RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 91. KEPUTUSAN DAMAR


__ADS_3

"Nyonya!"


"Kalian berdua, kenapa berada di sini? Oh, atau kalian yang...."


"Tidak, bukan kami Nyonya. Kami tidak mengatakan apapun," jawab Betty, padahal Carolina belum menyelesaikan ucapannya.


"Dasar kalian! Berarti karena mulut ember kalian Damar marah padaku!"


Carolina mendekati keduanya, lalu dia menjambak rambut Betty serta Tisya.


"Ampun Nyonya, sakit! Aku tidak mengatakan apapun, tapi dia!" tunjuk Betty kepada Tisya.


"Oh, kamu biang keroknya? Rasakan ini!"


Plaak...


sebuah tamparan mendarat di pipi Tisya, lalu Carolina menarik kembali rambutnya hingga ada yang rontok.


"Ampun Nyonya, ampun...sakit, tolong lepaskan Saya."


"Enak saja kamu! dasar pengkhianat!"


"Kamu juga bodoh! kenapa tidak kamu singkirkan saja, sebelum dia membuka mulut!"


"Tidak bisa Nyonya, Tuan besar dan Dewo mengancam kami, Nyonya lihat ini dan itu di belakang Nyonya. Kami tidak mau mati dicabik-cabik Marissa."


"Dia Marissa?"


Carolina pucat, dia jadi teringat perkataan Damar, saat mau memperkenalkan dirinya dengan Marissa.


"Hei, ternyata ada satu umpan lagi di sini!" terdengar ada suara di depan pintu.


Ketiganya terkejut dan Tisya terlihat ketakutan saat melihat Richard masuk.


Mereka lebih baik berhadapan dengan Damar daripada Richard.


"Kita akan bermain-main lagi ya, kalian siap?"


"Ampun Tuan, ampun," pinta Tisya.


"Dimana perasaan kalian saat menantuku memohon, untung Aira dan calon suaminya datang. Jika tidak, aku sudah kehilangan menantu dan cucu sekaligus.


Melihat Richard berjalan ke arah kandang Marissa, Carolina berlari mendekat dan berlutut dihadapan Richard.


"Tolong Tuan Richard, jangan keluarkan dia. Tolong maafkan saya, mereka fitnah saya."


"Apa Nyonya! Enak saja Nyonya mau lari dari tanggungjawab! Dia dalang semuanya Tuan, kami hanya menjalankan perintah," ucap Betty.

__ADS_1


"Kalian harus mendapatkan balasan masing-masing. Dan kamu, sudah baik putraku tidak menghancurkan bisnis suamimu, sekarang kau usikdia lagi. Jadi jangan salahkan, jika kali ini dia tidak akan memberi ampun.


Richard mendorong Carolina hingga terjengkang, lalu dia membuka kandang Marissa dan auman panjang pun terdengar. Sepertinya, harimau kesayangan Richard dan Damar sedang kelaparan.


Richard mengelus kepala Marissa lalu dia memberi perintah, "Cicipi dia!" tunjuk Richard kepada Carolina.


"Tolong-tolong aku, jangan sakiti aku, aku tidak salah!"


Richard menyeringai, suara auman terdengar sangat panjang, lalu dia menuju ke arah Carolina.


Carolina mundur, dia berlari ke arah Betty dan Tisya. Mereka... mereka saja! Tolong-tolong, lepaskan aku. Suamiku akan memberikan banyak uang apabila kalian melepaskan ku!"


"Hahaha...ternyata cuma segini nyali orang yang telah berani menghancurkan putraku!"


"Marissa, cepat laksanakan tugasmu!"


Marissa kembali berjalan ke arah Carolina. Betty dan Tisya berlari menjauh, mereka tidak mau kena sasaran.


Sekali cakar, darah mengucur dari lengan Carol. Dia histeris, menjerit kesakitan. Lalu Carol berlari ke arah Betty dan Tisya, dia mendorong keduanya hingga terjatuh mengenai Marissa.


Marissa mengaum dan tak ayal lagi, keduanya juga mendapat giliran dari Marissa.


Belum lagi Marissa mengejar Carol, satu orang pengawal berbisik kepada Richard. Dia mengatakan jika ada yang datang dan berteriak-teriak mencari Carolina.


"Oh, bagus jika dia datang kesini! Aku sudah lama menantinya, aku ingin tahu apa yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan setan kecil itu."


"Tapi Tuan!"


"Aku bilang biarkan dia masuk! Ajak dia kesini, aku ingin lihat apa reaksinya saat melihat istri kesayangannya di cabik-cabik oleh Marissa!"


"Baik Tuan!" jawab pengawal, lalu berbalik hendak keluar.


"Tunggu! Jangan lupa, panggil Damar kesini!"


"Tuan Damar katanya mau ke rumah sakit, sebab nyonya sudah diperbolehkan pulang, Tuan."


"Suruh dia kesini dulu, bilang kita akan berpesta."


"Baik Tuan!"


Pengawal itupun pergi memanggil Damar. Kemudian dia meminta temannya untuk membawa tamu mereka ke ruangan Marissa.


Carol menangis menahan sakit dan dia menutup luka cakaran yang masih mengucurkan darah. Betty dan Tisya juga mengalami hal yang sama.


Sedangkan Marissa yang sudah kelaparan harus menahan diri karena perintah Richard.


Harimau betina itupun menuruti perintah sang majikan, dia duduk di lantai sambil mulutnya menganga menunjukkan taring- taringnya yang runcing dan tajam.

__ADS_1


Mata Marissa menatap tajam ke arah mangsanya, hingga Carol, Betty dan Tisya gemetar.


Hari ini nasib mereka ada di tangan Damar, mereka akan memohon untuk di ampuni. Jika memohon kepada Richard percuma karena Richard malah akan bertindak lebih kejam.


Damar sudah sampai di ruangan Marissa, dia tersenyum melihat Carol ketakutan.


"Oh, ternyata Marissa sudah berkenalan dengan mu Carol? Itu belum apa-apa, baru perkenalan saja. Marissa tunjukkan aumanmu!" perintah Richard.


Marissa mengaum dan suaranya itu menggetarkan ruangan tersebut.


"Bagus Marissa, sekarang kamu pilih mana duluan yang ingin kamu cicipi darahnya!"


Ketiganya berlari mendekati Damar dan bergelayut di kakinya, mereka memohon agar dilepaskan.


"Kalian ingat, bagaimana saat istriku memohon! Di mana hati nurani kalian, dasar wanita-wanita tidak punya hati.


Saat ini istriku sedang mengandung, jadi aku tidak akan mengotori tangan untuk menyingkirkan kalian. Pa, aku serahkan masalah ini sama Papa. Terserah mau Papa apakan mereka!"


"Ampun Damar, tolong lepaskan aku! Aku tidak akan mengganggu keluarga mu lagi."


"Kamu pikir dengan memohon seperti ini, aku akan menarik ucapanku! orang seperti mu tidak pantas untuk di kasihani Carol, apalagi dimaafkan."


"Kamu ingat apa yang telah kalian perbuat? hari ini semua akan terbalas, aku senang Rendra datang kesini. Jadi kami tidak susah-susah untuk mengantar mayatmu ke hadapannya."


"Dia harus tahu, bagaimana rasanya kehilangan wanita yang dia cintai, tercabik-cabik, mati dihadapan matanya! Sekarang, menyingkirlah dari kaki ku. Aku muak melihat mu!" ucap Damar sambil menendang Carolina.


Carolina mengerang kesakitan, dia terus memohon dan hal itu tidak Damar pedulikan.


Di luar terdengar orang berteriak-teriak memanggil Damar dan mengatakan jika dirinya pengecut.


Damar menyeringai, dia tidak peduli pria yang di luar berkoar-koar menghina dan memaki dirinya. Hari ini dia harus menyelesaikan dendam lama yang sudah mengakar di hatinya.


"Masuk!" seru pengawal sambil mendorong Rendra.


Melihat Carol ada di sana dan terluka, Rendra berang dan dia menghampiri Carolina sambil berkata, "Awas kau Damar, kau telah menyakiti istriku. Aku akan buat kau menyesal!"


"Hahaha, masih berani kau mengancam ku! Ingat teman, saat ini kau sedang di mana. Ini kandangku masih berani kau mengaum di sini!"


"Lihat sekeliling mu, siapa mereka! Sekarang keadaan berbalik, dulu aku yang ada di posisimu sekarang. Aku akan gantian menghancurkanmu meski tidak menggunakan tanganku sendiri!"


"Harusnya kau bersyukur, karena istriku sedang hamil, jika tidak, dengan tangan ini aku akan membalas lebih kejam dari yang telah kau lakukan!"


"Pa, aku keluar! Aku akan menjemput Nayla, Papa selesaikan mereka! Aku tidak ingin istri dan anakku kembali, mereka masih ada di dunia ini!"


Mendengar perkataan Damar, Betty dan Tisya menangis sekuatnya dan mohon pengampunan, tapi Damar tidak menghiraukan.


Sebelum kakinya melangkah ke luar pintu, dia berkata, "Karena kalian telah mengabdi kepada ku cukup lama, aku masih berbaik hati akan menanggung biaya hidup hingga putra putri kalian dewasa. Tapi, jika untuk memaafkan kalian, maaf...istri dan anakku adalah nyawaku. Siapapun yang berulangkali telah mengancam nyawaku, tidak pantas untuk melihat matahari lagi!"

__ADS_1


Setelah Damar meninggalkan tempat tersebut, kini giliran Richard beraksi lagi.


__ADS_2