
Damar langsung menelepon Dewo, dia meminta Dewo untuk secepatnya membelikan kursi roda buat Arkan.
Dewo yang kebetulan sedang menjenguk ibunya bergegas pamit, pergi membelikan apa yang Damar minta.
Sore ini Arkan meminta Aira untuk membawa Seyna ke taman dan dia akan menunggu di sana.
Setelah Dewo datang membawakan kursi roda, diapun membantu Arkan untuk mencobanya.
Arkan mencoba menggunakannya, bergerak kesana-kemari tanpa mau dibantu oleh Dewo. Dia harus bisa, tanpa menyusahkan orang lain dan Arkan bertekad akan terus berlatih agar bisa secepatnya berjalan normal kembali.
Setidaknya dengan kesembuhan, Arkan ingin menjadi kekuatan bagi Seyna saat dia membutuhkan dukungan dari Arkan.
Sore ini, cuaca mendukung, angin berhembus semilir hingga membuat suasana taman dibelakang mansion begitu sejuk dan tenang.
Mendungpun mulai menggelayut di atas langit, menandakan, malam ini mungkin saja akan turun hujan.
Arkan tengah berusaha melajukan kursi roda agar dia sampai ke taman tanpa bantuan siapapun.
Dengan kekuatan tangannya, akhirnya Arkan berhasil tiba di taman dan menunggu kedatangan Aira serta Seyna di sana.
Tidak lama menunggu, akhirnya orang yang di tunggu pun datang. Seyna terkejut saat melihat ada Arkan di sana.
Aira memang tidak mengatakan apapun kepada Seyna tentang prihal Arkan yang menunggu mereka di sana, selain ingin mengajak Seyna jalan-jalan di seputar taman, menikmati udara sore yang kebetulan di selimuti mendung.
"Kak, itukan Kak Arkan! Tapi kok sendirian ya Kak? Apa Kak Arkan sudah sembuh Kak?" tanya Seyna.
"Sudah mendingan kondisi abangku Dek, hanya tinggal pemulihan kakinya saja. Barangkali, Abang bosan di dalam kamar saja, maklumlah kita tahu 'kan Abang kesehariannya bagaimana. Nggak pernah duduk santai," ucap Aira.
"Iya, benar kata Kakak, mungkin ini hikmah kejadian itu, supaya Kak Arkan bisa beristirahat."
"Kita kesana ya Dek! Barangkali , Abang butuh teman bicara," ajak Aira.
"Iya Kak," jawab Seyna.
Arkan yang sedang memandangi ikan di dalam kolam, tersenyum saat melihat Seyna dan Aira sudah ada di hadapannya.
"Selamat sore Kak!" sapa Seyna.
"Sore Dek, bagaimana keadaan kamu?" tanya Arkan.
__ADS_1
"Masih seperti biasa Kak," jawab Seyna lagi.
"Keadaan Kak Arkan sendiri bagaimana? Kenapa malah sendirian di sini Kak?" tanya balik Seyna.
"Alhamdulillah, sudah mendingan Dek, tinggal melatih kaki saja. Mudah-mudahan segera pulih seperti semula."
"Oh ya Bang, enaknya kita duduk disini sambil ngeteh ya. Cocok suasananya untuk ngobrol sambil minum teh atau kopi dan menikmati cemilan yang Bi Luna goreng," ucap Aira yang mencari alasan agar bisa meninggalkan keduanya berduaan di taman.
"Boleh juga usulmu Dek, kebetulan Abang juga sedang haus."
"Kamu Dek, mau teh atau susu?" tanya Aira kepada Seyna.
"Aku teh saja Kak, jika tidak menyusahkan Kakak," jawab Seyna dengan senyum manisnya.
"Kamu tidak pernah menyusahkan siapapun, aku senang kok melayanimu Dek, aku jadi punya teman, daripada harus gabung dengan kedua orang resek itu. Yang selalu kepo dengan urusan orang lain," ucap Aira sambil menunjuk ke arah dua pembantu yang sedang mengintai mereka dari kejauhan.
"Sekalian samperin mereka Dek, bilang masih kepingin hidup atau mau aku kebumikan," ucap Arkan yang membuat Aira dan Seyna tertawa.
"Kak Arkan ada-ada saja," ucap Seyna.
"Biar tahu mereka Dek, jangan terlalu kepo dengan urusan orang, padahal tugas mereka banyak yang belum dikerjakan."
Aira yang sudah pergi dari sana pun segera menyamperin keduanya dan dia menyampaikan apa yang tadi Arkan katakan.
Keduanya melihat Arkan dan Arkan pun memberi ancaman dengan kode menggores leher dengan tangannya.
Betty dan Tisya pun ketakutan, lalu mereka berlari terbirit-birit meninggalkan tempat pengintaian, sebelum Arkan benar-benar membuktikan ancamannya.
Melihat keduanya pergi, Seyna pun tertawa lepas hingga membuat Arkan terpaku menatap gadis cantik yang kurang beruntung itu.
Jarang-jarang, Arkan bisa melihat Seyna tertawa, apalagi bisa tertawa lepas seperti tanpa beban.
Sekaranglah kesempatan bagi Arkan untuk mulai mengutarakan maksudnya, mumpung hati Seyna sedang gembira.
Saat Seyna tersadar dan menatap Arkan, diapun menjadi malu. Seyna menundukkan kepala sambil pura-pura mengecek ponsel yang ada ditangannya.
Arkan menggerakkan kursi rodanya, mendekati Seyna dan memegang kursi roda gadis itu, hingga membuatnya kaget dan menatap Arkan kembali.
"Maaf Dek, ada sesuatu hal penting yang ingin aku bicarakan berdua saja dengan kamu," ucap Arkan menatap lekat mata Seyna yang terlihat sayu.
__ADS_1
"Apa yang ingin Kak Arkan bicarakan?" tanya Seyna penasaran dan tentunya malu. Karena baru kali ini dia berduaan saja dengan seorang pria.
"Aku tidak pandai berbasa-basi Dek, seperti kebanyakan pria. Dan aku tidak pandai merangkai kata rayuan layaknya seorang pujangga," ucap Arkan.
Sejenak dia terdiam, lalu melanjutkan ucapannya, "Aku ingin memintamu, menikahlah dengan ku Dek!"
Ucapan Arkan nyaris membuat Seyna tersedak dan dia terbatuk-batuk sambil memegangi dadanya.
"Kamu tidak apa-apa Dek?" tanya Arkan refleks memegang tangan Seyna. Dia bingung harus melakukan apa, sementara Aira belum datang membawa air minum.
Seyna terkejut dan wajahnya merona karena malu, dia berusaha menenangkan diri agar batuknya reda, lalu Seyna pun perlahan melepaskan pegangan tangan Arkan.
"Kamu tidak apa-apa 'kan Dek?" tanya Arkan lagi.
Seyna malah menjawab, "Kak Arkan yang kenapa? Aneh saja mendengar Kakak mengatakan hal itu," ucap Seyna.
"Aneh? memangnya kenapa Dek? Apa menurutmu kita tidak berhak untuk mendapatkan kebahagiaan?" tanya Arkan balik.
"Kak Arkan berhak untuk bahagia tapi tidak denganku. Pernikahan tidak boleh ada dalam hidupku Kak! Aku tidak ingin mengecewakan pria yang bermaksud mengorbankan kehidupannya untuk ku," jawab Seyna sedih.
Air mata mulai mengambang di pelupuk mata Seyna, hingga membuat Arkan ingin menguatkan gadis itu.
Arkan memberanikan diri menggenggam tangan Seyna meski Seyna berusaha menolak perlakuan Arkan.
"Kamu berhak bahagia, kita yang hidup berhak bahagia Dek. Kamu tidak boleh mengingkari nikmat Tuhan yang menciptakan hati. Agar hati kita bisa merasakan cinta dan kebahagiaan," ucap Arkan sembari memegang dagu Seyna supaya gadis itu mau menatapnya.
"Tapi aku tidak bisa Kak! keberadaan ku hanya akan menyusahkan," tolak Seyna.
"Siapa yang bilang kamu menyusahkan! Aku malah senang mendapatkan orang yang mau bergantung padaku, jadi aku bisa merasa dibutuhkan baginya," ucap Arkan lagi.
"Aku tidak mungkin jadi ibu Kak dan kakak mungkin juga tahu, usiaku bakal tidak lama lagi, jadi untuk apa Kakak memintaku mendampingimu, yang hanya akan meninggalkan kesedihan!"
"Berpikirlah secara logika Kak, permintaan Kakak tidak mungkin bisa aku penuhi!" ucap Seyna yang berusaha menjalankan kursi rodanya hendak pergi dari taman itu.
Arkan menarik kursi roda Seyna, dia tidak ingin gadis itu pergi sebelum dirinya berhasil mendapatkan jawaban yang diinginkan.
"Kumohon jangan pergi Dek! Aku serius, aku ingin menikahimu, aku ingin menjadi imam mu meski Tuhan hanya memberi kita waktu sehari untuk menikmati kebahagiaan pernikahan."
Seyna memalingkan wajah, dia menangis. Dalam hati kecilnya Seyna ingin merasakan kebahagiaan sebagai seorang istri.
__ADS_1
Namun, pikiran Seyna menolak karena dia tidak ingin meninggalkan kesakitan dan kesedihan hati bagi pasangannya, saat takdir nanti membuatnya terbaring, tidak mampu berbuat sesuatu yang bisa membahagiakan pasangannya.