RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 63. KABAR GEMBIRA


__ADS_3

"Nah lihat istri kamu bisa lebih mengerti keinginan Papa, sedangkan kalian semua hanya meminta ku tidur, tidur dan tidur terus. Lama lama aku mati kebanyakan tidur!" ucap Richard yang sejak tadi merepet terus.


"Pa, jangan marah-marah terus, nanti kalau tekanan darah Papa naik bisa struk lagi, makin lama Papa di rawat di sini. Papa ingin pulang 'kan?"


"Iya dong, sudah bosan di sini! Hanya Dokter dan perawat yang dilihat terus."


"Sabar Pa, kita pasti pulang. Yang penting sekarang, Papa harus turuti permintaan Dokter, Papa belum boleh berjalan dulu," ucap Nayla.


"Iya, tapi izinkan aku menggunakan kursi roda. Aku cuma ingin pergi ngobrol dengan sesama pasien dan melihat pemandangan di luar."


"Iya Pa, nanti kita bilang ke Dokter," ucap Damar.


"Jangan kamu, Nayla saja! Jika kamu, bakalan kamu bilang dokter tidak memberi izin!" ucap Richard ketus.


Entah mengapa sekarang setelah ada Nayla, Papa Richard jadi lebih condong ke Nayla daripada Damar.


"Sabar Mas," ucap Nayla berbisik ke telinga Damar.


"Papa sepertinya lebih sayang ke kamu daripada ke aku," balas Damar juga berbisik.


"Apa yang kalian bicarakan! Jangan berbisik-bisik di belakang ku. Ngomong terus terang jika ada hal yang kalian tidak suka!"


"Nggak kok Pa. Eh...kita sudah sampai di depan ruang rawat Arkan!" ucap Nayla mengalihkan pembicaraan.


"Pengawal, bagaimana keadaan Arkan!" tanya Damar.


"Sudah sadar Bos, tapi luka-lukanya lumayan banyak, dia juga terkena serempetan peluru."


"Siapa di dalam!" tanya Damar lagi.


"Perawat sedang mengganti perban Bos."


"Terimakasih ya, kita tanya saja dulu ke perawat, boleh masuk atau tidak," ucap Damar lagi.


Kebetulan satu perawat sudah keluar dari ruangan, Damar pun menghampiri perawat tersebut dan bertanya, "Bagaimana keadaan Arkan Sus? Apa kami boleh menjenguk?"


"Oh, Tuan Arkan sudah lumayan membaik, hanya tinggal perawatan luka-lukanya saja. Silahkan Tuan, jika ingin menjenguk Tuan Arkan," ucap Suster.


"Terimakasih Sus," ucap Damar lagi.


"Ayo Pa, kita masuk!" ajak Damar.


Kemudian Damar mendorong kursi roda Richard masuk ke dalam ruang rawat Arkan. Di sana masih ada satu orang Suster yang sedang mengganti cairan infus.


"Tuan," sapa Arkan.


"Bagaimana keadaan mu Arkan, mereka melarangku untuk menjengukmu. Aku kan khawatir, demi menyelamatkan aku kamu terluka parah," ucap Richard.


"Aku nggak apa-apa kok Tuan! Tinggal mengeringkan luka saja!" ucap Arkan.


"Syukurlah, Aku jadi tenang!" ucap Richard lagi.


"Bos dan Nyonya kapan sampai? Memangnya siapa yang memberi kabar hingga Bos datang kesini?" tanya Arkan.


Damar mencoba memberi kode agar jangan meneruskan pertanyaan yang akan mengundang kekesalan Richard lagi.


Nayla yang mengerti maksud Damar segera menimpali ucapan Arkan.

__ADS_1


"Kami sebenarnya kesini selain menjenguk Papa juga ingin berbulan madu Bang, tapi ternyata setelah tiba di sini malah mendapat kabar jika Papa dan Abang terluka."


"Oh, gitu ya Nya. Apa kabar adikku Nya? sudah seminggu lebih dia tidak ada menelepon," ucap Arkan.


"Aira sehat kok Bang. Dia sedang repot, soalnya Aira kami tugaskan untuk menemani Seyna."


"Oh, syukurlah Nya."


"Oh ya Kan, bagaimana dengan tanganmu yang terkena peluru?"


"Nggak apa-apa Tuan, ini bisa kok di gerakin, cuma sedikit kaku."


"Jangan dipaksa lho Kan, nanti malah membengkak," ucap Damar.


"Iya Bos."


"Oh ya Kan, kira-kira siapa ya yang ingin membuat kita celaka?"


"Iya Bang, kami juga di serang, untung saja Mas Damar dan Dewo bisa mengalahkan mereka! Aku takut Bang, jadi milih memejamkan mata dan menutup telinga dengan headset," ucap Nayla.


"Kalian juga diserang?" tanya Richard.


"Iya Pa," ucap Damar.


"Kenapa kalian tadi tidak cerita?"


"Maaf Pa, kami hanya tidak ingin Papa khawatir," ucap Nayla.


"Kalau menurut perkiraan Papa, mereka bisa jadi saingan bisnis kita. Kalau dendam pribadi papa rasa tidak ada, karena yang dendam ke Papa sudah pulang duluan dipanggil sang pencipta. Entah jika kamu Mar!"


"Mulai saat ini tanggungjawab mu bertambah Mar, keselamatan istrimu juga harus kamu utamakan. Mereka pasti mengincar kelemahan mu!" ucap Richard.


"Oh, aku rasa ucapan Papa ada benarnya. Mereka mengira karena Papa tidak bisa berjalan, maka Papa lah yang mereka pikir menjadi kelemahan ku," analisa Damar.


"Benar juga Mar, untung kamu tinggalkan Arkan di sini, jika tidak mungkin Aku sudah mati."


"Ah, Tuan bisa saja! Aku salut melihat kelihaian Tuan Richard, padahal Tuan belum sembuh, tapi karena kondisi terpaksa, akhirnya bisa berdiri dan berjalan meski kesusahan."


"Itu karena terpaksa 'Kan! Buktinya sekarang kamu lihat, aku tidak boleh berjalan dulu, harus pakai kursi roda," ucap Richard.


"Sabar Tuan, saat ini masih dalam penyembuhan lalu ke pemulihan. Jika Tuan patuhi perintah Dokter tidak lama lagi kita pasti di perbolehkan pulang," ucap Arkan.


"Iya Kan, kamu benar. Itu yang ku bilang ke Papa," ucap Damar.


"Pokoknya aku nggak mau tahu, begitu kalian pulang, aku juga ikut pulang!" ucap Richard.


Damar hanya bisa diam, terpaksa dia harus memastikan kepulihan Richard, padahal mereka berencana pulang lebih cepat, guna menemani Seyna.


"Kita tunggu saja keputusan Dokter ya Pa, kami tidak akan pulang sebelum Papa diizinkan pulang," ucap Nayla untuk menyenangkan hati Papa mertuanya.


"Kamu sekarang harus beristirahat ya Kan, aku akan membawa Papa ke ruangan. Tadi Dokter berpesan tidak boleh terlampau lama," ucap Damar.


"Apa tidak bisa setengah jam lagi? Aku masih ingin menghirup udara segar di luar!" pinta Richard.


"Tidak Pa, ayolah jika Papa ingin menghirup udara luar, tapi hanya sebentar!" ajak Muti.


"Jadilah! Ayo menantu bawa aku keluar!" pinta Richard.

__ADS_1


"Kami keluar dulu ya Kan, kamu harus cepat sembuh biar bisa pulang bersama kami!" ucap Richard.


"Siap Tuan! Aku pasti sembuh. Aku juga tidak mau terkurung di sini lama-lama."


"Nah! Kalian dengar kan? Arkan saja yang baru sebentar di sini sudah merasa tidak betah, apalagi berbulan-bulan seperti ku," ucap Richard lagi.


"Sudah Pa, nanti kita tidak sempat menghirup udara luar, jika Papa terus ngobrol di sini!" ucap Damar.


"Iya, iya...ayo cepat dorong kursiku," pinta Richard.


"Kami keluar dulu ya Kan! terimakasih telah menyelamatkan Papa ku!" ucap Damar sembari menggenggam tangan Arkan.


"Siap Bos! Itu memang tugas Saya untuk melayani dan menjamin keselamatan kalian. Hal itu menjadi prioritas ku dan pengawal yang lain," ucap Arkan.


Mereka pun meninggalkan ruang rawat Arkan, lalu membawa Richard jalan-jalan menyusuri tiap lorong rumah sakit.


Kemudian mereka pergi ke taman rumah sakit untuk melihat pasien anak-anak yang sedang bermain.


Richard sangat senang, Dia tertawa melihat pasien anak-anak tersebut bermain dengan riang, meskipun mereka belum total sembuh.


Saat mereka hendak kembali, Nayla merasa perutnya begitu mual dan hendak muntah. Wajah Nayla pucat dan keringat dingin keluar membasahi area keningnya.


Damar yang melihat perubahan pada diri Nayla segera bertanya, "Kamu kenapa Nay? kok wajahmu pucat sekali dan aku lihat kamu meringis kesakita?" tanya Damar.


Belum sempat menjawab, Nayla sudah berlari ke arah rerumputan. Dan dia langsung memuntahkan isi perutnya di sana.


Damar yang melihat hal itu, meminta sang Papa untuk tetap tinggal di tempat sementara Damar akan menolong Nayla.


"Pergilah! lihat istrimu, mungkin dia sakit. Papa akan tetap di sini sampai kalian kembali," ucap Richard.


Kemudian Damar bergegas menghampiri Nayla dan dia bertanya, "Kamu kenapa Sayang? Apa yang sakit?" tanya Damar sembari memijat tengkuk Nayla.


Dan kembali Nayla muntah, kini hanya air serta cairan kuning yang begitu pahit. Nayla hampir saja terjatuh , tubuhnya limbung dan terasa lemah. Untung Damar dengan sigap menarik Nayla ke dalam pelukannya.


Nayla akhirnya pingsan dan Damar langsung menggendongnya, membawa Nayla ke ruang UGD agar segera mendapatkan penanganan.


Damar menelepon pengawal agar menemani sang Papa dan dia saat ini sedang menunggu Dokter yang akan memeriksa kondisi Nayla.


Begitu Dokter datang, Damar langsung mendekat, "Dok, tolong istri Saya! Dia tiba-tiba pingsan setelah muntah. Tolong Dok, sebenarnya istri Saya sakit apa ya Dok!"


"Sebentar ya Pak! Saya akan periksa istri Anda terlebih dahulu," ucap Dokter.


Dokter segera memeriksa denyut nadi, memeriksa bagian jantung serta perut Nayla. Dan beliau malah tersenyum sambil berkata, "Sepertinya istri Anda tidak sakit Tuan, tapi selamat ya, kalian akan mendapatkan junior!" ucap Dokter sambil mengulurkan tangan kepada Damar.


"Apa Dok! Dokter serius?" tanya Damar yang merasa tidak percaya, jika mereka di beri kebahagiaan secepat itu.


Damar mencium kening Nayla yang masih belum sadar dan tak terasa air matanya pun menetes. Apa yang selama ini dokter bilang tidak mungkin, ternyata hari ini, Allah membuatnya jadi mungkin.


Keyakinan Damar terkabul, sekarang dia bisa dengan bangga mengatakan pada dunia bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah.


Nayla mulai memngerjapkan mata, dia heran saat melihat Damar menangis sambil menatapnya.


"Mas kenapa menangis? Memangnya aku kenapa Mas?" tanya Nayla.


Damar tidak mampu berkata apapun, sambil menghapus air mata, Damar pun memeluk Nayla sangat erat.


Ucapan terimakasih tak henti-hentinya dia ucapkan kepada istri kecilnya itu dan rasa syukur juga dia panjatkan kepada sang pemberi kehidupan.

__ADS_1


__ADS_2