
Arkan yang di beri tugas oleh Damar untuk menjaga Richard merasa sangat senang, saat melihat kemajuan kesehatan Richard.
Richard mulai pulih, meski dia masih harus duduk di atas kursi roda dan Dokter telah memindahkan Richard ke ruang perawatan biasa.
Saat ini Richard memanggil Arkan, dia ingin tahu tentang perkembangan putra angkatnya itu.
"Kan bagaimana keadaan Bosmu? Apa ada kemajuan dengan pernikahan dan bisnisnya?" tanya Richard.
"Aku rasa, kali ini Bos Damar sedang bahagia, hal itu terlihat dari tawanya yang lepas saat meneleponku kemaren. Nayla gadis baik, jadi Tuan tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Nayla pasti mampu membuat Bos Damar melupakan masa lalunya yang buruk dan menghilangkan kebenciannya terhadap seorang wanita."
"Mengenai bisnis kita, aman Tuan, sekarang sudah melebar ke sektor lain. Tapi Bos Damar mulai mengalihkan bisnis ke yang legal, meski belum semuanya."
"Bagus! Tidak sia-sia aku mempercayakan semua kepadanya. Aku ingin pulang secepatnya Kan, tolong kamu urus!"
"Tapi Tuan, Anda belum terlalu sehat, apa Anda akan kuat dalam perjalanan? Dan tentunya kita harus meminta izin dokter Tuan!" ucap Arkan.
"Aku bosan tiduran saja di sini Kan! Mending aku di rumah, bisa melihat dan bermain dengan peliharaan Bos mu."
"Baiklah Tuan, aku akan beritahu Bos, jika Tuan mau pulang."
"Tidak! Jangan beritahu dia, kita akan membuat kejutan. Lagipula, semakin sedikit orang tahu tentang kepulangan ku akan semakin baik. Kamu tahu apa yang aku maksud bukan?" tanya Richard.
"Iya sih, Tuan benar. Selama kita di sini saja, sudah beberapa kali Tuan hampir celaka. Dan jika pihak musuh mendengar, Tuan dalam perjalanan pulang, sudah pasti mereka akan kembali bergerak."
"Pintar kamu, ayo sana cepat bicara dengan Dokter, sebelum Bos mu memperpanjang masa perawatan ku di sini!" pinta Richard.
"Baik Tuan, tapi aku akan panggil pengawal dulu untuk menggantikan tugasku selama aku ke ruangan Dokter," ucap Arkan sembari meninggalkan tempat itu setelah mendapatkan anggukan dari Richard.
Arkan meminta dua pengawal untuk berjaga-jaga di depan pintu, dia tidak ingin ada musuh yang menyusup masuk saat dirinya lengah.
Keduanya pun bergegas menjalankan perintah dan mereka siap siaga dengan senjata di tangan.
Arkan menemui dokter di ruangannya, dia mengutarakan maksud tujuan seperti yang Richard minta. Sebenarnya Dokter meminta untuk melanjutkan terapi agar Richard bisa belajar berdiri. Tapi karena Richard mendesak, akhirnya dokter memberi izin untuk pulang dan menyarankan untuk melanjutkan pengobatan di tanah air.
__ADS_1
Setelah mendapatkan izin, Arkan pun bergegas kembali ke ruang rawat Richard dan besok mereka bisa keluar dari rumah sakit setelah pemeriksaan terakhir.
Richard senang, akhirnya dia bisa bebas dan bisa berkumpul kembali dengan putranya.
Saking girangnya, Richard tidak sadar, dia repleks berdiri.
Arkan yang melihat hal itu terperangah dan dia segera berlari keluar memanggil dokter, padahal di sana ada tombol darurat yang bisa Arkan gunakan untuk memanggil tim medis.
Dokter pun datang, melakukan pemeriksaan dan beliau mengucapkan selamat atas kemajuan yang tidak terduga.
Kemudian dokter memberi arahan, apa yang harus Richard lakukan di tanah air agar dirinya bisa pulih, tapi semua tentu saja butuh waktu dan tidak instan, apalagi untuk pasien seusia Richard.
Malam ini Richard tidur nyenyak, dia sudah membayangkan bahagianya pulang dan terlepas dari kungkungan aturan rumah sakit, meskipun resikonya Damar pasti marah.
Arkan sudah mempersiapkan kepulangan mereka, dia tidak mau ambil resiko terjadi hal buruk di perjalanan, jadi Arkan membayar seorang perawat untuk ikut mendampingi Richard.
Kali ini, mereka tidak menggunakan pesawat pribadi, karena larangan Richard. Richard tidak ingin Damar tahu, lebih awal tentang kepulangannya.
Arkan terpaksa menuruti kemauan Richard meski diapun sebenarnya takut jika bosnya nanti marah.
Ternyata kepulangan mereka tercium oleh pengawal Rendra yang telah di tugaskan untuk mengawasi Richard selama berada di rumah sakit.
Rendra merasa terancam jika Richard kembali dan sembuh. Menurut Rendra, kekuatan Damar akan bertambah dengan kepulangan Richard.
Pengaruh Richard di dunia mafia memang masih di perhitungkan oleh lawan-lawan bisnisnya meski dia hanya terduduk di kursi roda.
Bisnis Rendra bakal semakin terancam dan hal ini tidak akan Rendra biarkan sampai terjadi.
Saat pengawalnya memberi laporan jika Richard pulang tidak menggunakan pesawat pribadi, Rendra meminta pengawal untuk mensabotase penerbangan.
Tapi sebelumnya dia memerintahkan agar para pengawalnya menghalangi mobil mereka sebelum sampai ke bandara.
Mobil yang dikendarai Arkan dan Richard melaju kencang, mereka ingin secepatnya sampai ke bandara.
__ADS_1
Tapi, Arkan tidak menduga jika tiga mobil lawan menghimpit perjalanan mereka dan dua motor trail menyalib di depan.
Richard geram, kenapa ada saja yang bermaksud membuatnya celaka, padahal sebisa mungkin mereka merahasiakan kepulangan kali ini.
Arkan berusaha waspada, dia meminta dua mobil pengawalnya untuk mengalihkan perhatian musuh, sedangkan dia sendiri akan menghadapi dua pengendara motor yang menghalang-halangi lajunya mobil mereka.
Richard sendiri meminta Arkan untuk memberikan senjatanya, dia akan kembali melawan musuh setelah beberapa tahun ini vakum karena kondisi penyakitnya.
Richard dan Arkan sudah siap dengan senjata di tangan masing-masing, sedangkan Pak sopir tetap pokus dengan stiurnya.
"Arkan! kamu pokus dengan pengendara motor yang berada di sebelah kanan dan aku akan menghabisi yang di sisi kiri!" perintah Richard.
"Baik Tuan!"
"Aku akan buktikan, meski aku masih lumpuh, mereka akan menyesal telah membangunkan singa yang tertidur," ucap Richard dengan wajah dinginnya.
Richard memainkan senjata yang ada di tangannya dengan mahir, bidikannya tepat sasaran, satu pengendara motor terkapar akibat peluru yang meluncur tepat mengenai dadanya. Sementara Arkan masih belum bisa melumpuhkan targetnya.
Perhatian Richard kini pokus ke mobil musuh yang mulai menghimpit sisi kiri mobil mereka dan satu lagi menabrak dari belakang, hal itu membuat Richard menggeretakkan gigi, rasanya dia tidak sabar ingin segera menyingkirkan lawan-lawannya itu.
Jika saja kondisinya normal seperti dulu, mungkin saat ini musuhnya sudah tidak berkutik.
Satu mobil pengawal Arkan terguling akibat ulah musuh dan Arkan tidak tahu bagaimana nasib pengawalnya sekarang.
Kini mereka dalam posisi terjepit, tapi Richard tidak mau menyerah. Menurutnya lebih baik dia mati ketimbang menyerahkan diri.
Arkan sudah berusaha, tapi masih saja dia belum berhasil melumpuhkan musuh.
Tiba-tiba Richard berteriak memerintahkan sopir untuk menghentikan mobil, dia harus melakukan sesuatu di luar dugaan musuh.
Mobil berhenti seketika dan dua kenderaan musuh jadi berada di depan mereka.
Richard meski kepayahan turun dan langsung menembaki ban mobil musuh-musuhnya dengan lihai hingga kedua mobil itu oleng gara-gara ban mereka pecah.
__ADS_1
Tembak menembak pun terjadi, tapi Richard mampu mengatasi situasi itu dan secepatnya dia masuk kembali ke mobil dan meminta sopir untuk merapatkan mobil mereka ke mobil musuh.
Richard tidak memberi ampun, dengan bantuan Arkan, akhirnya mereka berhasil membuat kedua mobil itu meledak.