
Dokter tiba bertepatan dengan sadarnya Seyna. Beliau langsung memeriksa kondisi gadis malang itu. Ternyata air telah masuk ke dalam paru-parunya.
Akibat fatal dari tenggelam adalah terjadinya edema paru. Ini terjadi karena air menumpuk di paru-paru yang menyebabkan kesulitan bernapas.
Orang yang tenggelam tanpa sengaja dapat menghirup air ke paru-parunya. Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan untuk bernapas, tetapi juga dapat menyebabkan nyeri dada, batuk, perubahan perilaku, dan kelelahan ekstrem. Inilah keterangan sementara yang diberikan oleh dokter.
"Untung saja air yang masuk ke paru-paru Seyna tidak banyak, makanya dia bisa cepat sadar. Kalau tidak sadar juga, bisa fatal akibatnya," ucap Pak Dokter lagi.
Mendengar hal ini, Arkan sedikit lega. Tapi dia tetap tidak tega melihat Seyna yang masih terbatuk-batuk.
"Apa perlu kita bawa ke rumah sakit Dok?" tanya Arkan yang masih cemas.
"Sebaiknya begitu, karena dasarnya kondisi gadis ini memang sedang lemah, jadi butuh perawatan."
"Baiklah Dok, kami akan segera membawa Seyna ke rumah sakit. Oh ya Dok, sekalian periksa kondisi Arkan, karena luka di kakinya kembali mengeluarkan darah."
"Baiklah Pak Damar, sebentar saya cek lukanya dulu."
Arkan menahan sakit saat dokter membersihkan darah pada luka di kakinya.
Dua luka menganga lagi dan beberapa memar bertambah di daerah tulang kering.
"Sudah tidak apa-apa lukanya, tapi Pak Arkan harus beristirahat, jangan dulu banyak menggerakkan kaki. Lihat kaki Bapak bengkak kembali," pinta Dokter.
Arkan hanya mengangguk, padahal dia ingin ikut ke rumah sakit untuk menemani Seyna. Dia akan bertanggung jawab, dengan menjaga Seyna di sana.
Seyna sejak tadi hanya tertunduk, dia tidak berani menatap wajah Arkan. Seyna juga merasa bersalah, karenanya Arkan jadi terluka lagi.
Namun Seyna bersyukur, mereka bisa selamat meski dirinya tidak tahu siapa yang telah menolong.
Dia hanya ingat saat mulai kesulitan bernafas dan tiba-tiba ada tangan yang merengkuh pinggangnya. Setelah itu dia tidak mengingatnya lagi.
"Dek, kamu kok diam saja! Mana yang sakit, katakan kepada kami mumpung dokter masih ada di sini!" ucap Nayla sembari memangkup wajah sang adik.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Kak, hanya tinggal menghilangkan batuk ini saja," jawab Seyna.
"Tapi kita harus segera ke rumah sakit Dek, kamu dengar 'kan apa kata dokter tadi."
"Kak Arkan bagaimana? Maafkan aku ya Kak, karena ulahku semua ini terjadi."
Akhirnya Seyna memberanikan diri untuk meminta maaf kepada Arkan di depan semua orang karena dia tidak ingin mereka menyalahkan Arkan atas kejadian yang menimpanya.
"Kamu jangan khawatirkan aku Dek, semua ini bukan salah kamu tapi salahku," jawab Arkan.
Damar dan Seyna tersenyum mendengar keduanya saling menutupi kesalahan. Masing-masing tidak ingin lawan bicaranya dipersalahkan.
"Sepertinya ada yang jodoh nih!" celetuk Damar.
Seyna dan Arkan langsung tertunduk. Arkan berharap Damar tidak melanjutkan ucapannya, karena dia tidak ingin Seyna nanti malah menjauhinya karena merasa di paksa.
"Ehem...ehem," dehem Nayla, lalu dia berkata, "Kalau jodoh malah bagus, aku ingin melihat adikku bahagia."
"Apaan Kakak, siapa juga yang jodoh. Kasihan kalau tetap nekat, aku sudah di ambang kematian."
"Benar apa yang kakak kamu katakan. Aku akan terus berusaha agar kamu mendapatkan pengobatan terbaik, bila perlu kita berobat keluar negeri," ucap Damar.
"Aku tetap dengan niatku Dek, menikahlah denganku. Aku akan berusaha membahagiakan mu, meski aku hanya seorang pengawal dari Tuan Damar."
Seyna diam, dia tidak pernah meremehkan status Arkan, hanya saja Seyna tidak ingin penyakitnya hanya akan membebani Arkan nantinya. Jangankan menunaikan tugas seorang istri, merawat dirinya saja dia bahkan membutuhkan bantuan orang lain.
"Bagaimana Dek, kamu dengar 'kan, Bang Arkan tulus, dia ingin menikahimu. Pertimbangkan lah Dek, kalian berhak untuk bahagia."
"Tapi Kak, Kak Arkan tidak akan pernah bahagia bila menikah denganku. Bagaimana aku bisa melayaninya? Aku tidak akan bisa membuatnya bahagia Kak. Malah nanti bakalan terbalik, Kak Arkan lah yang akan selalu aku susahkan karena aku tak mampu untuk melayani diriku sendiri."
"Aku tidak akan merasa di susahkan Dek, aku ikhlas meski seumur hidup melayanimu," sahut Arkan.
"Pikirkan Dek, Allah maha segalanya. Kita tidak tahu rahasia Allah di balik cobaan yang kamu alami. Dia tidak akan pernah menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan kita. Jadi coba gapai bahagiamu Dek, nikmati kehidupan kita yang hanya sementara di dunia ini."
__ADS_1
Seyna tidak bisa membantah lagi, tiga lawan satu, tentu dia tidak akan menang. Walau sebenarnya yang mereka katakan memang benar, tapi hatinya masih ragu, apa mungkin Arkan akan sanggup menerima jika kondisinya semakin memburuk.
"Ayo sekarang kita bersiap, Seyna harus segera ke rumah sakit," ajak Damar.
"Iya Mas. Kami bersiap dulu ya Dek."
"Kan, tolong temani Seyna dulu ya!" pinta Damar.
"Siap Bos, dengan senang hati. Selamanya mengemban tugas ini juga boleh," jawab Arkan hingga membuat Seyna tertunduk.
Aira sejak tadi tidak berani masuk, dia sengaja pergi ke dapur saat mendengar Damar meminta Arkan untuk menemani Seyna. Aira, juga berharap Seyna akan segera menerima lamaran dari sang Kakak.
Saat Damar dan Nayla sudah meninggalkan ruangan, Arkan kembali membuka percakapan.
"Maafkan aku Dek, tapi aku serius! Aku tunggu jawabanmu secepatnya, Dek!"
"Beri aku waktu untuk berpikir ya Kak," jawab Seyna yang juga masih tertunduk.
"Baiklah, aku harap setelah kamu keluar dari rumah sakit, aku segera mendapatkan jawabannya."
Seyna hanya mengangguk dan pembicaraan mereka terhenti saat Nayla dan Damar masuk.
"Ayo kita berangkat sekarang. Kamu istirahat saja ya Kan!" ucap Damar.
"Aku ikut ya Bos, biar aku yang akan temani Seyna di rumah sakit. Nyonya kan harus istirahat, tidak baik udara rumah sakit bagi ibu hamil berlama-lama di sana. Dan Bos sendiri tentunya harus menemani Nyonya di rumah, siapa tahu Nyonya ngidam sesuatu."
"Kamu bisa saja cari alasan Kan, tapi ya sudah deh, jika kamu maksa. Kami juga tidak bisa melarangmu. Aku tahu betul sifatmu, kamu pasti akan curi-curi pergi ke sana meski aku melarang."
Arkan tersenyum malu mendengar jawaban Damar. Akhirnya mereka berempat pergi ke rumah sakit. Dan sebelumnya Damar telah berpesan kepada Aira agar menyusul di antar Dewo, karena Seyna pasti butuh teman wanita nantinya di sana.
Damar membantu mendorong kursi roda Seyna, sementara Arkan meski terseok-seok berusaha jalan sendiri. Arkan kalau sudah punya keinginan harus tercapai, meskipun dokter sudah melarangnya agar jangan banyak menggerakkan kakinya dulu.
Damar hanya menggeleng, tapi diapun faham. Arkan harus bisa memperjuangkan cintanya dan saat inilah kesempatan bagi Arkan untuk bisa dekat terus dengan Seyna.
__ADS_1
Bersambung.....