
"Wo, kamu sudah punya pacar?"
"Eh, sudah Bos!"
"Perkenalkan dong sama kami, kapan lagi kamu akan berumahtangga. Pasti ibumu sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Apalagi kamu putra satu-satunya."
"Kami belum siap Bos," jawab Dewo.
"Kenapa? Kalau masalah dana untuk lamaran, aku akan bantu Wo dan aku langsung yang akan meminta dia ke keluarganya untukmu," ucap Damar.
"Keluarganya belum tahu Bos, kami masih takut untuk jujur, mengungkapkan hubungan kami."
"Berikan alamatnya kepadaku Wo, Besok biar aku dan Nayla datang kesana untuk meminta gadis itu langsung pada keluarganya."
Dewo pucat, dia bingung harus bersikap bagaimana. Jika jujur, dia takut hubungan mereka tidak akan mendapatkan restu. Dan jika berbohong, diapun tidak berani menanggung resiko membohongi Sang Bos.
"A-nu Tuan, biar kami saja nanti menemui Kakak pacar Saya. Nggak enak melibatkan Bos. Masalah Bos banyak, masa iya mengurusi masalah kami," ucap Dewo gugup.
"Nggak apa-apa Wo, kalian semua bukan cuma pengawal, tapi sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Aku ingin kalian juga mendapatkan kebahagiaan."
"Tapi Bos...!"
"Ada apa Wo, kenapa kamu sepertinya takut jika aku tahu siapa pacarmu itu?" ucap Damar sambil menahan senyumnya.
"Apa Tuan bakal setuju jika Saya jujur? Tuan nggak bakal marah?"
"Kenapa musti marah, lah kalian berniat baik. Kamu tidak bermaksud mempermainkan gadis itu kan?"
"Iya Bos. Kami saling mencintai, tapi aku takut, Kakak gadis itu tidak akan setuju."
"Kamu bisa tenang. Aku pastikan, dia pasti setuju. Jika tidak, peluru ini akan menembus kepalanya!" ucap Damar pura-pura, lalu menutup mulutnya.
Tawa Damar hampir lepas, dia ingin Dewo jujur dan mengakui perasaannya terhadap Aira.
"Ayo apa yang kamu takutkan lagi! Kamu tidak percaya dengan ucapan ku Wo?"
"Aku percaya Bos! Aku mencintai A-Aira."
"Apa! Kamu..."
Damar sengaja diam, dia ingin tahu reaksi Dewo.
Dewo semakin takut, lalu dia berkata, "Maaf Tuan. Jika Tuan tidak setuju, besok kami akan mengakhiri hubungan ini."
"Kenapa musti besok Wo?"
"Eh, iya Tuan. Nanti, setelah Tuan besar ditemukan, aku akan segera menghubungi Aira dan memutuskan hubungan kami."
__ADS_1
Damar tidak tahan lagi, tawa yang sudah dia tahan sejak tadi akhirnya meledak juga.
Dewo yang melihat hal itu menjadi bingung. Dia tidak berani menanggapi sikap Bos nya itu.
"Dewo...Dewo, kenapa kamu takut memperjuangkan cintamu? Kita sebagai pria harus memperjuangkan kebahagiaan, meski nyawa taruhannya."
"Aku tidak mungkin menentang Tuan. Mana berani aku melawan Bos yang sudah begitu baik mencukupi semua kebutuhan ku dan Ibu. Bisa bekerja dengan Tuan saja, aku sudah bersyukur."
"Wo, aku juga manusia, bisa juga salah. Tapi, kamu harus tahu, aku selalu berusaha bertindak realistis. Selagi hubungan kalian membawa kebaikan mengapa aku mesti menentang."
"Jadi, Bos...!"
"Iya, aku setuju."
"Alhamdulillah, terimakasih Bos. Ternyata kami salah duga."
"Makanya, jangan suka menduga-duga. Kejujuran itu lebih penting. Jadi, kapan rencananya kamu akan melamar Aira?"
"Jika Bos sudah memberi dukungan, Saya ingin secepatnya Bos. Karena ibu terus memaksa agar Saya cepat menikah. Beliau takut, maut menjemput sebelum melihat Saya memiliki anak."
"Saya setuju dengan ibu kamu. Bahagiakanlah orangtua Wo, selagi mereka masih ada. Jangan menyesal seperti ku, ibuku meninggal sebelum beliau sempat melihat anak-anak ku lahir."
"Iya Bos."
"Ya sudah, besok kamu temui Arkan di rumah sakit. Utarakan saja niatmu, bukankah kalian sahabat baik? Dia lebih mengenalmu daripada Aku Wo dan aku jamin, Arkan tidak akan menolakmu menjadi adik iparnya."
"Ayo sekarang kamu semangat, kebahagiaan sudah di depan mata."
"Iya Tuan. Terimakasih atas dukungan dan nasehatnya."
"Sama-sama Wo, semoga kalian selalu bahagia."
"Tuan juga, semoga kebahagiaan selalu datang dalam kehidupan Tuan dan Nyonya."
"Aamiin," ucap mereka bersamaan.
Dewo merasa tenang, sepanjang perjalanan senyum-senyum sendiri, hingga Damar yang memperhatikan lewat kaca spion pun ikut tersenyum.
Dia senang jika para bawahannya juga senang. Jadi sebagai Bos, Damar berhasil mengayomi dan membuat mereka tetap nyaman kerja dengannya.
"Wo, stop! coba lihat, siapa itu yang sedang di kerumuni massa. Sepertinya ada perkelahian dan ada yang terluka!"
"Baik Bos! Saya cari tempat dulu untuk parkir kendaraan."
Setelah Dewo memarkirkan mobil, mereka pun segera bergegas menguak kerumunan massa dan Damar terkejut saat melihat siapa yang sedang mengamuk di sana.
"Papa Wo! Siapa orang-orang yang sedang mengeroyok beliau? Ayo kita bantu Papa Wo. Ini perkelahian tidak adil, masa satu lawan berlima."
__ADS_1
"Iya Bos!"
Dewo menggulung lengan baju, lalu dia berlari ke arah Richard yang hampir saja tertusuk pisau.
Dewo berhasil membuat satu lawan Richard tersungkur dengan satu kali tendangan.
Sementara Damar juga berhasil melumpuhkan lawan yang membawa samurai.
Perkelahian berlangsung seru, massa yang tadinya tidak berani bersuara, kini bersorak. Perkelahian jadi seimbang berkat kedatangan Damar dan Dewo.
Richard kesal, kenapa putranya mesti datang dan membantunya. Padahal dia sanggup untuk mengalahkan kelima musuhnya.
Sekarang Richard malah pergi dan bersandar di mobil putranya. Dia menonton perkelahian sambil merokok.
Damar dan Dewo tidak ingin berlama-lama di sana, lalu keduanya segera menghabisi lawan dengan tendangan-tendangan mematikan.
Kelima orang tersebut akhirnya terkapar dengan darah yang keluar dari mulut mereka.
Wajah lebam dan kaki serta tangan mereka patah. Damar pastikan, jika mereka bisa bertahan hidup, akan cacat.
"Ayo Wo, kita pulang. Papa kemana Wo?" tanya Damar baru sadar jika Richard sudah tidak ada di sana.
"Itu Bos! Tuan sedang merokok."
"Haduh, Papa merokok lagi!" seru Damar sambil menepuk keningnya.
"Ayo Wo, aku harus menghentikan Papa!" ajak Damar sembari bergegas ke arah sang Papa berdiri.
Damar menghampiri Richard, lalu dia mengambil rokok yang ada di tangan Sang Papa.
"Pa, apa kata dokter! Papa 'kan tidak boleh merokok!"
"Berikan Mar! Aku stres terkurung di rumah tanpa ini dan tanpa berkelahi. Kenapa kalian mengganggu kesenanganku. Aku tidak perlu bantuan kalian! Aku bisa menyingkirkan mereka semua."
"Dasar mereka manusia-manusia licik dan tidak berguna! Bisanya cuma merampas dan menyusahkan orang saja. Mau makan, tapi malas bekerja!" ucap Damar sambil menendang mobil Damar.
Damar hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Sang Papa. Dia tidak menanggapi ucapan sang Papa karena malas berdebat. Yang penting, sang Papa tidak terluka, itu sudah cukup baginya.
"Ayo kita pulang! tapi belikan aku makanan dulu!" ucap Richard.
"Baik Tuan," jawab Dewo.
"Dia, bukan Kamu!" ucap Richard sambil menunjuk Damar.
"Iya Pa, Papa ingin makan apa? Biar aku yang membelinya," jawab Damar.
Damar tahu, apa yang ada dibalik sikap kasar dan ketus sang Papa. Richard hanya menginginkan perhatian darinya.
__ADS_1
Sambil tersenyum, Damar merangkul sang Papa lalu meminta Dewo segera melajukan mobil ke tempat yang diinginkan Richard.