RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 31. MENYAMAR JADI DOKTER


__ADS_3

Nayla, Seyna dan Aira sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit, merekapun pamit kepada Bi Luna. Bi Luna segera memanggil Dewo untuk mengawal mereka.


Dewo telah meminta sopir untuk menyiapkan mobil, lalu dia sendiri menggunakan motor bersama beberapa temannya untuk memastikan keamanan Nayla dan yang lain.


"Ayo kita berangkat Wo," pinta Nayla.


"Silahkan Non."


"Pak sopir, hati-hati ya, aku akan mengikuti kalian dari belakang!" ucap Dewo.


Pak sopir pun mengangguk, lalu mereka pun berangkat menuju ke rumah sakit tempat Seyna akan menjalani kemoterapi.


Sementara, Carolina tersenyum saat menerima telepon yang memberitahukan bahwa istri baru Damar sudah meninggalkan mansion.


Saat ini merupakan kesempatan baik baginya untuk menjalankan rencana mumpung Damar sedang berada di luar negeri.


Carolina bergegas, melakukan penyamaran, dia akan menyatroni Nayla ke rumah sakit. Carolina akan memberi pelajaran kepada Nayla yang telah berani menikah dengan mantan suaminya.


Dengan mengenakan kacamata, hijab, masker dan pakaian dokter, Carolina berhasil menyelinap masuk di rumah sakit. Kini dia tinggal mencari posisi aman, untuk bisa mendekati Nayla.


"Bersiaplah kamu gadis gembel, jangan sok ingin menjelma menjadi Cinderella. Pangeran impianmu adalah milikku, tidak akan aku biarkan siapapun memilikinya."


Carolina dengan santai berjalan ke ruang rawat Seyna, karena dia berpakaian Dokter jadi membuat pengawal tidak merasa curiga.


Sementara Dewo masih mengurus administrasi untuk rawat inap dan biaya kemoterapi Seyna.


Nayla masih menguatkan sang adik, agar tenang dalam menjalani kemo nantinya. Sedangkan Aira masih menyusun pakaian Seyna ke dalam lemari pakaian yang tersedia di sana.


Saat Carolina akan mendekati Nayla dan Seyna, ponsel Nayla berdering. Dia tersenyum begitu mengetahui jika Damar meneleponnya.


"Siapa Kak!" tanya Seyna.


"Mas Damar Dek," jawab Nayla.


Nayla pun menerima panggilan, dia memberitahu Damar jika mereka sudah tiba di rumah sakit dan saat ini sedang menunggu ke datangan dokter untuk memeriksa kembali keadaan Seyna.


Carolina yang mendengar pembicaraan Damar dengan Nayla, segera mendekati Seyna.

__ADS_1


"Pagi Dek!" sapa Carolina tanpa membuka masker.


"Pagi Dok," ucap Seyna.


"Saya periksa kamu sebentar ya dan saya akan memberikan suntikan awal sebelum pemberian obat selanjutnya," ucap Carolina sambil meletakkan stetoskop ke telinganya dan ke dada Seyna.


Carolina melirik ke arah Nayla yang masih asyik menerima telepon dan melirik Aira yang masih sibuk dengan tugasnya. Lalu dia mengeluarkan jarum suntik yang sudah berisi cairan dan meminta Seyna untuk memiringkan tubuhnya.


Saat cairan yang ada di dalam jarum suntik sudah setengah masuk ke dalam tubuh Seyna, Nayla melihatnya, lalu mendekat.


"Obat apa itu Dok? Kenapa belum dipasang infus kok sudah di beri suntikan?" tanya Nayla.


Tangan Carolina sedikit bergetar hingga membuat jarum suntik tersebut terlepas dari tangannya. Namun dia harus tetap tenang menghadapi Nayla, lalu dia berkata, "Oh, itu obat pereda sakit sementara sambil menunggu perawat saya memasang infus."


"Anda dokter baru di sini ya! Soalnya Saya belum pernah melihat Anda bertugas selama adik Saya di rawat di sini," ucap Nayla.


"Oh iya Nona, Saya baru beberapa hari bertugas di sini."


"Pantaslah!" ucap Nayla.


"Takut Nayla semakin curiga, Carolina pun berkata, "Saya tinggal dulu ya, sebentar lagi perawat akan datang untuk memasang infus. Ada beberapa pasien lagi yang harus saya periksa."


Carolina buru-buru keluar ruangan, dia celingukan sebentar lalu pergi secepatnya dari tempat itu.


Aira yang sudah membereskan pekerjaannya pun bertanya, "Dokter sudah datang memeriksa, lantas kapan kemoterapinya dilakuka?"


"Dokter belum membicarakan hal itu, barangkali masih harus menunggu. Lagipula tadi dokter baru, jadi aku sedikit canggung untuk bertanya," ucap Nayla.


"Apa! Dokter baru Nay? Seharusnya yang nangani Seyna masih dokter yang lama, jika ada pergantian pasti beliau konfirmasi ke kita," ucap Aira.


Di saat Aira masih belum yakin akan pergantian dokter, pintu ruangan kembali terbuka dan saat ini yang datang adalah dokter yang biasa menangani Seyna bersama dua orang perawat.


Nayla dan Aira terkejut, "Lho Dok! Anda masih menangani Seyna?" tanya Nayla.


"Tentu saja, Seyna pasien saya. Jika ada pergantian Dokter, pasti saya infokan terlebih dulu."


"Tadi ada dokter wanita yang sudah memberikan suntikan kepada adik Saya Dok! Katanya dia pengganti Dokter," ucap Nayla.

__ADS_1


"Apa! Saya tidak meminta Dokter manapun untuk memberikan suntikan. Coba saya periksa sebentar."


Aira yang melihat jarum suntik tergeletak di lantai, lalu mengambilnya dan berkata, "Ini Dok! Jarum ini barangkali yang tadi digunakan oleh Dokter itu untuk menyuntikkan obat kepada Seyna.


"Iya benar Dok, tadi Dokter itu sedikit gugup saat Saya tegur dan akhirnya jarum itu jatuh."


"Aneh, saya jadi curiga," ucap Dokter sembari membolak-balik jarum suntik itu.


"Saya akan bawa jarum ini ke laboratorium untuk di periksa, cairan apa yang ada di dalamnya."


"Suster, tolong jaga pasien selama Saya pergi ke laboratorium. Laporkan via telepon jika ada perubahan pada diri Dek Seyna. Mudah-mudahan saja ini bukan cairan berbahaya, tapi untuk lebih memastikannya Saya akan memeriksanya sendiri di laboratorium."


"Baik Dok!"


Nayla dan Aira menjadi khawatir mendengar perkataan dokter, berarti yang tadi masuk adalah dokter palsu yang mungkin berniat mencelakakan Seyna.


"Dek, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Nayla.


"Nggak kok Kak, aku tidak merasakan perubahan apapun. Masih sama yang aku rasakan seperti saat kita baru sampai."


"Kakak tinggal sebentar ya. Ai, tolong jaga Seyna ya, aku akan menemui Dewo."


"Oke Nay, pergilah!"


Nayla pun pergi menemui Dewo yang baru saja kembali dari mengurus administrasi untuk perawatan Seyna.


"Ada apa Non, Anda mencari saya?"


"Sepertinya ada penyusup masuk Wo, dia menyamar sebagai Dokter gadungan."


"Masa sih Non? sebentar aku tanya pengawal lain.


"Hai kalian! Kenapa ceroboh membiarkan orang asing menyelinap masuk ke sini!" ucap Dewo.


"Cuma Dokter yang masuk ke dalam ruangan ini kok Bos, mana mungkin aku melarangnya yang ingin memeriksa pasien," jawab salah satu pengawal.


"Kalian bodoh sampai bisa kecolongan, jika terjadi sesuatu dengan nona muda, nyawa kalian taruhannya!" ancam Dewo.

__ADS_1


Dewo gusar, ini tugas utamanya melindungi Nayla dan adiknya, jika saja dia gagal maka Dewo tidak akan memiliki muka lagi untuk menghadap Damar. Dia mungkin akan menerima hukuman sepadan dengan kelalaiannya.


__ADS_2