
Saat Dewo tiba di lorong menuju tempat Marissa, dia mendengar suara jeritan dan tawa kegirangan.
Dewo tersenyum, benar berarti yang Damar katakan bahwa Tuan besarnya punya mainan baru.
Richard meminta pengawal untuk membuka pintu saat dia mendengar suara ketukan.
"Sore Tuan!"
"Heemm...Aku kira Damar! Bagaimana keadaan menantu dan calon cucuku?"
"Alhamdulillah, Nyonya dan kandungannya baik-baik saja Tuan."
"Kamu beri mereka pelajaran dulu, aku mau makan. Ingat jangan kau habisi, karena aku masih senang bermain-main dengan mereka. Yang berhak menghabisi mereka adalah putraku dan menantu."
Mendengar hal itu, Betty dan Tisya pun menangis, lalu mereka memeluk kaki Richard sambil berkata, "Ampun Tuan, ampuni kami. Tolong keluarkan kami dari sini. Kami nggak mau mati di cabik-cabik Marissa."
Richard menghempaskan kakinya, hingga Betty dan Tisya terjungkal ke lantai.
"Enak sekali kalian! Kalian harusnya bersyukur masih aku beri waktu untuk menikmati hidup. Kalau calon cucuku dalam bahaya, sekarang juga habis kalian tanpa bentuk!"
"Kamu Wo, cepat hukum mereka! satu jam lagi aku kembali!" perintah Richard.
"Baik Tuan!"
Richard pun pergi meninggalkan ruangan tersebut, lalu giliran Dewo sekarang.
Marissa sudah Richard masukkan ke dalam kandangnya, jadi Dewo akan menghukum keduanya dengan cara lain.
Dewo mendekati Betty dan Tisya, pakaian keduanya sudah acak-acakan dan ada luka cakar di bagian kaki serta tangan keduanya.
Tanpa berkata, Dewo langsung melayangkan tamparan di pipi keduanya.
"Plaakk...plaakk, ini untuk Nyonya."
"Ampun Wo, tolong lepaskan kami. Masa sama-sama kita bekerja di sini kamu tidak bisa membantu," mohon Betty sambil mengelus pipinya yang sakit.
Darah menetes dari sudut bibir keduanya. Dewo bukannya iba, malah dia kembali melayangkan tamparannya ke pipi satunya lagi.
"Plaakk...plaakk, ini untuk calon bayi Nyonya."
"Aduh...sakit Wo! Ampuni kami wo, kami tidak akan mengulangi perbuatan kami lagi," mohon Tisya sambil menangis.
__ADS_1
"Plaakk...plaakk...plaakk, ini untuk Aira ku!"
Keduanya terjengkang, Dewo makin geram, jika mengingat kejdian tadi. Tiga nyawa hampir saja melayang gara-gara kedua pembantu resek itu.
"Sekarang aku tanya sama kalian, sebelum Tuan Damar yang akan memaksa kalian bicara. Siapa yang menyuruh kalian untuk mencelakai Nyonya! Ayo jawab!"
"Tidak ada Wo, kami cuma iri dengan Nyonya, kenapa wanita kampung bisa jadi Nyonya di rumah ini. Kami tidak rela!" jawab Betty.
"Itu hak Tuan Damar untuk memilih, bukan urusan kalian! Kalian, harusnya bersyukur mendapatkan Nyonya baik seperti Nayla. Jika tidak, sejak dulu kalian sudah ditendang dari rumah ini."
"Iya, kami salah Wo."
"Sekarang juga kalian mengaku, siapa yang menyuruh kalian! Barangkali dengan mengaku, hukuman kalian bisa lebih ringan dan Tuan tidak akan menjadikan kalian santapan Marissa."
"Benar Wo, tidak ada yang menyuruh kami," jawab Betty lagi.
"Nggak usah kalian tutupi lagi, dia akan selamat, sedangkan kalian? Besok keluar dari sini sudah tidak bernyawa lagi. Bagaimana nasib keluarga kalian?"
"I-tu, a-nu Wo. Nyonya..." ucapan Tisya terhenti. Mulutnya dibekap oleh Betty.
"Lepaskan dia Betty! cepat katakan, siapa yang menyuruh kalian atau aku akan lepaskan Marissa sekarang juga. Aku tinggal bilang ke Tuan, jika Marissa kelaparan dan memaksa keluar dari kandang."
Tisya tidak peduli jika Betty memukulnya, yang penting dia bisa selamat. Jika tidak selamat, setidaknya Carolina akan ikut dengannya menghadapi kematian.
"Apa! Jadi kalian kerjasama dengan wanita tidak tahu malu itu! Sejak kapan kalian sekongkol dengan dia! Jawab aku!"
"Tisya bohong Wo, Nyonya Carolina tidak ada hubungannya dengan kejadian ini."
"Enggak Wo, Betty yang bohong! Percayalah dengan ku, semua ini perintah wanita itu."
"Plaakk..." sekali lagi tamparan melayang di pipi Betty.
"Kamu masih tidak mengaku Bet! Memangnya kamu dibayar berapa hingga masih menutupi kejahatan wanita brengsek itu!"
"Satu miliar Wo, jika kami berhasil membuat nyonya keguguran. Dan jika berhasil membunuh Nyonya kami akan dibayar tiga kali lipat."
"Brengsek! Demi uang kalian rela mencelai istri majikan yang sudah sangat baik terhadap kalian dan juga keluarga kalian!"
"Di mana sebenarnya hati nurani kalian sebagai seorang wanita dan sebagai seorang ibu, hah!"
Betty terlihat santai menyikapi omongan Dewo, sedangkan Tisya menangis tergugu.
__ADS_1
"Andai kalian di posisi Tuan, hukuman apa yang pantas untuk seorang pembunuh seperti kalian?"
"Hukuman mati Wo," ucap Tisya tertunduk dan masih menangis.
"Nah kamu Betty!"
Betty tidak menjawab, dia hanya tertunduk saja.
"Aku muak melihat kalian. Kalian tunggu saja Tuan besar masuk. Beliau sedang baik hati, cuma mau bermain-main. Jika tidak, tangan dan kaki kalian pasti saat ini sudah lepas dari tubuh," ucap Dewo, lalu dia berbalik dan hendak keluar.
Tisya menangis, meratapi kebodohannya, sementara Betty masih dengan santai menarik rambut Tisya hingga Tisya menjerit kesakitan.
"Bodoh! Kenapa kamu katakan! Kamu tidak tahu, bagaimana kejamnya Nyonya Carolina. Kita tidak akan dia ampuni, meskipun kita menangis darah!"
"Kamu yang bodoh Betty! Apa kamu pikir, kita bisa keluar dari sini dengan selamat? Lebih baik mengaku dan bertobat. Jika kita mati, Carolina juga harus mati, karena dia otak dari semuanya. Dan aku yakin, Tuan Damar tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja."
"Terserah kau Tisya. Aku tetap membela Nyonya Carolina. Mending dia yang jadi Nyonya di sini daripada wanita kampung itu! Aku benci dia dan adiknya yang penyakitan itu."
"Ya sudah kalau kau masih membela Carolina, aku tidak akan ikut ikutan. Aku tidak ingin dia jadi Nyonya di sini, lebih baik aku mati daripada melihat dia kembali mendekati Tuan Damar."
"Kau menentangku Tisya!" ucap Betty yang kembali menarik rambut Tisya.
"Lepaskan aku!" seru Tisya sambil membalas menarik rambut Betty.
Kini keduanya saling Jambak, saling cakar. Richard yang sedang melihat layar monitor CCTV di ruang kerja, tertawa terbahak-bahak melihat kedua pembantu itu saling menyakiti.
"Ini tontonan mengasyikkan, ayo terus, jadi kami tidak susah mengotori tangan untuk menyiksa orang-orang tidak berguna seperti kalian!" monolog Richard.
Kedua pembantu itu bergumul di lantai, Tisya tidak akan mengalah lagi, dia membalas semua yang dilakukan Betty terhadapnya.
Wajah mereka penuh luka karena saling cakar. Baju compang-camping dan sekarang keduanya terkapar dilantai karena lelah.
Dewo yang sudah kembali ke dalam mansion, lalu menelepon Damar dan dia mengatakan, jika dalang dibalik semua kecelakaan yang menimpa Nayla serta Seyna adalah Carolina, mantan istri Damar.
Damar mengepalkan kedua tinjunya dan dia melempar ponselnya hingga pecah berantakan di lantai.
Nayla tidak menyangka, Damar akan semarah itu, lalu dia turun dari tempat tidur dan memeluk sang suami sambil berkata, "Sabar Sayang, kita selesaikan dengan kepala dingin. Aku tidak ingin melihat Mas sakit karena amarah."
Damar memeluk erat Nayla, lalu dia berkata, "Aku tidak akan tinggal diam Nay! Aku akan menghancurkan dia karena telah menyakiti kalian."
Bersambung.....
__ADS_1