
Damar memperhatikan kedua orang terpenting dalam kehidupannya saat ini, mereka sedang terlelap dalam mimpinya masing-masing.
Seorang Papa yang tidak pernah terbayangkan sama sekali akan dia dapatkan saat dirinya terpuruk dan seorang istri yang tadinya hanya untuk perantara mendapatkan keturunan, kini telah dia cintai dengan sepenuh hati.
Berkah yang begitu besar telah Damar dapatkan, ditambah lagi dengan kehadiran dua calon anak yang saat ini tumbuh di rahim sang istri.
Air mata Damar pun menetes, dunia hitam yang selama ini diperkenalkan Richard dan telah mereka geluti telah menempah dirinya menjadi manusia yang berhati batu. Tapi, hari ini batu itu telah berlubang berkat tetesan kasih sayang seorang wanita yang bernama Nayla.
Damar mencium kening Nayla, dia berjanji akan mempertaruhkan apapun demi kebahagiaan rumahtangganya.
Nayla mengerjapkan mata karena merasakan ada sesuatu yang dingin jatuh di keningnya. Dan saat matanya terbuka, Nayla pun terperanjat melihat mata Damar berkaca-kaca.
"Mas, apa yang terjadi! Mas Damar kenapa menangis?" tanya Nayla sembari menyentuh wajah Damar dan menghapus air mata yang menetes di pipi suaminya itu.
Damar belum mampu menjawab pertanyaan sang istri, lalu dia kembali mendaratkan ciuman di kening dan di kedua mata serta pipi Nayla.
Nayla yang mendapatkan perlakuan manis langsung memeluk sang suami hingga posisi mereka saat ini sudah tidak berjarak.
Tapi Damar sadar dia tidak boleh menimpah bagian perut sang istri yang bisa mengakibatkan bahaya bagi calon bayinya.
Damar duduk bersandar dan menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya. Keduanya terhanyut dalam kemesraan pasangan yang sedang di mabuk cinta dan kebahagiaan.
Setelah melihat Damar tenang, Nayla pun kembali mengajukan pertanyaan, "Apa yang membuat Mas Damar tadi menangis?"
"Kamu, calon anak kita dan Papa!" jawab Damar singkat.
"Kami? ada apa dengan kami Mas? Bukankah aku dan Papa baik-baik saja? Mas jangan terlalu mengkhawatirkan kami!" ucap Nayla.
"Kalian adalah hidup ku, terimakasih Sayang, berkat kamu semuanya kembali berarti dan saat ini tujuan hidupku lebih pasti, membuat keluargaku hidup bahagia," ucap Damar sambil mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Aku yang harusnya berterimakasih Mas, semua ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Hari demi hari, katakutanku makin bertambah, takut jika kontrak pernikahan kita akan segera berakhir dan aku tidak bisa melihat anak-anak kita tumbuh dewasa. Aku takut kehilanganmu Mas! Maaf, jika aku egois dan lancang telah mencintaimu dan menginginkan cintamu!" ucap Nayla, lalu membenamkan wajahnya di dada Damar.
"Alhamdulillah, apa yang ingin aku dengar akhirnya terucap. Aku mencintaimu Sayang. Mencintai kalian dengan segenap hatiku," ucap Damar sambil menengadahkan wajah Nayla.
Keduanya pun bersitatap, Nayla menangis, hari ini dia begitu bahagia. Bahagia karena telah dicintai oleh pria yang telah berhasil mencuri hatinya.
Apa yang selama ini menurutnya tidak mungkin hari ini telah diungkapkan dan dibuktikan oleh Damar.
Damar mengambil tas yang selalu dibawa kemanapun dirinya pergi.
Lalu Damar mengeluarkan selembar surat yang Nayla tahu itu adalah surat perjanjian pernikahan mereka yang berbatas sampai dirinya melahirkan keturunan.
"Lihatlah Nay! perjanjian kontrak pernikahan diantara kita sudah berakhir. Sekarang aku ingin kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku untuk selamanya," ucap Damar sembari merobek kertas perjanjian tersebut.
Nayla kembali memeluk Damar, dia terisak karena luapan kebahagiaannya.
"Apakah kamu bersedia menjadi istriku dunia dan akhirat Nay?" tanya Damar.
"Bagaimana Nay? Apakah kamu bersedia?"
"Aku bersedia menjadi istri Mas Damar di dunia dan di akhirat!" jawab Nayla.
Keduanya kembali berpelukan, mereka tidak sadar jika Richard terbangun dan menyaksikan kebahagiaan mereka.
Richard tidak ingin mengganggu kebahagiaan anak dan menantunya, lalu diapun pura-pura tidur kembali.
Saat salah satu pengawal datang memberitahukan bahwa pesawat mereka akan segera mendarat, Damar pun membangunkan Richard.
Richard yang memang hanya pura-pura tidur, mengucek-ucek mata lalu berkata, "Kenapa kamu bangunkan aku! Aku masih mengantuk!"
__ADS_1
"Kita sudah sampai Pa! Pesawat kita akan segera mendarat."
"Hah! Kamu serius? Hore...aku kembali bebas hidup di negaraku, di rumahku!" teriak Richard seperti seorang anak kecil.
"Papa!" seru Damar.
Nayla menarik lengan Damar, lalu berkata, "Biarlah Papa mengekspresikan kebahagiaannya Sayang, daripada beliau pendam dan menimbulkan penyakit!" ucap Nayla.
"Iya deh, Papa menang! Papa sekarang bahagia 'kan, menantu Papa selalu membela," ucap Damar.
"Hahaha..." Richard pun tertawa.
Kemudian Richard pun berkata, "Kamu tidak salah pilih, Nayla memang menantu idaman," ucap Richard sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Papa bisa saja! Terimakasih Pa, Papa juga orangtua terbaik bagi kami," ucap Nayla.
"Ayo kita turun! Pesawat kita sudah mendarat," ajak Damar.
"Eh...Arkan kemana ya?" tanya Damar.
"Kamu sih bermesraan terus, sampai Arkan berpindah tempat pun kamu tidak tahu!" ucap Richard.
Damar membulatkan mata, dia jadi curiga jika Richard mendengar pembicaraannya bersama Nayla, sedangkan Nayla wajahnya memerah karena malu.
Richard yang melihat hal itupun berkata, "Sudah jangan malu, aku juga pernah muda seperti kalian!" ucap Richard sembari berjalan meninggalkan keduanya.
Arkan ternyata telah duluan turun dibantu oleh para pengawal.
Damar dan Nayla saling pandang, mereka yakin jika Richard memang telah mendengarkan apa yang mereka bicarakan tadi.
__ADS_1
Rahasia Damar akhirnya diketahui Richard secara tidak sengaja dan untung saja Richard tidak memarahinya karena telah menjadikan Nayla sebagai istri kontrak pada awal pernikahan mereka.