RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 58. SALAH CULIK


__ADS_3

Pesawat penumpang yang membawa Richard beserta beberapa orang anak buahnya, tujuan Indonesia telah berangkat.


Arkan dan tiga pengawal yang bersamanya tetap waspada, meski mereka sudah berada diatas pesawat.


Mereka tidak mau mengambil resiko jika sampai ada pihak musuh yang berusaha mencelakai Richard lagi.


Arkan terlebih dahulu memastikan bahwa Richard sudah duduk di bangkunya. Baru setelah itu, dia berkeliling melihat-lihat keadaan di atas pesawat tersebut.


Saat ini tidak ada hal yang menurut Arkan tampak mencurigakan.


Tapi, ketiga pengawalnya tetap Arkan minta untuk duduk berpencar, satu duduk bangku depan, satu lagi di bangku belakang dan satunya di bangku sisi sebelah kiri. Sementara Arkan sendiri berada tepat di samping Richard.


Saat ini Richard sedang asyik membolak balik majalah yang ada di tangannya, ketika tiba-tiba pesawat sedikit oleng.


Arkan dan penumpang lain terkejut, lalu dia berusaha mencari tahu apa sebenarnya penyebab olengnya pesawat.


Biasanya, jika terjadi hal seperti ini, pramugari pasti menenangkan seluruh penumpang. Tapi, kenapa saat ini, tidak ada satu orang pramugari pun yang datang.


Hal ini membuat Arkan dan anak buahnya merasa curiga. Lalu, Arkan memberi kode ke satu pengawalnya untuk berpura-pura sakit dan membutuhkan obat.


Namun, saat dia hendak menemui sang pramugari, pengawal tersebut melihat kejanggalan.


Wajah pramugari nampak tegang dan ada seseorang yang terlihat mencurigakan berdiri di belakangnya.


Pengawal yang telah menerima obat, segera balik ke tempat duduknya dan dia memberi kode ke Arkan jika ada sesuatu yang terjadi di sana.


Arkan meminta yang lain untuk waspada dan benar saja, dua orang pramugari datang dengan tangan di atas kepala masing-masing. Seseorang telah menodongkan senjata laras panjang di belakang keduanya.


Para penumpang menjerit, mereka ketakutan, lalu penodong tersebut berkata, "Tetap di tempat kalian atau kepala kalian taruhannya. Peluru ini siap menembus kepala siapapun yang berusaha melawan!"


Anak buah Arkan yang berusaha mendekat pun tidak berkutik, saat satu orang menodongkan senjata di dekat belakang tengkuknya.


Ternyata, orang yang duduk di belakang pengawal itu, kawan dari sang penodong.


Para penumpang akhirnya terdiam, mereka tidak berani menatap orang-orang yang membawa senjata itu.


"Sekarang cuma ada satu pilihan bagi kalian, serahkan orang yang bernama Richard, atau aku akan menghabisi kalian semua!"

__ADS_1


"Ingat! pesawat ini akan putar balik, karena orang kami sudah berada di bagian depan bersama pilot. Jadi, penerbangan ini kami yang berhak mengatur."


Para penumpang kembali ribut, mereka tidak menginginkan pesawat yang mereka tumpangi ini kembali ke Korea Selatan.


Semua urusan bakal kacau apabila pihak pensabotasi tetap dengan keputusannya.


"Siapa yang bernama Richard di sini! Jika tidak muncul juga, aku akan meledakkan kepala gadis ini!" ucap salah satu penodong tersebut sambil siap menarik pelatuk.


Kali ini Arkan tidak mungkin diam, lalu dia berdiri dan maju kedepan si penodong sambil berkata, "Aku Richard! lepaskan dia, apa yang kalian mau dariku!"


"Oh, ternyata kamu yang bernama Richard! Cepat jongkok dan naikkan tanganmu di atas kepala atau peluru ini akan segera menembus jantungmu!" ancam si penodong sembari menendang kaki Arkan hingga diapun terjatuh.


Arkan meringis menahan sakit pada kedua kakinya, lalu dia menuruti perintah si penodong yang saat ini mengarahkan senjata tepat di area jantungnya.


Richard yang dengan mata tajamnya memperhatikan kejadian itu, tidak menyangka, jika Arkan berani menggantikan dirinya. Mengaku sebagai Richard.


"Sebentar lagi kita sampai, kalian jangan coba-coba ada yang berdiri sebelum ada perintah dari kami!"


Akhirnya pesawat itupun kembali mendarat dan para penodong sempat melepaskan tembakan hingga para penumpang berteriak histeris.


bersembunyi di balik bangkunya masing-masing.


Kini Arkan sudah mereka bawa keluar dari pesawat dan sebuah kenderaan sudah menunggu di sana.


Richard memaksakan diri untuk turun tanpa bantuan pengawalnya, dia tidak akan membiarkan Arkan celaka.


Para penumpang lain memilih tetap di dalam pesawat sampai keadaan benar-benar aman.


Richard meminta para pengawalnya untuk meminjam kenderaan yang ada di bandara tersebut, yang bisa mereka pergunakan untuk mengejar musuh.


Berkat ancaman Richard pihak bandara pun terpaksa meminjamkan sebuah mobil dan dengan segera Richard bersama pengawal mengikuti jejak musuh yang membawa Arkan.


Arkan yang sudah diikat tangan serta kaki, tidak bisa berkutik dan kini mulutnya juga sudah di sumpal dengan kain.


Dia tidak peduli jika harus mati, asalkan Richard bisa selamat.


Dengan tangan terkepal Richard melampiaskan amarahnya. Walau apapun resikonya, dia harus bisa melumpuhkan lawan yang saat ini sudah ada di depan mereka.

__ADS_1


Kali ini Richard langsung yang menyetir mobil, dengan kecepatan dan kelihaiannya, dia berhasil menabrak bagian belakang mobil musuh dan tanpa memberi jeda lagi, diapun kembali menabraknya lagi.


Mobil keduanya mengeluarkan asap dan suara tembakan menggelegar di udara.


Pihak musuh berusaha menghalangi Richard dengan menembakinya dan menembak bagian ban mobil yang Richard kendarai.


Dengan senjata yang ada, para pengawal Richard berusaha melawan musuh.


Richard terus melajukan mobilnya dan kali ini dia berhasil menyalib kenderaan musuh hingga terjadilah benturan yang sangat keras antara dua mobil hingga mengeluarkan percikan api.


Kedua mobil berhenti, masing-masing pihak ada yang terluka dan terjepit kakinya. Richard sendiri mengalami luka di bagian kaki serta wajahnya.


Darah yang mengalir tidak menjadi hambatan bagi Richard. Rasa sakit juga tidak dia pedulikan, yang terpenting baginya saat ini membebaskan Arkan baik hidup atau mati.


Pengawal yang terluka juga tidak menyerah, mereka keluar dari dalam mobil, lalu bersama dengan Richard mendekati mobil musuh.


Saat mereka melihat seseorang keluar dari dalam mobil, Richard menembakkan pelurunya dan tepat mengenai kaki musuhnya.


Mereka pun segera berlari mendekat dan ternyata para penculik yang lain beserta sopir terluka parah.


Para pengawal segera membereskan semuanya dan kini Richard berusaha menolong Arkan yang terjepit diantara jok.


Arkan terluka, dia tidak bisa bergerak karena tangan dan kakinya masih terikat. Sementara sumpalan kain di mulutnya membuat Arkan susah bernapas.


"Tahan Kan, kamu pasti selamat, kita akan ke rumah sakit!" ucap Richard.


Pengawal tanpa di perintah sudah berpencar mencari bantuan kenderaan untuk membawa Arkan ke rumah sakit.


Dan luka pada kaki Richard juga parah. Dia terguling menahan sakit setelah berhasil mengeluarkan Arkan dari dalam mobil tersebut.


Arkan di naikkan ke dalam mobil dan para pengawal membawa mereka ke rumah sakit terdekat dari sana.


Sesampainya di rumah sakit, pengawal langsung meminta perawat untuk membawa brankar dan segera menaikkan Richard dan Arkan ke brankar masing-masing.


Mereka segera di bawa ke unit gawat darurat dan dokter serta para perawat langsung menangani keduanya.


Para pengawal tanpa izin dari Richard langsung menghubungi Damar, mereka tidak mau mengambil resiko jika sampai terjadi hal buruk terhadap keduanya.

__ADS_1


__ADS_2