RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 57. PERINTAH RICHARD


__ADS_3

"Tuan baik-baik saja?" tanya Arkan saat melihat Richard meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.


"Sakit Kan! tadi aku repleks berdiri dan mencoba menggerakkannya. Aku berhasil Kan, tapi rasanya sakit sekali!"


"Sebentar Tuan, biar Saya periksa," ucap Suster yang sejak tadi meringkuk di kursi belakang karena ketakutan.


"Cepat Sus! Atau kita balik saja ke rumah sakit Tuan?" pinta Arkan.


"Tidak! Aku harus pulang, setelah minum obat pasti berkurang sakitnya," ucap Richard yang menolak permintaan Arkan.


"Mana obat nyeri Sus?" tanya Richard.


"Ini Tuan!" ucap Suster sembari mengacungkan obat beserta satu botol air mineral.


Richard dibantu oleh Arkan minum obat pereda nyeri yang diberikan oleh suster dan suster memeriksa kaki Richard dan membalurkan obat yang dia bawa dari rumah sakit.


"Jadi bagaimana ini Tuan, kita mau balik atau lanjut?" tanya Pak Sopir.


"Aku bilang lanjut, ya lanjut Pir! Kalau kamu mau balik silahkan turun! Biar aku yang menyetir mobilnya!" ucap Richard kesal.


Amarah Richard naik gara-gara omongan Pak sopir, Arkan memberi kode ke Pak Sopir agar jangan bicara lagi.


"Tuan, satu mobil lagi berhasil dihimpit oleh pengawal kita dan tinggal satu motor yang berusaha melarikan diri!" ucap Arkan.


"Tingkatkan kecepatan pir! Dan kamu Kan habisi dia! Aku tidak mau mereka tersisa! Jangan coba-coba mereka menghalangiku, meski kondisiku seperti ini, aku masih bisa melawan mereka!" ucap Richard dengan semangatnya yang masih membara.


"Baik Tuan."


"Ayo Pak Sopir, kebut!" perintah Arkan.


"Baik Tuan Arkan!"


Pak sopir pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia yang sudah terlatih dengan mudah melintasi mobil lain yang berlalu lalang di sana.


Arkan sudah siaga dengan senjatanya saat mereka telah mendekati pengendara motor yang berusaha melarikan diri.


Motor melaju kencang dan dia masuk ke jalan yang sulit di lalui mobil. Arkan kesal, lalu dia meminta pak sopir untuk berhenti.

__ADS_1


"Pak! Turunkan Saya di sini! Saya akan mencari pengendara motor itu. Bapak langsung saja bawa Tuan ke bandara, jika ada apa-apa cepat hubungi pengawal kita. Mereka ada di belakang mobil ini!" pinta Arkan.


"Baik Tuan Arkan!"


"Kamu hati-hati Kan, jika dalam satu jam kamu tidak menemukannya, cepatlah kembali bandara. Aku tidak mau kamu ketinggalan pesawat!"


"Baik Tuan!"


"Sus, kamu tetap jaga Tuan!" pinta Arkan.


Suster pun mengangguk dan Pak sopir menghentikan mobil untuk menurunkan Arkan. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke bandara.


Pengawal yang telah mendapatkan kode dari Arkan langsung berpencar mengiring mobil yang membawa Richard.


Arkan menghentikan seorang pengendara motor, lalu dia menodongkan senjatanya dan berkata, "Aku butuh motor ini, turunlah! Kamu jangan takut, aku akan kembalikan paling lama satu jam dan pegang ini sebagai jaminannya. Tunggu aku di sini!" ucap Arkan sambil mengulurkan jam tangan mahal miliknya sebagai jaminan.


Pemilik motor tidak berani membantah karena senjata Arkan mengarah ke punggungnya. Lalu, pemilik motor pun menyerahkan kunci sambil menerima jam tangan milik Arkan.


Arkan melajukan motor tersebut dengan sangat kencang, lalu dia menyusuri jalan kecil yang tadi dilewati oleh musuh.


Dia memperhatikan setiap sisi jalan, tapi orang tersebut tidak terlihat. Hingga sampai ke ujung jalan Arkan tidak juga menemukan orang tersebut.


Namun, mereka menggeleng. Arkan bersiap hendak kembali, tapi dia melihat motor musuhnya sedang melintas ke arah keluar jalan. Mungkin dia tidak menyangka jika orang-orang Richard ada yang mengejarnya.


Arkan dengan tersenyum sinis, membiarkan orang itu melintasinya, lalu dia memutar motor dan melajukannya dengan kencang, melewati motor musuh yang ada di depannya sambil menggeberkan suara motor dengan sangat kuat.


Musuh merasa panas, dia bermaksud melawan Arkan, melewati motornya dan menyalib serta berhenti tepat di depan Arkan.


Arkan seketika mengerem mendadak hingga suara decitan ban terdengar begitu kuat. Tapi Arkan senang, kali ini dia akan menjatuhkan lawan dengan satu lawan satu.


Musuh membuka helm nya dan dengan seringai marah berjalan menghampiri Arkan.


"Apa maksudmu menantang ku! Kamu tidak kenal siapa Aku!" ucap musuh Arkan.


"Hahaha...," Arkan pun tertawa.


"Kamu terbalik, harusnya aku yang mengatakan itu!" ucap Arkan sambil membuka helmnya.

__ADS_1


Orang tersebut pun terkejut, tapi dia terlambat menyadari, Arkan sudah melepaskan tendangannya hingga musuh pun terjungkal ke aspal.


Diapun bangkit sambil memegangi dadanya yang sakit akibat terkena tendangan Arkan.


Kemudian dia menyerang balik Arkan. Arkan yang memang telah siap siaga dengan mudah menangkis serangan lawan.


Kali ini Arkan tidak ingin berlama-lama karena Richard pasti sudah sampai di bandara dan sedang menunggunya.


Arkan melepaskan tendangan mautnya berkali-kali hingga orang tersebut jumpalitan kewalahan menghindari serangannya.


Akhirnya sebuah tendangan kembali telak mengenai dada musuh dan diapun terkapar meregang nyawa. Tanpa basa-basi, Arkan langsung melepaskan pelurunya dan tepat mengenai kepala musuh.


Darah muncrat ke sekitar, hingga membuat orang yang kebetulan melintas di sana menjerit.


Arkan tidak mau membuang-buang waktu hingga orang nanti pada berkerumun, lalu dia memakai helm dan menghidupkan motor serta melajukannya dengan kencang meninggalkan tempat tersebut.


Sesuai janji dan tidak sampai satu jam, Arkan telah kembali dimana pemilik motor menunggunya.


Pemilik motor merasa lega karena Arkan ternyata tidak membohonginya. Tapi, Arkan belum mengembalikan kunci, karena dia ingin pemilik motor tersebut mengantarnya ke bandara dengan imbalan jam tangan tersebut akan dia berikan kepada pemilik motor.


Arkan naik di belakang dan tanpa berpikir panjang lagi pemilik motor pun mengantar Arkan ke bandara. Dia tahu, jam Arkan memang barang branded yang nilainya lumayan fantastis.


Sesampainya di bandara, Arkan mengucapkan terimakasih dan sesuai janji, jam tangan miliknya kini menjadi hak pemilik motor.


Pemilik motor merasa kejatuhan durian runtuh, dia merasa senang bisa mendapatkan jam tangan mahal yang tidak mungkin dia beli meski kerja bertahun.


Arkan berjalan masuk ke area keberangkatan, disana dia melihat Richard bersama suster dan beberapa orang pengawal sedang menunggunya.


Richard melihat jam tangan dan dia mengacungkan jempolnya kepada Arkan sambil tersenyum. Richard tahu, Arkan anak buah yang bisa Richard andalkan.


Arkan menghampiri Richard lalu dia bertanya, "Apakah kaki Tuan masih sakit?"


"Kamu masih saja memikirkan Aku! Bagaimana dengan tugasmu? Berhasilkah?" tanya Richard.


"Beres Tuan!" jawab Arkan sembari memperagakan tangannya menodong ke kepala dan mulutnya memperagakan suara peluru menembus kepala musuh.


Richard tertawa sambil menepuk pundak Arkan, "Sudah aku duga, kamu pasti bisa mengatasinya. Aku salut dengan keberanian dan kecekatan mu Kan!" ucap Richard.

__ADS_1


"Semua berkat ajaran putra Tuan, aku tidak akan bisa seperti sekarang kalau bukan karena didikan Bos Damar," ucap Arkan.


Richard senang, kemajuan Damar dan para anak buahnya sangat pesat. Dia yakin prestasi Damar bisa melebihi prestasinya dulu di dunia hitam dan di dunia bisnis.


__ADS_2