RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 76. INSIDEN DIBALIK LAMARAN ARKAN


__ADS_3

"Lepaskan kursi rodaku Kak! Aku mau kembali ke kamar. Tolong! Kak Arkan berpikir realistis, masih banyak gadis sempurna yang bisa membahagiakan Kakak!" ucap Seyna sambil terus berusaha melepaskan tangan Arkan dari kursi rodanya.


Seyna tidak mengerti dengan jalan pikiran Arkan, kenapa dia terus bersikeras, ingin melamar dirinya, gadis yang sudah di ambang kematian.


Arkan tetap pada pendiriannya, dia akan meluluhkan hati gadis yang terus berusaha hendak pergi dari hadapannya.


Perlahan Arkan berdiri, dia bertopang pada kursi roda Seyna. Namun Naas, Arkan terjatuh saat Seyna berhasil mengibaskan pegangan tangan Arkan pada kursi rodanya.


Arkan pun hilang keseimbangan dan terjengkang kebelakang hingga dirinya terjatuh ke dalam kolam yang lumayan dalam dan cukup luas.


Kolam itu memang sengaja di buat dalam serta cukup luas oleh Damar karena dia ingin ikan-ikan yang ada di dalamnya hidup bebas dan berkembang biak.


Damar suka menghibur diri di sana saat pikirannya sedang stres, dengan memberi makan ikan-ikan peliharaannya.


Kepala Arkan yang terbentur batu besar di sisi kolam, membuat penglihatannya sejenak buram dan tubuhnya pun luruh, tenggelam ke dasar kolam.


Seyna terkejut, dia berteriak minta tolong tapi karena suaranya lemah, jadi tidak ada seorang pun yang mendengar jeritannya itu.


Aira yang pergi ke dapur untuk membuat minum memang sengaja berlama-lama karena dia ingin memberi kesempatan kepada sang Kakak untuk mengutarakan maksudnya kepada Seyna.


Jarak dapur juga cukup jauh dari taman, hingga Aira pun tidak mendengar suara teriakan Seyna.


Sore itu para pengawal juga kebetulan sedang berkumpul di gerbang depan sambil menikmati kopi serta cemilan yang tadi di suguhkan oleh Bi Luna.


Melihat tidak ada pergerakan dari dalam air, Seyna semakin panik, dia menangis dan terus berteriak.


Seyna sekuat tenaga berusaha bangkit dari kursi rodanya dan dengan tertatih diapun berjalan ke pinggiran kolam sambil memanggil-manggil nama Arkan, berharap pemuda itu menjawab dan segera muncul ke permukaan.


Tapi, saat tidak ada jawaban dari Arkan dan Seyna merasa usahanya sia-sia, dia akhirnya bertekat ingin turun ke dasar kolam guna mencari dan menyelamatkan Arkan, meski dirinya tidak yakin akan bisa menolong dan keluar dari sana dengan selamat.


Sambil mengucapkan kata maaf kepada Arkan serta Nayla, Seyna memejamkan mata dan menjulurkan sebelah kakinya ke dalam Air.


Seyna tidak mau Arkan meninggal gara-gara perbuatannya dan dia harus bisa menyelematkan pemuda itu meski nyawanya sebagai pengganti.


Bunyi byur, menandakan ada benda yang jatuh ke dasar kolam, membuat Arkan yang tadinya sengaja berlama-lama dan menahan nafas di dalam air untuk menguji kepedulian Seyna menjadi terkejut.


Dia tidak menyangka jika gadis itu nekat menceburkan diri untuk mencarinya.


Arkan dengan sigap menuju ke arah di mana tubuh Seyna jatuh ke dalam air, sementara Seyna yang memang tidak pandai berenang pasrah dengan yang bakal terjadi.


Seyna kesulitan bernafas tapi dia terus berusaha mencari Arkan di dalam air.

__ADS_1


Arkan yang melihat hal itu merasa bersalah, dia memeluk tubuh Seyna dan berusaha agar kepala gadis itu tetap dalam posisi di atas air hingga bisa menghirup udara.


Meski tenaga Arkan kian melemah, karena memang dia belum pulih, tapi akhirnya dia berhasil membawa dan mengangkat tubuh gadis itu ke tepi kolam.


Keduanya tergeletak, Seyna tidak sadarkan diri, sedangkan Arkan berusaha mengumpulkan sisa tenaganya, dia ingin menggendong gadis yang kini terbaring di sebelahnya dan membawa Seyna kembali ke mansion agar segera mendapatkan pertolongan.


Arkan kembali bangkit, lalu dengan susah payah diapun berhasil menaikkan tubuh Seyna ke atas kursi rodanya.


Saat Arkan hendak mendorong kursi roda itu, Aira pun tiba di sana dan dia sangat terkejut saat melihat kondisi keduanya.


Nampan yang ada di tangan Aira pun terjatuh hingga isinya pecah dan berserak.


Aira segera berlari menghampiri keduanya, dia mengguncang tubuh Seyna yang terkulai di atas kursi rodanya.


"Apa yang terjadi dengan kalian Bang? Kenapa basah kuyup dan ini Seyna kenapa pingsan. Aduh Bang, kalau kondisinya seperti ini, kita bisa kena marah sama Tuan," ucap Aira panik.


"Sudah jangan panik, cepat bantu aku telepon dokter agar segera datang ke mansion!" pinta Arkan sambil terus mendorong kursi roda Seyna walau dengan kakinya yang pincang.


"Tapi Bang, aku tidak membawa ponsel, aku pinjam ponsel Abang!" ucap Aira.


Arkan mencoba mencari ponsel di sakunya, tapi dia tidak menemukannya di sana.


Sial! ponselku pasti ikut terjatuh di dalam kolam! Cepat kamu ambil ponselmu dan segera hubungi dokter, biar aku yang membawa Seyna ke mansion!" pinta Arkan lagi.


"Buruan! Jangan khawatir, aku masih bisa membawa Seyna ke mansion meski kakiku cacat!" seru Arkan yang mulai menaikkan nada bicaranya karena kesal melihat sang adik yang belum juga pergi melaksanakan permintaannya.


Aira akhirnya berlari dan dia berteriak minta tolong hingga para pembantu dan pengawal yang mendengar berhamburan, berlari ke arah asal suara.


Setelah melihat mereka datang, Aira meminta pengawal untuk membantu Arkan. Lalu dia segera pergi ke dalam mansion untuk menelepon dokter.


Nayla dan Damar yang baru keluar dari kamar dan melihat Aira berlarian menuju kamarnya, merasa terkejut. Lalu keduanya bergegas hendak menghampiri Aira untuk menanyakan apa sebenarnya yang terjadi.


Tangan Aira gemetar, dia panik hingga bingung mencari nomor kontak dokter keluarga Damar yang ada pada ponselnya.


Nayla yang tiba di kamar dan melihat keadaan sahabatnya segera mengambil ponsel dari tangan Aira. Kemudian, Nayla pun bertanya, "Memangnya apa yang terjadi Ai? Kamu mau menelepon siapa?"


"Dokter! Dokter Nay!"


"Tenang Ai, katakan apa yang terjadi? Kenapa harus memanggil Dokter?"


Belum sempat Aira menjawab, suara gaduh terdengar di luar kamar. Damar melihat para pengawal datang sambil memapah Arkan dan mendorong kursi roda Seyna.

__ADS_1


Damar berlari keluar menghampiri mereka, lalu dia berteriak memanggil Nayla dan meminta pengawal agar segera menelepon dokter.


Sementara itu, Damar segera menggendong Seyna, membawanya ke kamar dan membaringkan gadis itu di atas tempat tidurnya.


Nayla yang mendengar panggilan dari sang suami pun, langsung berlari keluar dan meninggalkan Aira yang masih gemetar ketakutan.


Saat melihat pemandangan di hadapannya, Nayla menghambur, memeluk tubuh sang adik sambil menangis.


Damar menenangkan Nayla, dia meyakinkan sang istri bahwa Seyna pasti akan baik-baik saja.


Arkan yang melihat hal itu semakin merasa bersalah, dia berjalan menghampiri Damar dan berkata, "Bos, tolong maafkan aku! Semua ini salahku. Andai aku tadi bisa lebih bersabar dan tidak memaksakan kehendak, pasti kejadian ini tidak akan terjadi."


"Tenang Kan, kamu sekarang duduk! lihatlah kakimu kembali mengeluarkan darah," ucap Damar sambil memberi Arkan kursi.


"Tidak apa-apa Bos, yang penting sekarang Seyna. Aku takut dia kenapa-kenapa Bos. Aku akan menyesal seumur hidup, jika sampai terjadi hal buruk padanya, akibat ulahku tadi."


Mendengar pengakuan Arkan, Nayla melepaskan pelukannya dari tubuh Seyna, lalu dia menghampiri Arkan dan menarik kerah bajunya yang basah sambil berkata dengan lantang, "Kamu apakan adikku Kan! Jika adikku sampai meninggal, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"


Melihat sikap sang istri, Damar langsung memeluknya dan dia meminta Nayla agar tenang serta melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah baju Arkan.


Nayla menangis dalam pelukan sang suami dan dia berkata dengan lirih bahwa tidak ada gunanya lagi hidup, jika sang adik pun pergi meninggalkan dirinya.


Damar tahu perasaan Nayla dan kini hatinya pun ikut sakit setelah mendengar perkataan sang istri.


Kemudian, Damar pun memeluk Nayla lebih erat sambil mengelus kepalanya dan berkata, "Jangan seperti ini Sayang, istighfar dan ingatlah! Bukankah masih ada aku dan calon anak kita. Apa kamu tega melihat anak kita ikutan sedih karena ibunya tidak menganggap dia dan Papanya ada?"


Nayla terhenyak mendengar ucapan Damar, lalu diapun kembali menangis. Nayla menyesal dan dia meminta maaf kepada Damar serta mengelus perutnya yang mulai terlihat menonjol.


Karena sangat panik melihat kondisi Seyna, Nayla jadi lupa, bahwa saat ini dia telah memiliki tanggungjawab lain, ada hati dan malaikat kecil di dalam perutnya yang harus dia jaga.


Nayla kembali terisak dalam dekapan sang suami dan dia mohon ampun kepada Allah, telah mendahului kuasa-Nya. Nayla memasrahkan semua, berharap dan berdoa untuk kesembuhan sang adik.


Arkan yang merasa sangat bersalah, tidak berani lagi mendongakkan wajahnya. Dalam hati dia berkata dan meminta kepada Tuhan, bahwa dirinya rela jika harus menukar hidup dengan kesembuhan gadis yang saat ini sedang terbaring lemah, pucat dan belum juga sadarkan diri.


Bersambung....


Selamat malam sahabat, maaf baru bisa update. Sebulan full aku hiatus menulis karena ada kontrak pekerjaan yang tidak bisa aku abaikan.


Inshaallah, mulai hari ini aku akan rutin update lagi. Terimakasih kepada kalian semua yang telah dan tetap mendukung karyaku.


Semoga kita semua selalu di berikan kesehatan dan kebahagiaan. Aamiin....

__ADS_1


Selamat membaca ya, aku harap episode kali ini bisa menjadi awal dan obat kerinduan para pembaca terhadap karyaku ini.


Selamat beristirahat ya para sobat๐Ÿ™๐Ÿ˜˜


__ADS_2