
Damar dan Nayla membeli makanan untuk Arkan juga, karena mereka tahu Arkan tadi belum makan.
Setelah membayar pesanan, Damar mengajak Nayla kembali ke ruang rawat Seyna.
Sesampainya di sana, mereka melihat Seyna tertidur dan Arkan bersandar di samping tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
"Adikku tidur Bang?" tanya Nayla yang mengejutkan Arkan.
"Iya Nya, katanya mengantuk. Mungkin karena pengaruh obat yang dokter suntikkan tadi di dalam cairan infusnya."
"Kamu juga harus istirahat Kan, biar kami yang jaga sampai Aira datang," ucap Damar.
"Nggak apa-apa Bos, aku belum ngantuk, sebaiknya Bos dan Nyonya yang istirahat."
"Sebaiknya Abang makan ini dulu, nanti Abang sakit dan tidak bisa membantu kami menjaga Seyna," ucap Nayla.
"Baiklah Nya."
Arkan menerima sebungkus makanan dari Nayla, lalu dia bergegas keluar untuk menikmati makanan tersebut sambil menikmati udara di luar kamar.
Nayla memperhatikan sang adik yang tidur dengan lelap, lalu dia membenahi selimut dan duduk di dekat Seyna.
"Kamu nggak ngantuk Sayang?" tanya Damar.
"Nggak Mas, jika Mas lelah, rebahan lah sebentar di sofa itu. Nanti, jika Aira sampai baru gantian kita pulang untuk istirahat."
"Mas nggak lelah kok! Oh ya, Mas mau telepon Papa, apa Papa sudah meminum obatnya atau belum. Payah jika tidak di ingatkan beliau seringkali lalai."
"Iya Mas."
Damar pun sedikit menjauh karena dia tidak ingin membuat Seyna terbangun.
Saat ponselnya tersambung, Damar pun menanyai Sang Papa, apakah beliau sudah meminum obatnya atau belum.
Richard belum meminum obatnya, dia asyik mengajak pengawal untuk main catur agar tidak jenuh tinggal di rumah.
Damar segera meminta Bi Luna untuk mengambilkan obat, lalu memastikan jika sang papa sudah meminum obatnya.
Saat Bi Luna mengatakan jika Richard sudah meminum obatnya, barulah Damar merasa tenang dan mematikan panggilannya.
"Bagaimana keadaan Papa Mas?" tanya Nayla.
"Biasalah Nay, minum obat pun musti di ingatkan. Beliau saat ini sedang bermain catur dengan para pengawal."
"Kapan papa kontrol ke dokter Mas?"
"Lusa, kamu juga 'kan? Kita akan mengantar Papa dulu, baru ke dokter kandungan. Papa bisa kembali bersama Dewo karena kita akan membawa mobil sendiri."
"Sesekali sudah mulai ada pergerakan dari bayi kita Mas, mudah-mudahan saja dia selalu sehat."
"Benarkah Sayang, coba Papa lihat, apa dia akan bergerak untuk menyapa papanya," ucap Damar sembari tersenyum dan menyentuh perut sang istri.
"Belum kentara Sayang, masih pergerakan kecil, nanti saat usia kandungan memasuki tujuh bulan barulah sering terasa dia bergerak."
"Oh gitu ya Sayang, nggak apa-apa deh merasakan gerakan mamanya saja," ucap Damar menggoda sang istri.
Nayla tersenyum dan dia merasa geli saat Damar mencium perutnya yang sudah mulai menonjol.
__ADS_1
Saat itu Arkan pun masuk hingga membuat Nayla merasa malu dan buru-buru mendorong tubuh suaminya perlahan.
"Eh, kenapa Mama kamu malah mendorong Papa Nak? Papa 'kan pingin merasakan pergerakan kamu."
"Malu Mas, itu ada Arkan."
"Memangnya kenapa, biarin saja. Besok dia juga pasti melakukan hal yang sama jika istrinya kelak hamil."
"Calonnya saja belum kasi jawaban Bos!" sahut Arkan yang sudah berdiri di belakang Damar.
"Sabar 'kan, nanti kami akan bantu supaya Seyna segera menerima lamaran mu. Iya 'kan Sayang?"
"Inshaallah Bang, nanti akan aku usahakan agar adikku segera memberi keputusan," sahut Nayla.
"Terimakasih atas dukungan kalian Bos."
"Oh ya Kan, Aira jadi kesini 'kan?"
"Nah itu dia Mas!" ucap Nayla sembari menunjuk ke arah pintu.
"Oh syukurlah, dia sudah sampai."
"Selamat sore, Tuan, Nyonya! Maaf kami telat," ucap Dewo sembari mengacungkan satu plastik buah kepada Nayla.
"Bagaimana keadaan Nona Seyna Tuan?" tanya Dewo.
"Suruh banyak istirahat Wo," karena terlalu lemah."
"Mudah-mudahan saja Nona cepat pulih ya Bos."
"Tuan dan Nyonya jika lelah dan ingin pulang, silahkan. Biar kami yang jaga Nona," ucap Dewo.
"Iya sebentar lagi Wo, tunggu Seyna bangun agar kami bisa pamit dulu dengan dia."
"Kak Arkan ini aku bawakan makanan, Kakak mau makan?" tanya Aira.
"Baru selesai makan Ai, tadi Tuan yang belikan di kantin."
"Oh, ya sudah kalau begitu Kak. Untuk kita makan malam saja ya," ucap Aira lagi.
"Kak Ai sudah datang?" terdengar suara Seyna hingga mereka semua menoleh.
"Eh, maaf Non! Gara-gara suara Saya Non Seyna jadi terbangun."
"Nggak kok Kak, rasanya sudah lebih enakan setelah tidur."
"Syukurlah Dek, Kak Nay senang kamu sudah mulai pulih."
"Kak Nay sebaiknya pulang. Kasihan dedek bayi pasti butuh istirahat."
"Iya Dek, nunggu kamu bangun biar bisa pamit. Kak Nay pulang dulu ya, besok pagi kami datang lagi jenguk Kamu Dek."
"Kak Damar pamit juga ya Dek, kamu harus banyak istirahat."
"Iya Kak, hati-hati ya Kak."
Damar dan Nayla pun pamit kepada Arkan dan Aira, sementara Dewo ikut pulang mengiringi mobil Damar.
__ADS_1
Di perjalanan, tiba-tiba mobil Damar kempes dan mereka pun turun untuk memeriksa. Dewo beserta dia orang pengawal ikut turun dari mobil mereka.
"Sepertinya kena paku Bos, sebentar kami ganti dulu dengan ban serep. Bos dan Nyonya silahkan duduk di dalam mobil kami saja."
"Terimakasih Wo, tapi sepertinya kami mau mampir ke sana dulu!" tunjuk Damar ke sebuah minimarket yang ada di seberang jalan.
"Oh silakan Tuan. Kalian, tolong antar Tuan, biar aku ganti ban dulu!" ucap Dewo kepada kedua temannya itu.
"Mari Tuan!"
Keduanya segera bergegas mengawal Damar dan Nayla pergi ke minimarket yang di tunjuk oleh Damar tadi.
Mereka tidak mau ambil resiko jika sampai majikan celaka. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, banyak musuh berkeliaran di mana-mana.
"Ambillah minum dan makanan untuk kalian, jangan lupa ambilkan juga untuk Dewo. Kami akan ke bagian buah dan sayuran," pinta Damar.
"Baik Bos!"
"Ayo Nay," ajak Damar.
Setelah sampai di stand buah, Damar pun mengambil troli, dia meminta Nayla untuk memilih buah yang diinginkan, sementara dirinya mendorong troli mengikuti kemanapun Nayla berjalan.
Setelah itu mereka ke bagian sayuran dan tidak lupa membeli susu ibu hamil.
Saat Damar menunggu antrian di kasir, lengannya di senggol seseorang.
"Eh, maaf. Kamu Damar bukan?" tanya seorang wanita yang terlihat seksi dan modis.
"Maaf ya, Mbak siapa kok kenal Saya?"
"Siapa yang tidak kenal dengan pengusaha sukses dan tampan seperti Anda. Lagipula, bukankah Anda mantan suami Carolina?"
"Hemm," jawab Damar hanya dengan berdehem.
"Ini pasti istri baru Anda, sepertinya sedang hamil? Kenapa Carolina bilang Anda mandul kalau nyatanya Mbak ini bisa hamil, atau jangan-jangan itu bukan bayi Anda!"
Mendengar hal itu, Damar dan Nayla kesal.
"Jaga mulut Anda! tidak sepantasnya Anda mengurusi rumah tangga kami. Sekalipun ini bukan anak Saya, Anda tidak berhak berkata demikian.
Tapi sayangnya, calon baby ini memang hasil buah cinta kami. Iya kan Sayang?"
Nayla hanya menyunggingkan senyum, meski dia tahu Damar kesal tapi Nayla bersyukur, Damar bisa menanggapi ucapan wanita itu dengan sabar.
Watak dan perangai Damar sebagai Bos Mafia yang keras akibat dari pahitnya hidup dan didikan dari Richard akhirnya bisa di kontrolnya.
Damar ingin membahagiakan sang istri dengan menuruti nasehat yang seringkali di ucapkan oleh Nayla sebelum mereka tidur.
Sabar dalam menyikapi masalah dan jangan mudah terpancing emosi, itulah perkataan yang sering diucapkan dan di minta oleh Nayla.
Merasa puas dengan sikap Damar, Nayla pun tidak mau berlama-lama di hadapan wanita itu yang kapan saja bisa menyulut kembali emosi Damar. Lalu Nayla pun berkata,
"Maaf Nona, kami duluan ya!" ucap Nayla sambil menggandeng lengan Damar, bersiap meninggalkan minimarket tersebut."
Sepeninggal Damar dan Nayla, wanita tersebut segera menghubungi Carolina, tapi sayang ponsel Carolina tidak aktif.
Dengan kesal karena tidak jadi bergosip via telepon, wanita itupun pergi meninggalkan tempat tersebut dan berniat hendak ke rumah Carolina.
__ADS_1