RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 28. MENJADI BUCIN


__ADS_3

"Terimakasih atas dukungannya Wo, semoga kamu juga betah bekerja di sini. Oh ya, bagaimana kabar ibumu, apa beliau sudah sembuh?" tanya Nayla.


"Sudah Nya, alhamdulillah Tuan melunasi semua biaya rumah sakit dan Tuan juga mempekerjakan dua orang untuk menjaga ibu dan mengurus rumah."


"Syukurlah Wo, berarti Tuan Damar memakmurkan para pekerja serta keluarga mereka," ucap Nayla.


"Makanya, aku bilang Nyonya harus berjuang, aku rasa Tuan orang baik."


"Tapi masih ada yang mengganjal di hatiku Wo, sebenarnya apa bisnis Tuan dan kenapa Tuan memiliki musuh yang kapan saja bisa mengancam nyawa kita."


"Kenapa nggak Nyonya tanya langsung ke Tuan, aku kan juga baru bekerja di sini, mana berani menanyakan hal itu kepada Tuan," jawab Dewo.


Bety dan Tisa masih saja menguping, mereka penasaran dengan apa yang Nayla dan pengawal baru bicarakan, lalu keduanya bergosip kepada pelayan lain.


"Coba kalian perhatikan, Mereka terlihat akrab. Dasar wanita kecentilan, baru saja ditinggal suami pergi, sudah keganjenan dengan laki-laki lain," ucap Tisa kepada dua orang pelayan yang lewat di sana.


"Belum tahu dia siapa Tuan Damar. Tidak cantik saja, berani bertingkah, sedangkan yang cantik saat buat ulah langsung dicampakkan, nah dia bakal diapain ya?" tanya Bety.


Tisa menjawab pertanyaan Bety dengan kode menggorok lehernya sediri dengan tangan.


Kemudian semua tertawa, hal itu menarik perhatian Bi Luna yang baru keluar dari dapur. Bi Luna mendekati mereka lalu beliau menarik telinga Bety dan Tisa sambil berkata, "Jangan menggosip saja, selesaikan pekerjaan kalian!"


"Bi... Bi, ampun," pinta keduanya.


Dua pelayan lain langsung pergi untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, sementara Bety dan Tisa menggosok-gosok telinga mereka yang sakit.


Setelah Bi Luna meninggalkan tempat itu, mereka bukannya pergi malah masih saja menguping.


Nayla pamit dengan Dewo, akan kembali ke kamar dan Dewo pun segera pergi menyusul teman-temannya di pintu gerbang mansion.

__ADS_1


Aira yang melihat Nayla di atas anak tangga pun berlari menghampirinya dengan mensejajarkan langkah, "Hai Nayla, kenapa kamu tidak ikut Tuan saja, bukankah kalian baru menikah masa kamu sudah ditinggal pergi?" tanya Aira.


"Tidak bisa Ai, sebenarnya Mas Damar ingin mengajakku, tapi siapa yang akan memberikan dukungan kepada Seyna besok, bukankah ini kali pertama dia melakukan kemoterapi. Aku tidak mungkin mengabaikan adikku demi kebahagiaanku sendiri."


"Iya, kamu benar."


"Aku permisi dulu ya Ai, Aku mengantuk dan ingin tidur, besok kita berangkat pagi-pagi dengan di antar oleh pengawal Dewo."


"Kamu sepertinya akrab dengan pengawal itu ya, hingga namanya saja kamu hafal padahal dia pengawal baru, tapi Tuan langsung percaya," ucap Aira.


"Dia teman Abang kamu dan juga temanku, masa kamu tidak mengenal dia Ai?"


Aira menggeleng, "Abang tidak pernah memperbolehkan aku bertemu teman-temannya, meskipun mereka dulu sering datang ke rumah."


"Oh, Abangmu ternyata protektif sekali ya!"


"Iya, dia tidak mau aku bergaul dengan para pria, padahal aku tidak pernah kecentilan seperti teman-teman wanitanya di luaran sana."


"Entahlah! Pergilah tidur Nay, katanya kamu mengantuk, aku juga akan kembali ke kamar," ucap Aira.


Mereka pun berpisah, menuju kamar masing-masing. Nayla membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, lalu berbaring di tempat tidur yang masih penuh dengan hiasan pengantin.


Nayla memikirkan Damar, dia berharap suaminya akan cepat kembali. Beberapa hari kebersamaan mereka, membuat Nayla sekarang merasa kehilangan.


Senyum dan perlakuan manis Damar tadi sore membuat Nayla tersenyum-senyum sendiri. Ternyata ketakutan akan sosok suami perjodohannya selama ini tidaklah beralasan.


Nayla memandang ponselnya, melihat nomor kontak Damar, dia tidak akan tidur sebelum mendapatkan kabar apakah Damar sudah sampai di tempat tujuan.


Damar yang sudah berada di atas pesawat pribadi, kini duduk melamun, dia juga merasa aneh, kenapa bayangan Nayla selalu mengganggu pikirannya.

__ADS_1


Arkan yang melihat Damar sejak tadi diam, lalu bertanya, "Bos, Anda kenapa sejak tadi diam saja? Apa Bos sakit? Atau Bos merindukan Nona Nayla?"


"Entahlah Kan! Aku sendiri bingung, kenapa bisa secepat ini dia menguasai pikiranku, padahal aku tadinya tidak percaya lagi dengan namanya wanita, apalagi cinta. Mereka makhluk aneh yang hanya membuat pria menjadi lemah."


"Apa Bos bermaksud membatalkan perjanjian?"


"Kita lihat saja nanti Kan! Mudah-mudahan saja dia memang wanita yang berbeda dari wanita-wanita yang selama ini aku kenal, yang hanya ingin memanfaatkan kesempatan saja."


"Menurut pengamatanku, Nona Nayla berbeda Bos, Pengorbanannya untuk Nona Seyna saja sudah menunjukkan bahwa dia wanita yang penyayang. Nona rela mengorbankan kebahagiaannya demi orang yang dia sayang. Dan Nona, wanita yang sopan serta tidak sombong. Bos lihat saja, walau Nona Nayla sudah menjadi Nyonya di rumah ini, Nona tetap ramah dan dekat dengan para pelayan, termasuk dengan adik Saya."


"Oh ya Kan, kenapa Aira tidak kamu jodohkan saja dengan Dewo? Aku rasa dia juga pria yang baik," ucap Damar.


"Nantilah Bos, saat ini biarlah Aira melayani Nona dulu, jika dia buru-buru menikah, waktunya pasti akan habis buat mengurus keluarga."


"Bisa saja sejalan Kan! Kamu juga harus pikirkan dirimu, jangan hanya memikirkan aku," ucap Damar.


"Nantilah Bos, belum ada yang pas di hati," ucap Arkan.


"Sebaiknya sekarang Bos tidur, karena masih ada waktu 4 jam lagi baru kita tiba di sana," ucap Arkan lagi.


"Aku tidak bisa tidur Kan, sedang apa dia di rumah ya, apa dia merasakan hal yang sama seperti ku atau cuma perasaanku saja yang seperti ini," ucap Damar hingga membuat Arkan tertawa.


"Eh, kenapa Bos sekarang jadi bucin?"


"Ah, entahlah Kan!" ucap Damar sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh ya Kan, bagaimana dengan si brengsek selingkuhan Carolina, aku sudah tidak sabar ingin gantian menghancurkan bisnisnya. Aku ingin melihat keduanya hancur. Carolina harus memohon kepadaku, untuk menyelamatkan si brengsek itu. Mereka harus mengalami nasib seperti yang pernah aku alami, tidur di jalanan, bahkan untuk membeli sebungkus nasi pun, uang di kantong tidak cukup," ucap Damar.


"Kita akan buat dia makan dengan mengais di tong sampah Bos, lebih parah dari yang Bos pernah alami. Aku janji Bos, beri aku waktu untuk menjatuhkannya. Bos tidak perlu mengotori tangan, cukup aku saja yang melakukannya."

__ADS_1


"Terimakasih Kan! Aku percayakan semua kepadamu. Aku ingin melihat dia merangkak di depanku minta di kasihani dan minta untuk dibiarkan hidup," ucap Damar.


Damar dendam dengan perlakuan Carolina beserta selingkuhannya, jika mengingat kejadian itu, dirinya menjadi tidak sabar ingin segera melihat keduanya mengemis di kakinya untuk memohon pengampunan.


__ADS_2