RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 66. KERAS KEPALA


__ADS_3

Bahu dan tangan Damar sudah terasa kebas karena menahan berat tubuh Nayla yang bertumpu. Tapi, Damar tetap bertahan, tidak bergeming demi sang istri yang sedang tidur lelap.


Damar memperhatikan istri kecilnya yang terlelap seperti seorang bayi. Mereka sama tidak beruntung, karena sudah tidak memiliki orangtua lagi.


Makanya Damar bertekad akan berusaha menjadi suami yang baik bagi Nay serta sekaligus menjadi orangtua, melindungi dan memberikan kasih sayang untuk kedua wanita kecil yang telah masuk dalam kehidupannya sekarang.


Suara ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Nay terbangun dan Damar terpaksa bangkit untuk melihat siapa yang berani mengusik ketenangan mereka.


Saat Damar membuka pintu, dia terkejut melihat Sang Papa dan dua pengawalnya berdiri di depan pintu kamarnya.


"Pa! Papa kok ada di sini? Bukankah dokter meminta Papa untuk beristirahat?" tanya Damar bingung dan merasa khawatir.


"Bagaimana keadaan menantu ku? Apa dia baik-baik saja?"


"Nayla baik Pa, tubuhnya sedikit lemah saja karena kebanyakan muntah. Maklum lah Pa, hal ini memang biasa terjadi pada awal-awal kehamilan."


"Siapa Mas?" tanya Nayla yang muncul di belakang Damar.


"Pa! Papa kok bisa sampai sini? Bukankah dokter melarang Papa untuk berjalan dulu? Apalagi pergi jauh sampai sini," ucap Nayla.


"Jadi, kalian tidak memperbolehkan aku masuk, untuk melihat keadaanmu?" tanya Richard.


"Eh iya, Maaf Pa. Ayo, silahkan masuk Pa," ucap Nayla.


Damar tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menyingkir dari depan pintu agar sang Papa bisa masuk.


Lalu dia pergi ke kamar mandi, menghubungi dokter untuk menanyakan kenapa Richard bisa keluar dari rumah sakit.


Dokter menjelaskan, jika Richard memaksa dan dia tidak ingin lagi melanjutkan perawatan di sana.

__ADS_1


Damar hanya bisa mendesah, melihat sang papa yang begitu keras kepala jika sudah memiliki kemauan.


Lalu Damar kembali menemui sang Papa dan bertanya, "Pa, sekarang apa yang Papa inginkan? Kenapa dokter bilang, papa tidak mau dirawat lagi?"


"Ya! Aku memang tidak mau lagi dirawat di sana! Aku ingin pulang dan memastikan menantu dan calon cucuku tetap baik-baik saja. Aku ingin perhatian mu tidak terbagi, jadi kamu bisa memberikan perhatian penuh untuk istri dan calon anakmu itu," ucap Richard.


Kemudian Richard pun melanjutkan lagi ucapannya, "Bahaya selalu mengintai kita kapan saja Mar, jadi aku ingin kita kembali ke mansion secepatnya dan melakukan perawatan di rumah saja. Lagipula, Luna bisa membantu merawat Nay dan memberikan makanan bergizi demi perkembangan bayi kalian!"


Sejenak Damar terdiam, dia memikirkan pertimbangan yang sang Papa kemukakan. Memang sih yang Richard katakan ada benarnya, tapi yang membuat Damar masih ragu, apakah perjalanan mereka untuk pulang, aman bagi Nayla atau tidak.


Pertimbangan yang lain, perawatan untuk Richard pastinya berbeda dari dokter yang biasa menanganinya di rumah sakit tersebut dengan perawatan di tanah air.


Melihat Damar terdiam, Richard kembali berbicara, "Kenapa kamu diam! Kan sudah kubilang, jangan pikirkan aku, pikirkan keluargamu, pikirkan keselamatan istri dan calon anak kalian. Itu yang utama sekarang Damar! Paling, hidupku tidak lama lagi, jadi penerus kita lebih utama."


"Tapi Pa, aku dan calon anak kami akan baik-baik saja. Mas Damar pasti akan menjaga kami, tapi saat ini kesehatan Papa juga penting. Jangan sampai perawatan yang selama ini diberikan oleh dokter menjadi sia-sia Pa!" ucap Nayla.


"Itukan menurut dokter dan kalian! Tapi yang memiliki tubuh dan yang bisa merasakannya hanya aku. Apa kalian tidak bisa menghargai keputusan Ku!" seru Richard kesal.


"Maaf Pa jika aku salah, tapi kami sungguh menyayangi Papa dan ingin Papa sehat kembali. Apakah Papa tidak ingin melihat anak-anak kami lahir dan tumbuh berkembang, hingga mereka bisa bermain dengan Opa nya nanti," ucap Nayla.


"Iya Pa, Nayla benar. Apa Papa tidak ingin menggendong dan bermain dengan mereka?" tanya Damar.


Richard terdiam, lalu dia berkata lagi, "Justru karena aku ingin bisa melihat mereka, makanya aku minta pengobatan fokus di mansion saja. Kamu bisa lebih fokus di satu tempat sembari mengurus bisnis kita Mar."


"Di sana Arkan dan orang kepercayaan mu yang lain juga bisa full melindungi kami, daripada harus kesana kemari."


Damar nggak mau bedebat lagi, dia tahu papanya memang sangat keras kepala, akhirnya diapun berkata, "Baiklah Pa, tapi aku tanya dokter dulu ya! Apakah aman untuk Nayla melakukan perjalanan pulang atau tidak."


"Dan kita juga harus tanya dokter yang menangani perawatan Arkan. Tidak mungkin kita meninggalkan Arkan sendirian di sini, dia juga harus ikut pulang untuk fokus perawatan di sana."

__ADS_1


"Nah, begini lebih baik," ucap Richard lega."


"Sebentar Pa, aku akan meminta pengawal untuk ke pihak hotel agar menyiapkan kamar buat Papa. Besok aku baru akan menemui dokternya Arkan dan juga dokter kandungan yang menangani Nayla."


"Hemm, iya."


Damar bergegas keluar untuk menemui pengawal dan Nayla bangkit untuk menyuguhkan buah serta minuman bagi sang Papa.


Melihat hal itu, Richard berkata, "Nggak usah repot Nay, nanti jika aku mau, akan ambil sendiri. Kamu fokus istirahat saja!"


"Nggak apa-apa Pa, ini sudah lebih enakan kok! Ada jam-jam tertentu yang aku merasa sangat mual dan lemas. Saat ini, rasanya keadaan ku baik-baik saja!" ucap Nayla.


"Syukurlah jika begitu, mudah-mudahan mereka di dalam sana tidak terlalu menyusahkan ibunya," ucap Richard.


Damar yang telah menginstruksikan tugas kepada pengawal pun kembali ke kamar dan dia meminta Nay untuk mengisi perutnya kembali dengan makan sepotong roti dan meminum susu.


Dia membuatkan Nay susu sekaligus menyeduh teh untuk Richard dan dirinya sendiri.


Richard senang melihat betapa Damar perhatian terhadap Nayla. Sekeras-kerasnya sifat Richard, dia juga pernah mengalami masa muda seperti anak dan menantunya tersebut.


Pengawal yang telah mendapatkan kunci kamar untuk Richard segera kembali dan menyerahkan kunci tersebut kepada Damar.


Kebetulan kamar Richard tidak jauh dari kamar yang saat ini dia tempati, maka Damar pun mengantar Richard ke kamar tersebut agar bisa beristirahat.


Nayla menghabiskan susu juga roti yang telah Damar sediakan, setelah itu diapun pergi mandi. Berendam dengan air hangat sejenak mungkin akan membuat tubuhnya kembali segar.


Damar yang sudah kembali ke kamar dan tidak melihat sang istri ada di sana, lalu mencarinya.


Dia mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil nama Nayla, untuk memastikan jika sang istri berada di dalam dan dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2