
Detik-detik pernikahan Nayla semakin dekat, siap atau tidak, dia harus tetap menanggung konsekuensi atas perjanjian yang sudah ditandatangani.
Ruangan untuk akad nikah sudah di dekor, aneka makanan dan minuman juga sudah di antar oleh pihak catering, para tamu undangan juga sudah hadir, kini tinggal menunggu pengantin wanita selesai di rias.
Damar beserta pengawal pribadinya sudah duduk bergabung dengan para tamu dan penghulu pernikahan juga sudah hadir.
Dewo terlihat duduk bersama pengawal yang lain di pintu masuk mansion Damar. Walaupun acara tidak di gelar mewah, tapi dia turut senang, temannya bisa masuk di kehidupan kalangan atas.
Sebenarnya Dewo ingin bertemu dan berbincang dengan Nayla tapi untuk saat ini, pastinya tidak mungkin.
Nayla sudah selesai di rias, lalu dengan di dampingi oleh Seyna dan Aira, diapun menuruni anak tangga. Para undangan pun terpana melihat kecantikan Nayla.
"Sempurna," ucap fotografer sembari memainkan kameranya.
Walaupun Nayla dari kalangan bawah tapi hari ini dia tidak kalah elegan dari wanita-wanita kalangan atas.
Pendidikan tatakrama dalam pergaulan yang Nayla dapatkan selama tinggal di rumah Damar saat ini mulai terlihat, Nayla berjalan bak foto model di atas catwalk dan dia bisa bersikap lembut serta manis di hadapan para tamu.
Nayla, seorang kuli panggul di pasar kini telah berubah bak putri Cinderella.
Damar berdiri,menyambut pengantinnya, lalu dia mengulurkan lengan sembari tersenyum menatap Nayla.
Nayla tahu maksud Damar, diapun menggandeng lengan calon suaminya itu dan mengikutinya duduk di hadapan penghulu pernikahan.
Saat ijab kabul akan di mulai, ponsel Damar berdering, ternyata panggilan dari Arkan. Arkan memang sengaja bertugas di luar untuk berjaga-jaga apabila muncul hal yang tidak di inginkan.
"Aku angkat telepon sebentar!"
Damar beranjak dari tempat duduknya lalu dia berjalan ke dekat anak tangga sembari menerima panggilan dari Arkan.
"Hallo Kan? Ada apa kamu menelepon, acara akad akan segera di mulai," ucap Damar.
"Bos ada masalah di luar, Nona Carolina memaksa masuk, dia membawa 3 orang pengawal, Aku sudah berusaha menghalanginya tapi tetap memaksa, apa perlu aku gunakan kekerasan Bos!" ucap Arkan.
"Biarkan dia masuk! Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan, tapi tetap awasi jangan sampai dia membuat keributan yang bisa menggagalkan pernikahan kami," perintah Damar.
__ADS_1
"Baik Bos!"
Arkan pun menutup panggilannya, lalu dia menelepon Dewo, "Biarkan mereka masuk Wo! Awasi terus pintu masuk, jangan sampai ada yang menyusup masuk tanpa membawa surat undangan.
Mengenai mantan istri Tuan dan pengawalnya, biar aku urus di sini. Hal ini memang permintaan Tuan, agar dia menyaksikan, bahwa Tuan sudah bangkit dan dia pasti menyesal telah memilih pergi dengan selingkuhannya.
"Baik Sobat, Aku akan laksanakan perintah."
Dewo segera menghampiri Carolina dan berkata, "Anda dipersilakan masuk Nyonya! dengan syarat, anggota Anda harus meniggalkan senjata mereka dulu di sini! Kami harap jangan melakukan keributan, jika tidak ingin di usir!"
Ketiga pengawal Carolina tersinggung, mereka dengan sigap mengangkat senjata.
"Oh, kalian pikir bisa dengan mudah masuk ke dalam sana, jika tanpa izin Bos kami? Lihat dengan mata kalian!" ucap Dewo sembari menunjuk ke segala arah di setiap sudut atas gerbang masuk.
Semua pengawal siap siaga dengan senjata laras panjang, hanya tinggal kode dari Dewo, semua siap melepaskan peluru ke arah yang Dewo tunjuk.
Carolina baru sadar jika penjagaan mansion mantan suaminya itu begitu ketat, percuma juga melawan, mereka tidak akan bisa menang, bahkan yang ada terbunuh di tempat.
Dengan sekali jentikan jemari tangannya, pengawal Carolina langsung menyerahkan senjata mereka kepada Dewo.
Di setiap sisi mansion juga di jaga ketat, dalam hatinya Carolina berkata, "Wow, aku tidak pernah menduga kamu bisa bangkit begitu cepat Damar. Seharusnya aku bersabar, pasti sekarang akulah Nyonya di dalam sana."
"Silahkan Nyonya, itu acaranya di sana!" ucap salah satu pengawal Damar.
Semua pandangan tertuju kepada Carolina, wanita seksi, cantik, dengan pakaian setengah terbuka di bagian dada dan punggung serta belahan samping kanan kiri setinggi paha yang tentunya menampilkan kulitnya yang putih mulus.
Para lelaki hidung belang pasti akan langsung menelan saliva jika melihat pemandangan seperti itu.
Nayla dan Seyna saja sampai terpesona melihat Carolina, mereka belum tahu jika wanita itu adalah mantan istri Damar.
Carolina mendekati Damar, lalu mengulurkan tangan sembari berkata, "Selamat Damar, ternyata begitu cepat kamu melupakan aku!"
Damar tidak membalas uluran tangan Carolina, dia hanya menatap dingin dan sudah tidak sabar ingin segera membalas perlakuan mantan istrinya itu.
"Kenapa kamu datang sendiri, takut ya selingkuhan mu itu berhadapan denganku!" ucap Damar.
__ADS_1
"Kamu salah paham Sayang, dia bukan selingkuhanku, kami tidak memiliki hubungan apapun. Hanya kamu yang tetap ada di hatiku sampai sekarang. Kamu saja yang mengabaikan aku, padahal kita masih saling cinta bukan? Kenapa kamu begitu cepat berpaling Sayang?" tanya Carolina sembari tersenyum dan memegang bahu Damar tanpa malu.
Damar menepis tangan Carolina, lalu dia berkata, "Silahkan duduk jika masih mau menjadi tamu kami, jika tidak silahkan keluar karena acara akan segera kami mulai!" ucap Damar sembari mengulurkan lengan agar Nayla menggandengnya.
Nayla tahu apa yang harus dia lakukan, kemudian dia berkata, "Maaf Kakak, silahkan duduk! Tolong jangan ganggu calon suami dan acara pernikahanku!"
Ucapan Nayla langsung membuat wajah Carolina memerah, lalu Carolina berkata, "Kamu yakin dengan pernikahan ini? Apa kamu tidak takut jika suamimu masih mencintaiku?" ucap Carolina mengejek.
"Aku sangat yakin! Mas Damar mencintaiku dan kami akan hidup bahagia dengan anak-anak kami kelak!" ucap Nayla sembari memandang wajah Damar.
"Carolina tertawa, lalu dia berkata, "Kamu telah dibohongi Damar, asal kamu tahu, dia tidak akan pernah bisa menjadi seorang Papa! Mimpimu terlalu tinggi, hai Nona! Bangunlah sebelum kamu menyesal," ucap Carolina.
"Kamu bukan Tuhan Kakak! Bukan kamu atau yang lainnya, yang bisa menentukan, kami bakal memiliki anak atau tidak. Jika Allah berkehendak, semua yang tidak mungkin pasti akan menjadi mungkin," ucap Nayla tegas.
Damar tidak mengira, jika calon istrinya ternyata pemberani, bukan gadis cengeng. Damar tersenyum, Carolina sekarang menemukan imbang.
"Asal kamu tahu ya gadis kampung, dokter telah memvonis, Damar tidak akan bisa memberikan keturunan. Silahkan kamu minta hasil tes laboratoriumnya kepada calon suamimu itu! Oh, atau mungkin kamu hanya menikahi dia karena mengincar harta dan kedudukannya saja?" tanya Carolina sembari menunjuk keliling ruangan.
Nayla tertawa, lalu dia berkata dengan berani, "Bukannya terbalik Kakak! Sekarang Kakak menyesal bukan, telah meninggalkan Mas Damar!" ucap Nayla yang kembali membuat Carolina marah.
"Tapi maaf Kakak! Sekarang Mas Damar adalah milikku dan aku tidak akan membiarkan wanita manapun merebutnya dariku, termasuk Anda!"
Kemudian Nayla berkata lagi, "Ayo Mas, kita mulai acaranya. Aku sudah tidak sabar ingin segera menjadi ibu dari anak-anak Mas Damar."
Damar tersenyum, lagi-lagi dia kagum dengan keberanian Nayla. Kemudian Damar berkata, "Arkan! Jika wanita itu tidak mau duduk, tolong seret dia keluar dari tempat ini. Aku tidak mau membuat pengantinku terlalu lama menunggu," ucap Damar, lalu mengajak Nayla mendekat ke penghulu pernikahan.
"Damar tunggu!" seru Carolina yang belum mau menyerah.
"Maaf, Arkan! Seret dia keluar atau aku yang akan menyeretnya keluar dari tempat ini.
"Baik Bos!" ucap Arkan.
Arkan menarik lengan Carolina, tapi Carolina menghempaskannya. Anak buah Carolina ingin memukul Arkan, tapi pengawal Damar yang ada di dalam ruangan serempak mengangkat senjata mereka.
Carolina tidak punya pilihan lain selain pergi, tapi sebelumnya dia berkata, "Awas kamu Damar dan Kamu gadis kampung! jangan senang dulu, kehidupanmu di neraka, baru saja di mulai!"
__ADS_1
Arkan menyeret Caroline keluar, dia tidak peduli jika harus menyakiti wanita, karena baginya, Carolina sudah sangat keterlaluan.