RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 68. KONSULTASI


__ADS_3

Melihat Nayla mengantuk, Damar mengajaknya masuk dan meminta pengawal untuk menyelesaikan misi mereka memanggil pedagang sate.


Pedagang sate tersenyum saat menerima pembayaran, malam ini dagangannya ludes tak tersisa sedikitpun.


Sebelum pergi, beliau membersihkan halaman hotel dari sampah daun dan juga sampah plastik keripiknya. Kemudian, beliau mengucapkan terimakasih dan pergi membawa gerobaknya meninggalkan hotel tersebut.


Pengawal pun kembali ke dalam untuk istirahat dan sebagian melanjutkan tugas menjaga kamar Richard dan juga kamar Damar.


Damar meminta Nayla untuk berbaring dalam pelukannya, kemudian dia menutupkan selimut ke sebagian tubuh istri kecilnya itu yang sejak tadi sudah menguap menahan kantuk.


Sambil menunggu sang istri tertidur, Damar pun mengecek pekerjaan lewat jaringan ponselnya. Setelah mengantuk, Damar meletakkan ponsel dan akhirnya ikut tertidur.


Mereka terbangun ketika terdengar suara ribut di luar. Damar melihat arlojinya ternyata masih pukul 4 pagi.


Damar kemudian keluar kamar, dia ingin tahu sebenarnya suara keributan apa yang baru saja dia dengar.


Ternyata, pengawal menangkap seseorang yang mereka curiga sedang memata-matai kamar Richard dan juga kamar Damar.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Damar.


"Ini Bos, kami lihat orang ini sejak pukul 3 dini hari selalu mondar-mandir di sekitar tempat ini. Dia beralasan mengecek keamanan kamar."


"Panggil security tempat ini, kita ingin tahu apakah perkataan orang ini benar atau hanya karangan!" perintah Damar.


Satu pengawal pun pergi untuk memanggil security, sedangkan Damar mencengkeram rahang orang tersebut dan menatapnya tajam, lalu berkata, "Jika kau berniat tidak baik di sini, aku tidak akan melepaskanmu. Aku tidak akan membiarkan orang yang menyuruhmu tersenyum karena mendapatkan info yang kalian butuhkan."


Damar melepaskan cengkeramannya, lalu menepuk-nepuk bahu orang tersebut. Tidak sabar menunggu, Damar memanggil pengawal pribadinya untuk segera mencari tahu identitas pria yang sedang berdiri di hadapan mereka saat ini.


Tidak berselang lama, pengawal kembali dengan dua orang security, dan mereka meminta untuk mengenali orang yang sedang ada di hadapan mereka.


"Coba kalian perhatikan, apa kalian mengenal orang ini atau tidak dan apa maksudnya mondar-mandir pada jam 3 dini hari di lorong ini," ucap Adam.


"Oh, kami mengenalnya Tuan! Dia salah satu orang kepercayaan Bos, yang sengaja ditugaskan untuk mengawasi hotel ini. Bos kami ingin memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan VIP dengan menjaga keamanan dan kenyamanan tempat ini meski secara diam-diam," ucap salah satu security.


"Oh, kalau begitu saya mohon maaf. Saya harus waspada terhadap semua yang mencurigakan," ucap Damar.


"Nggak apa-apa Tuan, aku hanya menjalankan tugas!"


"Ya sudah, semua kembali kepada tugas masing-masing. Aku tidak mau kita lengah!" perintah Sultan.

__ADS_1


"Baik Bos!"


Semua kembali ke tempatnya masing-masing dan Orang yang mereka sangka mata-mata pun pergi meninggalkan tempat tersebut.


Filling Damar mengatakan, orang tersebut memang sedang mencari sesuatu. Rasanya tidak mungkin dia bolak-balik hanya melewati lorong ini saja.


Setelah orang itu pergi, Damar menginstruksikan kepada semua pengawal untuk lebih memperketat penjagaan.


Apalagi, pagi ini Damar berencana pergi menemui dokter dan menjenguk Arkan.


Dia tidak ingin rencana kepulangannya kali ini mendapatkan hambatan seperti saat keberangkatan.


Setelah itu Damar masuk dan melihat Nayla sudah terbangun dan hendak menjalankan ibadah.


"Mas, ayo jadilah imam buat kami!" ajak Nayla.


"Tapi Sayang, aku belum terlalu banyak pengetahuan tentang bagaimana menjadi imam yang baik. Aku sadar, hidupku masih buruk!"


"Nggak apa-apa, perlahan di ubah Mas. Nanti kita sama belajar untuk beribadah lebih baik. Kita harus bisa memberikan contoh yang baik bagi anak-anak sejak mereka masih dalam kandunganku."


"Baiklah, tunggu aku berwudhu dulu ya!" ucap Damar.


Damar telah bersiap, saat ini dia menjadi imam ibadah pertama kali bagi calon anak-anaknya.


Nay perlahan akan merubah hidup Damar dan suatu saat dia ingin membawa Damar pergi menjauh dari dunia kekerasan.


Selesai beribadah, Damar mengajak Nayla keluar kamar, dia ingin menikmati udara pagi yang menurutnya baik bagi kesehatan Nayla dan kehamilannya.


Tapi belum sempat mereka keluar, Nay merasakan pusing dan mual yang sangat hebat. Dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.


Damar menyusul sang istri dan membantu memijat tengkuknya. Kembali Nay muntah hingga hanya air saja yang keluar dan cairan berwarna kuning yang sangat pahit di tenggorokannya.


Melihat Nay lemas, Damar pun segera memapah dan membersihkan sisa muntahan di sekitar mulut Nay, lalu dia menggendong Nayla kembali ke tempat tidur.


Damar memberikan minyak lemon dan dia yang telah menyetok jahe di kamar, segera membuatkan teh jahe untuk Nayla.


Setelah meminum teh jahe, tubuh Nayla berkeringat dan terasa segar. Lalu dia mengajak Damar untuk keluar kamar. Nayla juga bosan berada di kamar terus menerus.


Mereka menikmati udara pagi sambil menunggu Richard keluar kamar untuk sarapan bersama.

__ADS_1


Dinginnya udara pagi membuat Nayla menggigil. Damar yang melihat hal itu memeluk Nayla dan mengajaknya masuk ke lobby hotel.


Di sana mereka menunggu kedatangan Richard sambil mendengarkan musik dari ponsel Damar.


Richard dan para pengawal pun tiba, lalu mereka bersama-sama menikmati sarapan yang telah pihak hotel sediakan.


Nayla hanya makan buah dan puding saja pagi ini dan setelah mereka kembali ke kamar Damar pun membuatkan segelas susu ibu hamil untuk Nayla.


Setelah itu Damar pamit kepada Richard hendak ke rumah sakit, dia ingin konsultasi masalah Nayla sekaligus menanyakan apakah mereka boleh kembali ke tanah air dengan kondisi Nayla yang sedang hamil muda.


Beberapa pengawal mengantar mereka, sedangkan sebagian lagi tetap berjaga-jaga di depan kamar Richard.


Damar telah berpesan kepada pengawal agar tidak membiarkan Richard pergi kemanapun. Karena Damar tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Richard lagi.


Sesampainya di rumah sakit, sambil menunggu kedatangan dokter kandungan, Damar mengajak Nayla mengunjungi Arkan.


Arkan yang sedang sarapan, mempersilakan Bos nya untuk duduk, lalu dia meminta pengawal untuk membawakan botol infusnya karena Arkan ingin ke kamar mandi.


Damar mengusir pengawal yang datang dan dia mengangkat tiang infus dan menemani Arkan ke kamar mandi.


"Kenapa kamu sungkan! Aku memang Bos mu, tapi aku juga sahabatmu," ucap Damar.


"Terimakasih Bos," ucap Arkan.


Damar menunggu di depan pintu hingga Arkan selesai. Lalu, dia kembali membantu Arkan balik ke ruangan.


"Oh ya Kan, apa kamu sudah bicara dengan Dokter, jika kita akan pulang secepatnya?"


"Sudah Bos dan dokter memperbolehkan ku pulang, setelah selang infus dilepas."


"Kira-kira berapa lama lagi ya Kan?" tanya Damar.


"Sore nanti, menurut dokter selang infus ini sudah bisa dilepas Bos!"


"Bagus, Kan! jika Nayla hari ini juga diizinkan pulang, kita akan melakukan perjalanan malam ini juga. Aku rasa, akan lebih aman melakukan perjalanan malam dan menggunakan pesawat pribadi kita," ucap Damar.


"Aku rasa juga begitu Bos, jadi bisa mengicuh musuh," ucap Arkan.


Karena Dokter sudah datang, Nayla diminta masuk ke ruang pemeriksaan kandungan dan Damar pun ikut mendampingi Nayla.

__ADS_1


__ADS_2