RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 87. SELAMAT


__ADS_3

"Nay, bertahan ya, aku akan menyelamatkanmu. Awas kalian pembantu resek!" teriak Aira sambil menepis tangan Betty yang menarik bajunya.


Tisya berusaha menarik Nayla dari pelukan Aira. Tapi Aira terus berjuang, membawa Nayla ke tepi sambil terus melawan kedua pembantu resek tersebut.


Ternyata kegaduhan mereka di dengar oleh Dewo yang melintas di sana.


Dewo mendekati asal suara dan dia sangat terkejut melihat pergulatan di dalam kolam.


Tanpa pikir panjang lagi, Dewo berteriak sambil menceburkan dirinya untuk menolong Aira dan Nayla.


"Lepaskan! Kalian berdua akan menerima akibatnya! Dasar pembantu tidak tahu diri!"


Dewo pun menarik paksa Betty dan Tisya yang mencengkram Aira, lalu membenamkan serta menghempaskan keduanya hingga terengah-engah.


Tapi karena melihat kondisi Nayla serta Aira yang sudah lemas, Dewo buru-buru menolong mereka dan mengabaikan Betty serta Tisya yang sedang berusaha naik untuk kabur.


Yang utama saat ini adalah menyelamatkan Nayla yang sedang hamil, masalah kedua pembantu resek tersebut akan dia selesaikan nanti.


Dewo meminta Aira untuk menemani Nayla yang sudah dia baringkan di tepi kolam, lalu Dewo berlari untuk memanggil sang Tuan.


Sambil berlari Dewo berusaha menghubungi para pengawal untuk menutup gerbang dan memerintahkan mereka untuk tidak membiarkan Betty serta Tisya meninggalkan mansion.


Damar dan Richard yang hendak kembali ke dalam rumah, merasa terkejut saat melihat Dewo datang dengan nafas ngos-ngosan.


"Tuan, Nyonya....tolong Nyonya."


Belum lagi Dewo menyelesaikan perkataannya, Damar berlari, dia hendak masuk ke rumah, tapi Dewo segera berteriak, "Nyonya di taman Tuan! Di kolam!"


Tanpa meminta penjelasan terlebih dulu, Damar pun berlari ke Taman, dia ingin segera melihat apa yang sedang terjadi dengan sang istri.


Saat melihat Nayla tergeletak di sana bersama Aira, Damar langsung menghambur dan memeluk tubuh sang istri.


Wajah Nayla sangat pucat, bibir gemetar dan tubuhnya menggigil kedinginan.


Damar sangat marah, lalu dengan suara lantang dia bertanya kepada Aira, "Apa yang terjadi Aira! Kenapa dengan kalian!"


Dewo yang sudah sampai di sana, langsung berkata, "Betty dan Tisya Tuan, mereka berusaha membunuh Nyonya dan Aira tengah berusaha menolong Nyonya saat saya tiba."


"keparat! Kamu urus mereka Wo! Aku akan membawa Nayla ke rumah sakit. Nanti aku akan membuat perhitungan dengan mereka. Berani-beraninya mencelakai istri dan anakku!" ucap Damar sambil menggeretakkan gigi.


"Sudah Tuan, Saya sudah hubungi pengawal depan agar tidak membiarkan mereka keluar dari tempat ini."


"Bagus! Sekarang aku mau membawa Nayla ke rumah sakit dan kamu siapkan mobil Wo!"

__ADS_1


"Siap Tuan!


Dewo pun duluan pergi untuk menyiapkan mobil, sedangkan Damar menggendong Nayla. Aira yang masih lemas, tidak menghiraukan dirinya, dia terus mengikuti langkah Damar.


"Tuan, saya ikut ya. Saya khawatir dengan Nyonya."


"Ya, kamu boleh ikut. Cepat Wo, kamu saja yang nyetir!"


"Baik Tuan!" ucap Dewo.


Dengan pakaian yang masih basah, Dewo dan Aira pun masuk ke dalam mobil. Lalu, Aira menelepon Bi Luna dengan ponsel Dewo, meminta beliau untuk mengambilkan pakaian ganti Nayla, Damar, dirinya serta Dewo.


Aira menceritakan secara singkat, kejadian yang menimpa mereka, lalu meminta Bi Luna agar pengawal mengantarkan pakaian tersebut ke rumah sakit.


Damar terus memeluk Nayla, dia menciumi istrinya sambil berkata, "Bertahan ya sayang!"


Kemudian Damar membuka kemejanya dan menutupkan ke tubuh Nayla yang gemetar.


Nayla tidak berkata sepatah katapun, hanya air mata yang meleleh dari kedua sudut matanya.


Dewo terus melajukan mobil dengan kencang, tapi tetap waspada karena dia tidak ingin mereka celaka.


Sesampainya di rumah sakit, Damar menggendong Nayla ke ruang UGD agar segera mendapatkan pertolongan.


Dokter langsung memberi pertolongan dan meminta perawat untuk mengganti pakaian Nayla dengan baju pasien.


"Tenang Pak, Saya akan memeriksanya."


Dokter pun memeriksa kandungan Nayla dan meminta Suster memasang selang infus untuk memulihkan tenaganya.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"


"Alhamdulillah Pak, kondisi istri Bapak dan anak dalam kandungannya baik-baik saja."


Damar mengucap syukur dan meraup wajahnya. Dia tidak akan mengampuni kedua pembantunya itu.


Selama ini dia sudah cukup baik, tetap mempekerjakan mereka meski selalu membuat ulah.


Nayla yang tenaganya mulai pulih, menggenggam tangan Damar, "Aira bagaimana Mas?"


"Aira baik-baik saja Sayang, dia dan Dewo sedang menunggu di luar."


"Aku ingin dia kesini Mas, aku mau ngucapin terima kasih, berkat dia, aku dan bayiku tidak kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Sebentar ya Sayang, aku akan panggil mereka."


Damar memanggil Aira dan Dewo, lalu dia pribadi mengucapkan terimakasih sebelum Nayla mengatakannya.


Aira memeluk Nayla dan mereka sama menangis. Nayla merasa beruntung memiliki sahabat-sahabat yang baik seperti Aira dan Dewo.


Setelah mengucapkan terimakasih, Damar meminta Nayla untuk beristirahat. Lalu Aira dan Dewo pun keluar untuk mengganti pakaian mereka dengan baju yang di antar oleh pengawal.


Aira kembali masuk untuk menemani Nayla, sementara Damar pamit untuk mengganti pakaiannya.


Namun sampai di luar, dia meminta Dewo untuk menelepon pengawal di rumah. Damar ingin tahu, tentang kedua pembantu resek tersebut.


Ternyata, saat ini Betty dan Tisya sedang di hukum oleh Richard. Richard membawa keduanya ke ruangan di mana Marissa tinggal.


Dia ingin menakuti-nakuti keduanya, sambil menunggu hukuman dari Damar.


Damar senang, sang Papa jadi punya mainan di rumah. Nanti, setelah Nayla diizinkan pulang, barulah Damar akan menghukuman keduanya.


Pengawal memberikan telepon kepada Richard, karena Damar ingin bicara dengan sang papa.


Saat telepon tersambung, Damar berkata kepada sang Papa, "Jangan beri makan mereka Pa! Aku ingin lihat, sampai dimana kekuatan mereka, hingga berani melawanku!"


"Kamu tenang, mereka akan tahu siapa Richard. Richard lebih kejam darimu!"


"Iya Pa. Terimakasih, aku mau menemani Nayla lagi di ruangan. Aku tutup dulu ya Pa?"


Damar pun mengakhiri panggilan, lalu dia kembali ke ruangan di mana Nayla terbaring sambil ditemani oleh Aira dan Dewo.


Wajah Nayla mulai memerah, tanda kondisinya mulai pulih.


"Bagaimana Yang, apa ada bagian tubuhmu yang sakit?"


"Nggak ada Mas. Oh ya Mas, sebenarnya aku penasaran, kenapa mereka ingin menyingkirkan aku. Apa sebenarnya motif di balik peristiwa ini. Padahal aku tidak pernah menyakiti mereka."


"Aku akan mengusutnya Nay, aku juga penasaran. Kenapa mereka berani sekali menentangku!"


"Mungkin mereka iri Tuan?"


"Bisa jadi. Tapi pasti ada alasan lain. Aku yakin mereka diperalat seseorang, hingga mereka nekad melakukannya."


"Tuan, apa sebaiknya aku pulang? biar bisa menyelediki hal itu?"


"Boleh Wo, tapi saat ini mereka sedang diberi pelajaran oleh Papa. Kamu bantu Papa untuk mengorek keterangan dari mulut mereka. Bila perlu, gunakan Marissa untuk membantu kalian!"

__ADS_1


"Baik Bos, Saya pamit dulu."


Dewo pun pamit kepada Nayla dan juga Aira, dia sudah tidak sabar ingin ikut memberi pelajaran kepada para pembantu resek tersebut.


__ADS_2