
Setelah menyelesaikan tugasnya, Bety memberi kode ke Tisya, dia mengajak Tisya ke kamar untuk segera memberi info kepada Carolina.
Kemudian keduanya beringsut-ingsut pergi dari dapur, tapi kepergok oleh Bi Luna dan mendapat teguran, "Kalian mau kemana? Masih ada tugas lain yang harus dikerjakan, siapa yang suruh kalian pergi atau kalian ingin tidak mendapatkan jatah makan siang hari ini!" ucap Bi Luna.
"Maaf Bi, kami sesak buang air, nanti kami kembali untuk mengerjakan semua yang Bibi perintahkan," jawab Bety.
"Masa kebelet bisa barengan, atau kalian sengaja ingin berbuat sesuatu! Awas jika sampai berani berbuat aneh-aneh. Tuan tidak akan segan untuk memecat kalian dan jika perbuatan itu tidak bisa dimaafkan, bersiap-siaplah nyawa kalian taruhannya," ancam Bi Luna.
"Nggak lah Bi, kami masih ingin bekerja dan terutama masih ingin hidup, Bibi berburuk sangka terus sih!" jawab Tisya.
"Habisnya, kalian suka sekali berbuat ulah hingga aku sulit percaya lagi dengan kalian! Sudah sana pergi! jangan sampai kalian mengompol di sini! Tapi ingat jika kalian tidak segera kembali, jangan harap akan mendapatkan jatah makan siang."
"Baik Bi, terimakasih. Kami permisi dulu," ucap Bety.
Kemudian Bety dan Tisya buru-buru pergi ke kamar mereka, lalu Bety mengeluarkan kartu nama dari dalam kantongnya dan Tisya pun sudah menyiapkan ponsel.
"Sini, biar aku yang melakukan panggilan!" ucap Bety sembari merampas ponsel dari tangan Tisya.
"Iya...iya, aku nggak bakalan melangkahimu, Nyonya itu percayanya dengan mu, jadi mana mungkin aku berani berbicara dengan beliau," ucap Tisya.
"Sudah diam! Nanti jika kedengaran Bi Luna bisa gawat. Kamu mau menanggung akibatnya!"
Tisya pun menutup mulutnya dengan tangan, dia juga takut jika sampai orang lain di mansion ini mengetahui perbuatan mereka.
Kemudian Tisya buru-buru mengunci pintu saat Bety sudah mulai melakukan panggilan telepon.
Awalnya tidak tersambung, hingga membuat Bety kesal dan langsung melemparkan kartu nama tersebut ke lantai.
Tisya buru-buru mengambilnya lalu diapun berkata, "Ayo coba lagi, barangkali jaringan memang lagi parah."
Bety pun mengulang panggilannya lagi dan kali ini berhasil tersambung. Terdengar di sana suara pria yang menjawab, hingga membuat Bety mematikan panggilan. Bety merasa takut, dia pikir telah salah memasukkan nomor ponsel.
"Kenapa kamu matikan? Kenapa kamu seperti ketakutan Bet?" tanya Tisya.
__ADS_1
"Nih kamu coba kalau mau, ternyata laki-laki, aku tidak mau berurusan dengan pihak laki-laki, bisa runyam urusannya nanti."
"Sini ku lihat, nanti kamu yang salah sambung!" ucap Tisya.
Kemudian Tisya mencocokkan nomor yang ada di kartu nama dengan nomor yang tadi Bety panggil, ternyata nomornya sama.
Merasa penasaran, Tisya pun mencoba melakukan panggilan, dia ingin membuktikan, apakah yang telah Bety bilang benar, bahwa pemilik ponsel tersebut memang seorang laki-laki.
Ketika ponsel kembali tersambung, terdengarlah suara wanita sedang bertanya, "Hallo! kalian siapa? jangan bercanda ya, pakai mematikan panggilan sepihak segala. Kami ini orang sibuk dan penting, jadi jangan sampai membuang waktuku untuk hal yang tidak berguna," ucap Carolina dengan kesal.
"Nyonya Carolina, ini kami! Pelayan di rumah Tuan Damar. Ada hal penting yang ingin kami sampaikan.
"Oh, ternyata kalian, apa bos kalian telah kembali?"
"Belum Nya, kami cuma ingin menginfokan bahwa, sore nanti kedua gadis gembel itu akan pulang, jadi Nyonya tidak perlu repot mengunjunginya di rumah sakit," ucap Tisya.
Mendengar Tisya memanggil Nyonya berarti bisa di pastikan jika orang di balik telepon itu seorang wanita.
"Ya, hallo nyonya, apa yang harus kami lakukan untuk tugas selanjutnya?" tanya Bety.
"Dia di rumah sakit mana? Aku akan datang sekarang juga. Aku ingin memberi sedikit shock terapi jantung untuk kedua gadis itu," ucap Carolina.
"Rumah sakit tempat Tuan Damar pernah membawa Tuan besar operasi saat tertembak dulu Nya!" jawab Bety.
"Baguslah jika begitu, aku akan segera kesana, tapi ingat beri terus informasi yang aku butuhkan tentang semua yang terjadi di mansion ini," ucap Carolina lagi.
"Baik Nya! Sudah dulu ya Nya, kami akan kembali bekerja."
"Hemm," jawab Carolina hanya dengan deheman.
Kemudian Bety mematikan panggilan, lalu keduanya bergegas menuju dapur untuk bertanya kepada Bi Luna tentang tugas mereka selanjutnya.
Bi Luna menatap tajam ke arah keduanya, hingga membuat Bety dan Tisya merasa risih dan salah tingkah.
__ADS_1
"Kenapa kalian seperti baru saja melihat hantu! Apa sebenarnya yang kalian lakukan?" tanya Bi Luna.
"Nggak ada kok Bi, beneran deh, kami tidak berani bohong," jawab Tisya.
"Kalau begitu, tugas kalian selanjutnya, ganti seprai di semua kamar, kecuali kamar Tuan dan sekalian cuci mumpung hari panas."
"Ah Bibi, kenapa musti semua, kan baru beberapa hari di ganti seprainya, lagipula masih bersih karena tidak ada yang tidur di setiap kamar itu," ucap Bety.
"Kalian berani membantah! Kalau begitu, silahkan kemasi barang-barang dan saat ini juga aku pecat kalian!" ucap Bi Luna.
"Ampun Bi, sekarang juga kami kerjakan," ucap Tisya sembari menarik lengan Bety meninggalkan dapur.
"Lepas! Sakit tahu!" awas saja Bi Luna, jika Nyonya Carolina berhasil masuk dan menguasai mansion ini, aku akan membalas semua perlakuan yang pernah Bi Luna perbuat terhadap kita," ucap Bety.
"Hush, mulutmu! Kamu harus hati-hati Bet, bukankah tembok dan semua yang ada di sini memiliki mata dan telinga!" ucap Tisya sembari membekap mulut Bety dan menariknya pergi mengambil seprai.
Keduanya pun segera mengganti seprai yang ada di keenam kamar, lalu membawa seprai yang kotor dan mencucinya dengan mesin laundry yang tersedia di mansion tersebut.
Bersambung......
Selamat malam sobat semua, yuk mampir juga ke karya temanku sembari menungguku lanjut up besok dan jangan lupa ya, tolong tinggalkan dukungan kalian ke karya kami, baik berupa Vote, like dan komentar yang membangun. Terimakasih 🙏😘
Blurb karya
Olivia, seorang gadis yang dianugerahi kesempurnaan dalam hidup, memiliki paras cantik, tubuh seksi dan juga gelimangan harta. Bahkan dia pun tak pernah kekurangan kasih sayang dari orang tuanya hingga apa yang dia inginkan selalu bisa didapat.
Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda sederhana yang menjadi obsesinya, hingga Olivia berbuat segala hal untuk mendapatkan pemuda tersebut.
Azam, pemilik kedai kecil yang setiap hari diganggu oleh kehadiran gadis yang baru sekali ditemuinya secara tak sengaja, dan membuat pemuda itu muak. Dia selalu mengacuhkan dan berusaha mengusir gadis tersebut.
Namun, sebuah kejadian mengharuskannya menikah dengan si gadis yang terus mengganggunya. Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan?
__ADS_1