
Dewo dan Aira sudah tiba di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Rumah itu sederhana, tapi terkesan adem dengan di kelilingi tanaman sayur mayur.
Ibu Dewo sakit-sakitan tapi beliau tetap tidak berpangku tangan. Beliau menanam aneka sayuran untuk kebutuhannya sendiri, hingga tidak terlalu merepotkan anaknya.
Saat beliau di rawat, tetanggalah yang membantu menyiram tanaman tersebut. Mereka boleh ambil sayur yang di inginkan. Tapi terkadang para tetangga berbaik hati memberi Ibu Dewo uang untuk membeli beras dan kebutuhan lainnya.
"Rajin sekali ibu Kak? halaman penuh dengan tanaman bermanfaat."
"Iya Ai, aku melarang sih, takutnya ibu kelelahan dan sakitnya nggak sembuh-sembuh. Tapi kata ibu, beliau malah sakit jika tidak ada kegiatan. Ya sudah, akhirnya aku biarkan beliau berkebun."
Saat Dewo dan Aira memasuki pekarangan, mereka melihat ibu sedang memanen tomat dan cabe.
"Assalamualaikum Bu," ucap Dewo.
"Wa'alaikumsalam, kamu pulang Nak! Ini siapa ya? cantik sekali kali Nduk!" sapa ibu.
"Kenalkan Bu, dia Aira calon mantu ibu," ucap Dewo.
Aira pun mengulurkan tangan, dengan malu dia mencium tangan ibu.
"Ayo, silakan masuk Nduk! Beginilah gubuk kami. Ibu senang kalian datang. Sebentar ya biar ibu buatkan minum!"
"Biar aku saja Bu, Ibu temani dan ngobrol saja dengan Aira," ucap Dewo sambil bergegas ke dapur.
"Kamu tinggal di mana Nduk?"
"Saya tinggal dan bekerja di rumah Tuan Damar Bu," jawab Aira.
"Oh, satu tempat kerja dengan Dewo toh?"
"Iya Bu, Saya adiknya Bang Arkan."
"Arkan teman Dewo? Yang dulu membawa Dewo bekerja di sana?"
"Iya Bu. Abang pernah ke sini 'kan Bu?"
"Iya Nduk. Abang kamu dan Tuan Damar, baik sekali. Mereka pernah menjenguk ibu saat di rumah sakit."
"Oh iya Bu."
Dewo yang melihat Aira akrab dengan sang ibu merasa senang, berarti dia tidak salah memilih. Dewo ingin Ibu nanti tinggal bersama mereka setelah menikah.
"Silahkan di minum Ai! Ini juga ada pisang hasil kebun sendiri."
__ADS_1
"Iya Nduk, di makan pisangnya. Oh ya Wo, mangga di belakang rumah juga pada masak, kamu petikkan sana biar Nak Aira mencicipinya. Dan nanti sisanya kamu bawa buat istri Tuan Damar. Bukankah Nyonya sedang hamil, siapa tahu beliau suka mangga."
"Banyak buahnya Bu?"
"lumayan banyak Nduk, mangga harum manis. Cepat Wo kamu ambilkan dulu."
"Iya Bu."
"Aku boleh ikut Mas, ingin melihat-melihat pekarangan. Enak suasana di sini."
"Pergilah Nduk, ibu akan masak dulu. Nanti kita makan siang bersama."
Aira pun ikut ke belakang rumah, dia sangat senang melihat buah mangga yang bergelantungan sudah mulai menguning.
Di sana juga terdapat buah delima, kelengkeng juga rambutan. Kebetulan, semuanya sedang berbuah, meski tidak lebat seperti saat musim panen raya.
Dewo memanjat pohon, sementara Aira mengambil pada dahan-dahan yang rendah.
Setelah mendapatkan cukup banyak, mereka memasukkan semua ke dalam keranjang. Nanti akan mereka bawa pulang sebagai oleh-oleh.
Aira lalu ke dapur, dia membantu ibu menyiapkan makanan. Ibu masak tumis kangkung, goreng tempe dan juga ikan. Menu sederhana tapi menggugah selera.
Mereka kemudian makan bersama. Dewo makan dengan lahap, dia rindu masakan ibunya. Aira mengakui, masakan calon mertuanya sangat lezat.
Selesai membereskan dapur, mereka kembali ngobrol di ruang tengah sambil menikmati buah mangga yang telah Dewo kupas.
Di sinilah kesempatan Dewo untuk membicarakan tentang pernikahanya.
"Bu, maksud kedatangan kami, ingin meminta restu dan membawa ibu ke rumah Tuan Damar. Kami akan menikah Minggu depan, begitu juga dengan Bang Arkan, Abang Aira."
"Alhamdulillah, akhirnya anak ibu menikah juga. Kabar ini yang sudah lama ibu tunggu."
"Iya Bu, baru sekarang mendapatkan jodoh yang pas dan mudah-mudahan pernikahan kami nanti langgeng sampai maut memisahkan."
"Aamiin," ucap ketiganya serempak.
"Jadi, keluarga Nak Aira kapan tiba?"
Aira tertunduk sedih, dia ingat Ayah dan ibunya yang sudah tiada. Mereka tidak bisa ikut menyaksikan pernikahan kedua anaknya.
"Orang tua Aira, keduanya sudah meninggal Bu!" ucap Dewo.
"Oh, maafkan ibu Nduk. Ibu sudah buat kamu sedih."
__ADS_1
"Nggak apa-apa Bu, yang penting kami masih punya ibu."
"Iya Nduk. Ibu juga ibu kamu."
"Ibu berangkat saat menjelang acara kalian saja ya, soalnya nggak bisa lama-lama tinggalkan rumah, nggak ada yang rawat tanaman."
"Ah ibu, malah mikirin tanaman, kan bisa minta tolong tetangga. Mereka juga bisa ambil sayuran daripada beli di pasar."
"Iya sih, tapi yang biasa bantu ibu menyiram tanaman sedang pulang kampung."
"Ya sudah, nanti aku cari orang yang bisa menunggu rumah sekaligus merawat tanaman sampai ibu kembali. Yang penting ibu, hari ini juga ikut kami," ucap Dewo.
"Baiklah kalau itu mau kalian Nak, ibu bersiap dulu ya. Membereskan pakaian yang mau di bawa."
"Kami ke rumah Pak Lurah dulu ya Bu, ada surat yang ingin Dewo urus."
"Pergilah Nak!"
Dewo mengajak Aira ke rumah Pak Lurah dan mencari mang Ujang, ayah teman Dewo saat masih kerja di pasar. Dia ingin meminta tolong Mang Ujang untuk merawat tanaman.
Saat melihat Dewo tiba, Manh Ujang sangat terkejut. Penampilan Dewo, jauh beda dengan yang dulu. Lalu mang Ujang menelepon putranya agar pulang biar bertemu dengan Dewo.
Sambil ngobrol, Dewo pun menunggu kepulangan temannya dan tidak lama Firman sampai.
Mereka berpelukan dan ngobrol banyak hal. Firman minta Dewo untuk mencarikan pekerjaan, dia juga ingin hidup lebih layak seperti halnya Dewo sekarang.
Dewo berjanji, akan menanyakan kepada Bosnya, apakah masih membutuhkan karyawan baru atau tidak.
Sebelum pulang, Dewo memberikan nomor kontaknya, lalu dia menyampaikan maksudnya menemui Mang Ujang.
Mang Ujang pun setuju dan dia akan menginap di rumah ibu Dewo sampai sang ibu kembali.
Setelah urusan dengan Mang Ujang selesai, Dewo dan Aira ke rumah Pak Lurah. Dia akan mengurus surat-surat untuk urusan pernikahan.
Pak Lurah senang melihat kehidupan Dewo jauh lebih baik, apalagi segera menikah hingga ada yang menemani dan merawat ibunya, jika sakit.
Sepulang dari rumah Pak Lurah, Dewo mengajak Aira melihat hamparan sawah, ladang, juga sungai yang ada di kampungnya itu.
Aira sangat senang dan dia mau tinggal di sana jika suatu saat sudah tidak bekerja lagi di rumah Damar. Menghabiskan sisa usia dengan melakukan kegiatan seperti yang ibu Dewo lakukan.
Dewo senang melihat Aira yang terlihat betah di sana. Dewo juga berencana akan membeli sawah serta ladang dengan uang tabungannya, saat pernikahan mereka nanti selesai di gelar.
Bersambung.....
__ADS_1