
Dokter yang mendapatkan panggilan dari ruang perawatan Richard pun segera bergegas. Beliau ingin mengetahui, perkembangan kesehatan Richard.
"Dok, syukurlah Anda datang. Tadi, jari-jari Papa bergerak, saat istri Saya mengajak beliau mengobrol melalui panggilan video," ucap Damar.
"Perkembangan yang bagus, rajin-rajinlah mengajak pasien ngobrol, itu bisa merangsang kesadarannya. Mudah-mudahan kita akan segera mendapatkan kabar baik," ucap Dokter.
"Iya Dok."
"Kenapa istri Anda tidak ikut kesini? Berarti istri Anda dekat dengan pasien atau orang yang beliau harapkan untuk bertemu," ucap Dokter.
"Adik istri Saya besok harus menjalankan kemoterapi Dok, jadi tidak mungkin saya mengajaknya. Kasihan tidak ada yang menemaninya di rumah sakit, mereka yatim piatu Dok!"
"Oh, mudah-mudahan semua baik-baik saja. Saya permisi dulu ya, dan ajaklah pasien sesering mungkin untuk berkomunikasi, jika ada apa-apa jangan segan-segan meminta bantuan perawat atau langsung ke saya," ucap Dokter sembari menepuk lembut bahu Damar dan pergi meninggalkan ruang rawat Richard.
Damar sebenarnya sudah tidak sabar ingin menemui orang yang mereka sandera. Damar ingin segera mengetahui siapa dalang di balik penyerangan terhadap dirinya dan juga Arkan.
Namun dia masih menunggu orang-orang baru yang akan bekerja membantu menjaga keamanan sang Papa.
Menunggu merupakan pekerjaan yang paling menjenuhkan, apalagi bagi Damar yang biasa aktif dalam dunia bisnisnya.
Kemudian Damar menelepon satu persatu orang-orang kepercayaan yang dia minta untuk mengelola bisnisnya di tiap daerah.
Bisnis warisan dari Richard sangat banyak, dari mulai bisnis halal sampai bisnis yang haram, seperti industri konstruksi, konveksi, ekspor beras, perdagangan senjata, perdagangan hewan langka dan dulunya bahkan narkoba.
Tapi semenjak Richard mengalihkan bisnisnya kepada Damar, perlahan Damar menghentikan bisnis haram dan menggantinya dengan bisnis lain.
Damar mulai merambah ke bisnis perkebunan, pertanian dan saat ini mencoba bekerja sama dengan pengusaha pertambangan.
Mungkin karena Damar sudah menghentikan beberapa bisnis kotor, itulah yang menyebabkan rekan bisnis Richard maupun pelanggannya marah dan merasa dirugikan.
Kalau Richard sendiri sudah menyerahkan semua keputusan kepada Damar, jadi terserah Damar usahanya mau dilanjutkan atau tidak, setidaknya di hari senjanya ini Richard memiliki seseorang yang bisa dia harapkan dan bisa mengurus dirinya ketika dia sakit seperti saat sekarang.
__ADS_1
"Pa, aku keluar sebentar ya. Ada sesuatu yang harus aku urus. Papa tidak perlu khawatir, aku telah menambah pengawalan di luar," pamit Damar sembari menggenggam tangan Richard.
Damar bergegas keluar karena Arkan telah memberitahu jika para pengawal baru yang akan bekerja dengan mereka sudah menunggu di luar.
"Bos!" sapa 5 pengawal baru yang menunggu Damar.
"Hemm...kalian sudah lama menungguku?" tanya Damar sembari mengulurkan tangannya.
Satu persatu pengawal itupun memperkenalkan diri, lalu salah satu dari mereka bertanya, "Apa tugas kami Bos!"
"Saat ini yang harus kalian lakukan adalah menjaga ruang rawat Papa, jangan ada yang boleh masuk tanpa persetujuan ku. Seandainya Dokter atau perawat yang akan masuk, mereka harus menunjukkan tanda pengenal dan kalian juga harus segera memberitahu. Aku tidak ingin mengambil resiko, penyusup kembali masuk dan mencelakai Papa! Kalian paham!" ucap Damar.
"Baik Bos!" Kami mengerti.
"Musuh kita bukan orang-orang sembarangan, jadi aku tegaskan lagi, tetap waspada dan jangan lengah! jika kalian sampai lalai, kalian sudah tahu konsekuensinya apa?" tanya Damar.
"Iya Bos, Tuan Arkan sudah menjelaskan kepada kami."
"Siap Bos!"
Damar pun bergegas meninggalkan tempat tersebut lalu dia menghubungi Arkan.
"Hallo Kan, apakah dia sudah mengaku?"
"Belum Bos! aku sudah mencoba membuatnya untuk mengaku tapi dia tetap bungkam. Padahal aku sudah menyiksanya dengan tidak memberinya makan dan minum seharian ini, tapi dia sepertinya rela mati untuk melindungi identitas Bos nya."
"Bajingan! Aku akan segera kesana. Kamu sediakan saja air garam dan air lemon. Pastikan sudah ada saat aku sampai!"
"Baik Bos!"
Kedua tangan Damar mengepal, dia sangat marah dan tidak sabar ingin membuat tawanannya segera mengaku. Damar beserta dua pengawal segera menuju ke alamat yang di berikan oleh Arkan.
__ADS_1
Setibanya di tempat itu, Damar langsung menghampiri tawanan tersebut yang saat ini oleh Arkan diikat tangan dan kakinya.
Damar mencengkeram rahang tawanan tersebut, "Aku ingin tahu sampai dimana nilai kesetiaan mu!"
Setelah mengatakan hal itu Damar meminta Arkan membawa apa yang tadi dia minta.
"Bawa kemari Kan!"
Arkan membawa satu mangkuk air garam dan cuka. "Bos air jeruknya ganti cuka saja ya?"
"Nggak masalah Kan, yang penting bisa membuatnya untuk membuka mulut."
"Hahaha...percuma! Apapun yang akan kalian lakukan, aku tidak akan mengatakan apapun, sekalipun kau membunuhku!" ucap sang tawanan.
"Beraninya kau menantang ku!" ucap Damar sembari menyiramkan air garam dan cuka ke luka yang ada di tubuh tawanan tersebut.
Terdengar suara jeritan, tapi orang tersebut tetap tidak mau membuka suara.
"Pegang tubuhnya Kan!" perintah Damar.
Lalu Damar kembali menyiramkan air garam beserta cuka ke hampir semua luka di tubuh tawanan tersebut hingga membuatnya menggelupur dilantai bak cacing kepanasan. Namun, hasilnya tetap sama, pria tersebut tetap bungkam.
Damar kesal, lalu dia mengambil pistol dari balik baju dan dalam beberapa detik saja, sebuah peluru meluncur tepat menembus jantung tawanan tersebut.
Akhirnya tawanan tersebut mati membawa kesetian terhadap sang Bos yang identitasnya ingin dia lindungi.
Damar menepuk pundak Arkan sembari berkata, "Bereskan mayatnya! Percuma kita siksa juga dia tidak akan mengaku. Daripada dia kembali mengancam keselamatan kita, lebih baik aku singkirkan."
Setelah mengucapkan hal itu Damar pun keluar dari ruangan. Arkan beserta dua orang pengawal lain segera melaksanakan perintah untuk membereskan mayat dan membersihkan tempat itu dari noda darah.
Kehidupan keras yang selama ini Damar jalani telah membuat dirinya menjadi orang yang berani dan kejam. Damar siap membunuh musuh-musuhnya yang telah mengancam keselamatan diri dan juga keluarganya.
__ADS_1