
Di dalam pesawat hanya ada mereka berdua dan enam orang pengawal serta pilot. Tapi mereka nggak ada yang berani melihat ke arah Tuannya.
Damar mempergunakan waktunya untuk bercanda dan bermesraan dengan sang istri. Nayla malu karena dia merasa semua orang menatapnya, padahal tidak sama sekali dan itu hanya perasaan malu Nayla saja.
"Tidurlah Nay, masih lama untuk tiba di sana," ucap Damar.
"Iya Mas. Oh ya Mas, bagaimana dengan Dewo, apa mereka berhasil melumpuhkan musuh?"
"Mereka berhasil Nay, tadi sebelum kita terbang Dewo kirim pesan."
"Syukurlah Mas, jujur aku tadi takut sekali, untung saja Mas sudah mengantisipasi semuanya."
"Heem, aku tidak ingin kamu takut Nay. Kamu harus terbiasa dengan kehidupan ku yang serba keras. Kamu juga harus belajar untuk melindungi diri sendiri, karena mereka bisa kapan saja menyerang di saat kita lengah."
"Seram Kak!"
"Ini belum apa-apa Nay, lebih parah jika aku masih bergelut dalam dunia Narkoba! Aku janji Nay, pelan-pelan akan meninggalkan semuanya dan kita hidup damai di tempat dimana kita tidak akan melihat lagi yang namanya senjata," ucap Damar.
"Iya Mas, itu yang aku harapkan."
"Tidurlah, aku akan menjagamu," ucap Damar sambil memeluk Nayla.
Nayla tidur dalam pelukan sang suami, hingga tidak terasa pesawat mereka sudah mendarat.
Damar tidak membangunkan Nayla tapi menggendongnya hingga sampai ke dalam mobil yang menjemput mereka.
Sementara di kediaman Rendra, dia marah kepada para pengawal yang melaporkan bahwa rekan mereka tidak ada yang pulang dengan selamat, satu orang pun. Setelah di selidiki ternyata, mereka tewas dan Damar selamat.
"Bodoh! Menghadapi Damar dan beberapa pengawalnya saja semua tidak becus! Untuk apa aku bayar kalian mahal jika kerja kalian seperti ini!"
Semua pengawal menunduk, mereka tidak berani menatap Rendra yang sedang kesal dan amarahnya memuncak.
"Sudahlah Sayang, jangan marah-marah terus, nanti kamu struk!" ucap Carolina.
"Hah! Kamu pasti senang Dia selamat dan sekarang kamu doakan aku struk!"
"Bukan begitu lho yang, kamu jangan salah paham dong!" ucap Carolina sambil bergelayut manja.
"Ayo kita jalan, bisa stres aku jika menghadapi orang-orang bodoh di sini!"
"Baiklah, ayo kita dinginkan dulu kepalamu, kita jalan ke tempat biasa 'kan?" tanya Carolina.
"Heemm, terserah kamu. Yang perting keluar."
__ADS_1
"Pengawal! Kalian siapkan mobil sekarang!"
"Baik nyonya!"
Pengawal Rendra pun bergegas menyiapkan mobil, lalu Rendra dan Carolina seperti biasa pergi bersantai di restoran terapung sambil menikmati aneka makanan laut kesukaan Rendra.
Rendra selalu menenangkan diri di tempat itu setiap kali dirinya kesal dan setelah itu, dia akan tenang kembali.
Damar sudah tiba di rumah sakit, lalu dia membangunkan Nayla dan Nayla pun mengerjapkan mata, dia tidak percaya bisa sampai ke negara asing saat ini.
"Lho Mas, mana pesawatnya? Kok kita sudah di rumah sakit? tanya Nayla.
Damar tersenyum sambil berkata, "Kamu lelah, jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu tadi," ucap Damar.
"Jadi, Mas Damar gendong aku hingga ke mobil? Dasar aku istri yang selalu menyusahkan suami!"
"Hush, siapa bilang kamu menyusahkan, aku malah senang. Hitung-hitung belajar, siapa tahu suatu saat kita di beri anak kembar, jadi aku kuat menggendong mereka," ucap Damar sambil tertawa.
"Aamiin..., memangnya Mas Damar ingin mempunyai anak kembar?" tanya Nayla.
"Double kembar juga boleh," ucap Damar.
Nayla membulatkan matanya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana rupa tubuhnya jika sampai hamil double kembar seperti yang dimaksud oleh Damar.
"Oh...tidak, tidak, tidak," ucap Nayla sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menutup matanya.
Damar yang gemes melihat tingkah istrinya segera mencuri kesempatan, mencium dan menggendong Nayla.
Nayla meronta minta di turunkan karena dia malu, tapi Damar tidak peduli meski orang-orang memperhatikan mereka.
Para pengawal tidak menyangka jika bos mereka bisa seromantis itu. Kejam dalam dunia bisnis tapi romantis dan penyayang dalam rumah tangga.
Damar menurunkan Nayla saat mereka tiba di depan ruang rawat Richard.
Pengawal pun membukakan pintu dan Damar melihat sang Papa sedang marah kepada perawat yang melarangnya untuk bangun.
"Sus, ada apa dengan Papa Saya?"
"Maaf Tuan, Tuan Richard belum boleh bangkit dan berjalan dulu, karena kami sedang melakukan pemeriksaan terhadap kakinya. Tapi, Tuan Richard bersikeras ingin pergi melihat Tuan Arkan."
"Papa, harus turuti perintah dokter. Kaki Papa belum sembuh, saat ini kita sudah bersyukur papa bisa jalan lebih cepat dari perkiraan dokter."
"Ngapain kamu kesini! Siapa yang memberitahu! Dasar pengawal resek. Sudah aku bilang, aku yang akan pulang, tapi malah mereka menyuruhmu datang!"
__ADS_1
"Tidak ada yang memberitahuku Pa, aku kesini memang mau jenguk Papa sekalian itu...," ucap Damar sambil menunjuk ke arah Nayla.
"Hai menantu, mendekatlah! Jangan takut, aku tidak akan marah. Aku marah sama suamimu karena selalu melarang aku pulang! Aku bosan terbaring saja di sini!" ucap Papa Richard.
Nayla pun mendekat, lalu dia menyapa sang Papa sembari mencium tangannya.
"Bagaimana kabar Papa?"
"Aku sudah sembuh, aku sudah bisa jalan, tapi mereka kenapa melarang. Aku mau jenguk Arkan, dia terluka parah."
"Iya Pa, sabar. Nanti dokter pasti mengizinkan, mereka masih ingin memastikan apa kaki Papa sudah benar pulih atau belum. Nanti Nay yang akan mintakan izin kepada dokter agar Papa bisa ikut kami menjenguk Arkan."
"Nah ini, Papa setuju. Sekarang kamu pergi mintakan izin ya. Papa sudah tidak sabar ingin tahu langsung bagaimana kondisi Arkan."
"Baik Pa," ucap Nayla.
"Tapi Nay!" cegah Damar sambil memegang tangan Nayla yang hendak pergi.
"Kamu kenapa menghalangi Nayla! Kamu suka ya lihat papa stres kelamaan berada di sini!" Seru Richard.
"Bukan begitu Pa!" ucap Damar
"Mas...," cegah Nayla.
"Sebentar ya Pa, Mas Damar di sini saja temani Papa, Nay mau temui Dokter."
Damar pun mengalah dan membiarkan Nayla pergi. Nayla bertanya kepada suster dimana ruangan dokter yang menangani Richard dan suster pun mengantar Nayla kesana.
Dokter pun mempersilahkan Nayla masuk. Dan Nayla langsung menjelaskan tujuannya yang ingin meminta izin membawa Richard.
"Dok, tolong beri izin Papa untuk berkeliling rumah sakit agar tidak stres dan marah-marah melulu. Saya janji Dok akan menjaga beliau," pinta Nayla.
"Baiklah Saya izinkan, tapi tolong Tuan Richard jangan boleh berjalan dulu, kakinya belum pulih Nona," ucap Dokter.
"Iya Dok, Saya tahu. Saya akan membawa Papa dengan kursi roda," ucap Nayla.
"Oke, tapi jangan terlalu lama ya!"
"Iya Dok, terimakasih Dokter," ucap Nayla sembari mengatupkan kedua tangannya.
Nayla pun pamit, lalu dia kembali ke ruang rawat Richard sambil membawa kursi roda.
Richard sangat senang saat Nayla berhasil mendapatkan izin, lalu diapun segera meminta Damar untuk membantunya naik ke kursi roda.
__ADS_1