
"Kakak!" teriak Seyna saat matanya terbuka dan terlihat sang Kakak ada di hadapannya.
"Bagaimana keadaan mu Dek? Kenapa tidur tidak mengunci pintu kamar? Bagaimana jika ada orang iseng dan usil masuk?" tanya Seyna.
"Tadi ada Aira Kak, makanya tidak ku kunci. Barangkali dia ada urusan lain hingga keluar dari kamarku. Aku baru tertidur kok!" jawab Seyna.
Aira pun muncul dan dia terkejut melihat Nayla ada di sana.
"Hai Nay, kamu sudah pulang? Kenapa tidak memberi kabar?" tanya Aira sambil memeluk sahabatnya.
"Kak Damar dan Papa sengaja merahasiakan kepulangan kami Ai, demi keamanan di jalan."
"Aku saja terkejut Kak, tapi aku senang Kak Nay sudah kembali."
"Maaf Dek, tadi aku tinggal sebentar ke toilet. Perutku tiba-tiba mulas, jadi aku lupa mengunci pintu padahal kamu sedang tidur."
"Nggak apa-apa kok Kak, lagipula cuma sebentar dan tidak ada yang masuk selain Kak Nay."
"Tapi, tetap saja harus hati-hati. Aku nggak mau orang jahat memanfaatkan kesempatan di saat kita lengah!"
'" Iya, kamu benar Ai."
"Oh ya, bagaimana situasi di sana, ceritakan dong Nay. Enak ya bisa lihat luar negeri, aku entah kapan bisa ke luar negeri," ucap Aira.
"Biasa saja kok Ai, tapi ntah juga ya, karena aku di sana kebanyakan di dalam kamar saja. Aku sakit dan mas Damar menjagaku dengan ketat bahkan di depan pintu kamar berdiri tuh para pengawal, mana mungkin aku bisa keluar jalan-jalan," ucap Nayla.
"Kamu sakit? Sakit apa Nay, kamu bukannya telepone aku. Meski aku tidak bisa melakukan apapun karena kamu jauh, setidaknya kita bisa ngobrol hingga kamu tidak bosan berada di dalam kamar."
"Bagaimana mau menelepon, Mas Damar di sisiku terus," ucap Nayla sembari tersenyum dan menutup mulutnya.
"Wah... honeymoon dong! So sweet, bahagia banget Nay. Kamu jadi buat aku iri saja, kapan ya aku bisa mendapatkan pendamping seperti Tuan Damar. Sudah tampan, kaya dan perhatian terhadap istri. Eh, aku kok jadi menghayal, mana ada yang mau denganku. Aku hanya seorang pelayan," ucap Aira sembari malu dan menutup mulutnya dengan tangan.
__ADS_1
"Kamu lupa asalku dari mana Ai, aku juga hanya orang biasa, orang kecil yang tidak pernah membayangkan bisa mendapatkan suami seperti Mas Damar. Hal ini harusnya cuma ada dalam cerita dongeng, tapi Allah maha baik telah menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin."
"Makanya Ai, apapun nasib dan takdir yang Allah tentukan kita harus bersyukur. Dengan bersyukur semua akan terasa mudah dan indah."
"Iya Nay, terimakasih atas nasehatnya. Aku hidup seperti ini saja sudah bersyukur. Berkat kebaikan Tuan Damar aku dan kakak ku tidak terlunta-lunta. Bisa hidup tenang di sini dan khususnya bisa kenal kamu dan Seyna!" ucap Aira, lalu mempererat pelukannya.
"Oh ya, kamu tadi sakit apa Nay?" tanya Aira lagi penasaran.
"Tanya Seyna tuh!" ucap Nayla sambil tersenyum.
"Kamu curang, Seyna di beritahu dan aku enggak, apa kamu masih menganggap ku orang lain Nay?"
"Bukan begitu Ai, tapi kamu harus jaga rahasia ini dulu ya. Aku mengikuti kemauan dan trik mas Damar saja, harus berhati-hati dalam segala hal, termasuk berbicara karena tembok di sekeliling kita memiliki mata dan telinga. Satu lagi, karena musuh Papa dan Mas Damar ada dimana-mana."
"Aku janji akan jaga rahasia Nya, ayo cepat katakan!" pinta Aira.
Nayla berbisik ke telinga Aira dan mata Aira membulat saat mendengar apa yang baru saja Nayla bisikkan.
"Pantas saja, Tuan mengurungmu terus di kamar Nay. Hal ini yang paling dia tunggu dan dambakan. Akhirnya Tuan bisa mendongak mengatakan berita ini kepada dunia, kepada orang-orang yang selama ini menghina dan memvonis dirinya mandul. Mampus Carolina! Sekarang dia baru tahu, telah mencampakkan siapa dan demi siapa!" ucap Aira.
"Ha-ha-ha...aku senang sekali Nay, aku ingin lihat bagaimana wajah Carolina saat dia mengetahui tentang berita ini."
"Tapi belum saatnya orang-orang tahu Ai!"
"Iya, aku tahu Nay. Kita harus sedikit lagi bersabar. Nanti, jika Tuan sudah izinkan aku orang pertama yang akan mengejek Carolina."
"Kamu bisa saja Ai, kok kamu jadi yang bersemangat untuk mempermalukan Carolina?" tanya Nayla.
"Memang Nay! Andai kamu dulu melihat saat Tuan hancur gara-gara wanita ular itu, kamu pasti akan lebih marah dari aku. Aku jijik melihatnya, eh... sekarang mau cari muka lagi di depan Tuan. Sorry, Sorry nehi lah!" ucap Aira asal.
"Apaan itu nehi Ai?" tanya Nayla.
__ADS_1
"Maaf dan impossible, tidak ada kesempatan baginya untuk kembali mendekati Tuan! Kamu harus menjaga Tuan dari kelicikan wanita itu Nay. Jangan sampai Tuan kembali terjerat rayuan setannya," ucap Aira.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun merampas kebahagiaan yang baru saja aku miliki Ai, meski aku tidak secantik dan tidak sehebat Carolina tapi aku akan berjuang dan mempertahankan Mas Damar. Aku mencintai Mas Damar, jadi dia harus langkahi dulu mayatku jika ingin merebutnya dari ku," ucap Nayla.
"Ya, setuju! Aku juga tidak akan membiarkan dia mengusik kebahagian saudaraku!" ucap Aira sambil memeluk Nayla lagi.
Seyna pun ikut memeluk sang Kakak sambil berkata, "Aku juga Kak, meski tenagaku tidak kuat untuk melawan, tapi aku akan membantu kakak, jika wanita itu memang ingin merusak kebahagiaan kakakku!"
Mereka tidak sadar, jika Damar berdiri di depan pintu yang terbuka sedikit.
Damar senang melihat ketiga wanita yang berarti dalam hidupnya itu saling menyayangi dan rela berjuang demi kebahagiaan rumahtangganya.
Saat Damar hendak pergi, ponselnya berdering, hingga membuat ketiganya memandang ke arah Damar.
Mereka jadi malu saat melihat Damar tersenyum sembari mengacungkan ibu jarinya.
Damar membiarkan ketiganya, dia memilih menjauh untuk menjawab panggilan masuk pada ponselnya.
Ternyata dari Richard yang ingin menanyakan apakah dokter sudah tiba atau belum.
Saat ini panas tubuh Arkan semakin meningkat, dia mengigau hingga membuat Richard khawatir.
Richard dan rombongan akhirnya sampai, para pengawal segera membantu mengangkat tubuh Arkan dan membawanya ke kamar.
Dokter segera memeriksa dan memberikan obat untuk menurunkan demam. Ternyata terjadi infeksi pada kaki Arkan, hingga meradang dan menimbulkan demam.
Panas tubuh Arkan mulai turun dan dokter tetap menunggu di sana sampai kondisi Arkan benar stabil.
Setelah kondisi Arkan stabil, barulah Damar kembali ke kamar Seyna untuk memberitahu kepada Aira tentang kondisi sang Kakak.
Aira sempat menangis, tapi Nayla dan Damar menenangkannya dan mengatakan jika Arkan pasti akan segera sembuh.
__ADS_1
Dan Arkan adalah orang yang kuat, dia tidak akan betah berlama-lama terbaring di tempat tidur.