RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 29. DI SERANG


__ADS_3

Setelah tiba di bandara, Damar langsung mengaktifkan ponselnya, dia ingin menelepon Nayla. Namun saat melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi untuk waktu Indonesia, Damar pun ragu, dia akhirnya mengurungkan niat untuk menelepon sang istri.


Nayla tidak bisa tidur, dia merasa gelisah, kenapa Damar tidak juga memberi kabar, apakah mereka sudah sampai atau belum di tempat tujuan.


Daripada menghabiskan waktu sia-sia, Nayla bangkit dan pergi berwudhu untuk menjalankan sholat tahajud.


Dalam sholat nya Nayla berdoa, agar diberikan kebahagiaan dalam menjalani rumah tangganya. Dia berharap pernikahan ini nantinya bukan hanya sebagai pernikahan sebatas perjanjian dan meminta keselamatan untuk Damar dimanapun saat ini dia berada serta meminta kesembuhan untuk Seyna.


Setelah menyelesaikan doanya, Nayla mengaji sambil menunggu datangnya sholat shubuh.


Damar menimbang-nimbang dan akhirnya diapun menelepon Nayla saat jam sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi.


Nayla tersenyum saat melihat nama si pemanggil, lalu dia buru-buru mengangkat panggilan tersebut sembari menyapa, "Assalamualaikum Mas."


Damar pun menjawab salam dari Nayla lalu dia berkata, "Kami sudah sampai di Korea dan sekarang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Apakah kamu baru bangun?"


"Baru selesai mengaji Mas dan saat ini sedang menanti datangnya sholat subuh."


"Tadi aku mau menelepon kamu pukul 3 tapi ragu, aku pikir kamu sedang terlelap."


"Aku tidak tidur kok Mas, entah mengapa malam tadi mata tidak mau terpejam."


"Apakah karena memikirkan aku?" tanya Damar menggoda sembari tersenyum dan menaik turunkan alis matanya.


Nayla malu, dia hanya membalas dengan senyuman.


"Pantas saja terlihat lingkaran hitam di sekitar matamu, setelah subuh tidurlah sebentar Nay, Kamu harus istirahat, bukannya nanti harus menemani Seyna kembali ke rumah sakit?"


"Iya Mas," jawab Nayla.


Belum sempat Damar berkata lagi, kenderaan yang dia tumpangi oleng,. "Ada apa ini Arkan?"


"Bos menunduk!" teriak Arkan sembari mendorong tubuh Damar hingga kepala Damar terbentur jok. Ada peluru mengenai badan mobil dan satu lagi nyasar melewati kepala Damar. Memang saat ini jendela mobil sedikit terbuka hingga peluru tersebut hampir meledakkan kepala Damar.


"Mereka mau mencoba bermain-main dengan kita rupanya. Pak sopir tolong kejar pengendara motor yang ada di depan kita, aku akan memberi pelajaran kepada mereka," pinta Damar.


Nayla yang mendengar perkataan Damar, karena panggilan belum dimatikan oleh Damar pun bertanya, "Mas, ada apa! Mas Damar tidak apa-apa 'kan?"


"Nggak apa-apa Nay, aku matikan dulu ya! Nanti aku telepon lagi. Ada yang harus aku selesaikan dulu," ucap Damar.

__ADS_1


"Hati-hati Mas! Sepertinya Mas Adam dalam situasi bahaya," ucap Nayla.


"Iya, terimakasih Nay. Kamu jangan khawatir ya, Aku dan Arkan pasti bisa mengatasinya."


Setelah mengatakan hal itu, Damar mematikan panggilan, dia bersiap dengan senjatanya begitu pula dengan Arkan.


"Pepet terus mereka Pak! Aku ingin tahu seberapa besar nyali mereka mengganggu kami. Aku baru saja tiba kenapa sudah ada musuh mengintai," ucap Damar.


"Barangkali mereka mengikuti kita sejak dari bandara Sukarno Bos!" ucap Arkan.


"Entahlah kan!"


"Kini giliranku dulu Bos!" ucap Arkan sembari menarik pelatuk senjatanya.


"Memangnya kenapa mereka menyerang kalian ya Dek," tanya pak sopir.


"Entahlah Pak, kami juga belum tahu siapa dan untuk apa mereka mengikuti dan menyerang kami," ucap Damar.


Dengan jarak yang lumayan dekat, Arkan menarik pelatuk dan terdengarlah tembakan mengenai ban motor pelaku.


Motor oleng dan menabrak pembatas jalan. Dua orang musuh tercampak dari motor dan terkapar. Untung saja suasana di jalan masih sepi hingga membuat Pak sopir dengan lihai mengikuti setiap arahan dari Damar.


"Ayo kita turun untuk melihat kondisi keduanya, biar saja yang lain kabur, biar bos mereka tahu, jika misi mereka pagi ini gagal."


"Pak, kita berhenti di depan ya, aku penasaran ingin tahu siapa mereka!" ucap Damar.


Setelah mobil berhenti, Damar dan Arkan berjalan mendekati kedua orang yang terkapar itu. Mereka siap siaga dengan senjata di tangan.


"Hati-hati Bos," ucap Arkan.


"Kamu juga 'kan, mana tahu mereka hanya berpura-pura pingsan jadi kita harus tetap waspada."


Arkan menodongkan senjata ke arah salah satu penyerang tadi dan ternyata orang itu masih hidup. Wajah, lengan serta kakinya luka akibat terseret aspal, sementara yang satu lagi sepertinya tewas karena kepalanya terbentur pembatas jalan dan sepeda motor mereka rusak parah.


"Bos, dia bergerak!" ucap Arkan.


"Ayo kita bawa dia ke mobil, sebelum polisi datang!" perintah Damar.


"Baik Bos!"

__ADS_1


Mereka pun segera menggotong orang tersebut dan memasukkan ke dalam mobil, lalu tanpa perlu di perintah Pak Sopir pun segera melajukan kendaraannya.


"Mau kita bawa kemana dia Bos!" tanya Arkan.


"Begini saja, di depan sana turunkan aku, kamu bawa dia ketempat aman. Setelah aku melihat keadaan Papa, dan Papa baik-baik saja aku akan kembali menemui kalian. Pastikan jangan sampai dia lari. Kita butuh keterangan dari mulutnya. Beri dia obat agar lukanya tidak semakin parah," pinta Damar.


"Baik Bos!"


Di persimpangan jalan, Pak sopir menghentikan mobilnya sesuai perintah Damar, lalu Pak sopir melanjutkan perjalanan bersama Arkan dan si penyerang. Sementara, Damar mencari taksi untuk mengantarnya ke rumah sakit guna menemui sang Papa.


Sedangkan di rumah, Nayla sangat khawatir, dia mondar-mandir di dalam kamar hingga Aira datang ingin membersihkan kamarnya.


Melihat Nayla seperti itu, Aira penasaran lalu dia bertanya, "Ada apa Nay? Kelihatannya kamu gelisah?"


"Mas Damar dalam bahaya Ai!"


"Apa maksudmu Nay? Bukankah Tuan di Korea?"


Kemudian Nayla menceritakan kejadian saat dia dan Damar sedang mengadakan panggilan video, dimana Damar di serang orang dengan tembakan peluru.


"Apa Nay! Kok bisa? memangnya musuh Tuan mengikutinya sampai kesana?"


"Entahlah Ai, aku tidak bisa tenang sebelum Mas Damar menelepon lagi. Aku mau nelepon takut malah membuatnya dalam bahaya."


Keduanya pun cemas, Nayla masih saja mondar-mandir dan Aira sambil membersihkan kamar terus memperhatikan Nayla. Aira juga sangat cemas, bagaimanapun dia masih mencintai Damar dan nyawa Arkan sang kakak, juga pasti sedang terancam.


"Nay, aku coba telepon Bang Arkan saja ya?"


"Cobalah Ai!"


Aira melakukan panggilan dan ponsel Arkan tidak bisa dihubungi, hal ini membuat keduanya semakin cemas.


"Bagaimana ini Nay? jangan-jangan terjadi hal buruk dengan mereka?"


"Sebentar, aku coba telepon Mas Damar," ucap Nayla.


Ketika Nayla hendak mengklik nomor Damar, eh...ternyata Damar sudah melakukan panggilan video duluan.


Terlihat di sana, Damar baik-baik saja dan sedang memasuki area rumah sakit. Hati Nayla merasa lega, tapi dia penasaran, kenapa tidak melihat Arkan bersama suaminya.

__ADS_1


__ADS_2