RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 40. BERJANJI UNTUK PULANG


__ADS_3

Dewo membawa beberapa orang anak buahnya, lalu dia menuju alamat perawat yang telah diberikan oleh pihak rumah sakit.


Sementara Nayla dan Aira di minta oleh Dewo untuk pulang ke mansion dengan diantar oleh beberapa orang pengawal. Menurut Dewo, akan lebih aman jika mereka menunggu di Mansion daripada harus menunggu di rumah sakit.


Nayla menuruti permintaan Dewo, karena dia tidak ingin membuat Dewo terkena masalah lagi bila dirinya nanti celaka bila terus menunggu di rumah sakit.


Melihat kedatangan Nayla, Bi Luna merasa tenang, setidaknya tanggungjawab untuk menjaga istri dari Tuannya akan lebih mudah jika Nayla berada di dalam mansion.


"Selamat datang Non, bagaimana perkembangan pencarian Non Seyna? Apa sudah ada titik terang siapa sebenarnya yang menculik Nona?"


"Masih diusahakan oleh Dewo Bi, saat ini mereka sedang mendatangi rumah perawat yang bekerja sama dengan si penculik."


"Apakah Tuan menelepon Bi dan menanyakan hal itu?"


"Iya Non! Bibi terpaksa mengatakan semuanya, Bibi tidak berani membohongi Tuan," ucap Bi Luna.


"Ya sudah nggak apa-apa Bi, tadi Dewo juga sudah mengatakan kepada Bang Arkan tentang kejadiannya. Mungkin Bang Arkan saat ini sudah cerita juga ke Tuan."


"Sabar ya Non, mudah-mudahan Non Seyna cepat ditemukan."


"Harus Bi, soalnya dua minggu lagi, Seyna harus menjalani kemoterapi kedua, aku tidak mau semua yang telah kita lakukan selama ini sia-sia, gara-gara si penculik biadab itu."


"Iya Non, kita berdoa saja. Sekarang non harus beristirahat dulu, Bibi telah merapikan kamar dan Bibi buatkan susu panas ya Non agar perut Non terisi jika belum mau makan," ucap Bi Luna.


"Boleh Bi, buati susu saja! Aku sedang tidak berselera untuk makan. Rasanya tidak tenang sebelum Seyna ditemukan."

__ADS_1


"Baiklah Non."


"Aira, tolong antar Non Nayla ke kamarnya," pinta Bi Luna.


"Baik Bi."


"Ayo Non," ajak Aira.


Sementara semua orang merasa prihatin atas hilangnya Seyna, tidak dengan kedua pembantu yang selalu membuat ulah di sana. Bety menyenggol lengan Tisya, mereka tersenyum karena pekerjaan yang harusnya melayani Seyna, jadi tidak perlu mereka kerjakan.


"Berarti mereka sudah bergerak dan syukur deh, hasilnya mengurangi beban kita," ucap Tisya.


"Iya sih, tapi kenapa ya, cuma yang penyakitan, sementara yang sehat malah dibiarkan hingga masih saja tinggal di sini."


Ketika melihat Aira dan Nayla lewat, keduanya langsung bungkam dan pura-pura menunduk hormat.


"Kalian ngapain masih ngerumpi di sini, selesaikan tugas kalian," ucap Aira yang memang neg melihat keduanya karena sering berbuat ulah.


"Sudah Ai, ayo buruan, aku akan menelepon Mas Damar, barangkali dia punya saran bagaimana cara untuk menemukan adikku," ucap Nayla sembari masuk ke dalam kamarnya.


Bety dan Tisya mencebikkan bibir, lalu sambil bersungut-sungut, keduanya meninggalkan tempat itu menuju dapur.


Semua sedang disibukkan oleh masalah Seyna, sementara Seyna sendiri yang baru sadar dari pengaruh obat bius masih bingung, dia memandang sekeliling ruangan yang terasa asing baginya.


"Dimana ini, kenapa sepi sekali dan kaki serta tanganku kenapa di ikat?" batin Seyna.

__ADS_1


Kemudian Seyna berusaha mengingat kejadian sesaat setelah dia selesai menjalani kemo.


Dia baru ingat ketika itu sang kakak pamit untuk bertemu Dokter, sedangkan dirinya diminta menunggu di ruangan.


Lalu datanglah perawat yang katanya suruhan Nayla dan akan membawanya ke ruangan Dokter. Setelah itu, Seyna tidak mengingat apapun lagi.


Seyna mencoba bangkit, walau dengan kaki serta tangan terikat, Seyna akhirnya berhasil meraih handle pintu. Tapi pintu tersebut ternyata terkunci dari luar, hingga membuat Seyna terpaksa berteriak minta tolong.


Namun, tidak seorang pun datang menolong Seyna karena dia memang sedang di sekap di sebuah gudang kosong yang sudah tidak dipakai dan jauh dari keramaian.


Saat ini yang bisa Seyna lakukan hanya menangis memanggil-manggil nama sang Kakak sembari mengelus perutnya yang sejak tadi berbunyi karena rasa lapar.


Damar yang mendengar kabar hilangnya Seyna dari Arkan sempat marah, tapi akhirnya Arkan bisa meredakan emosinya dengan penjelasan yang masuk di akal.


Kemudian Damar menelepon Nayla, mungkin dia akan segera pulang untuk membantu pencarian Seyna. Sementara Arkan di minta oleh Damar untuk tetap di Korea Selatan agar bisa menjaga Papa Richard.


Damar tidak tega melihat Nayla menangis, dan dia berjanji malam ini juga akan berangkat menggunakan pesawat pribadi.


Nayla bersyukur, walaupun Damar hanya suami sementaranya, tapi dia cukup perhatian terhadap Seyna dan Damar cukup bertanggungjawab dalam membantu setiap masalah yang di hadapi oleh Nayla.


Bersambung....


Selamat malam para sobat, kali ini aku bawa rekomendasi karya sahabatku, pastinya juga seru, yuk silahkan mampir juga di sana dan jangan lupa dukung karya kami ya. Terimakasih 🙏😘


__ADS_1


__ADS_2