
Damar mengotak atik ponsel Nayla yang tertinggal di kamar. Senyumnya merekah saat melihat foto masa kecil Nayla dan Seyna yang sangat lucu dan menggemaskan.
Dia juga melihat foto almarhum kedua orangtua Nayla yang mengingatkan Damar akan orangtua kandungnya.
Kemudian, Damar mengirimkan satu foto Nayla yang paling comel ke ponselnya. Damar sangat suka foto itu, hingga dia akan menjadikannya sebagai wallpaper dalam ponsel serta laptopnya.
Setelah selesai melihat-lihat data tentang Nayla, Damar baru teringat jika dia meninggalkan satu hadiah kecil untuk Nayla di saku bajunya yang kotor.
Kemudian Damar bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengambil hadiah tersebut, karena dia ingin memberikan kejutan saat Nayla datang.
Nayla yang merasa khawatir karena Damar tidak juga sampai, buru-buru menuju kamar untuk mencari ponselnya yang dia sendiri lupa letaknya di mana.
Nayla celingukan mencari kesana kemari, dia membuka laci nakas, mencari di lemari dan juga di meja kerja Damar, tempat Nayla biasa meletakkan ponselnya.
Tapi Nayla tidak juga menemukannya di sana. Kemudian, Nayla menuju tempat tidur, dia berencana ingin mencari di balik selimut, barangkali ponselnya memang terselip di sana.
Nayla heran, kenapa tempat tidurnya yang tadinya sangat rapi sekarang rada berantakan. Bantal, guling, sudah tidak pada tempatnya lagi, begitu juga dengan selimut yang sudah berpindah tempat.
Melihat keadaan tersebut, Nayla jadi berburuk sangka, mungkin saja ada maling yang masuk ke dalam kamarnya.
Tapi sebelum dia memanggil Bi Luna dan penjaga, Nayla memastikan terlebih dahulu apakah ada barang hilang selain ponselnya.
Setelah mengamati di seputar kamarnya, Nayla tidak melihat ada barang lain yang hilang ataupun bergeser. Lalu, dia berpikiran positif saja, barangkali memang dirinya yang tadi lupa membereskan tempat tidur saking semangatnya ingin bertemu sang suami.
Nayla kembali merapikan tempat tidur, sembari mencari ponselnya yang barangkali memang terselip diantara selimut, tapi dia tetap tidak menemukannya.
Damar yang sempat mendengar suara seseorang masuk ke dalam kamar, sangat yakin jika itu adalah Nayla istrinya.
Lalu, Damar pelan-pelan keluar dari kamar mandi, dia ingin memberi kejutan kepada Nayla.
Melihat Nayla berdiri celingukan sambil menggaruk kepala, Damar buru-buru mengendap dan menghampiri Nayla, lalu menutup kedua matanya.
Nayla terkejut, dia sontak menjerit dan berontak, tapi Nayla tidak jadi marah saat dia mencium aroma khas tubuh Damar yang saat ini sedang memeluk erat pinggangnya sambil mendaratkan ciuman di pipi dan di ceruk lehernya.
"Mas Damar sudah pulang sejak tadi?" tanya Nayla.
"Heemm," jawab Damar sambil mempererat pelukannya.
__ADS_1
Mas kenapa tidak memanggil pelayan agar memanggilku. Aku dari kamar Seyna Mas, bersama Aira. Seyna butuh teman ngobrol agar dia terhibur dan tidak terlalu memikirkan rasa sakitnya.
"Aku tahu! Aku tadi dari sana melihat kalian! Aku tidak tega mengganggu kalian yang terlihat sedang gembira."
"Jadi Mas Damar tahu apa yang sedang kami tertawakan?"
Damar membalikkan tubuh Nayla, hingga mereka saling berhadapan dan saling menatap.
Lalu, Damar mencium lembut bibir sang istri sembari mengangguk, "Aku tahu! Kamu mengkhawatirkan aku Nay?" tanya Damar sembari mencium bibir Nayla lagi dan kali ini lebih lembut dan sedikit lama.
Kemudian Damar pun melepaskan ciumannya, dia melihat Nayla mengangguk, tersenyum, lalu tertunduk malu.
Melihat wajah Nayla yang memerah karena malu membuat Damar semakin gemas dan dia makin tertarik ingin menggoda sang istri.
"Benarkah Kamu merindukan ku Nay? Kamu sungguh mengharapkan aku pulang?" tanya Damar lagi sembari memegang wajah sang istri, hingga keduanya saling adu pandang.
Wajah Nayla kian memerah seperti kepiting rebus. Diapun malu untuk menjawab pertanyaan dari Damar, apalagi saat mereka beradu tatap.
Nayla memang sedang merindukan Damar dan dia benar-benar mengharapkan kepulangannya.
Dipeluk erat oleh Damar saja, membuat jantung Nayla dag dig dug tak karuan, ditambah lagi dengan aroma wangi yang khas dari tubuh suaminya itu hingga membuat Nayla seakan tidak ingin lepas dari dekapan Damar.
Damar juga merasakan hal yang sama, dia menemukan ketenangan pada wanita yang ada dalam pelukannya itu.
Apalagi bibir mungil nan lembut milik Nayla sempat menjadi candu beberapa hari sebelum keberangkatannya.
Moment itu berhasil membuatnya tidak nyenyak tidur. Kerinduan akan sosok Nayla membuat Damar merasa seperti pertama kali mengenal cinta pada masanya dulu di sekolah.
Begitu juga yang dirasakan oleh Nayla, apalagi ciuman itu adalah pengalaman pertama untuknya, Nayla yakin dia telah jatuh cinta terhadap Damar.
Sentuhan lembut Damar bak magnet yang berhasil menarik Nayla masuk kedalam pelukan suaminya. Mereka sama-sama merasakan kebahagiaan, sama saling membutuhkan kasih sayang juga perhatian.
Nayla kali ini tidak menjawab pertanyaan Damar, tapi dia memberanikan diri untuk memberikan ciuman lembut ke bibir suaminya.
Damar membalas ciuman Nayla dan mereka bermain-main sejenak hingga ciumannya semakin menuntut dan membuat Nayla kesulitan bernafas.
Melihat Nayla kesulitan dan terengah, barulah Damar melepaskan candunya itu.
__ADS_1
Damar tersenyum melihat istrinya semakin pintar menggoda. Jujur, dia merasa senang melihat kemajuan Nayla dalam melayaninya.
"Istri kecilku mulai nakal ya, jangan salahkan, jika aku meminta hakku sekarang," ucap Damar.
"Kamu siap?" tanya Damar.
Nayla hanya mengangguk, dia sebenarnya takut saat membayangkan Damar meminta haknya.
Menurutnya pasti akan terasa sangat sakit, seperti cerita orang-orang dan seperti pengalaman belah duren yang pernah dia baca lewat searching internet.
Walaupun takut, Nayla harus bersiap diri, karena dia sekarang sudah menjadi seorang istri, tentunya cepat atau lambat, mereka tetap harus melakukannya. Apalagi tujuan Damar menikahinya karena ingin cepat mendapatkan keturunan.
Melihat tubuh Nayla gemetar, saat Damar menggendongnya, Damar pun bertanya, "Kamu takut Nay?"
"Jujur... iya Mas, Aku takut."
"Apakah kamu yakin kita akan melakukannya sekarang? Jika kamu belum siap, aku tidak akan memaksa dan aku akan sabar menunggumu hingga dirimu benar siap untuk melayaniku," ucap Damar.
"Lakukanlah, ambillah hak Mas, Insyaallah aku siap."
Mendengar perkataan Nayla, Damar menjadi bersemangat, mulai hari ini dia akan buktikan, bahwa dirinya bukan pria mandul seperti yang selama ini Carolina gembar-gemborkan kepada orang-orang.
Damar terus menggendong Nayla bak bridal style, lalu perlahan dia merebahkan tubuh sang istri ke atas tempat tidur.
Keduanya saling tatap, saling mengekspresikan rasa rindu yang selama ini mereka tahan.
Jarak dan keadaan telah memisahkan keduanya untuk beberapa waktu, hingga membuat mereka terhalang untuk memberikan hak dan kewajibannya masing-masing sebagai pengantin baru.
Damar melaksanakan kewajibannya, mencumbu sang istri hingga keduanya sama-sama merasakan kenikmatan surga dunia dalam rumah tangga.
Awalnya Nayla menangis karena merasakan sakit saat keperawanannya berhasil ditembus oleh kekuatan Damar, tapi akhirnya rasa sakit itu perlahan hilang berganti kenikmatan yang membuat keduanya merasa ketagihan.
bercak darah perawan terlihat diatas seprai putih di kamar mereka. Damar puas, Nayla berhasil membangkitkan gairahnya yang selama ini tidak pernah dia rasakan terhadap Carolina, yang ternyata tidak perawan lagi saat menikah dengannya.
Damar sekarang jadi bisa membedakan dan merasakan mana penyatuan yang benar-benar nikmat karena dibarengi rasa cinta dan mana kenikmatan yang hanya karena nafsu sesaat.
Keduanya tertidur pulas setelah peperangan seru yang terjadi, Damar memeluk erat Nayla dalam tidurnya dan dia berjanji tidak akan pernah melepaskan ikatan suci mereka sampai kapanpun.
__ADS_1