
"Mas Damar kenapa nangis?" tanya Muti lagi, dan kali ini dia sambil menghapus air mata sang suami.
"Kita akan segera jadi ayah dan ibu, Sayang. Terimakasih, sudah memberikan ku kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Kebahagiaan yang kata sebagian orang tidak mungkin aku dapatkan," ucap Damar sambil menggenggam tangan Nayla dan menciumnya.
"Mas, apa Nay nggak salah dengar? Nay nggak sedang bermimpi 'kan Mas?" tanya Nayla yang juga ikutan menangis.
Kali ini Nayla jadi teringat almarhum kedua orangtuanya, andai saja mereka masih hidup, pasti ini akan jadi kebahagiaan terbesar mendapatkan seorang cucu.
"Kita sedang tidak bermimpi Nay, ini kamu terasa 'kan?" tanya Damar sembari mendaratkan ciuman di bibir, dan kali ini cukup lama, hingga Nayla mendorong sang suami karena kesulitan bernafas.
Damar pun tertawa, sedangkan Nayla mencebikkan bibirnya dan berkata, "Mas Damar mencuri kesempatan ya, itu masih ada Pak Dokter, malu dong!"
Pak Dokter pun yang melihat perbuatan Damar, tersenyum dan berkata, "Tuan Damar sangat bahagia Nyonya, wajar jika mengapresiasikan kebahagiaannya," ucap Pak Dokter.
"Dok, apa benar saya hamil?" tanya Nayla ingin memastikan.
"Iya Nyonya. Begini saja, untuk lebih memastikan, silakan Nyonya dan Tuan ke dokter obgyn, biar Saya buatkan surat pengantar. Nanti Dokter Obgyn akan memberikan vitamin untuk perkembangan calon bayi kalian!" ucap Pak Dokter.
"Terimakasih Dok!"
"Ini Tuan Damar, silahkan langsung saja ke ruangan beliau. Saya sudah hubungi dokternya dan sekarang sedang menunggu kalian."
"Baik Dok! Sekarang juga kami akan kesana!" ucap Damar.
Kemudian Damar meminta Suster untuk menyediakan kursi roda, karena dia tidak ingin mengambil resiko jika sampai Nayla pingsan lagi.
Damar membawa Nayla ke ruangan dokter obgyn dan perawat meminta Nay untuk berbaring, lalu mengoleskan gel kebagian perut bawah.
Setelah itu dokter menggerak-gerakkan sebuah alat ke perut Nayla dan nampaklah di layar monitor janin yang masih berbentuk titik yang sangat kecil.
"Lihatlah Pak! itu calon bayi Bapak dan Ibu. Saat ini usianya masih sekitar 6 minggu. Jika diperhatikan sepertinya bayi kalian kembar, tapi untuk lebih jelasnya, bulan depan Bapak dan Ibu melakukan pemeriksaan lagi ya," ucap Dokter.
Damar dan Nayla sangat senang dan setelah pemeriksaan selesai, mereka pun segera kembali ke ruangan rawat Richard untuk memberitahukan kabar gembira tersebut.
"Richard yang melihat kehadiran keduanya di sana lalu bertanya, "Bagaimana hasil pemeriksaannya Mar, sakit apa Nayla kok bisa sampai pingsan. Aku harap bukan penyakit yang serius," tanya Richard.
"Penyakitnya memang serius Pa!" ucap Damar sengaja ingin mengejutkan sang Papa.
__ADS_1
"Sakit apa kamu Nay? Pokoknya dokter harus memberikan perawatan terbaik, agar kamu cepat sembuh!" ucap Richard lagi.
"Ini Pa, yang membuat Nayla sakit," ucap Damar sembari mengulurkan hasil USG ke arah damar.
Richard melihat sekilas foto tersebut dan dia membulatkan mata sambil menutup mulutnya merasa tidak percaya.
Kemudian Richard pun bertanya, "Ini...serius! hahaha... akhirnya penantian kita tidak lagi sia-sia!" teriaknya tanpa sadar kembali dan bersusaha berdiri.
"Selamat Nak! selamat buat kalian!" ucap Richard.
Kemudian Richard pun berkata lagi, "Akhirnya, aku akan menjadi seorang kakek. Sekarang kamu harus menjaga Nayla dengan lebih waspada Mar!"
"Iya Pa!"
"Kalian kembalilah ke hotel dan biarkan Nayla untuk beristirahat, dia pasti lelah dan lihatlah wajahnya masih terlihat pucat!"
"Nggak apa-apa kok Pa, Nayla tadi sudah diberi obat oleh Dokter."
"Tapi, kamu harus tetap istirahat!"
"Baiklah Pa, kami akan kembali ke hotel dulu, jika Papa membutuhkan sesuatu katakan saja kepada para pengawal!"
"Nayla pamit dulu ya Pa!"
"Jaga calon cucu Papa ya.dan makanlah semua makanan yang bergizi biar cucu papa sehat!"
"Iya Pa!" jawab Nayla.
Merekapun bergegas meninggalkan ruangan dan para pengawal yang bertugas menjaga Richard sudah menyiapkan mobil, lalu para pengawal pribadi Nayla pun, segera mengantar keduanya sampai ke hotel.
Para pengawal itupun berjaga-jaga di luar kamar. Sedangkan Damar yang baru saja membawa Nayla masuk, di kejutkan oleh suara teriakan Nayla.
Kembali muntahan Nayla berserak di lantai, lalu tanpa merasa jijik, Damar pun segera menggendong Nayla kearah kamar mandi.
Damar membersihkan tubuh Nayla yang terkena muntahan. Lalu dia menggendong dan membawa Nayla ke tempat tidur.
Kemudian Damar membentangkan selimut untuk menutupi tubuh Nay sementara, sampai Damar kembali membawa pakaian ganti untuknya.
__ADS_1
Dengan sangat telaten, Damar mengurus sang istri lalu diapun bergegas membersihkan sisa muntahan yang tadi berserakan di lantai.
"Nay, sekarang kamu tidur dulu ya, aku mau membersihkan diriku sebentar!" pinta Damar.
"Iya Mas. Maaf, telah membuat mas Damar repot!"
"Hush... aku nggak repot Nay. Demi anak kita apapun akan aku lakukan, asal kalian bisa tetap sehat."
"Aku mandi dulu ya!" ucap Damar lagi.
Nayla pun mengangguk, dia tidak menyangka seorang bos mafia seperti Damar, mampu bersikap begitu manis terhadapnya.
Sambil berbaring, Nayla memeriksa ponselnya, lalu dia mengambil beberapa foto dirinya dan membuat cerita di sana.
Kebahagiaan Nayla saat ini, ingin dia bagikan kepada teman-teman medsosnya.
Apa yang Nayla upload menuai ucapan syukur dari para sahabatnya.
Seyna yang kebetulan melihat upload an Facebook sang kakak merasa sangat senang. Lalu karena merasa penasaran Seyna pun segera menelepon Nayla untuk menanyakan tentang kebenaran cerita itu.
Begitu panggilannya diangkat, tanpa terjeda lagi, Seyna segera mencecar sang kakak dengan berbagai pertanyaan.
Seyna pun mengucapkan selamat dan dia bersyukur melihat kebahagiaan sang kakak semakin lengkap.
Nayla pun menanyakan kesehatan Seyna dan jadwal kemoterapinya yang sudah semakin dekat. Nay meminta maaf ke sang adik, tidak bisa pulang secepatnya karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh.
Seyna menenangkan hati sang Kakak, jika dia bisa mengurus dirinya dengan bantuan Aira.
Saat mereka asyik berbincang, Damar pun telah selesai dengan ritual mandinya.
"Siapa Sayang?" tanya Damar.
"Seyna Mas!" ucap Nayla sembari mengarahkan layar ponselnya ke arah Damar.
Seyna mengucapkan selamat kepada Damar dan dia meminta agar Damar lebih menjaga dan menyayangi Nayla beserta calon bayi mereka.
Damar berjanji akan memberikan yang terbaik untuk Nayla dan juga Seyna. Damar hanya berpesan agar Seyna bersemangat melakukan kemo kedua dan selanjutnya demi kebahagiaan mereka.
__ADS_1
Seyna pun mengakhiri panggilan, dia tidak ingin mengganggu waktu istirahat sang Kakak.
Setelah panggilan berakhir, Damar pun memeluk Nayla dan mengelus perutnya sambil berkata, "Baik-baik di dalam sana ya Nak! Jangan menyusahkan Bunda, cukup susahkan ayah saja karena ayah ingin menjadi pelindung yang kuat bagi Ibu dan juga kalian."