
Sesuai instruksi dari Damar, pak sopir pun menabrak pengendara motor yang menghalang-halangi jalan mereka.
Satu motor tergelincir dan nyungsep, yang lainnya masih saja berusaha menghalangi mereka.
Malah bertambah dengan datangnya 2 mobil di sisi kanan dan belakang mereka.
Damar tidak bisa membiarkan hal ini, jelas saja sudah tidak sebanding dengan kekuatan pengawalnya.
"Nay, aku harus turun tangan, jika kamu takut pejamkan saja mata, mereka telah membuatku hilang kesabaran," ucap Damar sambil mencium istrinya.
"Memang salah kita apa ya Mas? Kenapa mereka menyerang kita?" tanya Nayla.
"Yang pasti dendam lama, soalnya Papa juga di serang 'kan."
"Tapi, ntahlah Nay. Aku merasa musuhku ini orang yang sama dan dia mencoba menyerangku dari dua sisi. Papa dan sekarang kita."
Saat Damar sedang bersiap dengan senjatanya, tiba-tiba Nayla menjerit dan jatuh ke dalam pelukan Damar.
Ternyata mobil mereka ditabrak dari dua arah, samping dan belakang.
"Kepa**t! jika sampai kamu terluka, semua tidak akan ku beri ampun!" ucap Damar sembari memeriksa tubuh Nayla.
"Aku tidak apa-apa kok Mas, hanya terkejut saja," ucap Nayla yang melihat kekhawatiran suaminya.
"Pak, tolong stel jok belakang agar nyonya bisa berbaring. Mereka jual aku beli! Mereka akan tahu siapa aku," pinta Damar.
"Baik Tuan!"
Mobil Damar memang di stel khusus apabila ada keadaan darurat. Dan benar dengan sekali tekan tombol, jok bagian belakang bergerak dan berubah menjadi seperti kasur.
Damar pun segera meminta Nayla untuk mengenakan headset dan berbaring di sana, sementara dia bersiap untuk melakukan perlawanan.
"Sekarang, percepat laju mobil Pak! Aku akan singkirkan dulu pengendara sepeda motor. Sedangkan kedua mobil itu, aku akan minta Dewo dan pengawal lain untuk menghambat mereka dulu!"
"Oke Bos!"
Kemudian Damar segera menginstruksikan tugas kepada Dewo lewat alat telekomunikasi yang selalu terpasang di bagian salah satu telinganya.
"Wo, tugasmu kicuh kedua mobil musuh dan aku singkirkan dulu yang bersepeda motor baru membantumu. Instruksi kan kepada pengawal lain!" perintah Damar.
"Baik Bos, siap laksanakan!"
__ADS_1
Pak sopir pun menuruti perintah Damar, Damar meminta untuk menabrak motor yang ada di depan mereka, sementara dia membidikkan peluru ke pengendara yang satu lagi.
Damar rajin berlatih menembak sebelum Sang Papa di rawat di luar negeri. Tapi sejak Richard di sana, pikirannya tidak bisa fokus. Jadi hari ini dia akan melatih dengan praktek langsung menghabisi musuh-musuhnya.
Dengan sekali tarik pelatuk, peluru pun meluncur tepat mengenai punggung kiri dan tembus ke jantung sang pengendara.
Damar berteriak, "Mam**s kau! berani-beraninya kau usik Damar!"
Pak sopir pun tersenyum, dia kagum dengan cara Damar melepaskan pelurunya.
Saking semangatnya Pak Sopir menambah kecepatan dan, "Brukk..." satu pengendara jatuh terpental dan terlindas tubuhnya terlindas.
"Yes! Kerja bagus Pak! Tinggal dua lagi. Sekarang itu bagianku!" ucap Damar sambil kembali membidikkan pelurunya.
Peluru kembali melesat dan kali ini mengenai helm yang di pakai si pengemudi.
Pak sopir menyayangkan hal itu, satu peluru terbuang. Tapi Damar tersenyum sambil berkata, "Tinggal satu lagi Pak! Ayo kita selesaikan!"
"Tapi Bos, yang tadi..."
Belum sempat Pak sopir menyelesaikan kalimatnya, pengendara itu terjatuh dan terseret kenderaannya sendiri.
"Lho...kok jatuh Bos, tapi tidak kena, pelurunya nyasar kan?"
Pak sopir tidak percaya, ternyata pengelihatannya salah, sedangkan Bosnya memang tahu targetnya.
"Lanjut Pak! lihatlah Dewo sepertinya berhasil menyingkirkan satu mobil yang berusaha mengejar kita," ucap Damar.
Setelah memperhatikan Dewo, Damar mencuri pandang ke Nayla, ternyata Nayla memejamkan matanya, dia benar takut dengan situasi yang saat ini terjadi.
Damar tersenyum melihat istri kecilnya benar ketakutan, dia ingin segera menyelesaikan permainan tembak menembaknya agar Nayla bisa segera membuka matanya.
Kemudian Damar pun memberi perintah kepada Dewo, "Wo, sisanya bisa kalian selesaikan? Istriku ketakutan. Aku ingin segera tiba di bandara!"
"Siap Bos! Kami akan bereskan mereka. Bos lanjut saja perjalanan, selamat jalan ya Bos, titip salam untuk Tuan besar dan juga Arkan!" ucap Dewo.
"Baiklah Wo, hati-hati kalian! Kabari aku segera jika semua berhasil kalian bereskan. Dan satu hal lagi, jaga mansion, aku titip Seyna. Seyna menjadi prioritas utama yang harus kalian jaga," pesan Damar.
"Siap Bos! Kami akan laksanakan perintah!" ucap Dewo.
Setelah memberi perintah kepada Dewo, Damar berkata kepada Pak Sopir, "Pak, lanjutkan perjalanan, tinggalkan sisa musuh biar menjadi urusan Dewo. Aku ingin kita cepat sampai ke bandara." ucap Damar.
__ADS_1
"Siap Bos!"
Mobil meluncur dengan kecepatan tinggi, mereka melintasi lawan yang tersisa, walaupun pihak lawan berusaha mengejar tapi sia-sia karena Dewo bersama yang lain segera menghadang mereka.
Walaupun Dewo sedikit terluka akibat terserempet tembakan, tapi semangatnya tidak menurun, dengan sigap dia berhasil menyingkirkan pengendara motor yang tersisa, kini hanya tinggal satu buah mobil musuh.
Dewo memberi perintah kepada pengawal yang lain agar segera mengepung dari semua sisi, secepatnya mereka harus segera menyingkirkan musuh.
Sementara Damar sudah tiba di bandara dan dia mendekati Nayla, membuka headset yang terpasang di telinganya, sambil berkata, "Bukalah mata mu Sayang, kita sudah sampai dan harus segera masuk ke pesawat."
Nayla membuka matanya, lalu dia melihat ke sekeliling dan benar mereka telah tiba di bandara.
Damar mencuri ciuman, lalu dia tersenyum, "Ayo, aku gendong ya," ucap Damar yang langsung menggendong Nayla turun dari mobil menuju ke pesawat yang sudah menanti mereka.
Nayla melihat beberapa pengawal dan diantaranya ada dua orang wanita berpakaian serba hitam dan memakai jaket kulit membungkuk saat melihat Damar melintas di depan mereka.
"Mas, siapa mereka?" tanya Nayla.
"Pengawal kamu!"
"Hah! Maksud Mas?"
"Iya, mereka yang aku tugaskan khusus untuk mengawalmu, kemanapun kamu hendak pergi."
"Bukankah ada Mas Damar, aku pasti aman!" ucap Nayla.
"Aku tidak bisa menjagamu 24 jam Nay, apalagi kita belum tahu jelas bagaimana kondisi Papa dan Arkan. Siapa tahu mereka membutuhkan penjagaanku. Makanya aku meminta kedua wanita tadi untuk menjagamu, saat aku sedang berada di tempat lain."
"Hebat mereka ya, wanita menjadi pengawal."
"Mereka mantan pembunuh bayaran, yang namanya di kenal di dunia mafia dan kemampuannya tidak diragukan lagi," ucap Damar.
"Wah, hebat banget mereka. Nggak seperti aku, seorang pengecut, yang menyusahkan suami," ucap Nayla malu.
"Pengecut tapi baik, aku suka! Jadi kamu tetap membutuhkan perlindungan ku dan tidak akan berani kabur untuk pergi seperti Carolina," ucap Damar sambil menatap manik mata Nayla.
"Carolina wanita bodoh, telah menyia-nyiakan orang yang menyayangi dengan tulus."
Mendengar hal itu, Damar langsung mendaratkan ciuman di bibir Nayla, hingga membuat Nayla malu. Nayla seperti pencuri, matanya celingukan melihat ke sekeliling takut ada yang melihat perbuatan Damar tadi.
Ternyata para pengawal tetap berdiri tegak dan menatap ke depan tanpa berani melihat ke arah mereka.
__ADS_1
Nayla salut melihat para pengawal yang telah di bayar Damar dan setelah mereka masuk ke dalam pesawat, barulah para pengawal tersebut menyusul masuk.