
Carolina menghempaskan barang, dia yang masih kesal belum menemukan jejak suaminya, malah sekarang mendapatkan aduan jika Damar dan istri barunya asyik berduaan menikmati malam bersama.
"Kurang ajar! Awas kamu gadis kampung, aku akan mengambil Damar ku kembali. Tidak ada yang boleh memiliki dia selain aku!" ucap Carolina sembari menghempaskan ponselnya ke sofa.
Bersamaan dengan kemarahannya, pengawal Carolina memberitahu jika mata-mata yang mereka bayar melihat Tuan Rendra memasuki sebuah swalayan yang dekat dengan villa di luar kota.
"Kerja bagus! Sekarang kalian siapkan mobil, kita berangkat ke sana!" perintah Carolina.
"Baik Bos!"
"Oh ya, beritahu mata-mata kita juga untuk terus mengawasi Tuan, apa mereka melihat bayiku juga ada di sana!" Pinta Carolina.
"Iya Bos, segera saya infokan kepada mereka."
Setelah mobil siap, Carolina dan anak buahnya menuju villa yang diinformasikan oleh mata-mata yang dia sebar.
Dan menurut mereka, ada seorang bayi di sana dan terlihat hanya diam tanpa ada suara tangis sedikit pun padahal mereka telah mengawasi kamar itu lebih dari 3 jam.
Carolina mendesah, dia tidak tahu apa yang telah suaminya perbuat terhadap bayi mereka.
Dia ingin segera bisa melihat bayinya, dan berpura-pura minta maaf agar kemarahan Rendra mereda.
__ADS_1
Carolina sudah menyiapkan alasan yang dia yakin pasti Rendra akan terima dan malah akan membantunya.
Sesampainya di villa, Carolina terang-terangan masuk, dia tidak peduli para pengawal Rendra mencoba menghalangi.
Carolina meminta anak buahnya untuk melawan Pengawal Rendra. Hingga, sesama teman berkelahi membela bos masing-masing.
Rendra yang sudah kembali dan mendengar laporan bahwa Carolina datang dan memaksa masuk, segera meminta para pengawal untuk membiarkan istrinya itu masuk.
"Nyonya silahkan masuk, Tuan sudah menunggu Anda!" ucap salah satu utusan Rendra.
"Jika dari tadi kalian biarkan aku masuk, tidak akan terjadi perkelahian yang saling merugikan!" ucap Carolina.
Kemudian diapun masuk ke ruangan dimana Rendra sudah menunggu. Rendra dengan muka garang, melempar sebuah gelas ke hadapan Carolina. Hampir saja pecahan gelas tersebut mengenai kaki Carolina.
"Dasar perempuan ja*lang! kamu tidak berubah juga!"
"Apa maksud Papa?" tanya Carolina pura-pura tidak tahu apa yang membuat Rendra marah.
"Kamu jangan pura-pura! Kamu mengejar mantan suamimu itu bukan? Nggak usah membohongiku! Dulu aku berhasil menghancurkan dia hingga dia menjadi gelandangan di jalanan dan sekarang aku masih bisa melakukannya dengan mudah, apalagi dengan kondisi papa angkatnya seperti sekarang!"
"Kalau kamu memang mau hancur bersamanya silahkan! Dengan senang hati aku akan menghancurkan kalian berdua dan menikmati hartanya seperti dulu."
__ADS_1
"Kamu salah paham Yang, aku tidak ada niat sama sekali ingin kembali kepada Damar dan kamu tahu 'kan, dia sudah menikah lagi. Mana mungkin aku mengejar dia dan untuk apa! Kamu juga tidak kalah dari dia. Bahkan kamu lebih perkasa hingga bisa memberiku anak yang keluargaku idam-idamkan," rayu Clara.
"Jadi, untuk apa kamu mendekati mansionnya? Kamu jangan bohong! Aku tidak bodoh, pengawal ku melihat sendiri kamu masuk ke dalam mansion itu!" ucap Rendra.
"Hahaha, aku senang Papa cemburu! itu tandanya Papa mencintaiku," ucap Carolina.
"Aku kesana ingin mendekati para pengawalnya karena aku ingin menyelidiki bisnis Damar. Aku ingin menguasai bisnisnya seperti dulu, tapi tentunya dengan trik berbeda agar dia tidak curiga."
"Seharusnya, Papa membantuku bukan malah menuduhku," ucap Clara membela diri.
"Kamu kenapa tidak cerita sebelumnya, jadi kita tidak salah paham seperti ini! Kamu tahu, gara-gara ini, kita kehilangan anak kita!"
"Maksud Papa?"
"Kamu mengabaikan anak kita yang sedang sakit, kamu membiarkan dia bersama baby sitter, ibu macam apa kamu yang tidak punya hati melihat anak sakit bukannya menemani dia di rumah dan membawanya berobat, malah keluyuran tidak jelas. Gara-gara perbuatanmu itu, kita kehilangan dia, dokter tidak sanggup menolongnya."
Jadi, bagaimana keadaan baby kita sekarang Pa?" tanya Clara yang pura-pura sedih sembari bersimpuh di kaki Rendra dan menggelayutkan tangannya di sana.
Rendra menarik Carolina dan memintanya agar berdiri, lalu Rendra mengajak Carolina masuk ke sebuah kamar dan menunjukkan bayi mereka terbaring kaku di tempat tidur bayi.
Carolina menangis memeluk bayinya, dia berpura-pura meraung sedih dan meratap mengakui kesalahannya yang tega meninggalkan bayi itu ketika sakit.
__ADS_1
Rendra yang melihat Carolina menangis menjadi luluh hatinya, lalu dia memeluk sang istri dan menenangkan Carolina.
Carolina tersenyum dalam pelukan Rendra, dia berhasil mengelabuhi suaminya itu.