RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 59. MEMBERITAHU DAMAR


__ADS_3

"Apa! Kalian jangan main-main, siapa yang mengizinkan kalian membawa Papa pulang, hah!" bentak Damar kepada pengawal yang meneleponnya.


"Ma-Ma'af Bos! Kami terpaksa, Tuan besar yang meminta. Bahkan, Tuan Arkan saja tidak berani membantah, apalagi kami Bos."


"Jadi, bagaimana sekarang keadaan mereka, apa mereka berdua sadar?" tanya Damar.


"Sadar Bos, cuma keadaannya lumayan parah. Tuan besar mengalami cidera lagi di kakinya. Padahal, sebelumnya kami sempat senang melihat perkembangan kesehatan Tuan yang sudah bisa berdiri dan melangkah perlahan."


"Papa memang keras kepala! Jika sudah bilang A, tidak ada yang bisa mengubahnya jadi B."


"Sekarang, perketat penjagaan dan rekrut pengawal lagi, aku tidak mau sampai musuh kita memanfaatkan kondisi mereka yang sedang terluka!" perintah Damar.


"Siap Bos! Kami akan segera melaksanakan perintah!"


"Satu hal lagi, aku akan segera berangkat kesana, jadi tolong atur penerbangan ku dan tidak usah kalian beritahu mereka. Jika sampai Papa tahu, kalian bakal kena imbas kemarahannya. Kalian tahu 'kan bagaimana jika Papa sudah berkeinginan!" ucap Damar.


"Iya Bos, kami juga takut. Kami mohon kebijakan Bos, agar menutup hal ini dari Tuan besar."


"Baiklah! Aku akan mengajak istriku, jadi bisa beralasan untuk membawanya jalan-jalan. Lagipula, Papa pasti senang, jika melihat Nayla datang!" ucap Damar.


"Syukurlah Bos, kami tutup dulu ya Bos. Kami akan segera atur penerbangan, jika Bos ingin menggunakan pesawat pribadi, nanti teman kami yang akan datang menjemput Bos dan mengantar ke bandara."


"Iya, sekarang kita harus terus waspada, musuh bisa kapan saja datang dan mencelakai kita."


"Makanya akan lebih aman jika menggunakan pesawat pribadi saja Bos, apalagi Nyonya ikut, sangat rentan bahaya."


"Iya, kamu benar. Ya sudah kalian aturlah!"


Damar mendesah, lalu dia turun untuk menemui Nayla yang sedang mengajak Seyna jalan-jalan di taman mansion dengan menggunakan kursi roda.


Kondisi Seyna memang makin lemah, tapi Nayla terus memberinya semangat. Kemoterapi kedua beberapa hari lagi akan segera dilakukan, jadi Seyna harus terus menjaga kestabilan kesehatannya.


Damar menanyakan kepada Bi Luna, apa Nayla dan Seyna masih berada di taman atau sudah kembali ke kamar Seyna dan Bi Luna pun memberitahu jika Nyonyanya masih berada di taman.


Damar menyusul ke taman dan benar dia melihat Kakak beradik itu sedang ngaso di bangku yang ada di sana.


Seyna menyenggol Nayla, dia memberitahu jika Damar datang. Nayla pun menoleh lalu dia tersenyum menyambut kedatangan suaminya.


"Kalian sudah selesai jalan-jalannya? Bagaimana keadaan kamu Dek?" tanya Damar.

__ADS_1


"Alhamdulillah Kak, hari ini agak mendingan," jawab Seyna.


"Kapan jadwal kemo ke-2 Seyna Nay?"


"Minggu depan Mas," jawab Nayla.


"Memangnya kenapa Mas?" tanya Nayla yang penasaran. Dia merasa ada sesuatu yang ingin suaminya sampaikan.


"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan, tapi aku ingin tahu kondisi Seyna dulu."


"Memangnya ada apa Kak?" tanya Seyna.


"Papa dan Arkan sedang di rawat, mereka terluka parah Nay?"


"Kenapa bisa terluka Mas?"


"Papa dan Arkan hendak pulang ke sini, lalu mereka di serang dalam perjalanan menuju bandara dan pesawat yang mereka tumpangi di bajak. Si pembajak sengaja sengaja melakukan itu karena ingin menculik Papa Nay," jawab Damar.


"Memangnya Papa sudah sembuh Mas? Kok bisa melakukan perjalanan pulang kesini?" tanya Nayla.


"Sebenarnya belum sembuh total sih, tapi sudah banyak kemajuan. Papa memaksa Arkan dan pengawal lain untuk membawanya pulang dan mereka di ancam agar jangan memberitahu kita. Katanya ingin membuat kejutan," ucap Damar.


"Iya kamu benar, seandainya papa telepon aku dulu, pasti aku akan jemput beliau," sesal Damar.


"Jadi Kak Damar dan Kak Nay kapan mau berangkat?" tanya Seyna.


"Kamu bagaimana Dek?" tanya Damar.


"Kak, aku nggak apa-apa, 'kan masih ada Kak Aira dan Bi Luna yang bisa menjaga dan menemaniku," ucap Seyna.


'Tapi Dek...," Nayla menghentikan ucapannya karena Seyna menggenggam tangannya.


Kemudian, Seyna pun berkata, "Kak Nay tenang saja, aku kuat Kak, jadi Kak Nay harus berangkat temani Kak Damar. Bukankah Papa Kak Damar ingin kenal dengan Kak Nay? Barangkali beliau pulang juga salah satu alasannya karena ingin bertemu Kakak."


"Bagaimana Nay? Kamu mau ikut? Tapi kalau kamu ragu, ya di rumah saja temani Seyna," ucap Damar.


"Baiklah Kak, aku ikut. Kamu serius nggak apa-apa jika kakak tinggal?"


"Iya Kakak ku Sayang, sejak dulu Kakak selalu memikirkan aku, sekarang gantian, giliran Kakak harus memikirkan diri serta keluarga Kak Damar."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, kita berangkat sore ini. Pengawal akan menjemput dan mengantar kita ke bandara. Pesawat dan pilot pribadi kita sudah menunggu di sana."


"Oh, kalau begitu ayo kita masuk Dek, Kak Nay mau bersiap mengemas pakaian," ajak Nayla.


"Biar aku minta Aira saja Nay untuk berkemas, kamu temani Seyna dulu di sini!" ucap Damar.


"Nggak usah Kak, aku juga ingin istirahat," ucap Seyna.


"Oh, kalau begitu ayo kita masuk. Biar aku saja yang mendorong kursi roda Seyna," pinta Damar.


"Ih, aku jadi nggak enak Kak," ucap Seyna.


"Kamu adikku, jadi wajar jika seorang Kakak membantu adiknya," ucap Damar.


"Terimakasih Kak, aku senang sekali mendapatkan kesempatan dalam hidupku menjadi adik Kak Damar. Memiliki Kak Nay saja aku sudah sangat beruntung, apalagi sekarang ada Kak Damar. Sempurna hidupku Kak," ucap Seyna.


"Kamu bisa saja Dek, Kakak juga beruntung bisa kenal dan menjadikan kalian dari bagian hidup Kakak. Kenapa tidak dari dulu kita di pertemukan," ucap Damar.


"Kalau dari dulu, aku masih kecil lho Mas," ucap Nayla sambil tertawa.


"Temenan dulu, baru pacaran dan menikah. Pasti lebih asyik," ucap Damar sambil mencolek hidung Nayla.


"Mas bisa saja," jawab Nayla malu.


"Beneran lho, Mas serius. Mungkin jika seperti itu jalan kita, Mas tidak akan mengalami luka akibat perlakuan Carolina."


"Tapi, jika Mas Damar tidak hancur, mana mungkin bisa bertemu Papa Richard," ucap Nayla lagi.


"Hehehe...iya, kamu benar Nay. Semua memang sudah di atur dan digariskan oleh Allah. Mungkin dengan jalan ini akan membuatku kuat menghadapi kejamnya hidup," ucap Damar.


Betty dan Tisya yang melihat keakraban tersebut merasa iri. Keduanya mencebikkan bibir saat Damar, Nayla dan Seyna telah masuk ke dalam rumah.


Keduanya langsung bergegas ke kamar untuk memberitahu Carolina.


Setelah mengantarkan Seyna ke dalam kamar, Damar pun meminta Aira untuk membantu Nayla berkemas.


Nayla di minta Damar untuk membawa barang penting dan beberapa helai pakaian saja.


Karena, jika memang memungkinkan, mereka akan kembali secepatnya ke tanah air, agar Nayla bisa menemani Seyna saat menjalani kemoterapi tahap ke-2.

__ADS_1


Damar tidak tega membiarkan adik iparnya itu berjuang melawan sakitnya tanpa sang kakak berada disisinya.


__ADS_2