RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 60. KEJUTAN


__ADS_3

"Sudah selesai Nay?" tanya Damar ketika melihat Nayla menuruni anak tangga hendak ke kamar adiknya.


"Oh, sudah Mas. Aku mau ke kamar Seyna sebentar, melihatnya sebelum kita berangkat."


"Pergilah, aku tunggu kamu di kamar, aku mau pastikan, apakah pesawat dan pilot sudah oke atau belum," ucap Damar.


"Baik Mas," jawab Nayla.


Nayla pun bergegas ke kamar Seyna, dia melihat adiknya sedang membaca majalah. Saat melihat Nayla masuk, Seyna pun menyambutnya dengan tersenyum dan berkata, "Kakak sudah mau berangkat?"


"Iya Dek, sebentar lagi. Kamu serius tidak apa-apa jika kakak tinggal?" tanya Nayla yang masih ragu untuk meninggalkan sang adik.


"Jangan khawatir kakak ku yang cantik, aku serius lho. Sini peluk aku Kak, aku pasti akan merindukan Kak Nay nanti. Soalnya sejak kecil kita belum pernah tinggal berjauhan," ucap Seyna.


"Iya Dek, kakak juga pasti merindukanmu. Hemm, sini kakak peluk dulu," ucap Nayla.


Keduanya pun berpelukan dan Nayla mencium puncak kepala adiknya.


Air bening sempat menggenang di pelupuk mata Nayla, dia masih tidak tega untuk meninggalkan Seyna. Jika saja jadwal kemo Nayla masih lama, mungkin saat ini Nayla akan mengajaknya serta meskipun beresiko atas kesehatannya.


Setelah berpamitan kepada sang adik, Nayla pun bergegas kembali ke kamar, sebelum naik ke anak tangga, dia berpapasan dengan Aira.


"Ai, titip adikku ya!" pinta Nayla.


"Aman, tenang saja Nay. Aku pasti menjaganya sebagaimana kamu menjaga dia. Dia juga sudah aku anggap sebagai adikku sendiri."


"Terimakasih Ai, kamu memang sahabat terbaikku."


Aira pun mengacungkan jarinya, pertanda setuju. Betty dan Tisya mencuri dengar, mereka belum tahu jika Nayla dan Damar akan pergi.


Setelah Nayla naik ke lantai atas, Betty mendekati Aira, lalu dia bertanya, "Memangnya, Nyonya mu mau kemana? pakai pamit segala!" tanya Betty.


"Kepo ya? mau tau aja, terserah Tuan lah mau mengajak jalan-jalan istrinya. Memangnya kalian, sudah bersuami tapi tidak pernah diperhatikan!" ucap Aira sambil berbalik dan pergi ke dapur.


"Memangnya mau kemana ya Bet, kenapa kita sampai melewatkan berita ini! coba kita tanya bi Luna, barangkali beliau mau memberitahu kita. Lumayan 'kan, ini info bagus bagi Nyonya Carolina dan kita bakal mendapatkan cuan lagi. Lama-lama rekeningku menggemuk seperti Bi Luna," ucap Tisya.


"Hahaha..." keduanya pun tertawa, tapi mereka tidak tahu jika Bi Luna sedang berjalan ke arah mereka.


Bi Luna menepuk punggung keduanya, hingga mereka spontan terlonjak. Keduanya sempat pucat karena berpikir jika Bi Luna mendengar apa yang telah mereka bicarakan.


"Kalian ngapain di sini! Ayo bubar, jangan sampai Tuan melihat kalian berdua hanya ngerumpi saja! Untuk apa kalian beliau bayar mahal-mahal, jika kerjaannya ngomongin orang saja," ucap Bi Luna.

__ADS_1


Betty dan Tisya saling pandang, mereka takut Bi Luna mencurigai sesuatu.


"Eh, iya Bi. Kami mau menjemur baju. Oh ya Bi, kami dengar Tuan akan pergi ya! Memangnya mau kemana Bi?" tanya Betty.


"Memangnya kenapa? Kalian jangan suka mengurusi yang bukan urusan kalian! Kalau Tuan mau mengajak istrinya berbulan madu, toh wajarkan? Namanya pengantin baru.


"Oh, mau bulan madu ya Bi. Enak ya, gadis udik itu pergi jalan-jalan!"


"Kalau ngomong hati-hati, dia itu majikan kalian, kalian berdua mau ditendang oleh Tuan!" ancam Bi Luna.


Selesai mengatakan hal itu, Bi Luna melihat Damar dan Nayla turun. Kemudian beliau mendekati anak tangga dan bertanya, "Selamat jalan Den, Nyonya, hati-hati ya. Semoga selamat sampai tujuan dan selamat pula hingga kembali. Bibi titip salam untuk Tuan dan juga Arkan ya Den, semoga keduanya cepat sembuh," ucap Bi Luna.


"Terimakasih Bi, nanti aku sampaikan," ucap Damar.


"Kamu berangkat ya Bi," pamit Nayla.


Pengawal yang akan mengantar mereka ke bandara, sudah menunggu dan siap dengan mobilnya.


Begitu melihat Damar dan Nayla keluar, pengawal itupun buru-buru menghampiri dan meminta tas yang ada di tangan Damar untuk dimasukkan ke dalam bagasi, sedangkan pengawal lain membukakan pintu mobil dan mempersilakan keduanya.


Kini mereka sudah meninggalkan mansion dan Betty buru-buru ke kamar untuk memberitahu Carolina.


Carolina yang sedang pergi keluar bersama Rendra gelisah saat membaca pesan dari Betty. Carolina tidak berani menghubungi kedua anteknya itu, saat dia bersama sang suami.


Carolina tidak bisa berkutik saat ponselnya sudah berpindah ke tangan Rendra.


Setelah membaca isi pesan, Rendra bukannya marah, dia malah tersenyum sambil berkata, "Oh, ini yang membuatmu gelisah? Tunggu saja kejutan apa yang bakal mereka dapatkan!" ucap Rendra sambil menatap kejauhan.


"Apa Pa! Kejutan apa? Memangnya Papa sedang merencanakan sesuatu terhadap Damar dan istrinya?"


"Hemm, lihat saja nanti! Bagus juga kamu punya mata-mata di sana!" ucap Rendra sambil tersenyum.


"Papa tidak marah?" tanya Carolina heran.


"Kenapa musti marah, malah bagus, jadi kita berdua bisa sama-sama menghancurkan keluarga itu," jawab Rendra.


Carolina pun tersenyum, dia baru lega setelah Rendra mengatakan hal itu. Kemudian, dia bertanya lagi, "Memangnya papa sudah tahu mereka mau bulan madu kemana?"


"Hahaha...informasi yang kamu terima tidak akurat!" jawab Rendra.


Kemudian Rendra berkata lagi, "Mereka bukan pergi bulan madu, tapi menjenguk Richard," ucap Rendra.

__ADS_1


Apakah Richard sudah sadar dari komanya Pa?"


"Dia sudah sembuh, tapi aku membuatnya kembali meringkuk di rumah sakit."


"Benarkah Pa? Kenapa Papa tidak cerita sebelumnya?" tanya Carolina.


"Hemm, nggak perlu mengumbar tapi sekarang harus kerjakan dan buktikan hasilnya.


"Ternyata mereka membohongiku, padahal aku tadi sudah transfer karena kedua babu itu telah memberiku informasi," ucap Carolina.


"Makanya jangan percaya gitu aja, belum tentu informasi dari mata-mata kamu semuanya benar," ucap Rendra.


"Iya Pa," jawab Carolina.


Damar mendapatkan halangan di jalan, tiba-tiba kenderaan mereka di salib pengendara motor dan pengendara motor yang lain menghujani kaca mobilnya dengan tembakan beruntun.


Untung saja, kali ini mobil yang Damar pergunakan adalah mobil yang berlapiskan anti peluru. Jadi bisa mengurangi resiko bahaya terhadat Nayla.


"Bagaimana ini Bos! Mereka terus mengejar kita. Ada 5 motor menghimpit kendaraan kita," ucap Pak Sopir.


"Kebut Pak! Bila perlu tabrak saja! kita tidak memiliki waktu yang banyak untuk bermain-main dengan para cecunguk seperti mereka!" perintah Damar.


"Baik Bos!"


Damar kemudian menginstruksikan kepada para pengawal yang ada di belakang mobilnya untuk segera menyingkirkan mereka.


Hari ini dia tidak mood untuk mengotori tangannya dan Damar tidak ingin membuat Nayla ketakutan melihat aksinya.


Bersambung.....


Selamat siang sobat, sambil menunggu aku update lagi mampir yuk ke karya sahabatku Kak Ramanda, nggak nyesal deh, ceritanya juga seru. Mampir yuk dan jangan lupa dukung karya kami ya, terimakasih.


Happy Reading ♥️


"Eh! Apakah aku sudah mati? Mengapa rohku bisa bisa keluar dari tubuhku?" sentak seorang gadis cantik, saat ia bisa melihat dirinya sendiri yang sedang terbaring tidak sadarkan diri yang mulut dan hidungnya di beri alat pernapasan serta banyak lagi alat-alat medis yang sedang menempel di tubuhnya.


Gadis cantik itu bernama Syafiqah Ulfairah yang berusia 20 tahun. Akibat sebuah kecelakaan Atiqah mengalami koma panjang. Dan anehnya rohnya keluar dari tubuhnya. Namun dokter masih menyatakan ia masih koma karena detak jantungnya terdengar, nafasnya juga masih ada. Tapi mengapa rohnya bisa keluar?


Namun disaat Afiqah masih bingungan didalam kesedihannya. Karena semua orang tidak bisa melihatnya. Tetapi mengapa Pria yang dipanggil ustadz itu bisa melihat dirinya?


Semenjak hari Itulah Afiqah selalu mengikuti pria tersebut. Dan akhirnya ia pun tahu kalau Pria itu bernama Afnan Ikhbar Shaqir yang berusia 30 tahun. Seorang Ustadz disebuah pesantren.

__ADS_1


Gimana Kisah mereka yuk ikutin ya....



__ADS_2