Aira nggak ikut kesini?"


"Paling sebentar lagi dia juga sampai. Dewo yang akan mengantar dia kesini."


"Kamu mau buah Dek, biar aku kupaskan!" ucap Arkan.


Seyna pun mengangguk, "Apel aja Kak!"


"Oke Tuan putri, sebentar ya, aku kupas dulu," jawab Arkan sembari mengambil pisau.


Arkan mengupas apel dengan cekatan, lalu memotongnya kecil-kecil agar Seyna lebih mudah menikmatinya.


"Ini Dek sudah selesai."


"Terimakasih ya Kak."


Seyna menikmati potongan buah yang di sodorkan oleh Arkan dan Arkan sendiri senang, sikap Seyna terhadapnya sudah kembali, tidak canggung lagi.


Sementara di ruangan dokter, beliau menjelaskan kondisi Seyna, saat ini belum ada perkembangan yang berarti terhadap penyakit kankernya. Tapi setidaknya kemo yang sudah 3 kali dilakukan bisa menghambat perkembangan penyakitnya.


"Jadi Dok, apa masih ada harapan untuk kesembuhan adik Saya?"

__ADS_1


"Kita tetap berusaha ya Bu dan tolong bantu terus tugas kami dengan doa dari keluarga pasien."


"Baiklah Dok, jadi kemo ke empat kapan dilakukan Dok?"


"Minggu depan, sekarang kita pulihkan staminanya saja sebelum kemo dilakukan lagi."


"Terimakasih atas penjelasannya Dok, berarti efek karena tenggelam kemaren tidak membahayakan kesehatan Seyna kan Dok?" tanya Damar.


"Alhamdulillah, untung saja tidak, karena Arkan datang tepat waktu dan membawa Seyna keluar dari air," jawab pak Dokter.


"Syukurlah jika begitu Dok, terimakasih ya Dok. Kalau begitu kami permisi dulu kembali ke ruangan Seyna," ucap Nayla.


Adam menggandeng lengan Nayla, "Sayang, kita ke kantin dulu yuk, kamu belum makan lho! Kasihan kan calon anak kita. Belakangan ini kamu sudah tidak pernah muntah lagi ya dan meminta sesuatu yang kamu pingin."


"Iya ya Mas. Mudah-mudahan, masa ngidamku sudah selesai."


"Baik-baik di dalam sini ya Nak, jangan susahkan mama kamu lagi. Papa tidak tega jika melihat Mama kamu muntah terus," ucap Damar sambil mengelus perut Nayla.


Nayla tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari sang suami, mereka tidak menyadari jika ada sepasang mata tengah memandang sinis.


Ternyata Carolina berada di sana, dia baru saja konsultasi dengan dokter kandungannya, dan saat ini sedang menunggu kedatangan sang suami menjemput.


"Dasar Damar bodoh! percaya gitu aja jika itu bayinya. Aku tidak boleh tinggal diam, bayi itu tidak boleh sampai lahir atau aku akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Damar lagi. Mana aku tadi sudah membungkam mulut dokter jika aku menggunakan kontrasepsi agar tidak hamil anak Mas Rendra lagi!"


"Awas kau wanita sialan, kalau aku tidak bisa kembali mendapatkan Damar, kamu pun tidak akan aku biarkan menikmati kebahagiaan bersamanya!" ucap Carolina lagi.


Carolina terus mengikuti kemana Damar dan Nayla pergi. Dia mengepalkan tangan dan menggeretakkan gigi, saat melihat kemesraan keduanya.


Dia harus segera menyusun rencana untuk membuat Nayla celaka dan keguguran, sebelum perutnya terlihat membesar.


Saat Carolina hendak mencari tempat aman di kantin agar tindakannya tidak ketahuan Damar, tiba-tiba ponselnya berdering. Carolina melihat Rendra menelepon.


Kemudian Carolina menjauh untuk mengangkat panggilan tersebut dan ternyata saat ini Rendra sudah berada di depan ruangan dokter kandungan.


Carolina segera bergegas pergi dari kantin, dia harus segera menemui Rendra sebelum Rendra curiga dan tahu jika dia sedang membuntuti Damar.

__ADS_1


Rendra bisa murka jika sampai tahu, dirinya masih mengejar dan menginginkan Damar kembali.


Dengan nafas tersengal-sengal karena setengah berlari, Carolina pun melihat suaminya sedang duduk sambil memainkan ponsel.


"Pa, maaf kalau papa lama menunggu, tadi perut Mama sakit, jadi terpaksa lama di toilet. Apa urusan Papa sudah selesai, kok Papa secepat ini tiba?"


"Hemm, aku sengaja membatalkan pertemuan Ma, karena tidak sabar ingin tahu hasil pemeriksaan kandungan kamu. Aku sudah tidak sabar lagi ingin segera kamu hamil. Sepi, setelah kepergian anak kita."


"Oh, iya Pa. Ayo kita pulang, nanti mama cerita di mobil apa yang tadi dokter katakan."


"Tidak Ma, Papa ingin bertemu dokter kandungan Mama dulu. Papa ingin menanyakan bagaimana supaya kamu bisa lebih cepat hamil. Berapa pun mahalnya obat penyubur akan Papa bayar, asalkan bulan depan kamu bisa isi lagi."


"Ih Papa, masa sampai segitunya. Kita harus sabar Pa, nanti pasti Mama bisa hamil lagi, sekarang kita nikmati saja prosesnya dulu. Ayo kita pulang, kita buat lagi biar cepat jadi," bisik Carolina untuk merayu Rendra agar segera pergi dari tempat itu.


Carolina tidak mau Rendra bertemu dokter sekarang, dia takut dokter keceplosan dan mengatakan jika dirinya menggunakan alat kontrasepsi. Dan Carolina juga tidak mau sampai Rendra melihat Damar ada di rumah sakit itu juga.


Bisa-bisa terjadi perang dunia antara mereka.


"Ayo dong Pa, apa Papa tidak kangen Mama, kita nikmati hari ini dengan kemesraan. Bila perlu kita ke hotel dan matikan ponsel agar tidak ada urusan yang mengganggu kita," ucap Carolina sambil mencium pipi suaminya.


Rendra pun yang memang rindu sentuhan istrinya, segera bangkit, dengan tersenyum dia mencari kontak hotel langganan mereka dan membooking kamar untuk satu minggu.


"Ayo Ma, Papa juga sudah tidak sabar. Jangan salahkan Papa ya, seminggu kedepan Mama tidak akan bisa keluar dari dekapan Papa. Kita akan membuat Rendra junior lagi," ucap Rendra sambil menaik turunkan alisnya.


Carolina lega, akhirnya dia bisa membujuk Rendra agar segera pergi dari sana. Nanti setibanya di hotel, dia akan mencari cara agar bisa segera pulang.


Niatnya untuk kembali kepada Damar telah membuat mood bercintanya bersama suami menurun.


Setiap malam Carolina selalu membayangkan kebersamaannya dulu bersama Damar. Menurutnya Damar lebih hot dalam bercinta ketimbang Rendra.


Timbul penyesalan di hatinya, kenapa dulu dirinya memilih selingkuh hanya demi memiliki anak.


Padahal setelah memiliki anak, Carolina merasa seorang bayi hanya merepotkan dirinya saja. Kebebasannya terampas dan perhatian Rendra pun jadi berkurang terhadapnya.


Rendra lebih menyayangi putranya ketimbang meluangkan waktu untuk mereka berdua bercinta.

__ADS_1


Sekarang perasaan Carolina terhadap Rendra sudah hambar dan dia ingin segera bisa kembali secepatnya dengan Damar. Menikmati hari-hari bahagia seperti dulu, dimana dirinya selalu dimanjakan oleh Damar.


Harta dan kenikmatan surga dunia pasti bisa Carolina dapatkan, jika dia berhasil menyingkirkan Nayla dan membawa Damar kembali ke pelukannya. Hal inilah yang sekarang tertanam di hati dan pikiran Carolina. Carolina tidak peduli, meski nanti bersama Damar dirinya tidak akan bisa memiliki anak lagi.


__ADS_2