
Di mansion Damar, Bi Luna dan pelayanan lain di kejutkan oleh kedatangan Carolina. Carolina memaksa penjaga gerbang agar mengizinkannya masuk, karena dia mengancam akan mengadukan penjaga tersebut kepada Damar, jika mereka melarangnya.
Penjaga yang baru saja bekerja, dan belum tahu apa-apa tentang Carolina pun akhirnya mengizinkannya masuk daripada mereka kena imbas buruk nantinya.
Carolina dengan sombongnya berkeliling mansion sambil bermonolog, "Seharusnya aku yang tinggal di sini bukan gadis miskin itu. Aku akan merayu Damar lagi agar mau kembali, aku yakin dia menikahi perempuan itu bukan karena cinta tapi untuk membalasku."
Bi Luna mengucek-ucek matanya, dia heran kenapa melihat mantan Nyonyanya berkeliaran di dalam mansion, lalu Bi Luna bergegas mengejar Carolina yang sudah berjalan menjauh ke arah taman.
"Tunggu!" teriak Bi Luna.
Carolina menoleh, lalu dia berkata, "Selamat pagi Bi Luna, bagaimana kabarmu, aku dengar kamu menjadi pelayan kepercayaan Damar. Oh ya Bi, kapan Tuanmu akan kembali, aku ingin menawarkan kesepakatan. Pasti akan sangat menguntungkan bagi Tuanmu dan sebagai balasannya, aku hanya ingin tinggal di sini dan kembali seperti dulu. Bibi pasti akan aku istimewakan jika aku bisa kembali menjadi nyonya Damar," ucap Carolina dengan sangat percaya diri.
"Maaf Nyonya, Anda jangan bermimpi, Tuan sudah memiliki istri yang beliau cintai dan saya yakin Tuan pasti akan segera di karunia anak dari pernikahannya ini."
"Hahaha, punya anak! Nggak bakalan Bi, apa Bibi tidak tahu, alasan keluargaku memintaku meninggalkan Damar? Karena dia tidak mungkin bisa memberikan anak!"
"Jadi, kenapa Nyonya malah ingin kembali?"
"Karena aku masih mencintai dia dan aku yakin dia juga masih mencintaiku. Mana mungkin dia mencintai gadis udik itu yang jelas-jelas tidak ada istimewanya dan hanya menyusahkannya saja."
"Jangan begitu percaya diri Nyonya. Walaupun Non Nayla dari udik dan gayanya tidak se glamor Nyonya, tapi aku yakin, dia bisa mendapatkan hati Tuan," ucap Bi Luna yang mulai neg dengan kesombongan Carolina.
"Kita lihat saja nanti, Tuanmu pasti akan jatuh ke dalam pelukanku lagi. Jadi bekerjasama lah denganku Bi, jangan sampai Bibi menyesal nanti. Aku tidak akan segan-segan menendang orang yang terang-terangan menentang ku!"
"Bety, Tisya, cepat kalian kesini!" ucap Bi Luna yang melihat kedua pembantu itu melintas di sana. Mereka ingin mencuri dengar apa yang bi Luna bicarakan dengan tamu yang mereka ketahui manta istri Damar.
Bety dan Tisya pun mendekat, lalu menghampiri Bi Luna sambil tertunduk dan bertanya, "Ada apa Bi! Pekerjaan kami sudah selesai, apa ada yang masih harus kami kerjakan?" tanya Bety.
"Masih ada. Kalian berdua! tolong antar Nyonya Carolina keluar dan bilang ke penjaga, lain kali jangan membiarkan orang asing masuk ke sini jika masih ingin tetap bekerja!" ucap Bi Luna sembari pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Pembantu saja sombong! Awas kamu Luna! Jika aku nanti bisa mendapatkan Damar lagi, orang pertama yang akan aku tendang keluar adalah kamu!" monolog Carolina.
"Maaf Nyonya, ayo silahkan keluar dari sini, sebelum penjaga mengusir Anda!" ucap Tisya sembari memegang dan menarik tangan Carolina.
"Lepaskan! Sembarangan kamu pegang saya, kamu tahu siapa saya!"
"Tahu Nyonya! Anda mantan istri Tuan!" jawab Tisya.
"Asal kalian tahu, sebentar lagi aku pasti akan menjadi Nyonya Damar lagi, jadi jangan sembarangan kalian mengusirku jika tidak ingin menanggung akibatnya nanti! Bekerjasama lah denganku jika kalian nantinya masih menginginkan kenyamanan bekerja di sini!"
"Maaf Nyonya, kami juga tidak suka dengan nyonya yang baru, masa kami harus menghormati orang yang statusnya sama dengan kami, gembel sok jadi Nyonya besar. Jadi bagaimana jika kita bekerjasama saja, tapi dengan syarat, jika berhasil, Nyonya akan memberi kami kenyamanan. Kami nggak mau jadi pelayan terus seumur hidup," ucap Bety.
"Nah ini baru benar, Saya suka dengan ide kamu. Jangan seperti pembantu tua itu. Sekarang kalian simpan ini, jika ada info penting cepat kalian kabari Saya dan nanti saya akan infokan apa yang harus kalian lakukan. Kita harus bisa menyingkirkan gembel itu secepatnya!" ucap Carolina sambil mengulurkan kartu nama yang baru dia keluarkan dari dalam dompetnya.
"Baik Nyonya, sekarang pergilah dulu Nyonya, kami tidak mau Bi Luna marah," ucap Bety.
"Oke Saya pergi, tapi ingat! Simpan baik-baik kartu nama Saya jangan sampai ada yang tahu jika kita bekerjasama, terutama Damar dan perempuan tua itu!"
Carolina pun pergi dari tempat itu, tapi masih dua langkah, diapun berbalik, "Kirim alat rumah sakit tempat adik si gembel itu dirawat, secepatnya ya!"
Bety pun mengacungkan jempolnya, lalu buru-buru menyimpan kartu nama Carolina di balik bajunya.
Tisya yang masih takut, menyenggol lengan Bety setelah melihat Carolina pergi.
"Kamu yakin Bet, mau bekerjasama dengan wanita itu? Ingat Bet! Tuan Damar bisa menyingkirkan kita dari dunia ini kapanpun dia mau jika sampai kita ketahuan bekerjasama dengan pihak luar, apalagi itu mantan istri Tuan, yang sangat Tuan benci."
"Kamu tenang saja, sekarang diam! Nanti malah ada yang curiga dengan obrolan kita," ucap Bety.
"Ayo kita balik ke dapur, sebelum Bi Luna mencari kita, tapi simpan dulu kartu nama itu Bet, jangan sampai hilang dan ketahuan dengan yang lain," ucap Tisya sembari celingukan.
__ADS_1
Bety dengan santai menyimpan kartu nama tersebut ke dalam kantongnya, lalu diapun mengikuti Tisya menuju dapur.
Bi Luna yang melihat kedatangan Bety dan Luna lalu bertanya, "Apa dia sudah pergi?"
"Sudah Bi, jangan khawatir. Kami sudah tangani semuanya, "Ucap Bety.
"Baguslah, sekarang kalian bantu mereka memasak karena Nyonya dan adiknya akan pulang sore ini. Jangan lupa, buatkan jus kesukaan Nyonya, itu perintah dari Tuan, agar memberi Nyonya jus setiap hari."
"Baik Bi," ucap Tisya dan Bety bukannya menjawab, malah mencebikkan bibir.
Bi Luna meninggalkan dapur, lalu Tisya menyikut lengan Bety yang masih memanyunkan mulutnya.
"Ayo Bet, kita kerjakan tugas kita dulu, sebelum Bi Luna kembali dan marah. Tapi, apa kita harus memberitahu jika mereka sudah akan pulang, bukankah tadi Nyonya seksi meminta alamat rumah sakit?"
"Nanti saja lah, kita kerjakan tugas dari Bi Luna dulu," jawab Bety.
Keduanya pun segera membantu temannya menyiapkan menu masakan sesuai yang diperintahkan oleh Bi Luna.
Sementara, Bi Luna sendiri menghubungi Tuannya, beliau ingin memberi kabar jika Nayla dan Seyna sore ini akan pulang dari rumah sakit.
Damar senang mendengar kabar tersebut dan dia memerintahkan Bi Luna untuk memperhatikan perawatan Seyna selama di rumah.
Selamat malam sahabat semua, mampir juga yuk ke karya sahabatku dan jangan lupa ya beri dukungan kalian ke karya kami, terimakasih 🙏😘
__ADS_1
