RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 80. RAHASIA CINTA DEWO


__ADS_3

"Terimakasih Mas," ucap Nayla sesampainya mereka di mobil.


"Untuk apa?"


"Sudah menjadi orang sabar dalam menyikapi keadaan."


"Kamu ada saja Sayang, harusnya aku yang berterima kasih. Kehadiranmu dalam hidupku telah mengubah banyak hal, terutama sebentar lagi mengubahku menjadi seorang Ayah."


Nayla tersenyum, ketakutannya sudah sirna dengan perlakuan Damar selama ini. Harapan indah telah terbentang di hadapannya dan tinggal satu yang ingin dia wujudkan yaitu membahagiakan Seyna.


Arkan lah yang Nayla harapkan bisa membantu, jadi Nayla akan berusaha lebih keras membujuk Sang adik agar mau menerima Arkan sebagai calon suaminya.


"Hei, kenapa senyum-senyum begitu?"


"Lagi bahagia," jawab Nayla.


"Boleh tahu karena apa?"


"Karena Mas Damar dan Seyna. Kalian berdua adalah sumber kebahagiaan ku saat ini dan sebentar lagi ini yang ketiga," ucap Nayla sambil mengelus perutnya.


Damar memeluk Nayla, "Kamu juga sumber utama kebahagiaan ku. Terimakasih Sayang," ucapnya, sembari mengecup kening Nayla.


Dewo yang sudah selesai memasang ban dan dua pengawal lain ikut senang melihat kebahagiaan Bos mereka.


Belum mereka melajukan mobil, Dewo mendapatkan telepon dari pengawal yang ada di mansion. Pengawal itu memberitahu jika Richard pergi dari rumah.


Dewo takut untuk menyampaikan hal itu kepada Damar. Dia takut merusak kebahagiaan yang saat ini sedang pasangan itu rasakan.


Tapi Dewo tidak punya pilihan lain, daripada Bos besarnya nanti dalam bahaya, lebih baik jika Damar tahu lebih cepat agar bisa segera mencari papanya.


"Maaf Tuan, Saya mengganggu," ucap Dewo ragu-ragu.


"Ada apa Wo? Ada masalah?"


"Tuan besar pergi dari rumah dan tidak ada yang tahu beliau pergi kemana."


"Apa! bagaimana sampai Papa bisa pergi dan tidak ada yang tahu Wo? Tidak becus semua! jaga satu orang saja bisa kecolongan," ucap Damar marah dan resah.

__ADS_1


Wajah Damar yang tadi ceria kini mengetat karena menahan amarah. Nayla yang melihat hal itu, menggenggam tangan Damar lalu berkata, "Sabar Sayang, mungkin Papa bosan di rumah, jadi beliau keluar sebentar untuk mencari angin. Paling, sebentar lagi juga pulang."


"Kamu tidak tahu Papa Nay, Papa gampang terpancing emosi, aku takut beliau terlibat perkelahian lagi, sementara kondisinya belum pulih dan tidak seorang pengawal pun saat ini ikut bersamanya. Siapa yang akan melindungi dan menolong Papa jika beliau terlibat masalah," ucap Damar.


"Sekarang juga kita pulang! Jalankan mobilnya dengan kencang Wo, aku sudah tidak sabar ingin segera tiba di rumah!"


"Baik Bos!"


"Tapi harus tetap hati-hati Wo, aku takut," timpal Nayla.


"Iya Nya!"


Dewo pun menyetir dengan fokus dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Nayla memejamkan mata serta bergelayut ke lengan Damar untuk mengurangi rasa takutnya.


Damar tahu, sang istri ketakutan, lalu dia menarik Nayla ke dalam pelukannya untuk memberikan rasa aman.


Hanya membutuhkan waktu tidak sampai setengah jam, merekapun tiba di mansion. Damar bergegas turun, dia meminta satu pengawal untuk mengantar Nayla ke dalam. Sementara dirinya hendak berkeliling mansion untuk mencari Richard.


Damar berharap Richard tidak pergi jauh dan hanya berkeliling sekitar mansion untuk mencari angin.


Nayla terpaksa menuruti permintaan Damar, karena dia butuh istirahat untuk meredakan perutnya yang keram karena menahan, saat tadi di mobil sempat ada guncangan.


Rasa mual membuat Nayla terpaksa berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di sana.


Guncangan tadi membuat, perutnya tidak nyaman. Rasa pahit kini memenuhi mulut Nayla, hingga dia tidak sabar dan menelepon Bi Luna agar meminta Tisya segera membawakan wedang jahe yang tadi Nayla minta sebelum dia naik ke kamarnya.


Tisya yang kena repet oleh Bi Luna karena kerja sambil memainkan hp, hingga lamban menyelesaikan pekerjaannya, bersungut-sungut tidak terima.


Dia terus menggerutu hingga wedang jahe panas tersebut tumpah mengenai kakinya.


Tisya menjerit dan Betty yang sedang melintas di sana pun tertawa. Sementara Bi Luna menggelengkan kepala sambil berkata, "Itulah kalau kerja tidak ikhlas, pergi obati kakimu! Dan kamu Betty, kesini! Teruskan pekerjaan Tisya dan segera antar ke kamar Nyonya.


Cepat! Nyonya sedang tidak sehat!"


"Eh...kok jadi aku," gerutu Betty.


Bi Luna yang mendengar hal itupun menjawab, "Kalau tidak mau ya sudah! Besok, aku akan mencari pengganti kalian!"

__ADS_1


"Lho, jangan dong Bi! Iya, ini aku buat dulu dan akan segera ku antar ke kamar Nyonya udik itu," ucap Betty dengan memelankan suara di akhir kalimatnya.


"Jangan sembarangan kalau ngomong! Mau aku laporkan ke Tuan Damar!" sahut Dewo yang kebetulan masuk ke dapur dan mendengar gerutuan Betty.


"Aku kan cuma ngomong mau buatkan teh nyonya, kenapa kamu mau laporkan aku. Nanti aku laporkan saja kamu ke Tuan dan Arkan, jika kamu dan Aira punya hubungan. Biar nyahok kamu, bakal segera di pecat!"


Dewo bungkam, dia tidak menyangka jika hubungannya dengan Aira yang masih mereka rahasiakan, tercium oleh pembantu resek di depannya ini.


Malas berdebat lagi, Dewo pun segera keluar dari dapur, sedangkan Betty tertawa ngakak, dia senang berhasil mengancam Dewo.


Betty merasa punya senjata untuk menyingkirkan Dewo kapan saja, jika Dewo mengancam keberadaannya di rumah itu.


Padahal sebelumnya Damar sudah curiga akan kedekatan keduanya. Cuma, belum pas saja waktunya untuk Damar bertanya kepada Dewo dan Aira, kapan mereka bisa meresmikan hubungan.


Damar berharap, jika Aira menikah, Seyna pun akan termotivasi dan segera menerima Arkan.


Aira dan Seyna adalah teman dekat, mungkin Aira bisa membujuk Seyna agar bareng menikah dengannya.


Dewo yang tadi keluar dari dapur, kini duduk termenung di teras samping. Dia resah, karena rahasianya bakal ketahuan Damar.


Kebutuhan biaya pengobatan sang Ibu yang cukup besar membuat Dewo tidak siap jika nanti sampai dipecat.


Damar yang melihat Dewo termenung, segera menghampiri dan menepuk pundaknya, "Kok malah melamun di sini Wo! Aku tadi minta kamu untuk bersiap kan? Kita harus keliling mencari Papa."


"Eh, maaf Bos. Tadi aku minum sebentar dan ini sedang menunggu Bos datang."


"Aku menunggumu sejak tadi di dalam mobil, karena kamu tidak datang juga, makanya aku mencarimu," ucap Damar.


"Maaf kalau begitu Bos, ayo kita berangkat. Kemana kita akan mencari Tuan besar Bos?" tanya Dewo sambil berjalan mengikuti Damar kembali ke mobil.


"Keliling kota Wo, siapa tahu Papa pergi membeli sesuatu atau beliau sedang bersama teman-temannya di tempat dulu Papa biasa nongkrong."


"Baiklah Bos, ayo kita berangkat!"


Dewo pun melajukan mobil, tapi pikirannya masih saja tidak tenang. Dia banyak diam sepanjang perjalanan, hingga membuat Damar ingin mengisenginya.


Apakah yang akan Damar lakukan terhadap Dewo?

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2