RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 49. HANYA MILIK DAMAR


__ADS_3

"Kamu pandai berenang?" tanya Damar kepada Nayla.


"Tidak Mas! Padahal rumah kami di pinggiran sungai, tapi ibu dan ayah selalu melarang jika kami ingin belajar berenang. Takut jika kami tenggelam," jawab Nayla.


"Mau aku ajari? Sekalian aku melemaskan otot, biasanya setiap pulang, aku selalu menyempatkan diri untuk berenang."


"Malu Mas, bakal dilihatin pembantu, pengawal dan tukang kebun, apalagi aku tidak pernah memakai pakaian renang. Nggak ah, Mas Damar aja. Ayo, aku temani sambil udara segar di luar, jenuh juga di dalam kamar terus seharian," ucap Nayla.


"Kamu bosan dengan Saya?" tanya Damar sambil membulatkan mata.


"Bukan begitu maksudku Mas, masa iya bosan, ibu saja yang sudah menikah dengan Ayah puluhan tahun tidak pernah kami dengar berkata bosan. Nah, aku yang pernikahannya belum ada seumur jagung bilang bosan, keterlaluan 'kan! Maksudku akan lebih sehat jika kita menghirup udara luar, juga," ucap Nayla.


"Oh, jadi kamu mau kita bermesraan di luar? Soalnya aku masih ingin menghabiskan waktu bersamamu seperti ini," ucap Damar sembari memeluk Nayla dan mendaratkan ciuman di bibir sang istri.


"Ih, Mas mesum aja deh, masa iya kita bermesraan di luar, pakai baju berenang saja aku malu, apalagi bermesraan dilihat orang-orang."


"Siapa bilang dilihat orang, yang boleh menikmati keindahan ini, cuma aku. Ingat Nay! Keindahan mu hanya milikku!" ucap Damar sembari menikmati candunya.


"Sebentar, aku minta Aira untuk menyiapkan pakaian renang kita."


"Tapi Mas!"


"Percaya sama aku, cuma aku yang bakal menikmati keindahanmu di sana, mereka mana berani. Awas saja, jika mereka sampai berani, nggak bakalan bisa menikmati indahnya dunia lagi."


Damar kemudian menelepon Aira, dia meminta Aira untuk menyiapkan pakaian renang untuknya dan juga Nayla.


Tidak lama menunggu, Aira pun datang dengan membawa pakaian yang diminta oleh Damar.


Sebelum Aira pergi, Damar berkata, "Ai, kamu boleh ajak Seyna jalan-jalan, jika dia bosan di kamar. Minta Dewo dan pengawal lain untuk menemani kalian!" perintah Damar.


"Baik Tuan!" ucap Aira.

__ADS_1


"Maaf ya Ai, jadi merepotkan kamu, harus menemani Seyna seharian," ucap Nayla yang merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa Nya, ini memang tugas Saya. Lagipula Seyna gadis yang menyenangkan di ajak ngobrol. Saya permisi Tuan, Nyonya," ucap Aira.


Jika di depan Damar, Aira tidak mau sembarangan memanggil Nayla, rasanya tidak pantas saja di depan Tuannya hanya memanggil nama, meski Nayla yang pasti tidak merasa keberatan.


"Ayo kenakan pakaianmu Nay, aku juga akan mengganti pakaian," ucap Damar.


"Tapi Mas, bagaimana kita mau berjalan ke kolam renang, pasti melewati para pelayan, nggak ah Mas, nanti ganti pakaian di bawah saja," tolak Nayla.


"Kamu masih tidak percaya dengan ku? Pakailah! atau aku yang akan memakaikannya," ucap Damar sembari menggendong Nayla ke kamar mandi.


"Iya Mas, turunkan! Aku akan memakainya sendiri," ucap Nayla malu.


Damar pun memberi kesempatan kepada Nayla untuk mengganti pakaiannya. Nayla keluar dari kamar mandi dengan malu-malu sambil menutupi bagian depannya. Seumur-umur Nayla belum pernah berpenampilan seperti itu di depan siapapun, apalagi di depan laki-laki.


Damar tersenyum, lalu dia berkata, "Kenapa musti malu, aku sudah melihat semuanya dan aku senang, kamu menjaganya untuk ku."


Kemudian Damar mengambil sebuah remote dari laci nakasnya, lalu dia mengarahkan ke tembok kamarnya, tiba-tiba tembok itu terbuka, ternyata di balik lukisan besar yang ada di kamar itu ada pintu rahasia.


Setelah itu, Damar memencet sebuah tombol pada remote dan kolam renang itu tiba-tiba di kelilingi oleh tembok, hanya atapnya saja yang terbuka.


Sekarang tidak ada satu orangpun yang bisa melihat mereka, di sana hanya ada Damar dan Nayla saja.


Nayla pun seperti bermimpi, melihat keunikan rumah Damar.


"Masih tidak percaya? Mana mungkin aku mempertontonkan kehormatan istriku kepada orang lain," ucap Damar sambil menggendong Nayla turun ke dalam kolam.


"Kita akan bermesraan di sini, mencari suasana baru. Kamu senang Nay?" tanya Damar.


Nayla mengangguk, lalu dia berkata lagi, "Apakah masih ada ruang rahasia di rumah ini yang belum aku ketahui Mas?"

__ADS_1


"Masih ada! Nanti satu persatu aku akan memberitahumu," ucap Damar.


"Musuh Papa dan musuhku banyak Nay, jadi jika mereka sampai menyerang kesini dan nasib buruk menimpa kita, kita masih bisa lolos dengan ruangan-ruangan rahasia yang sengaja Papa Richard bangun."


"Bahkan ada satu ruangan lagi yang bisa membawa kita sampai ke tepi sebuah pantai. Nanti, jika Papa sudah sembuh, aku akan membawamu bulan madu dengan kapal pesiar yang kita miliki, dan kapal itu sengaja kami simpan di tempat aman sebagai salah satu sarana untuk pergi dari tempat ini dengan cepat."


"Aku jadi penasaran Mas!"


"Nanti ada saatnya, kamu harus tahu semua rahasiaku, termasuk mengenalkanmu dengan Marissa kesayangan ku."


Wajah Nayla menjadi muram, dia sedih dan kecewa saat mendengar Damar memiliki seorang wanita kesayangan.


Nayla merasa harapannya terlalu tinggi, ingin menjadi satu-satunya kesayangan Damar dan ingin mendampinginya seumur hidup. Ternyata harapannya hanya semu, Damar memiliki wanita kesayangan yang lain.


Melihat Nayla murung dan sedih, Damar mengecup bibir sang istri, dia senang jika Nayla cemburu.


Namun, untuk saat ini Damar belum ingin menunjukkan Marissa kepada Nayla. Dia sengaja, ingin mengetahui perasaan Nayla dulu, sampai di mana Nayla menyayanginya.


Jika Damar yakin Nayla benar-benar mencintainya, baru Damar akan memberitahu semua rahasia yang dia simpan termasuk aset kekayaan yang Damar miliki.


"Ayo kita berenang, katanya ingin menyenangkanku, kita bisa melakukan banyak gaya di sini," ucap Damar sembari tersenyum dan memeluk Nayla erat dan tangannya mulai menyentuh bagian-bagian yang menjadi candunya.


"Malu Mas, tampak pasangan yang lagi terbang," ucap Nayla sembari menunjuk sepasang burung yang sedang melintas di atas pepohonan.


"Oh, ternyata istri kecilku masih malu juga juga, sebentar...," ucap Damar.


Damar mengambil remote kembali dan memencet tombol lain dan sebuah atap bergerak menutupi kolam renang tersebut dan lampu pun menyala dengan terang.


Sekarang mereka berada di dalam kolam renang tertutup. Lalu, Damar pun kembali mendekati Nayla sambil berbisik di telinganya, "Masih malu? Hanya kita berdua Sayang, kini saatnya kamu menyenangkanku dengan bermacam gaya."


Nayla mulai menggeliat dan mendesah saat Damar mulai bermain-main di area-area yang menjadi candu baginya.

__ADS_1


Para pelayan yang melihat kolam renang tertutup rapat, paham, jika saat ini kedua majikannya pasti sedang berenang sambil bermesraan di sana.


Betty dan Tisya, buru-buru menuju kamar, keduanya melapor kepada Carolina jika Damar sudah masuk ke dalam perangkap Nayla, hingga keduanya tidak keluar kamar sejak Damar pulang.


__ADS_2