
Nayla dan Damar memberi nama bayi mereka Gilang Daynara Pratama. Acara selamatan di lakukan sederhana dengan mengundang anak-anak panti.
Lengkap sudah kebahagiaan Damar dan Nayla, mereka mengurus bayi mungil itu tanpa bantuan pengasuh.
Nayla dan Damar ingin merasakan bagaimana menjadi orangtua yang tidak akan melewatkan masa kembang tumbuh anak.
Meski repot, tapi mereka senang. Bayi mungil itu membuat hari-hari mereka lebih berwarna.
Ketika usia bayi Gilang 4 bulan, Aira dan Seyna sudah hamil besar. Para suami mendampingi mereka untuk persiapan persalinan.
Seyna yang tidak memiliki tenaga untuk melahirkan normal memutuskan memilih operasi caesar seperti saran dokter.
Dokter tidak mengira, Seyna mampu bertahan hingga bayinya akan dilahirkan. Semangat Seyna telah memperpanjang usianya untuk beberapa bulan dari perkiraan dokter.
Seyna ingin operasinya dilakukan setelah Aira melahirkan. Dia takut, tidak memiliki kesempatan, melihat bayi Aira jika dirinya duluan yang melakukan operasi.
Dewo panik, saat Aira menangis karena darah keluar dari selakangannya, dengan tergopoh-gopoh, dia berlari memanggil dokter.
Dokter pun segera datang dan memeriksa Aira. Ternyata proses persalinan harus segera dilakukan.
Dewo sangat cemas, dia tidak berani mendampingi Aira. Dengan dukungan dari Seyna, Arkan, Damar dan Nayla, akhirnya rasa cemasnya berkurang.
Saat mendengar suara tangis bayi, Dewo terduduk di lantai, tubuhnya lemas dan dia menangis. Bayi Dewo lahir dengan selamat dan berjenis kelamin perempuan.
Sang ibu yang mendapatkan kabar, jika cucunya sudah lahir, bersemangat, meminta tetangga untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Dewo dan Aira pun bersyukur, semuanya berjalan lancar. Seyna yang sedang menggendong bayi mungil Aira berkata, "Bolehkah aku yang memberi nama Kak?"
"Dewo dan Aira saling pandang lalu berkata, "Tentu saja boleh, siapa tahu, saat nanti besar cantik dan baik seperti tantenya."
Seyna tersenyum, lalu dia berkata, "Zahra Anindita."
"Dan apabila anakku nanti laki-laki namanya Azam Seykan Bimantara, bila perempuan Arseyla Putri Annisa."
"Tolong diingat ya Kak, barangkali nanti, aku tidak sempat memberinya nama saat bayi kita lahir," ucap Seyna kepada Arkan.
Yang ada disana merasa sedih mendengar perkataan Seyna. Arkan memeluk Seyna dan dia memberi semangat, bahwa Seyna dan dia akan merawat anak mereka hingga dewasa.
Seyna tersenyum, pandangannya sayu, dia tidak yakin bisa bertahan. Tapi Seyna akan berjuang hingga bayinya melihat dunia.
Dokter kandungan meminta Arkan untuk keruangannya, ada yang ingin dia bicarakan perihal pelaksanaan operasi.
Seyna bersama Nayla bermain-main dengan Gilang sambil sesekali tersenyum melihat putri Aira sedang menyusu.
Kebahagiaan terlihat jelas di mata Seyna, tapi malah kebalikannya terhadap Nayla. Semakin dekat jadwal operasi, makin membuat Nayla cemas tentang keselamatan Seyna.
Nayla terus berpura-pura bahagia di depan Seyna, karena dia ingin menjadi kekuatan bagi adiknya.
Arkan yang sudah ada di ruangan dokter, lalu bertanya, "Bagaimana kondisi istri saya Dok?"
Dokter pun diam, dia harus menyampaikan kenyataan pahit, apa yang harus Arkan pilih, bayi atau keselamatan Nayla.
Arkan menangis, itu adalah pilihan tersulit untuknya. Dia ibarat makan buah simalakama.
Melihat Arkan seperti itu, dokter pun melanjutkan ucapannya dan memberikan gambaran. Jika Arkan memilih menyelamatkan Seyna, maka kesempatan hidup Seyna juga hanya 30 persen.
__ADS_1
Arkan makin terisak, dia tidak menyangka akan sesakit itu untuk menentukan pilihan.
Damar yang curiga dengan panggilan dokter, diam-diam mengikuti Arkan. Dia mendengar semua yang telah dokter katakan.
Melihat sahabatnya menangis, Damar masuk dan duduk di samping Arkan sambil berkata, "Ingat apa yang telah membuat Seyna semangat hingga saat ini sobat, dia hanya ingin melihat bayinya lahir dengan selamat."
Tangis Arkan makin kuat, hingga membuat Damar memeluk sahabatnya.
"Tetap sabar dan kuat Kan, jangan tunjukkan di depan Seyna jika dirimu rapuh dan lemah seperti ini."
"Iya benar yang dikatakan oleh Tuan Damar. Saat ini kekuatan Seyna hanya dirimu dan kakaknya. Dukung dia, beri dia pengharapan, meski untuk yang terakhir dari perjuangan hidupnya."
"Baiklah Dok, aku ingin mewujudkan impian terakhir Seyna, aku akan merawat dan menjaga amanahnya sampai tiba waktuku untuk menyusulnya."
Keputusan pun sudah Arkan ambil, Damar mengajaknya untuk kembali ke ruangan Aira. Sore ini operasi caesar akan dilaksanakan.
Mereka harus memberikan kekuatan kepada Seyna sebelum dokter membawanya ke ruangan operasi.
Nayla berusaha membuat sang adik bahagia, dia menceritakan kenangan-kenangan saat mereka masih kecil bersama ayah dan ibu.
Seyna tertawa, saat mengingat kejadian dimana dulu dia selalu mengusili sang kakak dan merebut jatah makanan hingga akhirnya mereka sama-sama dihukum oleh ibu.
Tapi akhirnya Seyna sedih saat teringat ayah dan ibu mereka, lalu dia berkata, "Kak, sebentar lagi aku akan berkumpul dengan ayah dan ibu, kakak jaga diri baik-baik ya. Rawat Gilang hingga jadi putra kebanggaan keluarga dan aku minta tolong titip anakku, jika dia besar nanti, tolong sampaikan jika aku ibunya, sangat menyayangi dia lebih dari apapun."
Nayla, Aira tak kuasa menahan tangis mendengar ucapan Seyna. Nayla memeluk Seyna dan bayi dalam kandungan Seyna bergerak menendang Nayla. Seakan dia tahu apa yang saat ini sedang mereka bicarakan.
Nayla mengelus perut Seyna sambil berkata kepada sang bayi, "Kamu dengar Nak, ibumu sangat mencintaimu, jadilah kelak kamu putra/putri kebanggaannya. Yang akan membuatnya bahagia meski dia melihatmu dari atas sana."
Mereka kembali menangis, begitu juga Arkan dan Damar yang mendengar percakapan itu dari balik pintu.
Setelah Arkan tenang, barulah mereka masuk ke ruangan. Seyna menggendong baby Gilang dan membawanya ke Arkan. Seyna ingin Arkan menggendongnya, dengan begitu Seyna bisa membayangkan jika saat ini Arkan sedang menggendong bayi mereka.
Setelah puas, Seyna pun meminta bayi Aira dan melakukan hal yang sama.
Mereka membiarkan dan menjadi penonton yang baik, melihat apapun yang Seyna lakukan.
Sore pun tiba, perawat datang meminta Seyna bersiap, karena operasi akan segera dilakukan.
Seyna pamit, dia memeluk Arkan dan meninggalkan pesan untuk menyayangi serta merawat anak mereka, lalu memeluk Nayla sambil tersenyum manis, Seyna sudah ikhlas dengan apapun yang bakal terjadi.
Kini giliran Seyna pamit kepada Damar, dia berpesan agar Damar menjaga, melindungi dan menyayangi Nayla. Karena cuma Damar dan Gilang lah yang Nayla miliki setelah dirinya pergi.
Damar memeluk Seyna, sebisa mungkin dia menahan agar air matanya tidak terlihat oleh Seyna. Seyna bukan lagi ipar, tapi seperti adik kandung bagi Damar.
Tak lupa Seyna pamit kepada Aira, Dewo serta Richard dan Ibu Dewo yang baru saja tiba.
Setelah selesai pamit kepada semuanya, Seyna pun pergi bersama perawat menuju ruang operasi diikuti oleh Arkan.
Sebelum masuk, dia menggenggam tangan Arkan, lalu mereka saling berpelukan.
Seyna berbisik, "Aku mencintaimu Kak, mencintai anak kita, selamanya. Jaga diri kalian baik-baik."
Arkan mempererat pelukannya, lalu menjawab, "Aku juga mencintai dan menyayangi kalian lebih dari hidupku. Kamu tenang dan jangan takut ya, aku menunggu kalian disini."
Seyna mengangguk dan tersenyum, sebelum perawat akhirnya mendorong brankar masuk ke ruang operasi.
__ADS_1
Lampu ruangan operasi telah menyala, pertanda operasi caesar sedang dilakukan.
Semua menunggu diluar kecuali Aira, mereka berharap-harap cemas akan hasil operasi.
Arkan mondar mandir, Nayla berada dalam pelukan Damar dan Dewo berusaha memberi support kepada Arkan.
Lampu ruang operasi pun padam, dan tidak lama Dokter pun keluar menghampiri Arkan.
Semua mendekat ingin tahu hasilnya. Dokter mengulurkan tangan, memberi selamat kepada Arkan jika anak kembar sepasang telah lahir dengan selamat.
Arkan bersujud, dia menangis. Damar meminta Arkan bangkit lalu bertanya kepada Dokter tentang kondisi Seyna.
Dokter terdiam, lalu menggeleng dan dokterpun meminta maaf, jika kondisi Seyna sangat lemah dan tidak akan mungkin bisa bertahan.
Tangis Nayla terdengar begitu menyayat hati Damar. Namun Damar harus tegar demi istri dan sahabatnya.
Setelah suster membersihkan bayi Arkan, mereka pun di izinkan masuk. Seyna memohon kepada Dokter untuk terakhir kali, agar mengizinkan Arkan, Nayla dan juga Damar masuk ke ruangan operasi.
Arkan berusaha tersenyum manis dihadapan Seyna, dia mengadzankan sang putra, lalu membisikkan iqomat di telinga sang putri. Setelah itu menggendong keduanya, memperlihatkan kepada Seyna.
Seyna meminta Arkan agar meletakkan kedua bayi mungil itu di atas dadanya, sambil menyeringai menahan sakit, Seyna pun menciumnya secara bergantian.
Tangis memenuhi ruangan tersebut, saat Seyna mengatakan selamat tinggal kepada kedua bayinya, lalu menggenggam tangan Arkan.
Seyna pun menatap Nayla serta Damar secara bergantian, lalu tersenyum sangat manis.
Arkan mencium kening Seyna dan membisikkan ucapan syahadat. Seyna pun mengikutinya dengan terbata-bata.
Begitu kalimat itu berakhir, Seyna menutup mata dan menghembuskan nafasnya yang terakhir di dalam pelukan Arkan.
Kembali suara tangis menggema, memenuhi ruangan. Seyna telah pergi dengan tenang, setelah meninggalkan kenangan dua orang bayi mungil yang tampan dan juga cantik.
Dewo mengurus administrasi untuk kepulangan jenazah, lalu Arkan mendampingi jenazah di atas ambulance.
Sementara Damar dan Nayla pulang bersama Richard. Aira memaksa Dewo agar meminta izin kepada Dokter untuk pulang. Dia ingin melihat sahabatnya untuk terakhir kali.
Para bayi juga sudah pulang bersama dua orang perawat dengan di antar pengawal Damar.
Prosesi pengurusan jenazah pun dilaksanakan dan Arkan menjadi imam sholat jenazah untuk almarhum istrinya. Kini tinggal prosesi terakhir yaitu mengantarkan jenazah Seyna ke Taman Perkuburan Umum yang letaknya tidak jauh dari rumah Damar.
Seyna telah tenang di alamnya, kini tinggal Arkan yang harus menjalankan amanah, merawat, menyayangi serta membesarkan kedua anak kembar mereka dengan menceritakan tentang kenangan dan kebaikan sang ibu semasa hidupnya.
Anak Damar dan Nayla tumbuh cerdas, begitu pula dengan anak-anak Arkan dan juga anak Dewo dengan Aira.
Mereka akur, saling menyayangi, hingga membuat Richard bahagia. Anak-anak tersebut menjadi kesayangan Richard meski mereka bukan cucu-cucu kandungnya.
Mansion Damar menjadi sangat ramai dengan suara tawa canda anak-anak yang bermain bersama para pengawal.
Damar, Nayla, Arkan, Dewo dan Aira sangat bahagia menyaksikan anak-anak mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang baik.
Damar dan Richard pun sudah total meninggalkan kehidupan dunia hitam, kini mereka mengembangkan bisnis halal untuk masa depan generasi penerus mereka.
Marissa juga sudah dikembalikan ke habitatnya. Dia hidup bebas bersama teman-teman sejenisnya di hutan belantara.
__ADS_1