RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 54. PERBEDAAN HIDUP


__ADS_3

Nayla berteriak, mobil mereka kehilangan keseimbangan, bannya pecah dan hampir saja menabrak pembatas jalan.


Untung saja Dewo bisa mengatasi kondisi tersebut dan menghentikan laju mobilnya tepat waktu hingga mereka terhindar dari bahaya.


Dewo dan Damar turun, memeriksa kondisi mobil, mereka tidak yakin hal itu terjadi karena kerusakan normal.


Selama ini semua kenderaan yang Damar miliki selalu dirawat oleh para mekanik khusus berpengalaman yang sengaja Damar pekerjakan.


Makanya mereka menduga pecah ban dan terdapat goresan memanjang, memang unsur kesengajaan untuk membuat Damar serta Nayla celaka.


Damar meminta Dewo untuk segera menyelidiki kasus ini. Dan dia curiga, hal itu perbuatan orang dalam mansion yang memang sengaja ingin membuat mereka celaka.


Dewo menelepon anak buahnya agar segera mengantarkan mobil lain dan meminta derek untuk membawa mobil yang rusak ke bengkel.


Sementara Damar dan Nayla menunggu anak buahnya datang sambil menikmati es kelapa di pedagang es pinggir jalan.


Bagi keduanya, tidak masalah menikmati jajanan atau minuman pinggir jalan selagi mereka menjaga kebersihan dagangannya.


Setelah pengawal mengantarkan mobil, Damar kembali melanjutkan perjalanan.


Kali ini Damar mengajak Nayla nyekar ke makam orangtuanya dan dia juga meminta Nayla untuk membawa dirinya lusa, nyekar ke makam ayah ibu sembari mengajak Seyna sebelum kemoterapi kedua Seyna dilaksanakan.


Nayla senang, Damar mau mengajaknya mengunjungi makam ayah ibu, soalnya sudah beberapa bulan sejak dirinya tinggal di mansion, Nayla dan Seyna belum ada datang nyekar kesana.


Saat memasuki area pekuburan, Damar menggandeng tangan Nayla lalu dia membawa Nay menghadap makam ibunya.


Di sana Damar bersimpuh, matanya memancarkan kesedihan, lalu dia berkata dengan lirih, "Andai ibu masih hidup dan mengenal istri kecilku ini, semuanya pasti berbeda Bu!"


"Mas, ayo kita doakan ibu! Beliau pasti tahu kedatangan kita disini."


Damar mengangguk, lalu diapun memimpin doa untuk arwah. Setelah selesai, keduanya pun mengucap salam, pamit meninggalkan tempat itu.


Sepanjang perjalanan kembali dari TPU, Damar hanya diam, dia mengingat kenangan terakhir yang menyakitkan, terlambat menyelamatkan sang ibu.


Nayla menggenggam tangan sang suami, lalu diapun bertanya, "Kenapa Mas? Apa yang mengganggu pikiran Mas Damar?"


"Ibu," jawab Damar singkat.


"Ikhlas, Mas harus ikhlas, biar ibu tenang dan bahagia di sana."

__ADS_1


"Tapi aku belum bisa melupakan kesengajaan Carolina yang membuat ibuku tidak tertolong lagi Nay!"


"Mas harus ikhlas memaafkan Mbak carolina, sebab rasa dendam hanya akan menyakiti hati, membuat hidup tidak nyaman," ucap Nayla lagi.


Damar mendesah, dia sangat sulit untuk ikhlas, perbuatan Carolina terhadap ibunya selalu membekas dalam hati, hingga kebencian kepada carolina berlipat, benci karena pengkhianatan, juga benci karena menyia-nyiakan ibunya.


"Bagaimana caranya agar ikhlas Nay, aku terlanjur benci dengan Carolina!"


"Selalu ingat dengan yang di atas, semua yang terjadi memang suratan hidup yang sudah digariskan."


"Nanti, Mas Damar akan ikhlas dengan sendirinya setelah bisa memahami apa yang aku maksud."


"Satu lagi Mas, teror dan penculikan yang terjadi pasti ada sebab musababnya, bisa jadi imbas dari pekerjaan yang Mas Damar lakukan."


Melihat Damar terdiam, Nayla lalu berkata lagi, "Maaf jika aku terlalu lancang!"


"Heemm, aku tahu Nay. Kehidupan ku jauh dari kata baik, dan saat ini aku sedang berusaha untuk memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik, tapi semua itu butuh waktu dan tentunya butuh proses," ucap Damar.


"Iya Mas. Mas pasti bisa asalkan ada niat."


Damar berterimakasih kepada Nayla yang telah mengingatkannya.


Hidup bersama istri kecilnya ini telah membuatnya nyaman, berbeda jauh dengan kehidupan saat Damar bersama carolina yang terlalu ambisius.


"Maaf Bos, aku boleh tunggu di sini saja? Aku ingin menemui teman yang bekerja di lantai bawah, mumpung sekalian sedang di sini," pinta Dewo.


"Silahkan Wo, nanti aku hubungi kamu bila kami sudah selesai dan ingin pulang," ucap Damar.


"Terimakasih Bos, selamat bersenang-senang ya Bos, Nyonya!" ucap Damar sembari memberi hormat.


Nayla merasa risih, tapi dia tidak bisa berkata apa-apa karena itu kemauan Dewo yang tidak bisa dia bantah.


"Ayo Nay kita naik!" ajak Damar sembari mengulurkan lengan, agar Nayla menggandengnya.


Nayla menggandeng lengan Damar dan mengikutinya naik lift menuju lantai dua. Saat mereka keluar dari lift, tiba-tiba ada seseorang menarik tas Nayla dan membawanya lari.


Spontan Nayla menjerit, hingga membuat Damar terkejut dan langsung mengejar si penjambret.


Tapi sebelumnya, Damar meminta Nayla untuk menunggunya di toko pakaian yang ada di dekat lift.

__ADS_1


Kecepatan Damar dalam berlari tidak diragukan lagi, dalam sekejap penjambret itupun tertangkap dan sempat mendapatkan pukulan tangan Damar.


Tanpa memberi ampun, Damar menyeret orang tersebut kehadapan Nayla dan memintanya untuk mengembalikan tas itu secara baik-baik.


Penjambret itupun memohon ampun, dia melakukan hal itu karena terpaksa, keadaan ekonomi istri serta anaknya yang sedang sakit menuntut dirinya hingga berbuat nekat.


"Ampun Tuan!" ucap penjambret saat Damar berhasil membuat orang itu berlutut di hadapan Nayla.


"Cepat kamu minta maaf dan kembalikan tasnya, sebelum aku berubah pikiran!" ucap Damar.


"Bu, maafkan saya! tolong izinkan saya pergi, anak dan istri saya menunggu untuk saya bawa berobat."


Nayla iba, lalu diapun berkata, "pergilah! Dan ini ambil, gunakan untuk berobat anak serta istri Abang!"


Penjambret itupun bersujud di kaki Nayla, dia menjunjung uang yang Nayla berikan sambil beberapa kali meminta maaf.


Nayla memintanya untuk bangkit karena menurut Nayla sangat tidak pantas dia di sembah seperti itu.


Penjambret itupun bangkit dan pamit kepada Damar serta Nayla sembari kembali mengucapkan terimakasih.


Damar menghentikan langkah penjambret tersebut dan meminta alamat rumahnya.


Tanpa ragu, penjambret itupun menyebutkan, di mana dia dan keluarganya tinggal, yang ternyata tidak jauh dari mall tersebut.


Setelah mengatakan alamat rumahnya penjambret itupun berlari dan sebentar saja hilang dari pandangan mata Damar serta Nayla.


Damar bermaksud ingin mendatangi alamat yang penjambret berikan, setelah mereka selesai nonton dan jalan-jalan.


Jika memang penjambret itu tidak berbohong, dia ingin memberikan bantuan kepada keluarganya.


"Ayo Nay kita lihat-lihat dulu!" ajak Damar.


"Mas, boleh aku meminta sesuatu?" tanya Nayla.


"Apa itu Nay?"


"Sebaiknya kita cari alamat orang itu dulu, barangkali anak dan istrinya saat ini memang sedang membutuhkan bantuan."


"Baiklah jika itu maumu, sebentar aku hubungi Dewo dulu."

__ADS_1


Damar menghubungi Dewo agar segera menjemput dan mengantarkan mereka ke alamat yang penjambret tadi berikan.


Dewo pun segera berlari ke parkiran untuk mengambil mobil dan menemui Damar serta Nayla di dekat pintu keluar mall.


__ADS_2