RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 53. DUA SISI KEPRIBADIAN DAMAR


__ADS_3

Damar kesal, pengawal itu ternyata lebih mengutamakan kesetiaan daripada nyawanya sendiri.


Dengan sekali kode, Marissa langsung mengaum, mendekati pengawal itu dengan memamerkan taringnya yang siap untuk mencabik-cabik.


Damar memberi kode lagi dan kali ini, Marissa mencabik tangan pengawal itu. Seketika darah segar muncrat ke lantai, pengawal terguling ke lantai dan menjerit kesakitan.


Dewo yang melihat hal itu memalingkan wajahnya, dia mau muntah melihat darah segar yang mengucur keluar dari tangan pengawal yang di cabik oleh Marissa.


"Sekarang masukkan dia ke sel! Hari ini cukup kita beri dia pelajaran dulu! Besok, kita akan lihat, apa dia masih bungkam atau memilih memberitahu kita siapa dalang dari kejadian itu!"


"Lukanya bagaimana Bos? Apa perlu kita balut?" tanya salah satu pengawal.


"Biarkan terbuka, aku ingin lihat tikus-tikus di sini berpesta!" ucap Damar.


Kemudian Damar memanggil Marissa mendekat, lalu dia mengelus kepala Marissa dan binatang buas itupun duduk dengan anteng di hadapan Damar.


"Kembali dan tunggu hadiah untukmu Marissa!" ucap Damar.


Marissa seperti tahu dengan ucapan Damar, dia berjalan menuju kandangnya dan tidak lama seorang pengawal datang membawa 3 ekor ayam yang masih hidup lalu memasukkan ke dalam kandang Marissa.


Damar menjentikkan jarinya dan Marissa mengaum keras, sepertinya dia tahu berterima kasih kepada sang Tuannya.


Marissa mulai mengejar dan mencengkeram satu ekor ayam, lalu dengan giginya yang tajam dan runcing itu, nyawa ayam pun melayang, tercabik-cabik hingga tersisa bulu-bulu yang berhamburan di lantai.


Bau anyir tercium, baik anyir darah pengawal maupun anyir darah ayam.


Dewo sudah tidak tahan, dia berlari ke toilet dan memuntahkan isi perutnya di sana. Ini kali pertama, Dewo menyaksikan kekejaman Damar yang menurut pengawal belum seberapa.


Tapi, Dewo menguatkan hati, sejak sekarang dia harus membiasakan diri dengan konsekuensi pekerjaanan yang sedang dia jalani.


Damar menyeringai, wajah dinginnya membuat para pengawal tertunduk. Hati Damar terkadang bisa manis, semanis gula dan sisi lain dari kehidupan serta pengalaman pahitnya telah menuntut Damar untuk menjadi seorang yang kejam.


"Kamu kenapa Wo?" tanya Damar saat melihat Dewo kembali.


"Maaf Tuan, Saya belum terbiasa."


Damar menepuk pundak Dewo, lalu dia berkata, "Pengalaman hidup lebih kejam dari itu Wo! Biasakanlah! karena, kamu dan Arkan yang aku andalkan untuk menjaga keluargaku!"

__ADS_1


"Baik Bos!" Bagaimana dengan tugas lain yang aku berikan kemaren?" tanya Damar.


"Aman Bos, satu kontainer musnah!"


"Bagus! Itu belum seberapa, apa yang dia lakukan dulu, akan aku balas perlahan, tapi pasti menyakitkan, lebih menyakitkan dari yang pernah dia lakukan padaku! Aku ingin, dia nanti bersujud dan mencium kakiku, memohon pengampunan yang tidak akan mungkin aku berikan!"


"Saya tunggu perintah selanjutnya Bos!" ucap Dewo.


"Sabar Wo, jangan terburu-buru. Aku tidak ingin merusak kebahagiaanku saat ini dengan mengingat bajingan itu," ucap Damar sembari meninggalkan tempat tersebut.


Dewo buru-buru mengikuti langkah Damar, keluar dari ruang penyekapan tersebut.


Sesampainya di luar, Damar membersihkan wajah serta tangannya, lalu berjalan kembali ke rumah utama.


Nayla yang tidak sengaja melihat Damar keluar dari tempat rahasia itu menjadi penasaran. Dia ingin tahu sebenarnya ada apa di dalam sana. Kenapa wajah suaminya terlihat lebih dingin saat keluar dari tempat tersebut.


Seyna yang melihat sang Kakak termenung sambil menatap sesuatu di kejauhan mencolek pipinya dan bertanya, "Apa yang Kak Nay perhatikan? Aku tidak melihat apapun di sana Kak?" tanya Seyna.


Nayla tersentak saat mendengar pertanyaan sang adik, dia tidak mau Seyna ikut berpikir yang tidak-tidak, lalu Nayla pun menjawab, "Tidak ada apa-apa Dek, Kakak hanya memperhatikan mansion ini ternyata sangat luas, andai ayah masih hidup, ayah pasti akan meminta untuk berkebun di sana," ucap Nayla sembari menunjuk kejauhan.


Nayla dan Seyna, tidak menyadari jika Damar mendengar percakapan mereka.


Damar, diam-diam masuk lalu menimpali, "Sekarang keinginan ayah kalian sudah terwujud. Tanah ini milikku, tapi juga milikmu Nay, jadi ayah bisa tenang di sana, harapannya terkabul meski melalui kamu."


"Kak Damar, maaf Kak. Kami hanya teringat Ayah dan Ibu, teringat mimpi mereka," ucap Seyna merasa segan.


"Aku akan mewujudkan mimpi mereka, memangnya ayah ingin memiliki kebun apa Dek?" tanya Damar kepada Seyna.


"Kebun buah dan sayur mayur," jawab Seyna.


"Besok, kalian ikut aku dan kita akan tinjau lokasi, jika cocok kita akan wujudkan keinginan ayah."


"Apa maksud Mas Damar?"


Damar hanya mengedipkan matanya, lalu sambil tersenyum diapun berkata, "Kita lihat besok ya, aku ingin kalian berdua bahagia."


"Terimakasih Kak, Kakak bisa membahagiakan Kak Nay saja, aku sangat bersyukur, jadi aku bisa ikhlas pergi."

__ADS_1


"Dek! Kakak tidak suka kamu ngomong seperti itu ya!" ucap Nayla marah.


"Iya Dek, kalian berdua harus bahagia," ucap Damar.


"Maaf Kak! Aku rasanya lelah."


"Ayo sekarang kamu istirahat, beberapa hari lagi jadwal kemo kedua kamu, pasti hasilnya akan lebih baik," hibur Nayla.


Seyna hanya menggelengkan kepala, lalu diapun kembali ke tempat tidurnya untuk beristirahat.


Damar dan Nayla pun pamit, mereka ingin menelepon dokter untuk memastikan kapan jadwal kemo selanjutnya.


Damar menggandeng tangan Nayla dan saat lewat di depan para pelayan yang sedang membersihkan rumah, Nayla pun minta tangannya dilepaskan. Nay merasa risih karena para pelayan pasti akan bergosip, terutama Betty dan Tisya.


Damar tidak peduli, dia malah mempererat pegangannya dan bahkan dengan sigap, Damar sengaja menggendong Nayla dan membawanya menuruni anak tangga.


Mereka tidak jadi ke kamar, tapi Damar akan mengajak Nayla jalan, membeli sesuatu yang ingin dia berikan untuk sang istri.


Saat melihat Dewo, Damar pun meminta tolong agar Dewo membantunya untuk menyiapkan mobil dan meminta Dewo untuk ikut dengan mereka.


Dewo pun bergegas mengambil kunci mobil di tempat biasa Damar meletakkannya. Lalu, dia segera menuju garasi untuk menyiapkan mobil yang Damar inginkan.


Kali ini, Dewo sendiri yang menyetir dan dia menuruti kemanapun majikannya akan pergi.


Dewo melihat keakraban Damar dan Nayla dari kaca spion. Dia bersyukur melihat Nayla yang terlihat bahagia dalam pelukan suaminya itu.


Tadi Dewo melihat sisi kepribadian kejam Damar dan saat ini dia melihat Damar yang sangat berbeda. Damar yang bersikap manis dan memanjakan sang istri.


Damar yang merasa Dewo, memperhatikannya, langsung berkata, "Makanya Wo, cepatlah lamar, cewek mana yang kamu suka. Kamu pasti akan merasakan seperti yang saat ini kami rasakan."


Dewo jadi malu, dia ketahuan curi-curi pandang. Lalu, Dewo pun menjawab, "Belum ada wanita yang mau dengan ku Bos!"


Nayla yang mendengar jawaban Dewo langsung saja menimpali, "Kamu saja yang pilih-pilih barangkali Wo, padahal banyak cewek yang menyukai mu saat kita kerja di pasar."


Ketika mereka asyik berbincang, tiba-tiba mobil Dewo oleng, hingga membuat Nayla menjerit dan langsung memeluk Damar.


Apakah penyebab olengnya mobil Damar? ikuti terus yuk ceritanya dan jangan lupa ya, berikan dukungan kalian. Terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2