
"Kamu masih ingat Rendra, siapa aku! Ingat apa yang telah kau lakukan?" tanya Richard sambil mengitari musuhnya itu.
"Hemm, ternyata kamu punya nyawa ganda. Aku pikir peluruku berhasil membuatmu tidur, menyesal aku tidak menembakmu lagi!"
"Hahaha!" Tuhan masih memberiku kesempatan untuk membalikkan keadaan. Sekarang giliran mu yang harus sekarat. Marissa...pilih salah satu menu makanmu hari ini! selebihnya cabik-cabik saja. Karena jika kamu kekenyangan takutnya kamu yang akan mati!"
"Selamat menikmati hari kalian, aku akan bersenang-senang, melihat kalian dari luar. Pengawal, tekan tombol itu!"
"Baik Tuan!"
Begitu tombol dipencet, tiba tiba di hadapan Richard muncul dinding transparan, dia kini berada di luar lingkaran dimana musuh-musuh Damar ada bersama Marissa.
Dengan sekali kode, Marissa bergerak, dia mengitari para mangsanya dan Marissa mengaum panjang, menunjukkan giginya yang siap mencabik.
Sekali terkam, Rendra terguling ke lantai dan tak ayal lagi, darah muncrat ke segala arah saat cakar Marissa mengoyak ngoyak tubuhnya.
Ruangan itu penuh dengan darah serta jeritan ketiga wanita yang menunggu giliran kematiannya.
Marissa menyantap daging segar di hadapannya dan ketiga wanita itupun tubuhnya luruh ke lantai, tidak sadarkan diri.
Melihat hal itu Richard tersenyum puas, lalu dia meninggalkan tempat tersebut. Dia puas, musuhnya telah mendapatkan balasan.
Para pengawal membuang muka saat Marissa dengan senang mencabik-cabik musihnya.
Richard yang akan meninggalkan ruangan berpesan, "Jika sudah selesai, masukkan Marissa ke kandang dan bersihkan tempat ini! Aku tidak ingin darah mereka membekas di sini!"
Pengawal pun mengangguk, ada dua pengawal yang sejak tadi ingin muntah, akhirnya memuntahkan isi perutnya saat Richard sudah meninggalkan tempat tersebut.
Damar yang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, menelepon Bi Luna untuk mencari pengganti Betty dan Tisya.
Lalu dia mengatakan, besok pengawal akan memberi santunan untuk keluarga keduanya.
Bi Luna hanya menarik nafas dalam, dia tahu Betty dan Tisya pasti sudah tiada. Bi Luna sudah sering mengingatkan, tapi keduanya selalu mengulang kesalahan yang sama.
Damar pun tiba di rumah sakit, lalu dia meminta Aira untuk menyelesaikan Administrasi. Setelah itu mereka siap kembali.
Arkan dan Seyna akhirnya pergi ke makam orangtua masing-masing tanpa Nayla dan Damar.
Seminggu kemudian, dua pernikahan di gelar oleh Damar dan kini kebahagiaan mereka sudah lengkap.
__ADS_1
Damar memberikan fasilitas khusus untuk kedua pengawalnya. Mereka diberi hadiah masing-masing rumah dan juga fasilitas bulan madu di dalam kota saja.
Arkan membawa Seyna ke hotel yang sudah di booking oleh Damar, begitu juga dengan Dewo dan Aira.
Meski kondisi Seyna lemah, tapi dia ingin membahagiakan sang suami sebelum ajal menjemput.
Seyna mengizinkan Arkan, mengambil haknya sebagai suami. Dan Arkan bahagia, akhirnya dia bisa membuat Seyna mengalahkan rasa takutnya. Arkan melayani Seyna setiap hari dengan sabar dan sebagian besar pekerjaan Arkan juga sudah dialihkan ke Dewo oleh Damar.
Damar ingin, Arkan lebih banyak waktu bersama adik iparnya, memberi Seyna kebahagiaan dan kekuatan untuk melawan penyakit yang kian menggerogoti tubuhnya.
Seyna ingin meninggalkan kenangan untuk Arkan, dia secara diam-diam membuang obatnya setiap hari, dia ingin mendapatkan kesempatan menjadi ibu sebelum kematiannya tiba.
Padahal dokter sudah mengingatkan agar mereka mencegah kehamilan, karena akan membahayakan Seyna dan juga calon bayi.
Aira dinyatakan hamil saat dua bulan pernikahan dan kabar itu membuat Seyna semakin yakin, ingin juga merasakan kehamilan.
Seyna meminta Nayla dan Aira ke kamar, dia ingin berbicara dengan ketiganya.
Nayla sedih melihat hari demi hari, tubuh sang adik makin melemah.
Saat Nayla menceritakan tentang keluhannya yang pusing dan selalu mual, Nayla akhirnya meminta pembantu untuk membelikan tespek.
Nayla dan Aira terkejut saat dia tanda merah muncul pada alat tersebut.
Seyna menangis haru, dia akhirnya berhasil dengan rencananya. Seyna memeluk Nayla yang masih mematung sambil memegang tespek tersebut.
"Selamat Dek," ucap Aira lalu memeluk Seyna.
"Kamu sengaja Dek? Pasti kamu tidak meminum obatmu kan?" tanya Nayla.
Seyna hanya tersenyum, lalu mengangguk.
"Tapi Dek, hal ini tidak mungkin. Ingat kata dokter, kamu tidak boleh sampai hamil!"
Seyna menangis sambil mengatupkan tangan, "Aku mohon Kak, izinkan aku mempertahankan calon bayiku meski aku harus mati. Aku ingin seperti kalian Kak, merasakan menjadi ibu sebelum kematian ku."
Nayla menangis, dia tidak menyangka jika Seyna sampai nekat seperti itu.
Aira sudah menghubungi Arkan dan memintanya untuk pulang.
__ADS_1
Arkan yang khawatir terjadi hal buruk terhadap Seyna, buru-buru meninggalkan pekerjaannya dan dia sangat terkejut saat melihat tespek di tangan Seyna.
Air mata mengalir, lalu Arkan memeluk Seyna, "Kenapa kau lakukan ini Dek, aku tidak ingin kehilanganmu. Nyawamu lebih berharga dari apapun, meski aku harus menukar dengan tidak memiliki anak seumur hidupku."
Seyna menutup mulut Arkan dengan jarinya, lalu dia berkata, "Dia lebih berhak hidup Kak, usiaku tidak akan lama lagi, cepat atau lambat aku pasti pergi meski dia tidak ada di sini," ucap Seyna sambil memegang tangan Arkan dan menempelkan ke perutnya.
Nayla, Aira ikut menangis melihat Arkan dan Seyna saling memeluk dan juga menangis.
Damar yang baru tiba merasa heran, lalu dia mencoba bertanya kepada Nayla.
Setelah mendapatkan penjelasan dari Nayla, Damar pun mengulurkan tangan kepada Seyna dan memeluk sang adik serta Arkan.
Dia menghormati keputusan Seyna, dan meminta kepada Arkan, Nayla serta Aira untuk tetap memberikan dukungan.
Apapun yang akan terjadi, mereka pasrahkan kepada sang pemberi kehidupan.
Rumah itu kini dipenuhi kebahagiaan, tiga wanita sedang mengandung calon penerus keluarga masing-masing.
Hari berganti hari dan bulan berganti bulan, kini usia kandungan Nayla sudah mendekati kelahiran. Sementara usia kandungan Seyna dan Aira masih sekitar 5 bulan.
Damar yang sedang melakukan pertemuan penting, tidak peduli meninggalkan saat dia mendapatkan kabar jika Nayla sudah mengalami konteraksi pada kehamilannya.
Dengan cemas, Damar menggendong dan membawa Nayla ke rumah sakit.
Dokter kandungan pun segera melakukan pemeriksaan dan ternyata kepala sang bayi sudah mendekati jalannya.
Nayla menahan sakit yang sangat luar biasa, tapi dokter memberinya semangat.
Damar yang tidak tega melihat Nayla kesakitan menunggu di luar, mondar-mandir seperti gosokan.
Namun dia harus kuat agar Nayla juga kuat, lalu dia meminta kepada dokter untuk mendampingi Nayla dalam proses melahirkan.
Damar mencium kening Nayla lalu menggenggam tangannya, dia ingin memberikan kekuatan.
Dokter terus membimbing Nayla, meminta Nayla mengejan hingga seorang bayi laki-laki akhirnya lahir, melihat dunia dengan suara tangis yang menggema.
Damar menangis, melihat perjuangan Nayla dalam melahirkan sang putra. Dia memeluk dan menciumi Nayla sambil berkata, "Terimakasih Sayang, kau telah memberiku kebahagiaan yang begitu besar, kebahagiaan yang tak ternilai harganya."
Penerus telah lahir dan berita ini membuat seisi rumah bahagia, terutama Richard.
__ADS_1
Hari itu juga, Richard meminta pengawal untuk membagikan sedekah kepada para pakir miskin, kepada anak yatim dan juga anak-anak panti. Dia bersyukur atas kebahagiaan yang Nayla berikan untuk keluarganya.