RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 83. MENGUSIR SECARA HALUS


__ADS_3

Melihat Carolina masih bergelung dalam selimutnya, Rendra pun mendekat dan menciumnya sambil berkata, "Bangun Sayang, ayo kita jalan-jalan, cuaca hari ini sangat bagus."


Carolina pura-pura menggeliat dan mengerjapkan mata, dia tidak mau Rendra curiga.


"Ayo bangkit atau aku gendong dan mandikan ya!"


"Eh...jangan Sayang. Aku akan mandi dan bersiap. Kamu tunggu aku ya, paling utuh waktu setengah jam."


"Oke, pergilah. Aku akan mengecek pekerjaan anak buah kita."


Carolina pun bergegas ke kamar mandi, dia harus buru-buru bersiap. Daripada bosan di dalam kamar saja, mending pergi jalan-jalan.


Rendra memeriksa ponsel Carol sebelum memeriksa ponselnya sendiri. Dia lega karena tidak menemukan hal aneh yang membuatnya curiga.


Carolina pun yang sudah selesai berdandan segera menghampiri Rendra yang masih asyik dengan ponselnya.


"Ayo Yang, aku sudah siap. Nanti kita kesorean!"


"Oke. Aku tinggal memakai sepatu saja."


Setelah keduanya siap, mereka pun meninggalkan hotel untuk pergi jalan-jalan.


Damar sudah tiba di rumah, hingga Nayla merasa lega. Kecemasannya ternyata tidak beralasan.


"Maaf Sayang, kelamaan perginya. Ini aku bawakan makanan kesukaan mu. Tadi Papa merasa lapar, makanya aku bawa makan di tempat langganan kita."


"Terimakasih Mas."


"Mau makan di kamar atau di ruang makan? biar aku temani!"


"Dia ruang makan saja Mas."


Kemudian Damar mengambilkan piring serta gelas. Kali ini dia ingin memanjakan sang istri.


"Enak Mas! Mas nggak makan? Ayo kita kongsian."


"Serius, nanti kamu kurang."


"Cukup kok, tadi aku sudah makan. Ayo buka mulutnya!" pinta Muti.


Padahal Damar tadi sudah makan, tapi dia senang mendapatkan suapan dari tangan istrinya.


Selesai makan, Damar mengajak Nayla ke kamar. Dia ingin menceritakan sesuatu dan ingin berembuk masalah Seyna dan Arkan.


Nayla yang merasa penasaran, menarik lengan Damar, dia tidak sabar dengan apa yang ingin Damar sampaikan tentang adiknya.


Ketika tiba di kamar, Damar meminta Nayla untuk bersandar dan menjulurkan kaki. Sambil memijat kaki sang istri Damar mulai bercerita.


Damar menceritakan tentang hubungan Dewo dengan Aira dan tentu saja hal itu membuat Nayla terkejut sekaligus senang.


"Alhamdulillah, akhirnya Aira dan Dewo jadian. Bagaimana dan dari mans Mas tahu info ini?"


"Rahasia dong. Tembok di sini kan punya mata dan telinga," ucap Damar sambil terus mengurut kali Nayla.

__ADS_1


Dia tidak mau melihat Nayla kelelahan selama masa kehamilannya.


"Oh ya Mas, bagaimana caranya kita membujuk Seyna agar mau menerima Bang Arkan?"


"Tenang Sayang, aku yakin mereka juga akan jadian. Kita akan menggelar acara untuk pernikahan mereka berempat."


"Serius Mas?"


"Sejak kapan suamimu jadi pembohong, Sayang," ucap Damar sembari menaik turunkan alisnya.


"Iya deh, aku percaya."


"Sudah merasa enakan?"


"Iya Mas, sudah. Ayo sini kita istirahat dulu."


"Yakin, nggak mau bertempur dulu? Aku ingin menjenguk anak kita lho," ucap Damar sembari tersenyum.


"Ih, Mas Damar mulai mesum. Ingat apa kata dokter, jangan terlalu sering."


"Kan kita melakukannya pelan-pelan, aku juga tidak mau calon anakku tersakiti."


Damar terus menggoda sang istri hingga akhirnya Nayla pun hanyut dalam permainan cinta sang suami. Keduanya pun tertidur sambil berdekapan dan bermimpi indah.


Dewo tidak bisa tidur, berharap pagi segera datang karena sudah tidak sabar ingin menemui Arkan di rumah sakit.


Akhirnya menjelang pagi Dewo baru tertidur dan dia terkejut saat panggilan subuh terdengar dari alarm ponselnya.


Dewo bergegas, membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban, setelah itu keluar untuk menghirup udara pagi sambil menunggu Damar keluar kamar. Dia ingin meminta izin pergi ke rumah sakit.


Selesai makan, Dewo pun masuk dan inilah saat yang tepat untuk dia pamit.


"Selamat pagi Tuan, Nyonya," sapa Dewo.


"Pagi Wo, kamu sudah sarapan?"


"Nanti saja Tuan sekalian mengantar sarapan untuk Aira dan juga Kak Arkan."


"Oh, kamu sudah mau berangkat ya. Pergilah dan jangan lupa pesanku kemaren. Nanti sekitar jam sepuluh baru kami menyusul. Pagi ini ada yang ingin aku kerjakan."


"Iya Bos, kalau begitu Saya pamit dulu."


"Iya, silahkan Wo dan ingat tetap semangat. Inshaallah niat baik pasti terlaksana."


"Siap Bos!"


Dewo pun berangkat, sedangkan Damar pamit kepada Nayla, dia ingin menyiapkan berkas di ruangan kerjanya.


Sepeninggal Damar, Nayla berjalan-jalan di luar, dia ingin menikmati udara pagi sambil melihat bunga-bunga yang bermekaran di taman.


Nayla tidak menyangka jika kedua pembantu resek itu mengikutinya.


Saat Nayla duduk di bangku taman sambil memandangi kolam, kedua pembantu itupun mendekat.

__ADS_1


"Pagi Nyonya, boleh kami temani Nyonya. Biasanya kan ada Aira dan Non Seyna tapi sekarang Nyonya sendirian di sini," ucap Betty.


"Oh, kalian! Memangnya pekerjaan kalian sudah selesai? Jangan sampai Bi Luna mencari-cari."


"Saya tidak masalah sendirian di sini, lagipula sebentar lagi suami saya juga menyusul kesini," ucap Nayla untuk menakut-nakuti keduanya.


Nayla ingin kedua pembantu resek itu, cepat pergi meninggalkan dirinya. Nayla lebih aman dan nyaman sendirian di sana ketimbang di temani oleh orang-orang yang tidak menyukainya itu.


Mendengar Damar akan segera datang, Betty dan Tisya pun pamit, mereka beralasan ingin sarapan.


Nayla tersenyum saat melihat keduanya terburu-buru pergi, triknya untuk mengusir kedua pembantu resek itu, berhasil.


"Bagus mereka sudah pergi! Aku lebih aman sendirian seperti ini," monolog Nayla.


Bi Luna sebenarnya memperhatikan mereka dari kejauhan karena beliau juga harus waspada menjaga sang Nyonya.


Ternyata Damar tidak tenang meninggalkan Nayla sendirian, lalu dia mencari Nayla ke kamar tapi tidak menemukannya di sana.


Damar kembali turun dan bertanya kepada Bi Luna, "Bi, istri Saya kemana ya, kenapa tidak ada di kamarnya?"


"Nyonya jalan-jalan di taman Den, barangkali bosan di dalam rumah terus."


"Oh, terimakasih ya Bi. Saya akan menyusul kesana," ucap Damar sembari meninggalkan dapur.


Betty dan Tisya menghindar agar tidak berpapasan dengan Damar. Mereka pura-pura mencabut rumput di belakang dapur.


Damar tidak mengindahkan mereka, dia berjalan sambil matanya menyapu ke sekeliling taman.


Melihat Nayla duduk di bangku taman, Damar pun segera menuju ke tempat tersebut.


Tapi dia menoleh kepada kedua pembantunya itu agar membawakan jus untuk mereka berdua.


Betty dan Tisya, segera bergegas ke dapur untuk membuatkan apa yang Damar minta.


Damar berjingkat, dia ingin mengusili Nayla. Kemudian Damar menutup mata Nayla dengan kedua telapak tangannya.


Nayla terkejut, tapi dia langsung menyadari, jika itu ulah sang suami.


"Mas Damar, lepaskan. Meski mataku tertutup, tapi aku tidak lupa dengan aroma tubuh suami tampanku ini."


Damar mencium Nayla, lalu bertanya, "Kenapa bengong sendirian Nay?"


"Kepikiran Seyna Mas," jawab Elena.


"Kalau begitu, ayo kita bersiap. Kita temui Seyna."


"Serius Mas, apa pekerjaannya sudah selesai?"


"Tidak konsen," jawab Damar sembari mengulurkan lengan untuk penopang Nayla bangkit.


Saat mereka berbalik, Betty dan Tisya membawakan apa yang tadi Damar minta.


"Minumlah! Sekarang juga kami harus pergi," ucap Damar.

__ADS_1


Bagaimanakah sikap Betty dan Tisya?


Bersambung.....


__ADS_2