RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 26. MENGINGINKAN KENYAMANAN


__ADS_3

"Takut!" ucap Damar.


Nayla tersenyum menanggapi ucapan Damar, lalu berkata, "Silahkan Tuan, semoga Anda suka."


Mendengar Nayla masih saja menyebutnya dengan sebutan Tuan, Damar pun langsung menggenggam tangan istrinya itu.


Nayla tersentak, tapi dia tidak berani menolak, dia tertunduk lalu berkata, "Maaf, jika Saya salah."


"Kamu tahu apa kesalahan mu?"


Nayla menggeleng, hal ini membuat Damar semakin ingin menggoda sang istri. Lalu dia menarik Nayla hingga membuat Nayla terduduk di atas pangkuannya.


Wajah Nayla memerah karena malu dan ini adalah pengalaman pertama baginya duduk dipangkuan seorang pria dengan jarak wajah yang sangat dekat.


"Masih belum tahu?"


Nayla bingung harus menjawab apa, jika dia jawab tidak, pasti Damar akan melakukan hal yang lebih. Tapi, jika Nayla jawab tahu, dia sendiri saat ini nggak bisa berpikir apa kesalahannya.


Melihat Nayla diam, Damar langsung menempelkan bibirnya di bibir Nayla. Nayla membulatkan mata, lalu memundurkan kepalanya sembari berkata, "A-Aku tahu Tuan!"


"Tahu apa?" tanya Damar semakin semangat menggoda Nayla yang gelagapan akibat ulahnya.


"Aku akan membuatnya lagi. Turunkan Saya Tuan, saya akan membuat yang baru untuk Tuan," ucap Nayla.


Damar kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Nayla dan kali ini dia memagutnya dengan lembut dan bermain-main sesaat di sana.


Nayla mematung, dia gadis polos yang belum pernah melakukan ciuman dengan seorang pria. Saat Nayla terengah, Damar melepaskan pagutannya, lalu berkata, "Masih tidak tahu!"


"Ampun Mas, aku tidak tahu. Tolong katakan kesalahanku, biar aku bisa memperbaikinya," ucap Nayla.


"Gadis bodoh! Nah itu kamu sudah benar," ucap Damar sembari memainkan jarinya di atas papan keyboard yang ada di sampingnya tanpa menurunkan Nayla dari pangkuan.


"Siapa suruh kamu menyebutku Tuan lagi. Aku 'kan sudah bilang, aku adalah suamimu, bukan majikan."

__ADS_1


"Iya Maaf Mas, aku lupa. Boleh aku turun, tubuhku berat nanti paha Mas sakit," ucap Nayla.


"Hemm...aku masih ingin seperti ini. Temani aku bekerja!" ucap Damar.


Nayla tidak bisa menolak kemauan Damar, wajahnya sudah seperti kepiting rebus saat Damar mulai membenamkan wajahnya ke dada Nayla. Jantung Nayla berdetak sangat cepat, dia menahan nafas untuk beberapa saat.


Damar mencium aroma wangi dari tubuh Nayla, aroma jasmin yang sangat dia suka. Damar memang telah meminta Bi Luna untuk memberikan parfum tersebut kepada Nayla saat gadis itu baru datang ke rumahnya.


Sesaat Damar tenang di sana, dia memejamkan mata sembari melepaskan kepenatan, memikirkan bisnis dan kesehatan sang Papa serta membayangkan hinaan yang telah Carolina lakukan terhadapnya.


Melihat nafas Damar yang tenang, Nayla merasa, itu bukan nafsu tapi ibarat seorang anak yang mencari perlindungan dan ketenangan di dalam pelukan ibunya.


Nayla memberanikan diri mengelus rambut Damar bagian belakang, tapi Damar tidak bereaksi. Kemudian Nayla memperhatikan sisi samping wajah suaminya sembari mempererat pelukannya dan ternyata Damar tertidur.


Kini Nayla merasa serba salah, jika dia bergerak, Damar pasti terbangun dan jika dia diam saja terlalu lama, pastinya kaki Damar akan kebas karena beban tubuh Nayla tidaklah ringan.


Dan benar saja, saat Nayla menggeliat, Damar pun bergerak dan mengangkat wajahnya sembari berkata, "Maaf, aku tertidur. Aku merasa nyaman berada dalam pelukanmu. Wangi jasmin ini adalah salah satu wangi parfum kesukaanku, ibuku dulu selalu menggunakannya. Aku jadi merasa seperti beliau sedang berada di dekatku."


"Apakah ibu Mas masih hidup?" tanya Nayla.


"Maksud Mas Damar?"


"Aku percayakan pengobatan ibuku kepadanya, saat aku sering keluar negeri untuk mengurus tender bisnis. Berapa pun uang pengobatan yang Carolina minta selalu aku penuhi, ternyata ibuku hanya di biarkan tergeletak di rumah sakit tanpa di berikan pengobatan yang seperti Carolina katakan, hingga ibuku akhirnya meninggal," ucap Damar sedih.


"Bagaimana Mas Damar tahu, jika Mbak Carolina tidak menggunakan uang itu untuk pengobatan ibu?" tanya Nayla.


"Dokter mengatakan jika aku terlambat untuk memberi keputusan saat seharusnya ibuku melakukan operasi transplantasi jantung. Padahal aku sudah meminta tolong kepada Carolina untuk membayarkan biayanya dan menandatangani operasi mewakili diriku."


"Mengapa Mas Damar tidak pulang untuk mengurusnya sendiri?"


"Sebenarnya ingin pulang tapi saat itu, sedang tidak ada penerbangan ke Indonesia dan aku juga terserang demam di sana," ucap Damar yang masih terlihat sedih.


"Maaf Mas, jika pertanyaanku membuat Mas sedih."

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Ayo turun, kamu berat juga ternyata!" ucap Damar sembari meminum kopinya yang sudah dingin.


"Mas sih nggak percaya, 'kan tadi aku sudah bilang, jika tubuhku berat," ucap Nayla sembari bangkit dari pangkuan Damar.


"Mandilah dulu, sebentar lagi senja, aku masih harus menyiapkan pekerjaan yang tinggal sedikit lagi," ucap Damar sembari bangkit dan menutup jendela kamarnya, lalu melanjutkan pekerjaan berkutat dengan laptopnya.


Nayla bergegas mengambil handuk dan baju mandi, lalu dia membersihkan make-up terlebih dahulu, baru melanjutkan ritual mandinya.


Sudah setengah jam Nayla berada di dalam kamar mandi, tapi ritualnya belum juga selesai, hal itu membuat Damar ingin menjahili istrinya lagi.


Nayla baru bangkit dari bathtub hendak mengambil handuk saat mendengar suara ketukan pintu, "Nay, tolong buka. Aku sesak pipis lho," ucap Damar.


"Iya sebentar Mas, ini sudah hampir selesai.


"Aduh Nay, sudah tidak tahan ini! buka dong pintunya!"


Mendengar Damar yang mengatakan tidak tahan lagi, Nayla yang belum mengenakan baju mandinya pun buru-buru membuka pintu. Dia hanya menutup bagian tubuhnya yang penting dengan handuk mandi saja.


Saat pintu terbuka, Damar langsung memeluk sang istri, Nayla jadi kebingungan, mana handuk yang dia gunakan untuk melilit tubuhnya juga hampir terlepas.


Damar menggendong Nayla, membawanya keluar dari kamar mandi dan merebahkannya di atas tempat tidur, lalu dia mencium Nayla dengan lembut.


Entah mengapa, Damar merasa ketagihan dengan kelembutan bibir mungil berwarna merah muda milik Nayla. Sesaat dia menikmati moment itu dan Nayla kali ini memberanikan diri membalas ciuman dari sang suami.


Nafas Damar mulai panas, hasratnya terpancing begitu melihat lilitan handuk istrinya terbuka dan memperlihatkan bagian tubuh atas Nayla yang begitu menggoda.


Nayla merasa malu, tapi jujur dia juga mulai menikmati ciuman serta sentuhan lembut yang dilakukan oleh Damar.


Damar bisa merasakan, Nayla juga menginginkan hal yang sama dengannya, maka sebelum keterusan, diapun menghentikan perbuatannya.


Bukan Damar tidak menginginkan hal yang di dambakan setiap suami, dia berhenti karena waktunya belum tepat. Damar masih harus menyelesaikan pekerjaan dan hari juga sudah mendekati maghrib. Maka, lebih baik mereka bersiap untuk melakukan ibadah wajib yaitu sholat maghrib.


Nayla terlihat sedikit kecewa, dia berpikir apa mungkin Damar belum siap melakukan tugas karena masih teringat dengan mantan istrinya.

__ADS_1


Melihat rasa kecewa di wajah Nayla, Damar kembali mendekatkan wajahnya dan berbisik ditelinga Nayla, "Waktunya belum tepat, nanti aku pasti akan melahapmu dan tidak akan membiarkanmu keluar kamar seharian."


Nayla tersenyum malu, lalu dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Damar yang melihat hal itu langsung mencium kening Nayla sambil mengatakan, "Berdandan lah yang cantik untuk ku malam ini."


__ADS_2